MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 14 Maret 2018 12:05
Kerja di Yayasan, Malah Temukan Majikan Kurang Bersahabat

Dian Santi, Berjuang di Perantauan

BERUSAHA TEGAR: Nur Gerhani Safitri (2) tertidur pulas di samping lapak ibunya, Dian Santi (28) di Jalan Yos Sudarso, kemarin (13/4). LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Dian Santi (28) setiap hari berjualan keripik di depan salah satu bank di Jalan Yos Sudarso, Tarakan Barat. Perantau asal Palembang, Sumatera Selatan ini tidak cukup beruntung. Bertahun-tahun merantau tak juga menemukan pekerjaan yang layak.

LISAWAN YOSEPH LOBO

BEBERAPA bungkus keripik peyek dan pisang tersusun di depannya. Dijual. Sementara Safitri tertidur pulas di lantai, beralaskan kain jarik. Saban hari Dian berjualan ditemani anak bungsunya itu. Si bungsu selalu dibawa, lantaran tak ingin ditinggal di rumah.

Sejak November 2017 lalu, Dian berjualan makanan ringan itu. Bukan miliknya. Tetapi, milik tetangganya. Dari setiap bungkus, Dian diupah. Karena ekonomi keluarga tak cukup baik, Dian pun turut mencari nafkah. Membantu sang suami yang bekerja sebagai buruh serabutan berpenghasilan tak menentu.

Pernah, tiga bulan suaminya tak bekerja. Beruntung di sekelilingnya masih ada orang-orang yang peduli. “Jadi beras, makanan dan gula selalu minta ke neneknya. Kadang tetangga juga kasih makanan. Kebetulan ada tetangga yang buat peyek, ya sudah saya yang jualkan,” tutur wanita asli Palembang, Sumatera Selatan ini.

Aktivitas menjajakan peyek dimulai sejak pukul 07.00 Wita. Awal dia memulai usahanya berjualan, dengan berkeliling di seputaran Jalan Yos Sudarso, Tarakan Barat. Namun kurang diminati masyarakat. Ia kemudian memutuskan berjualan di depan salah satu bank Jalan Yos Sudarso.

Ia pun merasa nyaman dengan tempat barunya itu. Lagi pula, satpam berperilaku baik padanya. Terkadang satpam mengarahkan agar berjualan di tempat yang lebih teduh. Setiap pukul 12.00 Wita, ia pulang ke rumah. Biasanya ia dihantar dan jemput oleh suaminya. Namun ketika suaminya bekerja, ia dan putrinya pun berjalan kaki.

“Biasanya saya di depan, tapi karena ada mobil terparkir jadi saya disuruh jualan di sini, lebih dingin juga,” tutur anak kelima dari enam bersaudara ini sembari menunjukkan tempatnya duduk menjajakan dagangan.

Harga sebungkus keripik yang dijualnya Rp 2.500. Jika beruntung, Dian bisa membawa pulang duit Rp 250 ribu jika 100 bungkus yang dibawanya habis terjual. Biasa juga keripik tak dilirik orang sama sekali. Untungnya pemilik keripik tak menuntut agar jualannya harus habis terjual. “Kalau habis Rp 50 ribu untuk saya dan Rp 200 ribu dikasih ke tetangga yang punya keripik. Kalau tidak habis, kadang saya dapat Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu,” jelasnya.

Tentu saja penghasilannya itu tak mencukupi. Apalagi, rumah yang ia tinggali di Jalan Swarga, RT 3, Kelurahan Karang Balik merupakan rumah kontrakan seharga Rp 7 juta per tahun. Maka dari itu, setiap harinya ia harus bijaksana dalam menyisihkan uang untuk disimpan.

Leher Dian membengkak. Lima tahun lalu, ia divonis menderita gondok. Tepatnya kelenjar tiroidnya membesar. Dahulu ia sempat mengonsumsi obat tradisional yang dijual seharga Rp 215 ribu per botol. Namun karena sudah tak mampu membeli terus menerus, akhirnya pengobatannya pun terputus. “Tidak sakit, sudah pernah mengecil pas minum obat. Tapi karena sudah tidak mampu beli, makanya tidak minum lagi,” ucap wanita berkacamata ini.

Ia ingin berobat, namun belum termasuk peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Tiga tahun lalu, sebelum menginjakkan kaki di Bumi Paguntaka, Dian berdomisili di Tangerang, Banten. Sementara ini akan mengurus kartu tanda penduduk (KTP) domisili Tarakan.

Cerita di kampung halamannya tak berbeda jauh, Dian tak kunjung menemukan pekerjaan yang layak. Pengin menjadi penulis. Tulisan yang sudah ada sekitar 100 halaman. Namun ia tak memiliki modal untuk menuangkan tulisan itu dalam bentuk ketikan. Ayahnya hanyalah seorang pensiunan satpam, ibunya penjual kue keliling. Sehingga cita-cita untuk memiliki barang seperti laptop sangat sulit.

“Sudah ditelepon sama pihak Gagasmedia, disuruh ketik. Tapi nggak ada laptop, akhirnya terputus,” katanya sambil tersenyum.

Di Tangerang bekerja sebagai baby sitter, namun dari yayasan mengirimnya justru ke Tanjung Selor, Kalimantan Utara.

Selama satu tahun rupanya majikan tak bersikap ramah. Kerap kali membebankan pekerjaan yang begitu banyak. Karena tak tahan, akhirnya ia memutuskan mengikuti temannya ke Tarakan mencari pekerjaan yang lebih baik. “Majikannya kejam, apalagi anaknya yang kelas 6 SD suka perintah ini dan itu. Jadi ikut teman ke Tarakan, ngontrak,” kenangnya.

Di Tarakan ia sempat bekerja sebagai cleaning service di salah satu hotel. Pada 2015, ia menikah, suaminya pun tak mengizinkannya lagi bekerja. “Malah sekarang sudah punya anak, mau kerja tapi sudah tidak bisa kerja. Jadi jualan keripik saja,” tuturnya lirih.

Dia masih punya mimpi. Kelak bisa memiliki rumah sendiri, tanpa harus mengontrak sana-sini. “Berangan-angan punya rumah sendiri, tapi belum bisa,” kata Dian dengan mata berkaca-kaca. (*/lim)


BACA JUGA

Jumat, 21 September 2018 11:37

ITCC Kirim 34 Pelajar Kaltara ke Tiongkok

TARAKAN - Kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina. Ya, pepatah ini kerap kali menjadi tolok ukur seorang…

Jumat, 21 September 2018 11:35

Minim Anggaran, Cuma Periksa Kotoran

TARAKAN - Tiga ekor beruang madu di dua kandang besi di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan…

Jumat, 21 September 2018 11:33

Dorong Peningkatan Vokasi

PENYEDIAAN lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang dimiliki masih menimbulkan pertanyaan,…

Jumat, 21 September 2018 11:32

Hujan Lebat, Distribusi PDAM Belum Normal

TARAKAN – Meski beberapa hari ini hujan lebat, pendistribusian air Perusahaan Daerah Air Minum…

Jumat, 21 September 2018 10:52

200 Orang Asing Kerja di Kaltara

TARAKAN - Pengawasan orang asing atau warga negara asing (WNA) di Kota Tarakan saat ini melibatkan berbagai…

Jumat, 21 September 2018 10:51

Penantian Bertahun-tahun Akhirnya Terjawab

TARAKAN – Bertahun-tahun menantikan perbaikan, akhirnya jembatan di Gang Tudai RT 17, Kelurahan…

Jumat, 21 September 2018 10:46

Desember, XC Race dan Jambore Sepeda

TARAKAN – Persiapan pelaksanaan XC race dan jambore sepeda terus berjalan, yang terbaru kini sudah…

Kamis, 20 September 2018 23:34

Penyebab Kebakaran Diduga Puntung Rokok

TARAKAN – Neneng (38) seketika panik, Sekira pukul 23.00 WITA, Rabu (19/9). Cahaya api memendar…

Kamis, 20 September 2018 23:31

Polda Akan Kumpulkan Bukti

TARAKAN - Buntut dugaan pemukulan terhadap lima mahasiswa oleh oknum kepolisian saat aksi unjuk rasa…

Kamis, 20 September 2018 13:01

Dinkes Minta Tambahan Waktu

TARAKAN – Masih rendahnya cakupan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun mendapatkan imunisasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .