MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 17 Agustus 2018 23:13
SUSAHNYA..!! Sampai-Sampai Harga Ayam Diatur HET
HARGA SPEKULAN: Pemerintah Provinsi Kaltara berencana memberlakukan harga eceran tertinggi (HET) pada daging ayam dengan payung hukum Pergub. FOTO: BANK DATA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Harga sembilan bahan pokok (sembako) yang fluktuatif dari waktu ke waktu memicu sejumlah persoalan. Ujung-ujungnya, konsumen kerap kali ditempatkan sebagai pihak yang harus menderita kerugian. Memenuhi kebutuhannya dengan harus merogoh kocek lebih dalam. Utamanya ketika mendekati hari raya tertentu.

Pemerintah juga tak dapat berbuat banyak. Yang bisa dilakukan hanya inspeksi mendadak, sebatas memberi imbauan. Selebihnya, kenaikan harga lebih banyak dipengaruhi ulah spekulan di tingkat pedagang.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kalimantan Utara Hj. Hasriani mengatakan, atas dasar tersebut Pemerintah Provinsi Kaltara mewacanakan adanya Peraturan Gubernur Kaltara soal harga eceran tertinggi (HET) pada semua komoditas sembako. Terutama daging ayam yang sampai saat ini harganya masih terbilang tinggi.

Disperindagkop Kaltara berencana menyusun lebih dulu formulasi sebelum menentukan HET. Menjelang Idulfitri lalu, Kementerian Perdagangan telah  mengeluarkan Permendag Nomor 62 Tahun 2018 tentang Penetapan Harga Khusus Daging Ayam Ras. Tetapi hanya berlaku pada saat menjelang Idulfitri lalu. “Karena hanya berlaku pada saat Idulfitri saja, dan tidak untuk hari biasanya. Bahkan dalam Permendag itu juga tidak ada sanksi bagi pedagang,” katanya.

Permendag akan dijadikan sebagai salah satu rujukan harga. Kendati harga Rp 34 ribu/kg tidak mungkin diberlakukan di Kaltara. Penetrasi yang dilakukan Disperindagkop Kaltara  berkisar Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu. Kenaikan hingga Rp 55-70 ribu/kg dianggap sangat tidak wajar.

Instansi terkait di kabupaten dan kota akan dimintai masukan terkait rumusan Pergub tersebut. “Karena mereka itu teknisnya dan mengetahui berapa harga idealnya, menghitung terlebih dahulu pengeluaran dan keuntungannya nantinya. Jadi itu harus dihitung terlebih dahulu baru bisa kami tetapkan HET-nya,” bebernya.

HET ini nantinya akan berlaku di wilayah Kalimantan Utara, tetapi tetap akan berdasarkan karakteristik daerah masing-masing. Tidak akan sama setiap daerah, karena pasti akan berbeda. Seperti di Tanjung Selor dan Tarakan tentunya akan berbeda, begitu juga daerah lainnya di Kaltara.

“Sama dengan Permendag itu, bahwa wilayah Jawa, Kalimantan juga berbeda dengan wilayah lainnya. Begitu juga nantinya di Pergub yang akan dibuat,” tuturnya.

Pihaknya berencana membuat Pergub ini, agar menjadi dasar dari tim satgas pangan saat melakukan operasi pasar. Pedagang yang tidak mengikuti ketetapan pemerintah maka nantinya akan dijatuhi sanksi.

Sejauh ini, sanksi yang diberikan kepada distributor berupa administratif saja. Dari temuan Disperindagkop, permainan harga dilakukan di tangan pedagang. Sementara distributor, agen bahkan produsen menerapkan harga yang relatif stabil. Harapan dengan adanya pergub yang akan dibuat ini, itu menjadi dasar bagi pedagang menentukan harga di pasaran.

“Ini masih dalam wacana, karena pedagang tidak memiliki izin dan hanya diatur melalui pengelolanya saja. Nanti diformulasikan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Pengaturan juga bukan hanya untuk pedagang saja, melainkan juga dari distributornya perlu diatur. Bahkan yang diatur semua komoditas, dan tidak hanya untuk daging ayam saja, tetapi juga beberapa komoditas yang menjadi faktor penyebab inflasi.

Jadi akan diatur apa yang tidak diatur di dalam Permendag. Beberapa penyebab inflasi justru pada komoditas yang tidak pernah diduga. Seperti kangkung, ikan bandeng, dan lainnya. “Pokoknya komoditas yang tidak diatur dalam Permendag itu nantinya akan dicoba diformulasikan, lalu akan ditentukan HET-nya,” urainya.

Oetomo Lianto, salah satu distributor asal Berau, Kalimantan Timur mengaku jika harga selama ini cenderung stabil. Ia mengungkap jika kenaikan sempat terjadi pada Maret lalu sebesar Rp 2.000/kg, ayam hidup.

“Sekarang kami jual ke pelapak itu Rp 26-27 ribu/kg, ayam hidup yah. Itu sudah dari April lalu harganya, gak ada kenaikan. Masih bisalah mereka jual Rp 34-35 ribu/kg bersih di pasar,” kata pria yang akrab disapa Aliang ini.

Ia menepis jika, kenaikan harga daging ayam selama ini merupakan dampak kenaikan harga pakan dan DOC seperti diungkap sejumlah pedagang. “Kalau pun itu naik, tidak seberapa. Tidak ngefek jauh,” kata Aliang lagi.

Menurutnya, hukum bisnis di kalangan pelapak selama ini lebih pada ulah spekulan. Aliang juga tak menampik, biasanya mendekati hari raya, sejumlah pelapak kesulitan pekerja. Mereka yang biasanya membersihkan ayam, atau tukang potong memilih untuk menikmati hari raya. Sehingga pelapak, kekurangan tenaga. Mau tidak mau ayam yang mereka jual terbatas. Demi keuntungan yang besar, harga daging ayam pun dinaikkan.

“Bukan kemampuan kami distributor yang berkurang, tetapi pelapak atau pedagang di pasar-pasar itu. Stok kami cukup, berapa yang diminta pedagang, kami sanggup,” sebutnya.

Dijelaskan Aliang, jika terdapat sejumlah mitra bisnisnya di Tarakan, Tanjung Selor dan Nunukan. Mitra-mitra tersebut bertindak sebagai pemilik kandang. Sementara DOC atau anakan, pakan, dokter, obat-obatan menjadi tanggung jawab Aliang.

“Penetasan kami di Berau, suplai ke Tarakan ke Nunukan, Tanjung Selor. Mitra kami di daerah, kami kontrol terus. Mereka, mitra kami, hanya menyediakan kandang. Kami kontrak dengan mereka Rp 25.500/kg hidup, dijual ke pelapak Rp 27 ribu/kg hidup. Selama ini stoknya ada. Kalau kurang, kami bawa dari Tanjung Selor, harganya sama,” terangnya.

Menanggapi wacana pergub tentang harga khusus ayam ras menurutnya sangat tepat. “Saya kira bagus ada peraturannya soal HET, itu memang harus diatur. Harus ditindak. Selama ini persepsinya, kami distributor yang seenaknya menaikkan. Padahal tidak begitu. Kenaikan itu ulah pelapak,” urainya.

 

NON FREEZER, TAK LAYAK KONSUMSI

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Nunukan mewanti-wanti sejumlah bahan makanan yang masuk ke Kabupaten Nunukan. Salah satunya, daging ayam asal Sulawesi Selatan (Sulsel) jelang Hari Raya Iduladha. Sebab, proses pengirimannya tidak menggunakan mesin pendingin atau freezer.

“Kami mulai mengawasi lagi. Sebelumnya memang pernah ditahan,” kata Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Daerah pada Satpol PP Nunukan Yance Tambaru.

Ia mengatakan, sebelum pemeriksaan, pihaknya berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait. Termasuk pemilik ayam. “Beberapa waktu lalu memang sempat ditegur juga pemiliknya. Tapi, kini mulai masuk lagi. Nah, itulah yang dikomunikasikan. Apakah sudah sesuai standar yang disarankan atau tidak,” tegas Yance.

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Pengelolaan dan Pemasaran pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Nunukan Riatnah S Pt membenarkan pengiriman yang tak sesuai standar. Karena, hanya menggunakan es batu yang disimpan dalam kardus.

“Kalau pakai es batu itu waktu terbatas. Paling hanya bertahan hitungan jam saja. Tapi, kalau naik kapal dari Sulawesi Selatan (Sulsel) ke Nunukan itu bukan jam, tapi hari. Jadi, sudah tidak segar dan tak layak dikonsumsi lagi,” jelas Riatnah.

Daging ayam potong asal Sulsel sejak beberapa tahun terakhir ini memang sudah jarang masuk ke Nunukan. Namun kalau saat ini kembali, kemungkinan karena menjelang Hari Raya Iduladha. “Bisa jadi produksinya meningkat. Makanya dikirim lagi ke Nunukan,” kata Riatnah kepada media ini saat ditemui di kantornya, Kamis (16/8).

Daging ayam lokal sudah mudah ditemui. “Kalau dari pantauan kami, rumah makan itu lebih pilih ayam lokal saja. Jarang yang beli kalau ayam beku. Mereka sudah bisa bedakan kualitasnya,” yakin Riatnah.

drh. Rendy Try Darmawan menambahkan, dalam kaidah rantai dingin pangan asal hewan, pengiriman daging tanpa mesin pembeku atau freezer selama berhari-hari tentu akan menyebabkan cemaran bakteri.  Yakni, E-coli dan Salmonella sp. “Jadi, mestinya kurang layak. Terutama angka cemaran mikroba, tentu berpotensi di atas batas maksimum,” kata Rendy, dokter hewan di DPKP Nunukan beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, karena melalui pintu lalu lintas antar daerah semestinya ada instansi vertikal yang menangani masuknya daging ayam ke Nunukan. “Koordinasi dengan intansi vertikal selama ini tetap berjalan. Yang menjadi persoalan itu sebenarnya di daerah asal. Pihak karantina pertanian dan dinas setempat tetap mengeluarkan persetujuan agar ayam tersebut dapat dikirim. Dan, kami dulu sudah pernah menyurat untuk perihal ini. Dan, sampai sekarang belum ada tanggapan juga,” bebernya. (*/naa/oya/nri/lim)

 


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 23:34

Penyebab Kebakaran Diduga Puntung Rokok

TARAKAN – Neneng (38) seketika panik, Sekira pukul 23.00 WITA, Rabu (19/9). Cahaya api memendar…

Kamis, 20 September 2018 23:31

Polda Akan Kumpulkan Bukti

TARAKAN - Buntut dugaan pemukulan terhadap lima mahasiswa oleh oknum kepolisian saat aksi unjuk rasa…

Kamis, 20 September 2018 13:01

Dinkes Minta Tambahan Waktu

TARAKAN – Masih rendahnya cakupan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun mendapatkan imunisasi…

Kamis, 20 September 2018 12:56

SK Pemberhentian Sudah Ditandatangani

TARAKAN — Upaya  Wakil Wali Kota Tarakan Khaeruddin Arief Hidayat untuk bisa lolos sebagai…

Kamis, 20 September 2018 12:44

Beruang Itu Diduga Sakit dan Stres Berat

TIGA ekor beruang madu yang hidup di dua kandang di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan Kampung…

Kamis, 20 September 2018 12:30

922 Gram Sabu Dilarutkan di Air

TARAKAN - Sabu-sabu sebanyak 922,12 gram dimusnahkan pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP)…

Kamis, 20 September 2018 12:13

SK Honorer Tunggu Data Valid

TARAKAN - Kejelasan status tenaga honorer saat ini masih terus diperjelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan…

Kamis, 20 September 2018 12:10

Ditinggal, Rombong PKL Diangkut

TARAKAN - Empat unit rombong milik pedagang kaki lima (PKL) yang berada di depan Taman Berkampung, Kelurahan…

Kamis, 20 September 2018 12:09

Di Samping Jalan Rusak Ada Jurang

TARAKAN – Ketua RT 4, Kelurahan Juata Laut, Amiruddin mengatakan beberapa usulan yang diajukan…

Kamis, 20 September 2018 12:08

Jaringan Bermasalah, Pencetakan E-KTP Terkendala

TARAKAN – Setelah masalah kekurangan blanko Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) terselesaikan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .