MANAGED BY:
KAMIS
19 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 22 Juni 2018 13:46
Layaknya Anyaman Dipersatukan dengan Silaturahmi

Makna Tradisi Lebaran Ketupat Setelah Idulfi tri

BERKAH LEBARAN: Salah seorang pedagang ketupat yang kebanjiran orderan saat Lebaran Ketupat di Pasar Tenguyun Tarakan, Kamis (21/6). JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Biasanya sepekan setelah Idulfitri, sebagian umat muslim khususnya berdarah suku Jawa selalu melaksanakan tradisi yang akrab disebut Lebaran Ketupat. Sayur lodeh, ayam balado dan ketupat menjadi sajian khas yang wajib ada. Tradisi ini juga kerap kali dilakukan sebagian masyarakntaka, berikut cerita selengkapnya.

Mega Retno Wulandari

Konon kabarnya tradisi Lebaran Ketupat dikenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga. Salah satu keluarga yang masih melestarikan tradisi ini, Veronica warga Kelurahan Karang Anyar. Mereka masih mempertahankan budaya yang sudah dilakukan turun temurun di keluarga besarnya. Meski tinggal di tanah rantau tidak mengurangi makna dalam dari Lebaran Ketupat.

Sebelumnya, tradisi Lebaran Ketupat ini diperkenalkan pada masyarakat Jawa oleh Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Sunan Kalijaga membudayakan dua kali bakda (sesudah) yakni, bakda Lebaran, dan ba’da kupat yang dimulai sepekan setelah Lebaran. Ketupat sendiri memiliki makna khusus.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku, lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan, laku papat artinya empat tindakan. Tradisi sungkeman menjadi arti dari ngaku lepat, mengakui kesalahan bagi orang Jawa. Sungkeman sendiri mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Lalu untuk empat tindakan yang dimaksud ialah, Lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Masing-masingnya memiliki arti khusus. Lebaran sendiri menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan, meluber atau melimpah, ajakan bersedekah dan pengeluaran zakat fitrah. Leburan, sudah habis dan lebur yang berarti dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain. “Terakhir, Laburan berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding, yang artinya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya,” ungkap Vero sapaan akrabnya.

Hal itulah yang selalu dipegang teguh Veronica dan keluarga besarnya. Tidak banyak yang dipersiapkan, terlebih saat ini sudah banyak pedagang di pasar yang menjual selongsongan ketupat. Sehingga turut mempermudah bagi masyarakat yang merayakan lebaran ketupat.

“Yang cukup sulit itu bikin anyaman ketupatnya ya, nggak semua bisa. Karena cukup sulit. Untungnya sekarang di pasar itu sudah banyak yang jual, meskipun harganya lumayan mahal kalau dibandingkan bikin sendiri,” ungkapnya.

Ketupat sendiri merupakan lontong yang bungkus dengan anyaman janur kuning. Hal ini pun turut mengandung filosofi tersendiri. Janur, sendiri diambil dari bahasa Arab ja'a nur yang berarti telah datang cahaya. Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.

“Lebaran ketupat ini maknanya banyak, selain tujuannya untuk melestarikan tradisi harapannya juga semoga kita bisa aplikasikan makna dari ketupat ini dikehidupan kita, agar hidup lebih damai, dan tentram. Setelah meminta maaf, jangan sampai kesalahannya diulang lagi, agar persaudaraan kita semakin erat,” tambah bungsu dari dua bersaudara ini.

Lebaran Ketupat layaknya Idulfitri, kerabat dan keluarga datang silih berganti dengan sajian utama ketupat. Mempererat jalinan silaturahmi menjadi tujuan utama. Budaya serta adat yang diyakini mampu mempersatukan, diharapkan akan terus ada.

“Meski di zaman serba modern sekarang ini jangan sampailah lupa sama budaya kita, identitas kita. Karena kalau bukan kita generasi muda ini yang melestarikannya siapa lagi?, jangan sampai  tradisi yang luar biasa ini hilang tergerus jaman,” ungkapnya. (***/nri)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 19 Juli 2018 11:34

Ratusan Sopir Angkot Demo Tolak Grab

TARAKAN - Ratusan sopirĀ  angkot yang tergabung dalam SPTI dan sopir angkutan konvensional lainnya, Kamis…

Kamis, 19 Juli 2018 11:21

Presiden Jokowi Belum Dipastikan Datang

TARAKAN – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi)…

Kamis, 19 Juli 2018 11:19

200 Pelanggan Alami Gangguan Token Listrik

TARAKAN – Tak hanya merasakan pemadaman listrik saja, masyarakat Tarakan juga sempat tidak bisa…

Kamis, 19 Juli 2018 11:17

Tiga Daerah Raih WDP

TARAKAN -  Tiga dari lima kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara mendapat opini Wajar Dengan…

Kamis, 19 Juli 2018 11:16

Tak Penuhi Kuota, Selektif Pilih Bacaleg

TARAKAN – Bertambahnya jumlah daerah pemilihan (dapil) di Bumi Paguntaka membuat para legislator…

Kamis, 19 Juli 2018 09:56

Lapas Penuh, Hak Tahanan Tak Terpenuhi

TARAKAN - Kondisi lembaga pemasyarakatan (lapas) cukup memprihatinkan. Tak hanya kapasitasnya, namun…

Kamis, 19 Juli 2018 09:48

Drainase Minim, Percepat Kerusakan Jalan

TARAKAN – Ketua RT 63, Kelurahan Karang Anyar, Maria Renius mengatakan, belum lama ini beberapa…

Rabu, 18 Juli 2018 23:06

Antisipasi Lonjakan Harga Sembako

TARAKAN – Mengatasi lonjakan harga kebutuhan pokok di Bumi Paguntaka, terutama menjelang pelaksanaan…

Rabu, 18 Juli 2018 11:50

Tambah Flight di Rakernas Apeksi

TARAKAN – Jelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi)…

Rabu, 18 Juli 2018 11:47

Karena Rindu Orang Tua, Pulang ke Tarakan Bermalam

Rasa kaget dan tidak percaya, ketika mendengar kabar bahwa Muhammad Riharja sudah berpulang menghadap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .