MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Selasa, 08 Mei 2018 09:42
Money Changer Resmi Berdiri di Sebatik
UPAYA MENEKAN RINGGIT: Kepala Grup Penyelenggaraan Pengelolaan Uang di Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Pusat Luctor Etemergo melakukan penukaran uang perdana di teras Bank BRI Aji Kuning, J

PROKAL.CO, SEBATIK - Tahun ini bagi warga perbatasan khususnya daerah Sebatik, Kabupaten Nunukan terasa spesialis karena kehadiran money changer atau tempat penukaran uang. Pertama di wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara). Money changer yang ditempatkan di teras Bank Rakyak Indonesia (BRI) Aji Kuning di Jalan Mulawarman RT 01, Desa Aji Kuning, Sebatik Tengah, Jumat (4/5) diresmikan langsung Kepala Grup Penyelenggaraan Pengelolaan Uang di Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Pusat Luctor Etemergo bersama Kepala Divisi EPV BRI Hepman dan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten (Setkab) Nunukan Yofie F. Wowor. Diharapkan kehadiran money changer yang lokasinya dekat dengan Patok 3, batas negara Indonesia dengan negara tetangga Malaysia, dapat menjaga kedaulatan rupiah di perbatasan. Mengingat peredaran uang asing, Ringgit Malaysia (RM) di pulau yang secara administratif dibagi menjadi dua bagian tersebut masih tinggi. Kepala Grup Penyelenggaraan Pengelolaan Uang di Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Pusat Luctor Etemergo mengatakan, diresmikannya money changer kali ini sebagai upaya dari BI untuk menyediakan uang Rupiah yang berkualitas khususnya di daerah perbatasan. “Ini merupakan bagian dari pelaksanaan pilot project BI Jangkau 2018, maka sebagai salah satu tanda dimulainya program dimaksud adalah beroperasinya KUPVA/money changer di wilayah Pulau Sebatik yang termasuk dalam kawasan tertinggal, terdepan, terluar (3T) dan merupakan kawasan perdagangan maupun perlintasan antar kedua negara,” ujarnya. Luctor menyebutkan kondisi idealnya memang di setiap pos lintas batas tersedia tempat penukaran uang resmi, sehingga pihaknya berencana untuk menempatkan money changer di seluruh perbatasan yang ada di Indonesia bekerjasama dengan perbankan. “Idealnya begitu lewat garis batas langsung dihadapkan dengan penukaran uang,” tuturnya. Pria dengan perawakan tinggi besar itu juga berharap dengan adanya lokasi penukaran uang yang resmi tersebut masyarakat perbatasan khususnya dapat memaksimalkan penggunaan rupiah. “Kalau penukaran yang ada di pasar dan berjalan-jalan (individu) itu illegal, bisa dilaporkan. Selain itu juga penukaran uang di tempat seperti itu (ilegal) kan biasanya hanya cincai dengan kurs yang tidak pasti,” ujarnya. Lanjutnya, dengan adanya penukaran uang yang resmi maka nilainya sudah pasti, tidak ada perbedaan dengan daerah lain dalam harga, sehingga tidak tidak ada lagi masyarakat yang dirugikan. “Bila TNI dan Polri bela negaranya mengangkat senjata, bentuk bela negara kami lain lagi tanpa harus menggunakan senjata, tapi bagaimana caranya kami memberikan pemahaman ke masyarakat perbatasan untuk lebih menggunakan rupiah dibanding mata uang asing,” ucapnya. Terpisah Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab Nunukan Yofie F. Wowor mengatakan, keberadaan money changer dirinya anggap dapat mempermudah jangkauan peredaran uang rupiah di kecamatan maupun di desa yang ada di Kabupaten Nunukan. “Kita ketahui Kabupaten Nunukan khususnya Sebatik masuk wilayah 3T, sehingga sulit mendapatkan distribusi uang rupiah dengan kualitas baik,” bebernya. Dirinya mengungkapkan bahwa wilayah perbatasan wajib menjadi daerah yang diprioritaskan untuk dapat lebih mudah mendapatkan uang rupiah. “Kenapa harus diprioritaskan, karena ini merupakan salah satu satu langkah konkrit untuk menghapuskan sistem jual beli dalam negeri dengan menggunakan mata uang asing,” ucapnya. Dirinya menjelaskan bahwa hingga saat ini di perbatasan Kabupaten Nunukan khususnya daerah Sebatik, masih banyak masyarakatnya menggunakan mata uang Malaysia yakni ringgit. “Padahal sudah di dalam negeri sendiri, tapi menggunakan ringgit untuk melakukan transaksi jual beli,” bebernya. Salah satu warga Sebatik, Suryani membenarkan selama ini masih banyak warga di daerah perbatasan yang menggunakan mata uang ringgit untuk bertransaksi dibandingkan mata uang rupiah. “Pasalnya di sini tidak ada penukaran uang resmi, biasanya kalau menukar uang saya ke pedagang atau pun orang yang memang memiliki uang untuk ditukarkan. Apakah penukaran uang tersebut sudah sesuai dengan harga penukarannya, saya tidak mengetahui secara pasti yang penting bisa ditukarkan,” bebernya. Dirinya menyabut baik dengan adanya money changer di wilayah perbatasan, hal tersebut membuktikan bahwa pemerintah pusat peduli dengan warga perbatasan. “Kalau ada ini (money changer) kami sudah tahu harga penukaran uang sebenarnya dan tidak merasa dirugikan lagi,” jelasnya. (jnr/lim)


BACA JUGA

Minggu, 14 Oktober 2018 21:59
0

0

Senin, 01 Oktober 2018 02:20

Beringin Dua Membara

TARAKAN - Puluhan rumah pada Senin (1/10) dini hari menjadi korban ganasnya si jago merah yang berada…

Jumat, 14 September 2018 10:52

Harapkan Bantuan Semenisasi Jalan

Tarakan— Kondisi jalan yang berlubang dan rusak tentu mengganggu mobilitas warga yang melewatinya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .