MANAGED BY:
RABU
12 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 10 Maret 2018 10:30
Terdapat Boneka dan Guci Menangis, hingga Singgasana Sultan

Melihat Isi Museum Kesultanan Bulungan yang Mulai Diabaikan

REPLIKA: Sapot yang dalam bahasa Bulungan adalah ayunan ini merupakan peninggalan dari Kesultanan Bulungan, tepat di sampingnya adalah guci menangis. PIJAI PASARIJA/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Dari puluhan barang peninggalan yang ditampilkan di Museum Kesultanan Bulungan, terdapat replika ayunan dan boneka bayi. Tepat di sebelahnya dihiasi dengan guci peninggalan Sultan Bulungan yang konon hingga saat ini masih kerap mengeluarkan suara tangisan.

PIJAI PASARIJA

PAGI itu sekira pukul 07.00 Wita, Kamis (8/3). Penulis melakukan perjanan darat dengan menempuh waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai ke Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas menggunakan roda dua dari Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor.

Sesampai di museum, penulis bertemu pria yang bernama Datu Ibrahim yang saat itu sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi sembari menjaga museum peningalan Kesultanan Bulungan.

Setelah itu, pria yang juga merupakan cucu dari Kesultanan Bulungan ke 7, Sultan Ajimudin yang menjabat dari tahun 1889-1899 ini menceritakan awal mula ayunan yang diberi nama “Sapot” atau artinya ayunan. “Jadi nama sapot itu diambil dari bahasa Bulungan yang artinya ayunan,” jelasnya.

Boneka yang di dalam ayunan itu hanyalah gambaran bayi yang sedang berada di dalam ayunan. Di zaman kesultanan pertama, Amiril Mukminin (1731–1777) ayunan memang sudah digunakan. “Tapi sekarang sudah jarang sekali ditemukan ada yang menggunakan ayunan, bahkan yang sekarang ini sudah modern,” ujarnya.

Saat itu, ayunan hanya mengunakan rotan untuk pengikat. Namun, ayunan yang sekarang ini sudah bukan yang aslinya, sebab yang aslinya sudah rusak, bahkan kayunya juga sudah tidak bisa digunakan lagi. Alias yang dipamerkan itu adalah replika dari ayunan asli.

Ayunan yang aslinya di zaman Kesultanan Bulungan pertama itu ada di rumah adat Tarakan, kalau yang sekarang ini itu hanya duplikatnya saja. Duplikat ayunan itu dibuat di tahun 1998, sejak dibangun museum memang kerap kali mengeluarkan suara tangisan. Bahkan tangisan itu tidak hanya terdengar dari boneka saja. Tapi, dari guci yang sering disebut bahasa Bulungan tempayan itu juga sering mengeluarkan tangisan.

“Tangisan itu bisa terdengar kalau ada terjadi masalah di lingkungan museum atau ada kerabat kesultanan yang mengalami musibah atau sakit, itu akan mengeluarkan suara tangisan,” ujarnya.

Dahulu di zaman kesultanan pertama, guci itu disimpan di kamar kesultanan. Bahkan tidak pernah ada yang berani melihat, yang bisa melihat itu hanya anak dan cucu kesultan saja. “Kita tidak ada yang berani melihat,” bebernya.

Bahkan terus dijaga dari kesultanan pertama hingga kesultanan ke-13, dahulu di tahun 1964 guci itu sempat dirampas. Sebab, dahulu Kesultanan Bulungan itu diangap pemberontak. “Saya tidak bisa menceritakan terlalu jauh, kalau ingatnya saya sedih. Sebab semua keluarga saya habis dibantai,” katanya sambil meneteskan air mata.

Tidak hanya guci saja yang disita, bahkan masih banyak barang-barang peningalan Kesultanan Bulungan yang juga dirampas Belanda. “Kalau yang ada di museum sekarang ini sudah banyak yang bukan aslinya,” jelasnya.

Kalau barang yang kecil-kecil seperti piring, keris, senjata dan baju itu diakuinya memang masih asli. Sementara, ranjang dan singgasana sultan itu sudah bukan aslinya lagi. “Tempat pernikahan juga itu bukan aslinya lagi, hanya duplikat saja,” ujarnya.

Pria berusia 64 tahun itu juga merasa prihatin dengan kondisi museum yang sekarang ini. Bagaimana tidak, kondisi museum yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah saat ini terkesan diabaikan. Bahkan, saat ini kondisi atapnya juga sudah banyak yang bocor, jika hujan sibuk menaruh ember untuk menampung air.

“Kalau kita tidak tampung habis banjir museum ini,” bebernya dengan suara tersedu-sedu.

Permasalahan ini sudah seringkali disampaikan ke pemerintah, tapi sampai sekarang tidak ada juga upaya perbaikan. “Saya sudah lelah, saya biarkan saja. Apakah museum ini mau dilanjutkan atau tidak terserah saja,” pungkasnya. (***/eza)


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 12:57

Oknum Pejabat Dishub Jadi Tersangka

TANJUNG SELOR – Okum pejabat di Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten…

Rabu, 12 Desember 2018 12:56

WAH NGGA ASIK..!! Layanan Wifi Gratis Dikurangi

TANJUNG SELOR - Kondisi APBD Bulungan yang terus merosot sejak…

Rabu, 12 Desember 2018 12:54

Pimping Jadi Percontohan Kampung KB di Kaltara

TANJUNG SELOR – Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara ditunjuk…

Rabu, 12 Desember 2018 12:53

PTT Kesehatan Bakal Jadi CPNS

TANJUNG SELOR - Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Kalimantan Utara…

Rabu, 12 Desember 2018 12:51

Perda Pengakuan Masyarakat Adat Jalan di Tempat

TANJUNG SELOR - Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bulungan nomor 12…

Rabu, 12 Desember 2018 12:50

Semua Daerah Rawan Kamtibmas

POLDA Kaltara menegaskan situasi Kaltara harus tetap kondusif jelang hingga…

Selasa, 11 Desember 2018 15:37

Puluhan Karung Daging Ilegal Diamankan

TANJUNG SELOR - Tim gabungan dari Kepolisian Resor (Polres) Bulungan,…

Selasa, 11 Desember 2018 15:36

Ditargetkan 2020, Seluruh Kaltara Dijangkau Internet

TANJUNG SELOR – Dewasa ini, masyarakat Indonesia sudah sangat ketergantungan…

Selasa, 11 Desember 2018 15:34

Tak Berbeda dengan Anak Normal, Mampu Hasilkan Karya

Keterbatasan bukan penghalang bagi anak penyandang disabilitas. Bahkan, mereka mampu…

Selasa, 11 Desember 2018 15:30

Pernikahan Dini, Abaikan Hak Anak

TANJUNG SELOR - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .