MANAGED BY:
SABTU
18 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 13 Maret 2018 11:00
Membuat Emping dari Padi Ketan Mentah yang Diolah Manual

Melihat Tradisi Warga Bulungan saat Musim Panen

TRADISI: Padi ketan mentah yang siap diolah secara manual untuk kemudian dijadikan emping yang dilakukan saat masa panen. IWAN KURNIAWAN/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Setiap daerah pasti memiliki tradisi yang berbeda sebagai ciri khas dari daerah itu sendiri. Termasuk di Bulungan yang setiap musim panen, para petani selalu mengambil padi ketan mentah untuk dibuat emping. Berikut ulasannya.

IWAN KURNIAWAN

PANEN padi merupakan waktu yang sangat ditunggu-tunggu setiap petani. Bahkan momen tersebut tidak semata-mata hanya dimanfaatkan untuk mengambil padi yang sudah masak sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang haris dipenuhi.

Tapi, di Bulungan, para petaninya selalu memanfaatkan masa panen itu untuk mengambil padi ketan yang masih mentah untuk selanjutnya diolah secara manual dengan beberapa tahapan hingga akhirnya siap untuk dikonsumsi atau dimakan. Hasil akhir dari olahan padi ketan mentah itu disebut emping.

Berdasarkan pantauan Radar Kaltara di lapangan, pengambilan padi ketan mentah itu biasanya dilakukan para petani pada sore hari saat hendak pulang dari sawah. Sebagian dari mereka pulang ke pondok untuk berkemas dan sebagaiannya masih tinggal untuk mengambil padi ketan mentah tersebut.

Padi ketan mentah yang diambil disusun rapi di dalam bakul (tempat padi yang dibuat dari bahan anyaman) agar dapat lebih mudah saat merontokkan biji padi dari tangkainya sebelum diolah menjadi emping.

Hanurani (41), warga RT 5 Desa Pejalin, Kecamatan Tanjung Palas, Bulungan saat diwawancarai menjelaskan, untuk pembuatan emping itu sebenarnya tidak sulit. Hanya saja perlu keterampilan khusus agar hasil yang diperoleh dapat sesuai dengan harapan.

Ibu dari empat bersaudara itu menjelaskan, padi ketan mentah yang sudah diambil dirontokkan terlebih dahulu dengan cara dikerik. Biasanya pengerikan itu dilakukan menggunakan sendok makan. Setelah itu biji padi yang sudah dirontokkan direndam dalam air untuk memisahkan antara yang baik dan tidak.

“Jadi biji padi yang timbul saat direndam itu harus dibuang terlebih dahulu. Karena itu yang rusak atau tidak ada isinya,” ujar Rani sapaan akrabnya saat ditemui di tengah mengolah padi ketan mentah tersebut.

Jika sudah tidak ada yang timbul lagi, air yang digunakan untuk merendam dibiang dan padi beras ketan yang tenggelam itu ditiriskan sekitar 20 hingga 30 menit. Selanjutnya digoreng tanpa menggunakan minyak makan atau dioseng-oseng.

Proses penggorengannya, kata perempuan kelahiran 1 Januari 1977 itu tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Diperkirakan hanya 30 menit sudah cukup. Karena tidak baik jika terlalu lama digoreng.

“Kalau terlalu lama bisa hancur isinya karena kekeringan. Jadi sambil dicek, kalau sudah pecah atau misah kulit dengan isinya saat ditekan menggunakan sendok atau batu, sudah cukup. Sudah boleh diangkat,” jelasnya.

Berikutnya, padi beras ketan mentah yang sudah digoreng ditumbuk menggunakan lesung yang dibuat dari kayu. Biasanya satu lesung bisa sampai dua hingga tiga orang sekaligus yang menumbuknya. Untuk melakukan itu, orang-orangnya harus yang sudah terlatih, jika tidak padi yang ditumbuk bisa berhambur keluar dari dalam lesung.

“Itu ada ketukannya. Jadi tumbukan elu (tongkat penumbuk) yang kita pegang dengan yang dipegang oleh orang lain itu bergantian, tidak boleh berebutan. Jadi dia seperti memutar,” tuturnya.

Setelah itu baru ditampih untuk memisahkan antara isi dan kulit dari padi ketan mentah tersebut. Terakhir beras ketan mentah yang sudah bersih dicampur dengan gula merah dan siap untuk dimakan.

Tapi, lanjut dia, dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini, sudah banyak yang tidak menggunakan cara manual seperti menumbuk menggunakan lesung. Mereka lebih memilih menggunakan blender atau alat sejenisnya.

“Tapi dengan cara itu (menggunakan blender atau alat sejenisnya) tentu hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. Karena beras ketan mentah itu pasti keras, tidak seperti yang ditumbuk,” sebutnya.

Disebutkannya, pembuatan emping itu sudah merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang, hingga saat ini masih tetap dilakukan ketika memasuki masa panen. Bahkan dapat dikatakan sudah menjadi keharusan seakan seperti tradisi. Dalam kata lain, belum lengkap jika belum membuat emping saat musim panen padi.

Adapun untuk pembuatan emping, banyaknya itu tidak menentu. Artinya tergantung kebutuhan dan kemauan dari petani itu sendiri. “Kalau rajin kita bisa ambil banyak. Tapi kalau tidak kita ambil secukupnya saja,” sebutnya.

Biasanya, pengambilan dengan jumlah yang banyak itu jika ada tetangga atau sanak saudara yang memesan. Jika tidak, maka pengambilan cukup untuk dimakan orang satu rumah saja. Pastinya ada seni tersendiri saat mengambil emping tersebut. Sebab, meski bukan di sawah sendiri, tetap boleh mengambil. “Kita izin saja mau ambil emping, insya Allah dikasihkan. Karena kita tidak ambil banyak,” katanya. (***/eza)


BACA JUGA

Jumat, 17 Agustus 2018 20:29

Polda Bidik Kasus Pidana Khusus

TANJUNG SELOR - Kepolisian Daerah (Polda) Kaltara melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus)…

Jumat, 17 Agustus 2018 20:24

Bangunan SPN Masih Butuh Miliaran Rupiah

TANJUNG SELOR – Setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau menghibahkan lahan berikut gedung…

Kamis, 16 Agustus 2018 21:31

Biaya BBNKB 15 Persen Dinilai Memberatkan

TANJUNG SELOR - Penerapan beban Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) sebesar 15 persen dirasa perlu…

Kamis, 16 Agustus 2018 21:30

BPSK Terima Laporan Dugaan Beredarnya Beras Plastik

TANJUNG SELOR – Laporan adanya dugaan beras plastik yang beredar di pasar tradisional di Ibu Kota…

Kamis, 16 Agustus 2018 12:24

Setiap Rumah Wajib Kibarkan Bendera

TANJUNG SELOR - Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun yang akan jatuh…

Kamis, 16 Agustus 2018 12:20

Tak Terima Mutasi Sistem Transaksional

TANJUNG SELOR – Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kalimantan Utara (Kaltara), Muhammad Ishak…

Kamis, 16 Agustus 2018 12:18

Berkas Dikembalikan, Dianggap Tidak Lengkap

TANJUNG SELOR – Perkara  kecelakaan laut Speedboat (SB) Harapan Baru beberapa bulan lalu, …

Kamis, 16 Agustus 2018 12:16

Bupati: Disanksi Sesuai Bentuk Pelanggaran

TANJUNG SELOR -   Bupati Bulungan H. Sudjati berjanji akan memberikan sanksi tegas kepada…

Rabu, 15 Agustus 2018 22:30

Optimistis Bebas Lokalisasi Tahun Ini

TANJUNG SELOR – Program penutupan lokalisasi di Kaltara khususnya Tarakan-Nunukan memang sempat…

Rabu, 15 Agustus 2018 20:39

Usulan CPNS Diminta Terperinci

TANJUNG SELOR – Penetapan waktu pelaksanaan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2018,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .