MANAGED BY:
SABTU
26 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 23 Maret 2018 10:06
Setelah Anak Putus Sekolah, Kini Sasar Warga Buta Aksara

Cara KSKP Nunukan Antisipasi Pelanggaran Hukum di Wilayah Pelabuhan Tunon Taka

BERCANDA: Kepala KSKP Nunukan AKP I Eka Berlin saat bercanda dengan buruh bantu di pos penjagaan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan beberapa waktu lalu. Para buruh bantu ini menyatakan kesiapan mengikuti program pemberantasan buta aksara yang rencannya dilakukan dalam waktu dekat. SYAMSUL/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, Setelah berhasil menampung puluhan anak putus sekolah dari kalangan warga kurang mampu menimba ilmu di rumah belajar dan warung keamanan, ketertiban masyarakat (kamtibmas) milik Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Nunukan, kini mereka kembali menyasar warga buta aksara yang berada di wilayah Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Seperti apa ceritanya, berikutnya liputannya.

SYAMSUL BAHRI

KEBERHASILAN memiliki 80 anak didik di rumah belajar KSKP Nunukan menjadi pemicu AKP I Eka Berlin kembali membuat terobosan baru. Kali ini, warga buta aksara menjadi sasarannya. Karena hal-hal seperti ini tutur bisa memicu terjadi tindakan kriminal.

Meskipun terkesan sepele, namun dapat menjadi penyebab utama. Khususnya bagi buruh bantu yang banyak bersinggungan dengan penumpang dan masyarakat umum lainnya. Jika tak didukung dengan ilmu pengetahuan, khususnya membaca bisa saja buruh ini dipermainkan oleh orang lain. Bahkan, rekannya sendiri.

Disebutkan, kini sudah ada 15 orang buruh bantu yang didata. Mereka sudah siap meluangkan waktunya belajar bersama di Warung Kamtibmas. Tinggal menunggu jadwal saja. Awalnya, mengajak para buruh ini cukup sulit. Karena, sebagai pekerja lebih memikirkan pekerjaan mereka. Namun, setelah diberikan pemahaman pentingnya dapat membaca, akhirnya para buruh semuanya luluh dan bersedia belajar bersama.

Untuk mengetahui dan mendapatkan data  siapa saja buruh bantu yang buta aksara, pihaknya melakukan sebuah trik yang sangat susah dihindari. Semuanya dikumpulkan dan diberikan arahan seperti biasa. Lalu, diberikan kertas dan pensil untuk menulis nama mereka masing-masing. Nah, dari kejadian ini sudah mulai terlihat siapa saja yang bisa baca-tulis dan siapa saja buruh yang buta aksara.

“Yang bisa tentunya sangat mudah. Tapi, yang tidak bisa mereka terlihat mengantre dan hanya memegang kertas dan pensil yang diberikan. Setelah ditanya akhirnya mereka mengaku tidak bisa baca tulis,” ungkap Kepala KSKP Nunukan kepada media ini.

Setelah terjaring, para buruh akhirnya diberikan pengarahan lagi tentang pentingnya membaca. Apalagi pekerjaan mereka yang melayani masyarakat sebagai penumpang. Tentunya ada risiko yang dihadapi. Khususnya kesalahan dalam mengantarkan barang ke alamat yang bersangkutan.

“Misalnya, buruh ini diminta mengantarkan barang itu sesuai alamat yang tertulis di barang. Karena tidak bisa membaca, buruh bantu meminta tolong temannya dibacakan. Kalau dapat teman yang jujur langsung diberikan sesuai alamatnya. Tapi, kalau ketemu teman yang iseng, alamatnya dipindahkan, apa tidak menjadi konflik lagi. Nah, hal seperti itulah yang ingin dihindari,” jelasnya.

Di antara 15 orang buruh bantu yang dikumpulkan, sudah ada beberapa yang mengenal huruf karena masa kecil pernah mengenyam pendidikan dasar. Tapi, ada juga yang tidak sama sekali mengenal huruf. Namun, untuk angka mereka mampu menghafal, karena mereka pun kini menggunakan ponsel. Meski, dari pengakuannya tidak pernah membalas setiap pesan yang masuk karena tidak bisa membacanya. “Sebenarnya, kami ini hanya membantu saja. Tidak ada niat lain. Apalagi sampai mengambil program pemerintah daerah sama sekali. Ini murni hanya keprihatinan kami terhadap mereka yang buta aksara saja,” ungkapnya.

Jika melihat dari usianya, semuanya masih usia produktif, yang tertuta berusia 35-an. Lalu yang paling muda usia 20 tahun. Dari pengakuan buruh bantu yang sempat ditemui media ini, rata-rata mereka tidak pernah sekolah lantaran terpengaruh dengan lingkungan. Bahkan, ada yang memang besar di Malaysia bersama orang tuanya. Sehingga untuk mengenyam dunia pendidikan sangat sulit saat itu.

Untuk berkomunikasi melalui ponsel, mereka memiliki cara tersendiri. Seperti pengakuan Pangeran, (27). “Kalau ada yang SMS saya, langsung saya telepon saja. Karena, saya tidak tahu apa yang ditulis,” akunya. Ia mengaku selama ini ingin belajar. Namun tidak ada sarana. Sehingga dengan adanya rencana yang lakukan KSKP Nunukan tentunya sangat membantu mereka.

Pangeran mengaku sudah menghafal abjab. Namun, untuk melafazkan menjadi sebuah kalimat ia masih kesulitan. Jika memang kelas belajar itu dibuka, dia siap bergabung dan ingin belajar. Apalagi KSKP Nunukan melakukannya tanpa pungutan biaya. “Saya dan teman-teman siap. Yang penting tidak mengganggu waktu kerja. Karena belajar itu tidak mengenal usia,” tuturnya. (ash/nri) 


BACA JUGA

Sabtu, 26 Mei 2018 10:47
Lagi, Puluhan BMI Dihalau Malaysia

Pulang Kampung atau Kembali Secara Legal

NUNUKAN – Pemerintah Malaysia tak berhenti melakukan pemulangan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang…

Sabtu, 26 Mei 2018 10:46

Berantas Balapan Liar, Ini yang Dilakukan Pak Polisi

NUNUKAN – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Nunukan kembali menurunkan tim untuk mencegah…

Jumat, 25 Mei 2018 11:49

Ramadan, Sementara Nihil Aksi Kriminal

NUNUKAN – Memasuki hari ke-8 bulan Ramadan kemarin, tindak kriminalitas di Nunukan selama Ramada…

Kamis, 24 Mei 2018 20:18

Dianggap Melanggar UU Adminduk

NUNUKAN - Pelayanan administrasi kependudukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil)…

Kamis, 24 Mei 2018 11:16

Setengah Tahun, Kejari Baru Tangani Dua Kasus Korupsi

NUNUKAN – Selama periode Januari-Mei 2018, baru dua kasus korupsi yang ditangani Kejaksaan Negeri…

Kamis, 24 Mei 2018 11:14

Diselundup dari Sebatik, Rokok asal Indonesia Diamankan Malaysia

NUNUKAN – Dikutip dari Berita Ekhwal Semasa (BES) Tawau FM, Selasa (22/5), Agensi Penguatkuasaan…

Kamis, 24 Mei 2018 11:08

Pengawasan Takjil Belum Dilakukan Dinas Terkait

NUNUKAN–Pengawasan penganan berbuka puasa hingga hari ketujuh Ramadan kemarin belum juga berjalan.…

Kamis, 24 Mei 2018 11:07

Pengawasan Takjil Belum Dilakukan Dinas Terkait

NUNUKAN–Pengawasan penganan berbuka puasa hingga hari ketujuh Ramadan kemarin belum juga berjalan.…

Rabu, 23 Mei 2018 11:49

Terkendala Daya Listrik, Ditunda Beroperasi

NUNUKAN – Pengoperasian Pasar Liem Hie Djung yang direncanakan awal Mei lalu terpaksa tertunda.…

Rabu, 23 Mei 2018 11:46

Jaringan Terganggu, Listrik PLN Padam Total

NUNUKAN – Sejak memasuk Ramadan, kondisi listrik di wilayah Nunukan terus bermasalah. Meskipun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .