MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 16 April 2018 14:24
Tak Ada Pilihan, Pasrah dengan Aroma Sampah

Melihat Kondisi Warga Sekitar TPA Hake Babu

PASRAH: Mama Angel Bersama Ade Tarmini sudah terbiasa mencium aroma bau tak sedap dari TPA, Minggu (15/4). AYU LYSNA/ RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Jika harus memilih, mereka pasti akan tinggal di lingkungan yang nyaman, sama seperti masyarakat lainnya. Namun, karena tidak ada pilihan lain warga sekitar, para pekerja dan pendaur ulang rela tinggal dekat dengan tumpukan sampah yang sudah melebihi kapasitas seharusnya. Aroma tak sedap pun sudah bukan hal baru bagi mereka, berikut cerita selengkapnya.

Ayu Lysna

Saat memasuki kawasan Jalan Hake Babu, Kelurahan Karang Harapan Kecamatan Tarakan Barat, aroma tak sedap yang berasal dari tumpukan sampah akan menyambut Anda. Semakin dekat dengan lokasi, aroma tersebut pun semakin kuat.

Tak hanya disambut dengan aroma, tumpukan-tumpukan sampah yang mulai meninggi juga menjadi pemandangan tersendiri bagi masyarakat yang melintas.

Kondisi ini pun setiap harinya dirasakan oleh warga area TPA Hake Babu. Diungkapkan Yugi (24) yang tinggal tak jauh dari lokasi. Dia pun kerap kali merasakan hal yang sama. Bukannya mendapatkan aroma segar, malah aroma sampah yang harus dihirup. Hal itu juga membuat Yugi harus menutup pintu rumah rapat-rapat. Kondisi seperti ini sudah dialaminya berlangsung sejak lama.

“Tetangga saya juga mengatakan hal yang sama,” ujarnya kepada Radar Tarakan.

Kondisi ini diperparah saat hujan. Aroma sampah semakin kuat, bahkan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari terutama untuk ibu rumah tangga (IRT). Ia mengaku, selain itu sangat takut karena dapat mengganggu kesehatan jika terus-terusan menghirup aroma tersebut karena sampah dapat membawa penyakit.

“Memang tidak setiap hari sih terganggu, tetapi saya dan keluarga memang tidak tahan dan memilih tutup pintu agar tak tercium,” bebernya.

Sama halnya dirasakan  Mama Angel-sapaan akrabnya sudah terbiasa mencium aroma tak sedap dari TPA. Rumahnya terbilang sangat dekat karena berjarak 20 meter saja tepatnya di RT 01.

“Sudah terbiasa sekali sejak saya tinggal di area sini pada tahun 2010. Tepatnya kami pasrah dengan aroma sampah,” katanya.

Tinggal bersama kedua anaknya, Mama Angel memang mau tidak mau harus menerima kondisi ini. Sebab, dia bekerja  sebagai pemulung di TPA. Baginya, hal tersebut tidak masalah terkait aroma yang tidak enak dihirup dan kesehatan yang tidak terjaga.

Yah dukanya tinggal di sini seperti itu. Awalnya tidak kuat menahan aroma tapi lama-lama tahan juga,” bebernya

“Tuhan itu adil, saya tinggal dekat dengan sampah bahkan hari-hari ketemu sampah jarang sakit. Kesehatan begitu terjaga, paling sakitnya ringan, pilek lalu minum obat dan sembuh. Nanti mulung lagi di TPA,” tambah wanita kelahiran Flores itu.

Ia menuturkan, risiko tinggal di sekitar area TPA memang begitu adanya. Hari-hari mencium aroma yang tidak sedap, wabah penyakit yang dapat menyerang kapan saja bahkan jika ada tamu datang berkunjung, ia tidak dapat mengelak, orang tersebut tidak tahan untuk berlama-lama di rumahnya.

“Wajar kan, kadang orang yang lewat saja menutup hidungnya dengan tangan. Apalagi jika ada tamu datang ke rumah orang yang ada di sekitar sampah, pasti tidak tahan,” aku Mama Angel.

Konsekuensi ini diambil demi asap dapur tetap mengepul. Dia harus mengumpulkan botol, karton, kardus, plastik dan karung untuk bisa dijual.

“Betah dan suka karena pencarian untuk hidup yah di sini, mulung aja. Sampah kan datang ke TPA dari pagi, siang hingga sore hari pun ada. Kalau mau kerja di luar sebenarnya bisa tapi kedua anak saya tidak ada yang jaga,” terangnya.

Bahkan jika nanti TPA, dipindah di area Juata Laut, ia dan teman-temannya sesama pemulung tetap bekerja di sana. Karena, dengan pekerjaan ini lah, mereka dapat bertahan hidup dan menyekolahkan anaknya dapat terealisasikan dengan baik.

“Kalau jadi benar-benar pindah, tidak tahu lagi saya akan kerja apa. Mungkin pindah ke area sana atau bertahan tetapi mencari pekerjaan baru,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. (ays/nri)


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 23:34

Penyebab Kebakaran Diduga Puntung Rokok

TARAKAN – Neneng (38) seketika panik, Sekira pukul 23.00 WITA, Rabu (19/9). Cahaya api memendar…

Kamis, 20 September 2018 23:31

Polda Akan Kumpulkan Bukti

TARAKAN - Buntut dugaan pemukulan terhadap lima mahasiswa oleh oknum kepolisian saat aksi unjuk rasa…

Kamis, 20 September 2018 13:01

Dinkes Minta Tambahan Waktu

TARAKAN – Masih rendahnya cakupan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun mendapatkan imunisasi…

Kamis, 20 September 2018 12:56

SK Pemberhentian Sudah Ditandatangani

TARAKAN — Upaya  Wakil Wali Kota Tarakan Khaeruddin Arief Hidayat untuk bisa lolos sebagai…

Kamis, 20 September 2018 12:44

Beruang Itu Diduga Sakit dan Stres Berat

TIGA ekor beruang madu yang hidup di dua kandang di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan Kampung…

Kamis, 20 September 2018 12:30

922 Gram Sabu Dilarutkan di Air

TARAKAN - Sabu-sabu sebanyak 922,12 gram dimusnahkan pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP)…

Kamis, 20 September 2018 12:13

SK Honorer Tunggu Data Valid

TARAKAN - Kejelasan status tenaga honorer saat ini masih terus diperjelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan…

Kamis, 20 September 2018 12:10

Ditinggal, Rombong PKL Diangkut

TARAKAN - Empat unit rombong milik pedagang kaki lima (PKL) yang berada di depan Taman Berkampung, Kelurahan…

Kamis, 20 September 2018 12:09

Di Samping Jalan Rusak Ada Jurang

TARAKAN – Ketua RT 4, Kelurahan Juata Laut, Amiruddin mengatakan beberapa usulan yang diajukan…

Kamis, 20 September 2018 12:08

Jaringan Bermasalah, Pencetakan E-KTP Terkendala

TARAKAN – Setelah masalah kekurangan blanko Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) terselesaikan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .