MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Jumat, 04 Mei 2018 21:25
Rilis Migrant Care, TPPO Incar Perempuan dan Anak

Kasus Human Trafficking

PENANGANAN BELUM SIGNIFIKAN: TKI menjadi salah satu objek empuk dalam tindak pidana perdagangan orang (TPPO). FOTO: DOK/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN - Kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) semakin kompleks. Mereka yang menjadi korban tak hanya orang dewasa untuk dijadikan pekerja upah kecil atau bahkan tidak diupah sama sekali. Namun juga terjadi terhadap perempuan dan anak.

Di antara kasus yang ada, ada menjadi korban dengan dijadikan kurir narkoba dan organ tubuhnya diperdagangkan. Dari rilis laporan tahunan kementerian luar negeri Amerika Serikat, trafficking  in person report, di 2017 TIP Report ini kembali menempatkan Indonesia dalam Tier 2. Posisi ini stagnan sejak 10 tahun terakhir. Artinya, meski Indonesia memiliki instrumen nasional anti trafficking, yakni Undang-Undang (UU) Nomor 21/2017 tentang Tindak Pidana Pencegahan Perdagangan Orang, tapi belum signifikan memerangi TPPO.

Wahyu Susilo, anggota Migrant Care, dalam materinya menyampaikan, terjadi kesalahpahaman atau kesalahan berpikir dalam melawan kasus TPPO ini. Ia mengatakan, pendekatan untuk memerangi perdagangan perempuan di Indonesia masih didominasi dengan cara pandang legal positif dan masih jauh dari human rights approach gender sensitive. Beberapa kebijakan-kebijakan pencegahan menjadi instrumen pembatasan hak bermobilitas dan hak ekonomi perempuan.

Dalam hal penegakan hukum, kata Wahyu, juga masih terjadi kriminalisasi korban. Terjebak dalam dikotomi legal dan ilegal sehingga memungkinkan terjadinya kriminalisasi pada inisiatif migrasi swadaya yang berbasis kultural. “Meskipun TPPO dan TPPU (tindak pidana pencucian uang) termasuk kategori kejahatan transnasional  terorganisi, hingga saat ini belum banyak inisiatif dan inovasi penegakan hukum pada kasus tersebut,” Wahyu saat menyampaikan materinya dalam kegiatan Diskusi Tematik mengenai TPPO yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan, kemarin.

Kepala DP3AP2KB Nunukan Faridah Aryani, S.E, mengatakan, kasus TPPO ini bukan hanya terjadi kepada TKI semata. Namun juga dapat terjadi terhadap masyarakat dalam negeri juga. Meskipun, yang paling banyak korban itu TKI. Karena, TKI ini sangat rentan dan mudah diperdaya. “TPPO ini bukan hanya menimpa TKI saja. Tapi, menyasar perempuan dan anak yang dijadikan kurir narkoba dan menjadi pekerja di tempat hiburan,” ungkap Faridah saat memberikan informasinya kepada peserta diskusi yang hadir.

Ia mengatakan, adanya pertemuan ini tentunya menjadi acuan pihaknya dalam menanggulagi korban dan pencegahan terjadinya korban TPPO. Khususnya menyatukan presepsi dalam menanggulangi kasus tertinggi dan berbahaya setelah kasus narkoba. “Salah satunya tujuan diskusi ini adalah mendapatkan solusi agar penanganannya dapat maksimal,” imbuhnya. (oya/lim)

 

 


BACA JUGA

Jumat, 14 September 2018 10:52

Harapkan Bantuan Semenisasi Jalan

Tarakan— Kondisi jalan yang berlubang dan rusak tentu mengganggu mobilitas warga yang melewatinya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .