MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 08 Maret 2018 12:01
Merasa Tenang, Tolak Tawaran Pindah

Mbah Ngatiah, Sosok yang Tinggal di Sekitar Pemakaman Tionghoa

ENGGAN MENGELUH: Di teras gubuk ini, Mbah Ngatiah merebahkan diri melepas rasa letih, sambil memasak air menggunakan tungku kayu. RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Ngatiah sudah enam bulan mendiami sebuah gubuk berukuran 2 x 2,5 meter di sekitar pemakaman Tionghoa di Jalan Kusuma Bangsa, Gunung Lingkas, Tarakan Timur. Tampak tak ada yang istimewa dari gubuk berdinding sengnya. Namun bagi perempuan yang biasa disapa Mbah Ngatiah, itu sudah cukup. Bantuan yang datang silih berganti agar ia dipindahkan dengan halus ia tolak.

RURY JAMIANTO/ RADAR TARAKAN

FEBRUARI lalu, sosok yang kini berusia 55 tahun ini sempat menjadi pembicaraan, setelah kehidupannya yang miris diunggah seseorang ke Facebook. Kisah itu membuat beberapa warga tergerak untuk membantu, tak terkecuali lembaga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Ada yang berdonasi berupa uang tunai, ada pula yang menawarkannya untuk pindah. Dari Baznas ia menerima bantuan perawatan kesehatan dari UHC (unit home care) serta  paket sembako rutin.

Radar Tarakan menyambangi gubuk kecil yang berada di sebuh bukit. Aksesnya cukup baik. Jalan di depan Puskesmas Gunung Lingkas dapat ditempuh dengan kendaraan. Kurang lebih satu kilometer (km) dari jalan utama, pewarta pun sampai di gubuknya.

Dalam gubuknya sangat gelap, kurang pencahayaan. Andaikan ada, radio akan jadi barang mewah di tempat ini. Saat malam, hanya suara jangkrik menemani Ngatiah. Ratusan botol air mineral bekas tersusun di sisi kanan dan kiri gubuknya.

Di teras gubuknya, Mbah Ngatiah saban hari merebahkan diri melepasrasa letih, sambil memasak air menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Selepas itu, ia pun menghabiskan waktunya di dalam gubuk.

Biasanya, setiap pukul 06.00 Wita, Mbah Ngatiah berjalan kaki menuju Pasar Tenguyun menjual jengkol. Rutinitasnya itu berhenti sejak dua bulan belakangan. Ia menderita penyakit kayap, sejenis ruam di kulit. Beberapa bagian sudah melepuh. Dari kepesertaannya di BPJS, Mbah Ngatiah memperoleh pengobatan. Pun bantuan dari Baznas.

Wakil Ketua Baznas Tarakan Syamsi Syarman mengakui jika pihaknya menemui kendala saat menyatakan keinginan untuk merenovasi gubuk itu. Tanah tempat didirikan gubuk itu, bukan milik Mbah Ngatiah.

“Mbahnya tidak mau pindah kalau bukan dekat area di situ. Padahal dekat situ tidak ada kos-kosan atau tempat untuk tinggal Mbah Ngatiah. Dia gak mau dipindah jauh. Mbahnya maunya tinggal di gubuknya itu,” ungkap Syamsi.

Bantuan sembako dari Baznas digunakan setiap bulannya. “Masih berjalan (bantuan) dan kami prioritaskan juga. Dan kami juga tahu jika Mbah Ngatiah sakit. Makanya kita juga diberikan perawatan buat beliau,” jelasnya.

Entah apa yang ada di benaknya. Ia tetap memilih tinggal di gubuknya. “Tidak,” jawab Mbah Ngatiah ketika ditanya apakah mau jika ditawari pindah.

“Nyaman sudah di sini. Tenang,” sambungnya.

Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, Mbah Ngatiah berusaha sekuat tenaga memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Jauh dari kata mengeluh. Raut wajahnya cerita dengan senyum ikhlas. Meski, harus menjalani hidup yang berat.

 

Sambil memasukkan kayu satu persatu ke dalam tungku pembakaran. Mbah Ngatiah pun kembali bercerita pengalaman sedih yang dialaminya. Entah kepada siapa lagi dirinya bisa mencurahkan perasaan.

Saat pertama kali tinggal di dekat kuburan, ia kerap kali mendapatkan perlakuan yang tak enak. Gubuk tempatnya tinggal, dilempari batang kayu. Mirisnya lagi, Mbah Ngatiah pernah dilempari kotoran manusia yang dibungkus dalam plastik hitam.

“Pas saya lihat itu kotoran dibungkus plastik. Kotoran itu sampai masuk ke tempat penampungan air saya. Padahal  penampungan air itu merupakan satu-satunya wadah air bersih, biasa saya gunakan untuk memasak atau minum,” kata Mbah Ngatiah.

Namun, ia menguatkan hatinya. “Saya tidak marah dan mungkin ini sudah jalan hidup saya. Saya terima saja. Setiap manusia nantinya akan mati. Jadi mbah juga tidak mau buat dosa. Kuburan depan gubuk mengingatkan mbah untuk tetap sabar,” ucap Ngatiah, sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

Bahkan, Ngatiah juga kerap kali mendapati orang pacaran di teras gubuknya di tengah malam. Dari cerita sedihnya itu, ternyata Mbah Ngatiah juga mengalami hal yang tak biasa. Di mana ada fenomena gaib yang kerap mengganggu dirinya. “Saat itu Mbah sedang tidur. Ada perempuan tua menggunakan baju panjang berdiri di samping Mbah.  Mbah ajak ngomong kok wanita itu diam saja sambil menunduk. Dan matanya tertutup. Pas mbah perhatikan ternyata bukan orang. Di situ mbah langsung bacakan yasin dan lempari garam,” ucap Ngatiah.

“Sudah biasa jadi tidak takut mbah,” ucapnya lagi. (***/lim)


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 23:34

Penyebab Kebakaran Diduga Puntung Rokok

TARAKAN – Neneng (38) seketika panik, Sekira pukul 23.00 WITA, Rabu (19/9). Cahaya api memendar…

Kamis, 20 September 2018 23:31

Polda Akan Kumpulkan Bukti

TARAKAN - Buntut dugaan pemukulan terhadap lima mahasiswa oleh oknum kepolisian saat aksi unjuk rasa…

Kamis, 20 September 2018 13:01

Dinkes Minta Tambahan Waktu

TARAKAN – Masih rendahnya cakupan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun mendapatkan imunisasi…

Kamis, 20 September 2018 12:56

SK Pemberhentian Sudah Ditandatangani

TARAKAN — Upaya  Wakil Wali Kota Tarakan Khaeruddin Arief Hidayat untuk bisa lolos sebagai…

Kamis, 20 September 2018 12:44

Beruang Itu Diduga Sakit dan Stres Berat

TIGA ekor beruang madu yang hidup di dua kandang di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan Kampung…

Kamis, 20 September 2018 12:30

922 Gram Sabu Dilarutkan di Air

TARAKAN - Sabu-sabu sebanyak 922,12 gram dimusnahkan pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP)…

Kamis, 20 September 2018 12:13

SK Honorer Tunggu Data Valid

TARAKAN - Kejelasan status tenaga honorer saat ini masih terus diperjelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan…

Kamis, 20 September 2018 12:10

Ditinggal, Rombong PKL Diangkut

TARAKAN - Empat unit rombong milik pedagang kaki lima (PKL) yang berada di depan Taman Berkampung, Kelurahan…

Kamis, 20 September 2018 12:09

Di Samping Jalan Rusak Ada Jurang

TARAKAN – Ketua RT 4, Kelurahan Juata Laut, Amiruddin mengatakan beberapa usulan yang diajukan…

Kamis, 20 September 2018 12:08

Jaringan Bermasalah, Pencetakan E-KTP Terkendala

TARAKAN – Setelah masalah kekurangan blanko Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) terselesaikan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .