MANAGED BY:
SENIN
23 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 16 April 2018 14:24
Tak Ada Pilihan, Pasrah dengan Aroma Sampah

Melihat Kondisi Warga Sekitar TPA Hake Babu

PASRAH: Mama Angel Bersama Ade Tarmini sudah terbiasa mencium aroma bau tak sedap dari TPA, Minggu (15/4). AYU LYSNA/ RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Jika harus memilih, mereka pasti akan tinggal di lingkungan yang nyaman, sama seperti masyarakat lainnya. Namun, karena tidak ada pilihan lain warga sekitar, para pekerja dan pendaur ulang rela tinggal dekat dengan tumpukan sampah yang sudah melebihi kapasitas seharusnya. Aroma tak sedap pun sudah bukan hal baru bagi mereka, berikut cerita selengkapnya.

Ayu Lysna

Saat memasuki kawasan Jalan Hake Babu, Kelurahan Karang Harapan Kecamatan Tarakan Barat, aroma tak sedap yang berasal dari tumpukan sampah akan menyambut Anda. Semakin dekat dengan lokasi, aroma tersebut pun semakin kuat.

Tak hanya disambut dengan aroma, tumpukan-tumpukan sampah yang mulai meninggi juga menjadi pemandangan tersendiri bagi masyarakat yang melintas.

Kondisi ini pun setiap harinya dirasakan oleh warga area TPA Hake Babu. Diungkapkan Yugi (24) yang tinggal tak jauh dari lokasi. Dia pun kerap kali merasakan hal yang sama. Bukannya mendapatkan aroma segar, malah aroma sampah yang harus dihirup. Hal itu juga membuat Yugi harus menutup pintu rumah rapat-rapat. Kondisi seperti ini sudah dialaminya berlangsung sejak lama.

“Tetangga saya juga mengatakan hal yang sama,” ujarnya kepada Radar Tarakan.

Kondisi ini diperparah saat hujan. Aroma sampah semakin kuat, bahkan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari terutama untuk ibu rumah tangga (IRT). Ia mengaku, selain itu sangat takut karena dapat mengganggu kesehatan jika terus-terusan menghirup aroma tersebut karena sampah dapat membawa penyakit.

“Memang tidak setiap hari sih terganggu, tetapi saya dan keluarga memang tidak tahan dan memilih tutup pintu agar tak tercium,” bebernya.

Sama halnya dirasakan  Mama Angel-sapaan akrabnya sudah terbiasa mencium aroma tak sedap dari TPA. Rumahnya terbilang sangat dekat karena berjarak 20 meter saja tepatnya di RT 01.

“Sudah terbiasa sekali sejak saya tinggal di area sini pada tahun 2010. Tepatnya kami pasrah dengan aroma sampah,” katanya.

Tinggal bersama kedua anaknya, Mama Angel memang mau tidak mau harus menerima kondisi ini. Sebab, dia bekerja  sebagai pemulung di TPA. Baginya, hal tersebut tidak masalah terkait aroma yang tidak enak dihirup dan kesehatan yang tidak terjaga.

Yah dukanya tinggal di sini seperti itu. Awalnya tidak kuat menahan aroma tapi lama-lama tahan juga,” bebernya

“Tuhan itu adil, saya tinggal dekat dengan sampah bahkan hari-hari ketemu sampah jarang sakit. Kesehatan begitu terjaga, paling sakitnya ringan, pilek lalu minum obat dan sembuh. Nanti mulung lagi di TPA,” tambah wanita kelahiran Flores itu.

Ia menuturkan, risiko tinggal di sekitar area TPA memang begitu adanya. Hari-hari mencium aroma yang tidak sedap, wabah penyakit yang dapat menyerang kapan saja bahkan jika ada tamu datang berkunjung, ia tidak dapat mengelak, orang tersebut tidak tahan untuk berlama-lama di rumahnya.

“Wajar kan, kadang orang yang lewat saja menutup hidungnya dengan tangan. Apalagi jika ada tamu datang ke rumah orang yang ada di sekitar sampah, pasti tidak tahan,” aku Mama Angel.

Konsekuensi ini diambil demi asap dapur tetap mengepul. Dia harus mengumpulkan botol, karton, kardus, plastik dan karung untuk bisa dijual.

“Betah dan suka karena pencarian untuk hidup yah di sini, mulung aja. Sampah kan datang ke TPA dari pagi, siang hingga sore hari pun ada. Kalau mau kerja di luar sebenarnya bisa tapi kedua anak saya tidak ada yang jaga,” terangnya.

Bahkan jika nanti TPA, dipindah di area Juata Laut, ia dan teman-temannya sesama pemulung tetap bekerja di sana. Karena, dengan pekerjaan ini lah, mereka dapat bertahan hidup dan menyekolahkan anaknya dapat terealisasikan dengan baik.

“Kalau jadi benar-benar pindah, tidak tahu lagi saya akan kerja apa. Mungkin pindah ke area sana atau bertahan tetapi mencari pekerjaan baru,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. (ays/nri)


BACA JUGA

Sabtu, 21 April 2018 10:55

Tim Cuma Berharap Laporan

TARAKAN – Elpiji 3 kg langka. Itu sudah wajar di sejumlah wilayah di Kalimantan Utara (Kaltara).…

Sabtu, 21 April 2018 10:53

Misi Sosial dan Keberagaman Budaya Indonesia

Umumnya dunia otomotif begitu melekat dengan pria. Tapi saat ini anggapan itu perlahan hilang dengan…

Sabtu, 21 April 2018 10:52

Kerja Keras dan Tak Patah Semangat

KEMANDIRIAN seorang wanita tak dapat dilepaskan dari perannya sebagai ibu rumah tangga. Namun dengan…

Sabtu, 21 April 2018 10:50

Tak Ingin Anak Terseret Pengalaman yang Sama

MOMEN 21 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini. Pelopor perjuangan kaum perempuan,…

Sabtu, 21 April 2018 10:49

Mengantar Anak Sampai Sukses

RADEN Ajeng Kartini, hari lahirnya selalu menjadi pengingat bagi setiap wanita Indonesia. Kartini lekat…

Sabtu, 21 April 2018 10:48

Tidak Ada Alasan Pakai Suket

MESKI penggunaan surat keterangan (suket) pada pelaksanaan Pemilihan Calon Wali Kota dan Wakil Wali…

Sabtu, 21 April 2018 10:46

Belum Terbentuk, FPI Sudah Dapat Penolakan

SPANDUK penolakan pembentukan Front Pembela Islam (FPI) itu, terpampang jelas  di sekitaran perempatan…

Sabtu, 21 April 2018 10:39

Anggaran Minim, Bukan Penghambat

TARAKAN — Kepala Kementerian Agama Kaltara, H. Suriansyah mengakui, minimnya dana pembinaan yang…

Sabtu, 21 April 2018 10:38

Ramaikan Gowes Sore Ini

TARAKAN - Para goweser Bumi Paguntaka diharapakan kehadirannya dalam kegiatan gowes, Sabtu (21/4) yang…

Sabtu, 21 April 2018 10:37

Tidar dan Labobar Diusulkan Masuk Tarakan

TARAKAN - Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, PT Pelni kembali mengajukan tambahan armada untuk mengatasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .