MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 15 Agustus 2018 23:53
Soal Ekspor Kepiting, Minta Menteri KKP Melunak

Diplomasi Petambak Kepiting

BELUM BISA DIEKSPOR: Wakapolda Kaltara Kombes Pol Zainal Arifin Paliwang menunjukan hasil panen kepiting bertelur. Foto: Rury Jamianto/ Radar Tarakan

PROKAL.CO, PERMINTAAN luar negeri tinggi akan kepiting. Harganya pun menjanjikan.  Komoditas kepiting Tarakan disebut sebagai salah satu yang terbaik.

Namun permasalahan mengadang. Ekspor ilegal masih kerap ditemui. Cenderung melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 56/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Indonesia. Permen itu bertujuan melindungi keberlanjutan lobster, kepiting dan rajungan.

Sesuai Surat Edaran Menteri KP Nomor 18/2015 tentang penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan yang diperbolehkan dijual berdasarkan ukuran, maksimal 200 kilogram saja. Jamak ditemui pengusaha Tarakan berhadapan dengan aparat penegak hukum. Lantaran kerap ditemukannya kepiting betina atau bertelur yang dikirim ke Tawau, Malaysia melalui jalur ilegal tanpa dilengkapi dokumen resmi.

Kepiting yang diselundupkan pun tak tanggung-tanggung, berdasarkan data rilis dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Kemananan Hasil Perikanan Tarakan, tangkapan kepiting hasil selundupan sejak 2017 lalu lebih dari 30 ribu ekor.

Koperasi Produsen Nelayan (KPN) Kaltara sejak lama mendorong adanya jalan keluar bagi pengusaha agar tak melulu berurusan dengan aparat penegak hukum. Ekspor kepiting sebuah peluang besar. Di sisi lain, KPN merasa ada pekerjaan rumah, yakni membuktikan kepada pemerintah jika komoditas ekspor itu tak selamanya diambil dari alam.

Sebaliknya, KPN membuat sebuah proyek pelestarian yang mengadopsi sejumlah terapan teknologi. Kepiting berhasil dibudidayakan di sebuah pertambakan di Kelurahan Selumit Pantai, Tarakan Tengah.

Februari 2018 lalu, 180 ribu benih kepiting ditabur di sejumlah areal tambak seluas 5 hektare yang berdampingan dengan permukiman warga. Kurang lebih enam bulan itu, kepiting-kepiting itu pun siap dipanen.

Kemarin (15/8), KPN memanen secara acak. Kurang lebih 20 ekor kepiting berhasil diambil. Beberapa ekor merupakan kepiting bertelur. Penasihat Hukum KPN Kaltara Mangatur Nainggolan mengklaim kepiting budidaya tersebut sangat terjaga pemeliharaannya dibanding kepiting alam.

“Inilah yang bisa saya sampaikan. Dan kami minta pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bisa menyikapi ini, bahwa kepiting yang beredar itu ada dua sumber. Satu dari alam dan satunya lagi dari tambak. Sehingga kami berharap ibu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bisa mengakomodir kepiting ini sebagai sumber peningkatan ekonomi kerakyatan di masyarakat Kaltara, khususnya Tarakan,” ucap Nainggolan.

Menurut Nainggolan, hal tersebut juga menjadi peluang bagi pemerintah. Masyarakat perbatasan akhirnya punya harapan baru mengangkat derajat perekonomian. “Pemerintah daerah juga seharusnya bisa memungkinkan untuk membuat kebijakan lokal untuk bisa mendorong ke arah sana,” jelasnya.

Soal aturan KKP yang mengharuskan untuk menjual kepiting sesuai ukuran, Nainggolan mengibaratkan seperti budidaya kulit buaya, di mana dalam penangkaran tidak ada pembatasan dan seharusnya hal ini juga bisa diterapkan.

“Itu yang kami harapkan, cuma memang selama ini memang belum ada budidaya kepiting secara ilmiah. Tapi sekarang, kami dari Koperasi Produsen Nelayan Kaltara sudah membuktikan itu bahwa ini bisa dilakukan dengan kepiting budidaya,” bebernya.

Menurut Nainggolan, sangat mudah membedakan kepiting alami dan budidaya. Selain itu, dengan adanya rekayasa dan ahli teknologi budidaya kepiting ini juga merupakan salah satu edukasi pada masyarakat akan perbedaan kepiting ini. “Makanya kami meminta solusi kepada pemerintah, apa solusi terbaik,” ucapnya.

“Sebenarnya panennya ini hanya empat bulan. Namun  baru kami panen hari ini (kemarin). Dan ini nanti akan kami ajukan ke pemerintah pusat dan kami masih menunggu solusi itu,” katanya lagi.

 

BERHARAP PERMEN 56 DIREVISI

Ditambahkan Dr. Heppi Iromo, S.PI, M.Si, mengatakan cangkang kepiting bakau jauh lebih bersih dikarenakan benih kepiting sudah terawat sejak dari induknya. Benih yang dipilih dari induk-induk kepiting terbaik.

“Kenapa kepiting yang dibudidayakan ini jauh lebih bersih dan ukurannya beragam, karena memang hasil budidaya yang dipelihara terkontrol dan diberi pakan secara teratur. Dan pertumbuhan kepiting yang dibudidayakan juga seragam,” katanya.

Adapun waktu untuk pembudidayaannya, Heppi mengatakan membutuhkan waktu kurang lebih 4 hingga 5 bulan dari ukuran kecil yakni dari 0,5 sampai 0,7 sentimeter.

“Kami sudah saksikan bersama. Bahwa kepiting budidaya memiliki keunggulan tersendiri,” jelasnya lagi.

Permen KKP 56/2016 tidak memberi peluang bagi petambak dalam soal ekspor. “Setelah kami beraudiensi dengan Kementerian Kelautan, ternyata peraturan ini dibuat sebelum ada atau belum pernah dilakukannya budidaya peneluran kepiting. Dulu ada, tepatnya di Sulawesi namun tidak disosialisasikan. Dan sekarang ini kembali dilakukan di Kaltara khususnya di Tarakan untuk kami lakukan publikasi bahwa kepiting yang ada dijual itu. Jangan dianggap semua dari alam,” bebernya.

 

Juga ditegaskan, tujuan utama ini tidak hanya untuk ekspor semata. Tetapi membuka mata terhadap proses penegakan hukum terhada fakta di lapangan.

“Kenapa kami suruh mengimbau dan memperlihatkan kepada aparat, baik dari kepolisian, Lantamal XIII, TNI serta jajaran pemerintah lainnya? Karena untuk memanen kepiting beginilah cara yang dilakukan para penjaga tambak udang untuk mendapatkan kepiting,” jelasnya.

 

SELAMA ADA ATURAN, PENEGAKAN BERJALAN

Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) Tarakan Husna Ersant Dirgantara mengungkapkan dengan adanya budidaya kepiting bakau agar diperjuangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan ke pemerintah pusat. “Tapi, jangan beranggapan dulu bahwa dengan adanya budidaya kepiting  ini, akan bisa langsung mengekspor kepiting bertelur ke luar negeri, peraturan tetaplah peraturan,” ungkap Ersant.

Untuk hasil kepiting bakau dari budidaya, menurut Ersant hasilnya bisa saja dijual ke luar negeri. Namun kembali pada aturan bahwa khusus untuk kepiting bertelur tidak bisa. Hanya sebatas untuk dibolehkan kepiting jantan.

“Untuk bisa menjual kepiting bertelur hasil budidaya itu masih dalam tahapan, dan  ini masih panjang. Nantinya juga kami ingin melakukan evaluasi terhadap mana-mana saja yang melakukan pembibitan kepiting ini,” kata Ersant.

Adapun jika nantinya kepiting budidaya ini mendapatkan persetujuan untuk dilakukan ekspor. Tentunya ada mekanisme-mekanisme yang harus dilakukan. Seperti adanya perizinan soal kepiting yang akan dijual keluar.

“Untuk memastikan apakah itu kepiting tambak atau kepiting alam, itu melalui surat perizinannya. Nantinya di situ akan tertulis kepiting ini dari luasan area berapa, berapa bibit yang ditaburkan dan berapa yang dipanen,” jelasnya.

Dengan ini, Ersant juga menegaskan bahwa ini merupakan upaya serius Pemerintah Kota Tarakan dalam mendorong hidupnya budidaya yang berkelanjutan. “Kami ingin kekhawatiran akan kepiting itu punah perlahan hilang,” harapnya. (eru/lim)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 18 September 2018 23:57

BKSDA Sarankan Diserahkan ke LK

TARAKAN – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyarankan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan…

Selasa, 18 September 2018 23:44

Sehari Penukaran, Tembus 1.142 Kartu GPN

TARAKAN – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalimantan Utara terus mendorong penggunaan sistem…

Selasa, 18 September 2018 12:24

KASIHAN..!! Beruang Madu Kurus di Kandang Besi

TARAKAN – Sedih rasanya melihat nasib tiga ekor beruang madu di dua kandang di dalam Hutan Kota…

Selasa, 18 September 2018 12:22

Potensi PAD, Investasi dan Libatkan Pihak Ketiga

KRITIK datang dari pemerhati lingkungan di Kalimantan Timur (Kaltim). Mantan Direktur Kawasan Wisata…

Selasa, 18 September 2018 12:19

Dibatasi, Dolar Naik, hingga Kompetitor Menguat

Semarak Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, tidak berdampak signifikan bagi usaha jasa percetakan seperti…

Selasa, 18 September 2018 12:13

DPT Dicermati untuk Kali Kedua

TARAKAN- Imbauan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI agar dilakukan pencermatan ulang terhadap jumlah…

Selasa, 18 September 2018 12:11

Imunisasi MR Masih 46 Persen

TARAKAN – Pencapaian imunisasi measles rubella (MR) di Kalimantan Utara (Kaltara) masih cukup…

Selasa, 18 September 2018 11:59

Dua Spesialis Congkel Jok Motor Terciduk

TARAKAN - Dua pelaku pencurian spesialis merusak jok motor berhasil diamankan pihak kepolisian dari…

Selasa, 18 September 2018 11:51

Dolar Naik, Material KPR Ikut Naik

TARAKAN- Naiknya kurs dolar masih menjadi polemik. Pasalnya berbagai usaha juga mengalami imbasnya,…

Selasa, 18 September 2018 11:48

Akses Menuju Pemakaman Rusak Parah

TARAKAN - Jalan lingkungan menuju ke arah Tempat Pemakaman Umum (TPU) khusus Nasrani, Kelurahan Juata…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .