MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 21 Maret 2018 13:26
Karya Sudah Sampai ke Negeri Ginseng

Lukman, Seniman Kaligrafi asal Provinsi Jambi

MENGHIAS TEMBOK: Guratan tangan Lukman membuat seni kaligrafi di dinding Masjid Al-Kautsar, Karang Anyar Pantai. LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Lukman (27) telah menginjakkan kaki di sejumlah kota di tanah air. Berikut pelosok-pelosoknya. Tak lain karena kemampuannya melukis kaligrafi. Dari usahanya itu, ia telah mendirikan distro dan membuka lapangan pekerjaan baru.

LISAWAN YOSEPH LOBO

LUKMAN pernah mengeyam pendidikan di Pesantren Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jalan Bhinneka Karya nomor 53, RT 03/06, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Meski hanya setahun, dari awal dia meniatkan akan berdakwah melalui kaligrafi. Seni melukis indah ayat-ayat suci Alquran.

Baginya, setiap orang yang membaca akan mendapatkan pahala. Apalagi yang menulis kaligrafi, sehingga semakin banyak dibaca oleh orang, semakin banyak pula pahala baginya. Itulah salah satu motivasi pria asal Jambi ini.

Sudah hampir sepekan Lukman bekerja, melukis dinding-dinding Masjid Al-Kautsar, Karang Anyar Pantai. Melukis kaligrafi di ketinggian 3,5 meter. Lukman terlihat cetakan, memulai dengan ukiran kalam. Hingga menempelkan setiap cat di kuasnya.

Tak sekadar itu, Lukman penuh penghayatan setiap ayat suci Alquran yang dilukisnya. Melatih tingkat kesabaran. Konon, untuk mengukir satu huruf saja harus lebih sabar dan teliti. Apalagi bagi pemula.

Tak ada teknik khusus, namun untuk memulainya mungkin agak sulit. Mengukir satu huruf saja harus diulangi beberapa kali, agar goresan tangan semakin mahir. Cara memegang kalam pun perlu dilatih, agar tinta-tinta goresan sesuai dengan bentuk dan ukuran huruf demi huruf hijaiah.

“Membuat kaligrafi membutuhkan kesabaran yang ekstra. Memang ada buku khusus yang dipelajari. Contohnya huruf alif bentuknya seperti apa dan ada ukurannya yang ditandai dengan tanda titik,” ujar pria kelahiran Jambi, 27 Desember 1990 ini saat ditemui Senin (19/3).

Diceritakannya, awal ia aktif belajar kaligrafi dengan kaidah khat sejak 2008 silam di Pesantren Lemka, Sukabumi. Ia mengasah kemahirannya selama satu tahun. Usai diklat, ia pun mengabdi untuk mengajar sambil belajar, sekira tujuh tahun. “2016 baru saya pulang kampung, di Jambi,” ujarnya.

Meski baru berusia 27 tahun, ia sudah berpergian hampir di seluruh belahan Indonesia. Mulai dari kota, kabupaten hingga ke pelosok. Di antaranya di Jogyakarta, Banten, Tangerang, Depok, Cirebon, Jakarta, Papua, Samarinda, Balikpapan, Bulungan, Tarakan dan lain. Saking banyaknya, tak dapat ia ingat satu per satu. Tidak hanya untuk mengikuti lomba, ia pun kerap dipanggil pengelola masjid-masjid di nusantara. Jika ada persiapan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), baik di tingkat kota maupun kabupaten, Lukman sering diminta membina dan melatih kader-kader dari daerah. Bahkan 2015 lalu, karyanya pun sudah ada yang dikirim ke Negeri Ginseng, Korea Selatan.

“Hampir ke Korea Selatan tapi karena masih ada konflik, jadi karya saya saja yang dikirim ke sana. Di sana ada orang Indonesia, jadi saya desain nama masjid dan logonya,” kenangnya.

 

Jika dibandingkan dengan lukisan-lukisan pada umumnya, seni kaligrafi lebih sulit. Ada tujuh macam pembagian kaligrafi yang ia ketahui, yakni khat kufi, naskhi, tsuluts, farisi (ta’liq), diwani, diwani jali dan riq’ah. Masing-masing khat mempunyai bentuk dan ukurannya masing-masing yang ditandai dengan tanda titik.

“Nah, kebanyakan yang diajarkan dan di Indonesia itu, karena juga mengacu pada MTQ dan diperlombakan,” jelasnya.

Banyak hikmat yang ia dapatkan dari kaligrafi ini. Tak hanya kesabaran yang ia dapatkan. Lukman pun mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Berkat kaligrafi, ia dapat membangun toko distro di Jambi, 2015 lalu. Di toko miliknya itu, setidaknya ada beberapa karyawan.

Lukman pun menjual alat-alat dan keperluan kaligrafi. Beberapa karya kaligrafinya dijual di tempat tinggalnya di Jalan Diponegoro, RT 17, nomor 31, Sebengkok, Tarakan Tengah. Biasanya ia menghargai karyanya sebesar Rp 300 ribu hingga Rp 2 juta.

Konon, dari kaligrafi ini biasanya ia dapat meraup Rp 5 hingga Rp 20 juta, bahkan lebih. Biasanya sekali mengukir, Rp 300 hingga Rp 500 ribu per meter. Tetapi bukan itu yang menjadi tujuannya.

Bagi Lukman, kaligrafi tak hanya sekadar hobi. Melainkan kenikmatan nikmat kala mengukir ayat-ayat Alquran. Pamannya pun berpesan, setiap orang yang membacanya akan mendapatkan pahala. Apalagi yang menulis kaligrafi.  Dengan nuansa warnanya dan ornamen pun mengacu ke negara bagian Timur Tengah, lebih indah dipandang.

“Dalam Alquran sudah jelas bahwa setiap orang membaca satu huruf itu pahalanya 10. Apalagi yang tulis? Bayangkan jika kita menulis misalnya 3 huruf, itu pahalanya sudah 30 yang kita dapat,” katanya dengan penuh semangat.

Ia merasa tak memiliki suara yang merdu, apalagi menghafal juz demi juz Alquran. Tetapi dengan bakat melukis, ia gunakan untuk mengukir ayat-ayat Alquran. Konon, sejak kecil ia memang hobi menggambar, tak ada yang mengajarinya. Otodidak. Beberapa kali belajar melalui televisi dan mencoba mengaplikasikannya ke buku gambar. Itu pun tak sampai mewarnai.

Tak hanya dinding saja sebagai media lukis, di atas kertas kanvas, karton, plywood atau papan bahkan kerta daur ulang. Karena kenikmatan yang ia dapatkan, sering kali ia ingin menggoreskan kalam di mana pun dan di media apa pun itu.

“Karena saya tidak bisa bernyanyi dan menghafal tapi saya bisa menulis. Insya Allah kalau ada media dan di mana pun saya akan menulis,” tutupnya. (***/lim)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 11:49

Napi yang Dapat Sabu dari Tong Sampah Dituntut Delapan Tahun

TARAKAN – Marselinus dan Yulius hanya bisa tertunduk pasrah setelah mendengarkan tuntutan yang…

Sabtu, 20 Oktober 2018 11:47

Setubuhi Pacar Sendiri, SR Masuk Bui

TARAKAN – Perbuatan pria berinisial SR ini sangat miris. Di usianya yang masih remaja, 16 tahun,…

Jumat, 19 Oktober 2018 21:13

Wali Kota dan Wawali Diminta Mundur

PALU - Ratusan masyarakat Palu menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD)…

Jumat, 19 Oktober 2018 13:02

PENGLIHATAN SOPIR GELAP, PIKAP 'NYEMPLUNG'

 TARAKAN - Kecelakaan tunggal kembali terjadi di Jalan Aki Balak, Kelurahan Karang Harapan, Tarakan…

Jumat, 19 Oktober 2018 12:56

Ada Apa? Disdukcapil Disorot Kemenkopolhukam

TARAKAN - Proses pelayanan publik di Kota Tarakan saat ini masih terkendala kurangnya fasilitas. Hal…

Jumat, 19 Oktober 2018 12:53

Tujuh Relawan PMI Kaltara Bertahan

TARAKAN – Sebanyak lima relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kaltara telah kembali ke Kaltara,…

Jumat, 19 Oktober 2018 12:51

Dominan Gugatan di Perkara Cerai

TARAKAN - Perceraian biasanya ditempuh pasangan menikah yang merasa sudah tidak sepaham lagi. Penyebabnya…

Jumat, 19 Oktober 2018 12:46

“Anak-Anakku Kalian di Mana?”

Sudahdua pekan pasca tragedi likuefaksi melanda Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu,…

Jumat, 19 Oktober 2018 12:43

Masih Sebatas Pedagang, Belum Pebisnis

TARAKAN- Pengembangan usaha saat ini tak bisa dilepaskan dengan perkembangan dunia digital. Kantor Perwakilan…

Jumat, 19 Oktober 2018 12:14

Risol Mayo

Diisi daging sapi dan irisan telur rebus, rasanya gurih dan nikmat disantap selagi masih hangat. Risol…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .