MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 16 April 2018 14:24
Tak Ada Pilihan, Pasrah dengan Aroma Sampah

Melihat Kondisi Warga Sekitar TPA Hake Babu

PASRAH: Mama Angel Bersama Ade Tarmini sudah terbiasa mencium aroma bau tak sedap dari TPA, Minggu (15/4). AYU LYSNA/ RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Jika harus memilih, mereka pasti akan tinggal di lingkungan yang nyaman, sama seperti masyarakat lainnya. Namun, karena tidak ada pilihan lain warga sekitar, para pekerja dan pendaur ulang rela tinggal dekat dengan tumpukan sampah yang sudah melebihi kapasitas seharusnya. Aroma tak sedap pun sudah bukan hal baru bagi mereka, berikut cerita selengkapnya.

Ayu Lysna

Saat memasuki kawasan Jalan Hake Babu, Kelurahan Karang Harapan Kecamatan Tarakan Barat, aroma tak sedap yang berasal dari tumpukan sampah akan menyambut Anda. Semakin dekat dengan lokasi, aroma tersebut pun semakin kuat.

Tak hanya disambut dengan aroma, tumpukan-tumpukan sampah yang mulai meninggi juga menjadi pemandangan tersendiri bagi masyarakat yang melintas.

Kondisi ini pun setiap harinya dirasakan oleh warga area TPA Hake Babu. Diungkapkan Yugi (24) yang tinggal tak jauh dari lokasi. Dia pun kerap kali merasakan hal yang sama. Bukannya mendapatkan aroma segar, malah aroma sampah yang harus dihirup. Hal itu juga membuat Yugi harus menutup pintu rumah rapat-rapat. Kondisi seperti ini sudah dialaminya berlangsung sejak lama.

“Tetangga saya juga mengatakan hal yang sama,” ujarnya kepada Radar Tarakan.

Kondisi ini diperparah saat hujan. Aroma sampah semakin kuat, bahkan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari terutama untuk ibu rumah tangga (IRT). Ia mengaku, selain itu sangat takut karena dapat mengganggu kesehatan jika terus-terusan menghirup aroma tersebut karena sampah dapat membawa penyakit.

“Memang tidak setiap hari sih terganggu, tetapi saya dan keluarga memang tidak tahan dan memilih tutup pintu agar tak tercium,” bebernya.

Sama halnya dirasakan  Mama Angel-sapaan akrabnya sudah terbiasa mencium aroma tak sedap dari TPA. Rumahnya terbilang sangat dekat karena berjarak 20 meter saja tepatnya di RT 01.

“Sudah terbiasa sekali sejak saya tinggal di area sini pada tahun 2010. Tepatnya kami pasrah dengan aroma sampah,” katanya.

Tinggal bersama kedua anaknya, Mama Angel memang mau tidak mau harus menerima kondisi ini. Sebab, dia bekerja  sebagai pemulung di TPA. Baginya, hal tersebut tidak masalah terkait aroma yang tidak enak dihirup dan kesehatan yang tidak terjaga.

Yah dukanya tinggal di sini seperti itu. Awalnya tidak kuat menahan aroma tapi lama-lama tahan juga,” bebernya

“Tuhan itu adil, saya tinggal dekat dengan sampah bahkan hari-hari ketemu sampah jarang sakit. Kesehatan begitu terjaga, paling sakitnya ringan, pilek lalu minum obat dan sembuh. Nanti mulung lagi di TPA,” tambah wanita kelahiran Flores itu.

Ia menuturkan, risiko tinggal di sekitar area TPA memang begitu adanya. Hari-hari mencium aroma yang tidak sedap, wabah penyakit yang dapat menyerang kapan saja bahkan jika ada tamu datang berkunjung, ia tidak dapat mengelak, orang tersebut tidak tahan untuk berlama-lama di rumahnya.

“Wajar kan, kadang orang yang lewat saja menutup hidungnya dengan tangan. Apalagi jika ada tamu datang ke rumah orang yang ada di sekitar sampah, pasti tidak tahan,” aku Mama Angel.

Konsekuensi ini diambil demi asap dapur tetap mengepul. Dia harus mengumpulkan botol, karton, kardus, plastik dan karung untuk bisa dijual.

“Betah dan suka karena pencarian untuk hidup yah di sini, mulung aja. Sampah kan datang ke TPA dari pagi, siang hingga sore hari pun ada. Kalau mau kerja di luar sebenarnya bisa tapi kedua anak saya tidak ada yang jaga,” terangnya.

Bahkan jika nanti TPA, dipindah di area Juata Laut, ia dan teman-temannya sesama pemulung tetap bekerja di sana. Karena, dengan pekerjaan ini lah, mereka dapat bertahan hidup dan menyekolahkan anaknya dapat terealisasikan dengan baik.

“Kalau jadi benar-benar pindah, tidak tahu lagi saya akan kerja apa. Mungkin pindah ke area sana atau bertahan tetapi mencari pekerjaan baru,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. (ays/nri)


BACA JUGA

Senin, 21 Mei 2018 21:04

Pemkot Pengin Mengadu ke Kemendagri

TARAKAN - Rencana pengalihan sejumlah aset Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov)…

Senin, 21 Mei 2018 17:43

Terduga Jaringan ISIS Sebut Dirinya Iseng

TANJUNG SELOR – Terduga teroris AS (22) yang beberapa waktu lalu diamankan Densus 88 Antiteror,…

Senin, 21 Mei 2018 12:49

Kadin Bingung Birokrasi Kewenangan di Laut

Beras 2.900 ton dari Vietnam. Begitu temuan aparat Kamis 19 April lalu. Kapal Vietnam Dong Thien Phu…

Senin, 21 Mei 2018 12:45

Hidup dari Pecahan Batu Kerikil

Tidak selamanya kehidupan layak dan dinikmati dengan nyaman. Sennang, nenek berusia 72 tahun di RT 61…

Senin, 21 Mei 2018 12:32

Tak Ada Bom, EF Dipulangkan

PRIA berinisial EF yang sempat membuat heboh Bandara Internasional Juwata Tarakan pada Jumat (18/5),…

Senin, 21 Mei 2018 12:29

Perketat Lingkungan, Poskamling Harus Aktif

TARAKAN – Mengantisipasi tindak kriminal di lingkungan rukun tetangga (RT), masing-masing Ketua…

Senin, 21 Mei 2018 11:16

Waspada Indekos dan Kontrakan

SEJAK penangkapan AS, terduga kelompok ISIS di Karang Anyar, Tarakan Barat, Kamis 17 Mei lalu, Pemerintah…

Senin, 21 Mei 2018 11:11

Pelunasan Tahap Kedua Menunggu Dua CJH

GELOMBANG kedua tahap pelunasan biaya haji kembali dibuka sejak 16 Mei lalu hingga 25 Mei mendatang.…

Senin, 21 Mei 2018 11:08

Jeli dan Perketat TPS

TARAKAN - Penggunaan lilin pada jari kelingking saat pemilihan memang harus dicegah. Pasalnya, jika…

Senin, 21 Mei 2018 11:02

Prioritaskan Dua Item di Musrenbang

TARAKAN – Di lingkungan RT 1, Kelurahan Kampung Enam memprioritaskan dua item dalam usulan Musyawarah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .