MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 22 Juni 2018 13:46
Layaknya Anyaman Dipersatukan dengan Silaturahmi

Makna Tradisi Lebaran Ketupat Setelah Idulfi tri

BERKAH LEBARAN: Salah seorang pedagang ketupat yang kebanjiran orderan saat Lebaran Ketupat di Pasar Tenguyun Tarakan, Kamis (21/6). JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Biasanya sepekan setelah Idulfitri, sebagian umat muslim khususnya berdarah suku Jawa selalu melaksanakan tradisi yang akrab disebut Lebaran Ketupat. Sayur lodeh, ayam balado dan ketupat menjadi sajian khas yang wajib ada. Tradisi ini juga kerap kali dilakukan sebagian masyarakntaka, berikut cerita selengkapnya.

Mega Retno Wulandari

Konon kabarnya tradisi Lebaran Ketupat dikenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga. Salah satu keluarga yang masih melestarikan tradisi ini, Veronica warga Kelurahan Karang Anyar. Mereka masih mempertahankan budaya yang sudah dilakukan turun temurun di keluarga besarnya. Meski tinggal di tanah rantau tidak mengurangi makna dalam dari Lebaran Ketupat.

Sebelumnya, tradisi Lebaran Ketupat ini diperkenalkan pada masyarakat Jawa oleh Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Sunan Kalijaga membudayakan dua kali bakda (sesudah) yakni, bakda Lebaran, dan ba’da kupat yang dimulai sepekan setelah Lebaran. Ketupat sendiri memiliki makna khusus.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku, lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan, laku papat artinya empat tindakan. Tradisi sungkeman menjadi arti dari ngaku lepat, mengakui kesalahan bagi orang Jawa. Sungkeman sendiri mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Lalu untuk empat tindakan yang dimaksud ialah, Lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Masing-masingnya memiliki arti khusus. Lebaran sendiri menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan, meluber atau melimpah, ajakan bersedekah dan pengeluaran zakat fitrah. Leburan, sudah habis dan lebur yang berarti dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain. “Terakhir, Laburan berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding, yang artinya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya,” ungkap Vero sapaan akrabnya.

Hal itulah yang selalu dipegang teguh Veronica dan keluarga besarnya. Tidak banyak yang dipersiapkan, terlebih saat ini sudah banyak pedagang di pasar yang menjual selongsongan ketupat. Sehingga turut mempermudah bagi masyarakat yang merayakan lebaran ketupat.

“Yang cukup sulit itu bikin anyaman ketupatnya ya, nggak semua bisa. Karena cukup sulit. Untungnya sekarang di pasar itu sudah banyak yang jual, meskipun harganya lumayan mahal kalau dibandingkan bikin sendiri,” ungkapnya.

Ketupat sendiri merupakan lontong yang bungkus dengan anyaman janur kuning. Hal ini pun turut mengandung filosofi tersendiri. Janur, sendiri diambil dari bahasa Arab ja'a nur yang berarti telah datang cahaya. Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.

“Lebaran ketupat ini maknanya banyak, selain tujuannya untuk melestarikan tradisi harapannya juga semoga kita bisa aplikasikan makna dari ketupat ini dikehidupan kita, agar hidup lebih damai, dan tentram. Setelah meminta maaf, jangan sampai kesalahannya diulang lagi, agar persaudaraan kita semakin erat,” tambah bungsu dari dua bersaudara ini.

Lebaran Ketupat layaknya Idulfitri, kerabat dan keluarga datang silih berganti dengan sajian utama ketupat. Mempererat jalinan silaturahmi menjadi tujuan utama. Budaya serta adat yang diyakini mampu mempersatukan, diharapkan akan terus ada.

“Meski di zaman serba modern sekarang ini jangan sampailah lupa sama budaya kita, identitas kita. Karena kalau bukan kita generasi muda ini yang melestarikannya siapa lagi?, jangan sampai  tradisi yang luar biasa ini hilang tergerus jaman,” ungkapnya. (***/nri)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 21 Maret 2019 11:18

Pasokan Listrik Segera Pulih Bertahap

TARAKAN – Proses pigging atau pembersihan pipa akhirnya rampung dilakukan…

Kamis, 21 Maret 2019 11:14

ADA APA INI..?? Empat Sukhoi Mengudara di Perbatasan Kaltara

TARAKAN – Empat pesawat Sukhoi jenis SU-27 dan SU-30 dari…

Kamis, 21 Maret 2019 11:13

CIHUYY ..!! Ngga Lama Lagi di Tarakan Ada Cinema XXI

TARAKAN – Pertengahan tahun ini, Cinema XXI di lantai empat…

Kamis, 21 Maret 2019 11:11

4 ASN Mangkir Kerja, 2 Kampanye di Medsos

TARAKAN - Menjadi anggota aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan untuk…

Kamis, 21 Maret 2019 10:37

Cabuli Anak di Bawah Umur, CK Diringkus Polisi

TARAKAN – Perbuatan yang dilakukan oleh pria berinsial CK (37)…

Kamis, 21 Maret 2019 10:31

Besi Bermunculan di Badan Jalan

TARAKAN – Minimnya perawatan jalan lingkungan, kerusakan semenisasi jalan pun…

Rabu, 20 Maret 2019 11:17

Pigging Klir, Listrik Berangsur Pulih

TARAKAN – PT Medco E&P Tarakan tengah berusaha merampungkan proses…

Rabu, 20 Maret 2019 11:15

Kelalaian Warga, Lahan Kembali Terbakar

TARAKAN - Kebakaran lahan kembali terjadi di RT 05 Kelurahan…

Rabu, 20 Maret 2019 11:13

“WTP Bukanlah Tanda Kelulusan, tapi Kewajiban”

Dalam kaitan membangun Indonesia, masyarakat perlu memiliki pemahaman cukup untuk…

Rabu, 20 Maret 2019 11:12

Kampanyekan Heart of Borneo Jadi Wisata Dunia

JAKARTA - Tak hanya kekayaan sumber daya alam berupa minyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*