MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 25 April 2018 12:02
Dugaan Beras Selundupan dari Vietnam
Keuntungan Sudah Dibagi-bagi?
TAK PENUHI DOKUMEN: Anjing pelacak dikerahkan memeriksa muatan kapal MV Dong Thien Phu Golden yang memuat 2.900 ton beras asal Vietnam, Minggu (21/4). FOTO: RIKO ADITYA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Beras Vietnam yang diangkut kapal MV Dong Thien Phu Golden masuk ke Sebatik diduga ada keterlibatan oknum pejabat. Bahkan, setiap rupiah keuntungan penjualan beras dengan merek Sunrise AAA itu menjadi jatah orang tertentu. Mulai dari Rp 500 rupiah hingga Rp 1.000 rupiah per kilogram (kg). “Tergantung yang mengurus. Ada di daerah, hingga ke pusat. Bahkan, ke Vietnam,” ujar sumber terpercaya media ini.

Ia menjelaskan, upaya membawa beras yang dikemas dalam karung berwarna kuning dengan tulisan berwarna merah ‘Pemindahan ke Filipina Sahaja’ bagian bawah ini telah direncanakan sejak 2015 lalu. Namun, baru dapat dilaksanakan tahun ini. 

Dikemas dengan berat 25 kg per karung, beras Vietnam ini jika masuk ke Indonesia harganya bisa menjadi dua kali lipat. Sebab, jika di Vietnam beras ini masuk jenis beras biasa. Sedangkan di Indonesia masuk kategori premium. “Di Vietnam itu harganya Rp 6 ribu. Kalau di Indonesia bisa Rp 12 ribu per kg (mengikuti harga pasar),” singkatnya.

Balai Karantina Pertanian (BPK) Kelas II Tarakan Wilayah Kerja (Wilker) Nunukan drh. Sapto Hudaya menyampaikan, wewenang pihaknya melakukan pemeriksaan dokumen, sebelum melakukan pemeriksaan sampel pada beras yang dibawa.

Hal itu sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 1992 Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 55 Tahun 2016 tentang Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan Pangan Segar Asal Tumbuhan.

Dari empat persyaratan hanya satu yang dipenuhi yakni dokumen fumigasi, kata dia. Sedangkan tiga persyaratan seperti phytosanitary certificate (PC), surat keterangan pangan segar asal tumbuhan (PSAT), sertifikat hasil uji (certificate of analysis) dari cemaran bahan kimia, biologi dan lain-lain tidak ada. “Ditanyakan ke kapten kapal, mereka hanya menunjukkan satu dokumen,” ucapnya.

Dokumen phytosanitary certificate sempat dikirim melalui aplikasi WhatsApp miliknya. Namun, hal itu tidak membuat pihaknya percaya begitu saja. Sehingga, ia menyarankan ada dokumen itu diserahkan ke Karantina Wilker Nunukan.

Karena alasan kantor berada di Sebatik kembali disarankan membawa ke Kantor Karantina yang ada di Sebatik. “Sampai sekarang belum dibawa. Kata agen PC itu, dibawa direkturnya di Makassar. Bukan ingin menghambat, kami harus melihat dokumen dan diteliti dulu,” tegasnya.

Jika sejumlah persyaratan ini belum juga dilengkapi tentunya beras tersebut harus dikembalikan ke negara asal. Namun, masa penahanan diberikan selama 14 hari untuk melengkapi dokumen. Setelah itu dilakukan uji sampel.

“Karantina melakukan pemeriksaan dokumen dulu. Setelah dokumen dianggap lengkap dilanjutkan pemeriksaan mengambil sampel untuk mengetahui jenisnya beras tersebut,” bebernya.

Dokumen yang ia terima melalui WA juga menjadi pertanyaan. Sebab, kapal tujuan Filipina, namun di dokumen PC ditujukan untuk Karantina. Seharusnya dokumen tersebut ditujukan langsung ke negara tujuan. Selain itu, di dokumen juga tertera entry point berlokasi di Pelabuhan Sungai Nyamuk sedangkan empat kapal Filipina ini tujuan ke Tawi-tawi Filipina.

“Mengapa dokumen diperlukan? Agar tidak ada hama yang masuk. Mengapa entry point Sungai Nyamuk? Sedangkan tujuan Filipina. Walaupun sudah ada dokumen asli, kami pelajari untuk memastikan. Bisa kami panggil orang dan agennya,” tukasnya. (akz/lim)


BACA JUGA

Senin, 21 Mei 2018 12:19

Ditinggal Kerja, Rumah Dilahap Api

NUNUKAN – Rumah salah seoang warga di Jalan Membunut, Nunukan Selatan ludes dilahap sijago merah…

Senin, 21 Mei 2018 12:15

Lima Bulan, 1.000 BMI Dihalau

NUNUKAN – Sejak awal Januari hingga Mei setiap pekan tepatnya hari Kamis pemerintah Malaysia selalu…

Sabtu, 19 Mei 2018 08:46

Warga di Sini Jadi Incaran Buaya dan Ular Sembakung

NUNUKAN – Warga di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung membutuhkan perhatian dari pemerintah. Sebab…

Sabtu, 19 Mei 2018 08:44

Layanan Belum Memenuhi Keinginan Masyarakat

NUNUKAN – Sistem birokrasi dalam tubuh pemerintah, masih banyak yang dikeluhkan oleh masyarakat.…

Jumat, 18 Mei 2018 12:38

Defisit, Pembangunan Sulit Terlaksana

NUNUKAN - Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Nunukan…

Jumat, 18 Mei 2018 12:13

Pengecer Gas Melon Ilegal Segera Ditangani Tim Satgas

NUNUKAN – Persoalan gas melon 3 kilogram (kg) di wilayah perbatasan belum berakhir. Sampai saat…

Jumat, 18 Mei 2018 12:08

Calon Anggota Legislatif Dilarang Kampanye

NUNUKAN – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Nunukan telah menyampaikan larangan kampanye melalui…

Jumat, 18 Mei 2018 12:06

Pencuri Handphone di Jok Motor Dibekuk

NUNUKAN – Salah seorang pelaku pencurian sejumlah handphone yang diletakkan di kantong serta jok…

Jumat, 18 Mei 2018 12:04

Terjadi Gangguan, Maskapai Ini Gagal Terbang Perdana

NUNUKAN – Maskapai Aviastar yang ditetapkan sebagai pememang lelang Subsidi Ongkos Angkut (SOA)…

Kamis, 17 Mei 2018 11:17

Temukan Barang Terlarang di Lapas

NUNUKAN – Tak ingin kejadian kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Depok, beberapa waktu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .