MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 05 April 2018 15:24
Berkeras Hati Minta Bebas

Terdakwa Kasus Sabu-Sabu 11,4 Kg

DOK.

PROKAL.CO, TARAKAN - Sidang perkara kasus kepemilikan sabu-sabu seberat 11,4 kilogram (kg), masih bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Tarakan. Sidang kembali mengagendakan pembacaan duplik dari penasihat hukum (PH) terdakwa Amin dan Roniansyah, Nunung, S.H, berlangsung Selasa (3/6) siang.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Christo EN Sitorus tersebut berlangsung sekira 30 menit, dengan dihadiri oleh terdakwa Amin dan Roniansyah, serta jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tarakan.

Di sidang pertama, Nunung membacakan duplik terhadap terdakwa Amin. Pria berusia 39 tahun yang dituntut hukuman mati oleh JPU. Dari duplik yang dibacakan, Nunung tetap berpegang teguh pada apa yang dinyatakan dalam nota pembelaannya (pleidoi) pada Senin (3/4). “Dengan tegas menyatakan menolak alasan yang telah diajukan JPU dalam repliknya karena tidak berdasarkan hukum maupun fakta persidangan,” kata Nunung di hadapan hakim, Selasa (4/4).

Selain itu, Nunung juga menyatakan jika dalam persidangan terjadi perbedaan pendapat dan pandagan terutama antara penasihat hukum dan JPU. Yang hendaknya harus ditinjau semata sebagai aspek peninjauan yuridis terhadap perkara yang sedang dihadapi.

“JPU sejak awal telah berbeda dan bertentangan dalam memandang perkara. Di mana JPU hanya memandang secara yuridis saja guna berusaha menjerat atau mengaitkan terdakwa dalam perkara ini. Sedangkan kami PH memandang secara lebih komprehensif guna mencari kebenaran sejati,” jelasnya.

Usai mengajukan duplik terhadap terdakwa Amin, Nunung juga kembali mengajukan duplik terhadap terdakwa Roniansyah yang dituntut seumur hidup oleh JPU atas perkara kasus kepemilikan sabu-sabu seberat 11,4 kg.

Di persidangan, Nunung juga menegaskan jika terdakwa Roni tidak pernah tahu isi jeriken yang ada di speedboat. Bahkan berdasarkan pengakuan terdakwa jeriken berwarna hijau tidak pernah dibuka sehingga tidak tahu apa isinya.

“Saya selaku PH terdakwa tidak sependapat dengan tuntutan hukuman yang diberikan dan dibacakan JPU dalam repliknya yang tetap pada tuntutannya dengan hukuman pidana penjara seumur hidup. Terlalu berat dan tidak mencerminkan rasa keadilan. Saya selaku PH terdakwa memohon untuk terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan JPU karena terdakwa tidak mengetahui isi jeriken yang dibawa,” kata Nunung.

Sebelumnya terdakwa Amin dituntut dengan pasal 114 ayat (2) UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika juncto pasal 132 ayat 1 UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika berupa hukuman mati. Sedangkan Roni dituntut JPU pidana seumur hidup.

Usai membacakan duplik, majelis hakim pun menyatakan akan mengandekan kembali untuk kelima terdakwa dalam agenda putusan, Senin (9/4).

Pada 22 September 2017 lalu, Amin diketahui yang pertama kali berkomunikasi dengan Andi alias Hendra32 yang berada di dalam Lapas Kelas II-A Tarakan. Amin kemudian menghubungi Roniansyah dan dua rekannya yang lain. Roniansyah alias Roni bersama Harianto alias Anto dan Ari mengambil sabu-sabu di Tanjung Daun, Pulau Punyuh, Kabupaten Nunukan.

Pada 23 September, Roni ke rumah Amin, mengambil speedboat yang selanjutnya digunakan untuk menjemput sabu-sabu. Di Tanjung Daun dia diminta menemui juru mudi yang membawa speedboat berbodi tripleks. 

Dari sana barang bukti sabu yang disimpan dalam 2 jeriken warna hijau dan biru diterima. Barang tersebut selanjutnya dibawa ke Juata Laut, Tarakan Utara.

Sekira pukul 09.00 Wita, Amin diberitahu jeriken warna biru berisi 10 bungkus sabu yang jumlahnya 10.229,4 gram diserahkan ke Ari menggunakan speedboat lain. Sementara, jeriken warna hijau yang berisi 2 bungkus sabu seberat 1.430,9 gram dibawa Anto dan dititipkan di rumah Roni.

Upaya penyelundupan itu terungkap pada 24 September. Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap Ari di Jalan Aki Balak, Karang Harapan, Tarakan Barat berikut sabu dalam jeriken.

Pengembangan berlanjut jeriken hijau yang ada di tangan Amin dan disimpan di rumah Roni di Jalan Kurau, RT 16, Kelurahan Juata Laut, Tarakan Utara juga diambil. Keempatnya dijanjikan upah Rp 500 juta. (eru/lim)


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 12:57

Nakhoda TB Fortunsius Diduga Lalai

TARAKAN – Kasus tenggelamnya Tugboat (TB) Fortunsius pada 12 November…

Senin, 10 Desember 2018 12:55

Herdiansyah Sempat Pinjam Uang Rp 100 Juta

TARAKAN – Sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan bahan ajar di…

Senin, 10 Desember 2018 09:56

PPPK Menanti Kebijakan Pemimpin Baru

TARAKAN - Pemerintah pusat kembali mengeluarkan pernyataan bakal membuka lagi…

Senin, 10 Desember 2018 09:55

Dari Sepeda Mengenal Negara Lain dan Banyak Komunitas

Olahraga dapat menjadi hobi yang sehat bagi penikmatnya. Selain sehat…

Senin, 10 Desember 2018 09:53

Saling Susul di Rute Sepanjang 26 Km

TARAKAN - Sebanyak 180 goweser ikut berpartisipasi dalam Jambore Sepeda,…

Senin, 10 Desember 2018 09:52

Masih Ada Pengundian Sekali Lagi

TARAKAN - Surat kabar harian (SKH) Radar Tarakan dan Sinar…

Senin, 10 Desember 2018 09:50

Pengusaha Bertarung dengan Upah Tinggi

BESARNYA ketentuan upah di Kota Tarakan membuat para pengusaha harus…

Senin, 10 Desember 2018 09:30

Ada Sekolah, Tak Ada Jalan Utama

TARAKAN - Ketua RT 66, Kelurahan Karang Anyar, Saimun mengatakan,…

Senin, 10 Desember 2018 09:04

Barat dan Utara Rawan Longsor

TARAKAN – Masyarakat patut waspada seiring intensitas hujan yang tinggi.…

Senin, 10 Desember 2018 09:01

HUT, Tetap Mengundang Artis

TARAKAN – Hari Ulang Tahun ke-21 Kota Tarakan yang jatuh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .