MANAGED BY:
JUMAT
18 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 16 April 2018 14:29
Lihat Nih, Tumpukan Sampah di Hake Babu, BIKIN NGERI
DOK.

PROKAL.CO, TARAKAN – Tumpukan sampah-sampah yang berada di TPA Hake Babu Kelurahan Karang Harapan Tarakan Barat yang over kapasitas, ternyata berimbas ke masyarakat sekitar. Kondisi ini tentu membuat warga sekitar tidak nyaman dan bisa saja kondisi kesehatan akan terganggu.

Hal tersebut diungkapkan, salah seorang dokter di Tarakan, dr. Tri Astuti Sugiatmi bahwa masyarakat yang lama tinggal di sekitar TPA tentu bisa terpengaruh kesehatannya karena banyak faktor. Terutama  lingkungannya yang banyak sekali lalat-lalat yang berkumpul.

“Jikalau sudah begitu, lalu saat makan tidak cuci tangan pakai sabun, sementara makanan terbuka, maka banyak yang dapat ditularkan oleh lalat,” katanya.

Lalat dan juga nyamuk juga datang bukan tanpa sebab, tumpukan sampah-sampah seperti botol air mineral, gelas plastik yang bisa menjadi tempat perindukan nyamuk dan bisa jadi penularan nyamuk semakin tinggi.

“Kalau sampah ditumpuk terus apalagi jika sudah hujan turun terus menerus, pasti bisa menjadi sarang nyamuk dan lalat,” ujarnya.

Selain itu juga, bisa terjadi beberapa penyakit kulit, jika kurang dalam penerapan perilaku hidup bersih sehat (PHBS). Rata-rata akan terjangkit penyakit berbasis lingkungan. Karena memang, tinggal di daerah TPA harus diimbangi dengan penerapan PHBS yang ketat.

“PHBS harus ditingkatkan, kalau sampai tidak dilakukan pasti akan gampang terjangkit oleh penyakit,” tuturnya.

PHBS sendiri dapat dipraktekkan melalui kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setiap kali akan makan, mengola makanan, maupun sehabis buang air. Selain itu juga pengelolaan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, pengelolaan limbah cair yang memenuhi standar, dan memberantas jentik nyamuk.

“Mereka harus paham, bahwa lingkungan mereka itu sangat rentan terjangkit. Jadi kalau sampai lengah, bisa gampang terjangkit,” ungkapnya.

Penerapan yang ketat maksudnya yakni salah satu cara adaptasi dengan situasi dan kondisinya yang sudah beresiko. Dalam arti, jika memang belum memungkinkan untuk mengubah pola hidup seperti itu, minimal ada cara untuk mengurangi risikonya. (*/naa/nri)


BACA JUGA

Jumat, 18 Januari 2019 12:20

Lima Bulan Terakhir, Produksi Sampah Berkurang

TARAKAN - Meski Tempat Pembuangan Sampah (TPA) saat ini sangat…

Jumat, 18 Januari 2019 12:17

Ditemukan Dompeng, Diduga Milik Rustan

TARAKAN - Tim SAR gabungan yang melakukan pencarian terhadap warga…

Jumat, 18 Januari 2019 12:15

Dahlan Iskan: Pers Itu Lembaga Perjuangan

SAMARINDA - Pers tak hanya sekadar pekerjaan yang dapat dijadikan…

Jumat, 18 Januari 2019 12:13

Sembilan ASN Melanggar, Diberikan Pembinaan

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan telah melakukan pengawasan dan…

Jumat, 18 Januari 2019 12:12

Jadwal Ujian Nasional Dimajukan

TARAKAN - Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang akan diselenggarakan pada…

Jumat, 18 Januari 2019 11:43

Terdakwa Mengaku Hanya Iseng Membuat Video

TARAKAN – Terdakwa terduga terorisme yaitu Agus Salim mengungkapkan alasan…

Jumat, 18 Januari 2019 11:24

Beli Sabu, Petani Rumput Laut Diamankan Anggota Marinir

TARAKAN – Dua pria yang diketahui merupakan petani rumput laut…

Jumat, 18 Januari 2019 10:32

Ilmu Kepemimpinan Harus Dimiliki Kepala Sekolah

TARAKAN - Panggilan menjadi seorang pemimpin di sekolah bukanlah hal…

Jumat, 18 Januari 2019 10:30

Konstruksi Hancur Digenangi Air

TARAKAN - Kerusakan jalan masih menjadi sorotan teratas bagi masyarakat.…

Jumat, 18 Januari 2019 09:55

Perwali Penggunaan Plastik Segera Diberlakukan

TARAKAN - Akibat sulit didaur ulang, sampah plastik di Bumi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*