MANAGED BY:
SABTU
18 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Senin, 23 Juli 2018 14:30
Lundayeh, Etnis Tertua yang Sempat ‘Hilang’
SATUKAN PRESEPSI: Seluruh masyarakat Lundayeh yang berdiskusi saat Festival Aco Lundayeh beberapa waktu lalu. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Dayak Lundayeh Idi Lun Bawang merupakan salah satu etnis tertua di Borneo. Dahulu kala, mereka sangat percaya terhadap hal-hal gaib (animisme). Tradisi dan budaya yang dibuat nenek moyang, tak terlepas dari hal itu. Saat mereka sudah mengenal Tuhan, perlahan-lahan semua mulai ditinggalkan. Kurang lebih 86 tahun suku Dayak Lundayeh bak kehilangan identitas.

 

-------

 

DAYAK Lundayeh satu di antara ratusan etnis yang ada di Indonesia, khususnya Kalimantan. Sama hal dengan etnis lainnya, Dayak Lundayeh juga memiliki tradisi-tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang. Sebelum agama, masuk ke daerah Mentarang dan Krayan di Kaltara, masyarakat Dayak Lundayeh adalah pemeluk animisme.

Mereka percaya pada kekuatan-kekuatan alam-gaib, seperti penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang serta benda-benda keramat lainnya. Untuk mempertahankan diri atau mencari daerah yang menjadi lahan kehidupan, masyarakat tidak segan-segan melakoni febunu’ (perang) dengan komunitas yang lain. Jika seorang pria yang ingin dianggap perkasa, maka ia akan pergi ke daerah musuh untuk mengayau (memotong kepala).

Pada 1932 seorang misionaris Christian Missionary Aliance (CMA) berkebangsaan Amerika bernama Rev. E.W. Presswood bersama istrinya Fiolla Presswood masuk ke wilayah masyarakat Dayak Lundayeh di Mentarang dan Krayan, tepatnya di Kaltara, untuk menyebarkan agama Kristen.

Pada awalnya masyarakat di Mentarang kurang menanggapi ajaran agama Kristen, dan sulit untuk membuang kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar turun-temurun. Namun dengan tekun dan kesabaran yang tinggi, Presswood terus menyampaikan kabar penyelamatan manusia dari dosa dan mengadakan kebaktian-kebaktian rutin di dalam rumah-rumah penduduk di Mentarang sampai ke daerah Krayan.

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan terhadap hal-hal gaib ditinggalkan, masyarakat Lundayeh berkembang dengan memeluk agama Kristen, yang mengenal adanya Tuhan. Tradisi yang berkaitan dengan animisme ditinggalkan karena bertentangan dengan agama.

Dikisahkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Yansen TP, kurang lebih 86 tahun mereka bak kehilangan sejarah. Kini mereka pelan-pelan mulai mengingat budaya-budaya dan tradisi yang sempat hilang tersebut.

“Itu tidak mudah. Kami mulai membentuk kembali jati diri Lundayeh,” ungkap lelaki yang saat ini menjabat Bupati Malinau itu.

Mengapa tidak mudah?

Kata Yansen, sapaan akrabnya, di awal pasti ada yang berbeda pendapat dengan tujuannya. Seperti saat dia membangun ruma’ kadang atau rumah adat Lundayeh di Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau. Menuai pro kontra namun dia tetap melanjutkan niat baik tersebut.

“Sebab mereka berpendapat dengan menumbuhkan kembali tradisi, maka sama saja membawa mereka kembali ke dunia lama. Apa yang kami lakukan ini menginterpretasikan budaya Lundayeh yang sudah ada sejak dulu kala menjadi salah satu warna Indonesia,” tutur suami dari Ping Yansen ini.

Tak hanya dia, seorang yang gelisah akan semakin tergerusnya budaya Lundayeh ini adalah Ricky Yakub Ganang. Salah satu putra Dayak Lundayeh itu merasa khawatir semakin banyaknya orang-orang tua yang berpulang sebagai sumber utama, untuk bisa meneruskan tradisi-tradisi. Maka, ancaman akan hilangnya tradisi nenek moyang pun semakin nyata.

Menurutnya, terjadi erosi besar dan terus-menerus terhadap nilai budaya, sebagai bagian dari dampak masuknya budaya asing di era milenial ini. Ditambah dengan rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari, juga melestarikan budaya Lundayeh.

Akibatnya sebagian budaya kita menghadapi degradasi nilai dan ancaman kepunahan. Butuh perubahan mendasar untuk menumbuhkan semangat dan minat dari generasi muda (anak adi) Lundayeh Idi Lun Bawang. Merekalah tumpuan utama dan harapan besar untuk keberlanjutan generasi dan kejayaan budaya Lundayeh.

“Jika sekiranya saya tidak rajin merekam dan menulis, semua tradisi lisan Dayak Lundayeh, maka tentu semua tradisi akan hilang. Seperti, adat isitiadat, nyanyian, mumuh, benging dan masih banyak lagi. Kekhawatiran itu bisa terjadi, karena saat ini semua informan (orang tua) yang asli satu per satu sudah meninggal dunia,” jelas Ricky Yakub, yang juga dia tuliskan di dalam Buku Dayak Lundayeh Idi Lun Bawang, Budaya Serumpun di Dataran Tinggi Borneo bersama Yansen TP.

Keyakinan ini dipegang masyarakat Lundayeh, sebab masih ada dari mereka yang tetap familiar dan pernah mendengar penuturan langsung beberapa cerita atau dongeng serta berbagai, syair budaya dari sumber pertama yakni para orang tua.

Semangat dalam membangun budaya leluhur tak hanya dirasakan masyarakat Lundayeh yang bermukim di Bumi Ibu Pertiwi saja, namun semangat itu juga menjalar hingga ke komunitas Sabah, Malaysia dan Brunei Darussalam. Hubungan individual para elit Lundayeh di tiga negara itu sudah terbangun dan berjalan dengan lancar.

“Hubungan saling berkunjung secara langsung sudah kami mulai sejak lama, seperti yang dilakukan Persekutuan Dayak Lundayeh Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2012 yang berkunjung ke Lawas,” jelas Yansen.

Hal ini dianggap penting bagi Yansen, sebab untuk bisa mewujudkan kejayaan dan karisma kebudayaan etnis Lundayeh Idi Lun Bawang di dataran tinggi Boreno. “Pada saatnya akan turut memberi kontribusi besar dan nyata dalam menciptakan hubungan yang erat antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Termasuk dengan menyelenggarakan Festival Budaya Aco Lundayeh 2018 yang dimulai 9 Juli yang mana mempertemukan semua masyarakat Lundayeh, dari berbagai wilayah dan negara. Di sana mereka kembali diingatkan akan tradisi yang hampir punah. Jati diri yang mereka kembali hadirkan di forum tersebut.

 

CIRI KHAS DAYAK LUNDAYEH

Untuk bisa melihat kehidupan masyarakat Lundayeh secara langsung, tim Radar Tarakan memutuskan berangkat dari Tarakan menuju Bumi Intimung menggunakan speeedboat, dengan jarak tempuh 3 jam, Senin 9 Juli lalu.

Sesampai di Bumi Intimung, tim memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Sapi keesokan harinya. Perjalanan  menuju desa dapat menggunakan transportasi darat roda empat maupun roda dua, kurang lebih tiga puluh menit.

Sampai di desa, tim disambut dengan pemandangan yang berbeda, di setiap rumah warga terdapat motif-motif khas Lundayeh, dengan warna-warni yang bisa dikreasikan.

Kepala Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau Otniel mengatakan dengan menempelkan motif-motif khas Lundayeh di rumah-rumah merupakan identitas warga yang membedakan dengan etnis Dayak lainnya. Tak hanya motif saja, bahkan beberapa rumah juga menggambarkan benda-benda seperti tempayan dan gambar buaya yang meruapakan ciri khas Lundayeh.

“Kurang lebih 400 rumah warga sudah dicat warna-warni dengan motif-motif Lundayeh. Kami ingin ada pembeda dengan desa-desa lainnya,” jelas Otniel.

Untuk bisa menyeragamkan hal tersebut, warga-warga sekitar memang gotong royong dengan merogoh kocek pribadi. Hal ini pun tidak terlepas dengan tradisi Lundayeh yang memang sudah terkenal dengan semangat kebersamaannya. Bak filosofi busak baku yang melambangkan ikatan emosional dan kekeluargaan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Dayak Lundayeh.

“Semua dananya swadaya dari masyarakat, kami sama-sama gotong royong, untuk bisa mempercantik desa,” jelas Otniel.

Bukan itu saja, saat sampai di alun-alun Desa Pulau Sapi, tim juga disambut patung buaya yang cukup besar. Etnis Dayak Lundayeh memang erat dikaitkan dengan hewan reptil buaya. Hewan yang memiliki sejarah panjang ini, merupakan jenis yang pemberani dan ditakuti oleh manusia serta hewan-hewan lainnya. Keganasan buaya baik di darat maupun di sungai sama-sama keras dan kuat. Dulu, para orang tua mencerminkan sifat baik dan buruk manusia dengan menyebut sebagai sifat buaya.

Salah seorang penggiat budaya Dayak Lundayeh, Samarinda, Kaltim, Steven menjelaskan, buaya merupakan salah satu identitas dari Lundayeh. Salah satunya dia memiliki rasa kasih sayang yang mendalam pada pasangannya. “Jadi buaya melambangkan kesetiaan, buaya ibaratnya tidak pernah selingkuh. Jika dia punya pasangan itulah yang menjadi pasangan selama dia hidup. Saat ditinggal pasangannya pun tidak akan mencari yang lain hingga mati. Begitu juga seorang Lundayeh, yang harus setia, tak hanya pada pasangan tetapi juga dalam segala hal,” jelas lelaki yang berdomisili di Samarinda, Kaltim itu.

Bukan itu saja, buaya pun memiliki sifat dan karakter yang tenang, namun sigap dan siap bereaksi menunjukkan keberaniannya. Buaya pun dianggap tidak sembarang dalam menunjukkan kekuatannya. Buaya yakin mampu mencapai apa yang dinginkan.

Rata-rata hingga kini warga Lundayeh tetapi berpegang teguh pada filosofi ini, berani menghadapi segala tantangan menju pada tujuan dan sasaran hidup yang dingin dicapai.

Tanda pertama yang diketahui saat menempatkan buaya sebagai simbol atau lambang Lundayeh, dengan adanya ulong (monumen) buaya yang bekasnya masih ada di beberapa tempat. Terbuat dari tanah yang dibentuk seperti buaya dan didirikan satu tiang di sampingnya, menjulang tinggi yang dulunya digunakan untuk menggantung kepala musuh yang diperolah dari mengayau (perang).

Menyoal kebudayaan lainnya, diakui salah seorang warga Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau Dolvina (39), saat ini memang banyak tradisi-tradisi yang tak banyak diketahui oleh generasi muda. Para orang tua memiliki tugas yang sangat penting, untuk tetap bisa menanamkan kembali budaya-budaya yang hampir punah tersebut.

“Saat kami kecil dulu, orang tua selalu mengajarkan tradisi-tradisi, itu juga yang sedang kami lakukan saat ini di tengah perkembangan zaman,” jelas Dolvina.

Salah satu yang dia tanamkan ke anak-anaknya, memanfaatkan menjaga kearifan lokal. Contohnya seperti memperoleh ikan, saat ini yang mereka tahu hanya dapat membeli dan tersedia di pasar. Padahal saat dia kecil, agar bisa memakan ikan maka harus berusaha mengambil di sungai.

“Agar tidak hilang tradisi itu, terkadang jika arus sungai tidak sedang deras, saya bersama keluarga sengaja mencari ikan dengan menjala. Dengan jala ini juga merupakan cara kami menjaga alam, agar tidak rusak. Sebab kalau menggunakan alat lain, maka dikhawatirkan akan merusak sungai,” ungkap Dolvina, seraya mengatakan saat ini banyak tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang hilang, sehingga sangat perlu diingatkan ke para generasi muda. (nri/ega/lim)

 

Lundayeh, Etnis Tertua yang Sempat ‘Hilang’

 

 

 

 

 

 

 

 


BACA JUGA

Senin, 06 Agustus 2018 12:19

Usia Tidak Menentukan Kelaikan

Peremajaan angkutan kota (angkot) hukumnya wajib bagi para pelaku usaha jasa transportasi yang menangani.…

Senin, 30 Juli 2018 17:48

Banyak Solusi Hadapi Krisis Air Bersih, Ini Salah Satunya...

Tarakan sedang hujan hingga beberapa hari ke depan. Hal itu pula mengindikasikan jika, persediaan air…

Senin, 23 Juli 2018 14:28

Jalan Kaki 3 Hari Menyusuri Hutan dan Gunung

Pulau Sapi yang berada di Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kaltara ini dibentuk menjadi salah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .