MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 25 April 2018 12:02
Dugaan Beras Selundupan dari Vietnam
Keuntungan Sudah Dibagi-bagi?
TAK PENUHI DOKUMEN: Anjing pelacak dikerahkan memeriksa muatan kapal MV Dong Thien Phu Golden yang memuat 2.900 ton beras asal Vietnam, Minggu (21/4). FOTO: RIKO ADITYA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Beras Vietnam yang diangkut kapal MV Dong Thien Phu Golden masuk ke Sebatik diduga ada keterlibatan oknum pejabat. Bahkan, setiap rupiah keuntungan penjualan beras dengan merek Sunrise AAA itu menjadi jatah orang tertentu. Mulai dari Rp 500 rupiah hingga Rp 1.000 rupiah per kilogram (kg). “Tergantung yang mengurus. Ada di daerah, hingga ke pusat. Bahkan, ke Vietnam,” ujar sumber terpercaya media ini.

Ia menjelaskan, upaya membawa beras yang dikemas dalam karung berwarna kuning dengan tulisan berwarna merah ‘Pemindahan ke Filipina Sahaja’ bagian bawah ini telah direncanakan sejak 2015 lalu. Namun, baru dapat dilaksanakan tahun ini. 

Dikemas dengan berat 25 kg per karung, beras Vietnam ini jika masuk ke Indonesia harganya bisa menjadi dua kali lipat. Sebab, jika di Vietnam beras ini masuk jenis beras biasa. Sedangkan di Indonesia masuk kategori premium. “Di Vietnam itu harganya Rp 6 ribu. Kalau di Indonesia bisa Rp 12 ribu per kg (mengikuti harga pasar),” singkatnya.

Balai Karantina Pertanian (BPK) Kelas II Tarakan Wilayah Kerja (Wilker) Nunukan drh. Sapto Hudaya menyampaikan, wewenang pihaknya melakukan pemeriksaan dokumen, sebelum melakukan pemeriksaan sampel pada beras yang dibawa.

Hal itu sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 1992 Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 55 Tahun 2016 tentang Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan Pangan Segar Asal Tumbuhan.

Dari empat persyaratan hanya satu yang dipenuhi yakni dokumen fumigasi, kata dia. Sedangkan tiga persyaratan seperti phytosanitary certificate (PC), surat keterangan pangan segar asal tumbuhan (PSAT), sertifikat hasil uji (certificate of analysis) dari cemaran bahan kimia, biologi dan lain-lain tidak ada. “Ditanyakan ke kapten kapal, mereka hanya menunjukkan satu dokumen,” ucapnya.

Dokumen phytosanitary certificate sempat dikirim melalui aplikasi WhatsApp miliknya. Namun, hal itu tidak membuat pihaknya percaya begitu saja. Sehingga, ia menyarankan ada dokumen itu diserahkan ke Karantina Wilker Nunukan.

Karena alasan kantor berada di Sebatik kembali disarankan membawa ke Kantor Karantina yang ada di Sebatik. “Sampai sekarang belum dibawa. Kata agen PC itu, dibawa direkturnya di Makassar. Bukan ingin menghambat, kami harus melihat dokumen dan diteliti dulu,” tegasnya.

Jika sejumlah persyaratan ini belum juga dilengkapi tentunya beras tersebut harus dikembalikan ke negara asal. Namun, masa penahanan diberikan selama 14 hari untuk melengkapi dokumen. Setelah itu dilakukan uji sampel.

“Karantina melakukan pemeriksaan dokumen dulu. Setelah dokumen dianggap lengkap dilanjutkan pemeriksaan mengambil sampel untuk mengetahui jenisnya beras tersebut,” bebernya.

Dokumen yang ia terima melalui WA juga menjadi pertanyaan. Sebab, kapal tujuan Filipina, namun di dokumen PC ditujukan untuk Karantina. Seharusnya dokumen tersebut ditujukan langsung ke negara tujuan. Selain itu, di dokumen juga tertera entry point berlokasi di Pelabuhan Sungai Nyamuk sedangkan empat kapal Filipina ini tujuan ke Tawi-tawi Filipina.

“Mengapa dokumen diperlukan? Agar tidak ada hama yang masuk. Mengapa entry point Sungai Nyamuk? Sedangkan tujuan Filipina. Walaupun sudah ada dokumen asli, kami pelajari untuk memastikan. Bisa kami panggil orang dan agennya,” tukasnya. (akz/lim)


BACA JUGA

Kamis, 21 Maret 2019 11:21

Anggota Brimob Asal Nunukan Gugur di Papua

NUNUKAN – Muhammad Aldy, putra asal Kabupaten Nunukan berprofesi sebagai…

Kamis, 21 Maret 2019 10:41

Narkoba Ancaman Terbesar di Perbatasan

NUNUKAN – Sebagai wilayah perbatasan, Kabupaten Nunukan menjadi salah satu…

Kamis, 21 Maret 2019 10:39

Masih Sering Terjadi, DLH Klaim Sudah Mengimbau

NUNUKAN – Menghadapi maraknya pembakaran hutan dan lahan, yang sebelumnya…

Rabu, 20 Maret 2019 17:12

Baku Tembak dengan KKSB, Anggota Brimob Asal Nunukan Gugur di Papua

NUNUKAN – Muhammad Aldy, Putra Kabupaten Nunukan berprofesi sebagai salah…

Rabu, 20 Maret 2019 10:55

SKPT Tidak Dimanfaatkan Masyarakat

NUNUKAN – Permasalahan nelayan di Sebatik tak pernah berhenti. Walaupun…

Rabu, 20 Maret 2019 10:46

25 Maret, Terbang Perdana ke Krayan

NUNUKAN - Subsidi Ongkos Angkutan (SOA) penumpang tujuan Nunukan-Long Bawan,…

Rabu, 20 Maret 2019 10:43

Terlambat, Bupati Tegur ASN di Acara Musrenbang

NUNUKAN – Sikap dan tingkah laku aparatur sipil negara (ASN)…

Rabu, 20 Maret 2019 10:41

Data KPM Tak Menjadi Dasar Penyaluran LPG 3 Kg

NUNUKAN – Meskipun diklaim tak langka, keberadaan Liquefied Petroleum Gas…

Rabu, 20 Maret 2019 10:38

Persediaan Air Bersih PDAM Menipis

NUNUKAN – Persediaan air bersih di Perusahaan Daerah Air Minum…

Selasa, 19 Maret 2019 11:02

Proyek Dihentikan, Dermaga Terancam Mangkrak?

NUNUKAN – Rute penyeberangan kapal feri ke dermaga feri Semaja,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*