MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 23 Februari 2018 10:49
Korban Salah Catat Bermunculan

PDAM Tak Bisa Menuntut Pelanggan untuk Membayar

FANTASTIS: Lumba Kondo (50) Warga RT 9, Kelurahan Karang Harapan, saat memperlihatkan tagihan air PDAM nya melalui cek tagihan online sistem transaksi PPOB Online yang tembus Rp 10.436.000. RURY JAMIANTO/ RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Ternyata tak hanya Lukas Yusuf, saja yang syok akan tagihan airnya yang melonjak senilai Rp 4 juta. Kini Lumba Kondo (50) juga dikagetkan dengan tagihannya yang mencapai angka Rp 10.436.000.

Angka ini juga dianggap masyarakat sebagai kelalaian PDAM Tarakan, yang melakukan penghitungan. Bahkan sebagian pelanggan mengajukan keberatan, karena tidak ingin membayar tagihan yang begitu mahal.

Lumba Kondo merupakan warga RT 9, Kelurahan Karang Harapan, Jalan Juata Harapan, mengaku kaget melihat angka tagihannya tersebut yang diketahui saat mengecek tagihan, melalui sistem transaksi PPOB Online. Padahal, selama ini ia hanya menggunakan air PDAM untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga. Sementara di rumah hanya ada enam orang. “Sebelumnya, saya rata-rata hanya membayar Rp 70 ribu kadang Rp 120 ribu per bulan. Saat melihat itu, saya langsung komplain,” jelasnya.

Adapun alasan yang didapatkan Lumba dari petugas PDAM, karena di lokasi tersebut pernah terjadi kebocoran pipa beberapa kali. Namun, anehnya, kebocoran itu di luar dari meteran Lumba. “Itukan bocor dari luar dan tidak masuk di meteran. Dan kami juga jarang untuk mengecek meteran,” beber Lumba.

Selain itu, Lumba juga mengaku, sempat mendatangi kantor PDAM. Bukannya memperoleh solusi, Lumba malah mendapat jawaban yang kurang berkenan. Berdasarkan informasi petugas, tarif PDAM naik karena kesalahan pencatatan. PDAM juga beralasan petugas yang lalai tersebut telah dipecat dari PDAM. Namun solusi itu tidak menurunkan angka tagihannya.

“Katanya petugasnya sudah dipecat. Tapi kan kami tidak mau tahu,” katanya.

Selain lumba, 50 meter dari jarak rumahnya juga terdapat salah seorang korban dari kelalaian petugas PDAM lainnya. Ironisnya, pelanggan atas nama Anda Rias (56) yang berada di RT 10 ini, sempat akan pingsan ketika mengetahui tagihan air PDAM nya mencapai Rp 4.100.000. Karena, selama ini ia hanya membayar air PDAM di bawah Rp 200 ribu.

“Waktu saya ke PDAM untuk membayar air. Saya mendengarnya petugasnya bilang Rp 41 ribu. Saya pikir kok harga PDAM saya turun yah. Syukurlah kan, tapi pas saya berikan uang, petugasnya bilang kurang. Petugasnya bilang kalau nominalnya sekitar Rp 4,1 juta. Di situ saya langsung mau pingsan. Kok besar amat,” cerita Anda, kepada Radar Tarakan.

Karena tidak percaya, Anda langsung melihat tagihannya. Dan benar saja ditagihannya itu tertera Rp 4 juta lebih. “Saya mempertanyakan itu kenapa bisa tinggi,” ucapnya.

Sangking tidak percayanya, Anda sempat menggali pipa air sekitar rumahnya untuk melihat apakah ada yang bocor atau tidak. “Kok aneh bisa tinggi, padahal air itu saya gunakan untuk ditampung di bak. Tidak juga besar itu penampungan air,” lanjutnya.

Hingga kini, Anda belum membayar tagihan tersebut, karena terlalu tinggi dan tidak masuk akal. Dia juga meminta solusi dari insiden yang merugikan pelanggan ini. “Saya tidak mau bayar,” ketus Anda.

Sebelumnya, Kasubag Hubungan Pelanggan pada PDAM Tirta Alam Lodang Herman Wijaya mengakui, jika selama ini telah terjadi kesalahan atas kelalaian dari delapan petugasnya yang saat itu berstatus pekerja PDAM. Ia mencontohkan beberapa kasus yang seharusnya pelanggan membayar 50 kubik, namun di tangan jurut catat meteran hanya tertulis 20 kubik.

Bahkan, Lodang menyebutkan secara terbuka jika kasus yang dialami Lukas adalah keluhan yang kesekian kali dari pelanggan. Hal itu kerap menimpa pelanggan di Kelurahan Juata Harapan, Juata Kerikil, Karang Anyar, dan Karang Harapan. “Makanya itu kami di sini (PDAM) susah move on. Setiap hari yang kami hadapi itu saja terus menerus.  Sampai-sampai ada yang mengamuk ke kantor karena tagihannya tiba-tiba tinggi,” ungkap Lodang kepada Radar Tarakan, Rabu (21/2).

Namun ditegaskan Lodang, delapan oknum yang disebutkan semuanya dipecat dari PDAM. Lantaran dinilai merugikan perusahaan. “Empat oknum itu sudah dipecat sebelum ada Pak Usman menjabat. Dan saat Pak Usman mejabat juga lagi-lagi ada tiga oknum kami pecat.  Yang kesemuanya bertugas bagian pencatatan,” tegasnya.

Terungkapnya kelalaian petugas ini, lanjut Lodang setelah pemberlakuan sistem Android Catat Baca Meter Sistem (Aurora). Dengan sistem tersebut foto meteran setiap pelanggan tertera jelas dan sangat sulit dimanipulasi. Tak hanya itu, di lapangan juga Lodang menyebutkan jika ada oknum pelanggan yang menggunakan di luar seharusnya. “Kami juga bingung bagaimana bisa ya. Kok bisa tersalurkan ke yang lain,” bebernya.

Saat disinggung kembali siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini, Lodang menjelaskan bahwa mau tidak mau konsumen harus menanggung. “Kebocoran ini tentunya akan kami pertanggungjawabkan ke BPK. Selain itu juga untuk pajaknya juga kami harus bayar ke Samsat untuk bayar airnya. Karena biaya produksi kami itu kan besar. Tetapi yang menjadi hasil malah kecil, bak buah simalakama jadinya. Dia tidak bayar berarti tidak bisa lanjut, jadi mohonlah untuk dicicil,” jelasnya.

Di sisi lain, tingginya pembayaran yang harus ditanggung konsumen akibat kelalaian petugas PDAM Tirta Alam Tarakan. Membuat Akademisi Hukum Perdata, Fakultas Hukum Borneo Tarakan, Zulvia Makka, SH.,M.H turut berkomentar.

Menurutnya, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, sudah diatur jelas terkait hak-hak konsumen. Di mana konsumen harus mengetahui berapa yang harus dibayarkan untuk setiap meter perkubiknya. Dan jika ada kenaikan, PDAM wajib untuk secepatnya memberitahukan kepada konsumen.

Selain itu, PDAM sebagai produsen seharusnya melakukan pengecekan setiap rumah dalam hal ini pelanggan. Untuk melihat apakah ini real  kesalahan ada pada konsumen, ataukah petugas itu sendiri.

Jika yang ditemukan sepenuhnya ada pada petugas PDAM. Artinya, konsumen tidak bisa dituntut. Karena sudah jelas kesalahan ini ada kelalaian dari petugas PDAM. Lebih lanjut perempuan asal Manado ini menuturkan, jika nantinya konsumen tidak mau membayar karena tingginya tagihan, lalu pihak PDAM mau putuskan sambungan itu, perlu ditanyakan dasar pemutusan tersebut.

“Dasar PDAM untuk mencabut meteran konsumen itu apa? Berbeda jika si konsumen itu menunggak pembayaran selama 3-4 bulan. Ini kan mereka selalu bayar tidak ada tunggakan, hanya saja ternyata ada kelalaian dari si petugas PDAM, yang baru saja terkuak selama ini. Berarti itu sudah menjadi risiko bisnis,” jelasnya.

Berbeda kasusnya, jika petugas di lapangan menemukan ada permainan meteran yang dilakukan konsumen di lapangan. Maka kasus ini, pihak konsumen wajib untuk membayar. “Jika tidak ada sama sekali, berarti pihak konsumen tidak mempunyai kewajiban untuk membayar penumpukan pembayaran yang disebabkan oleh kelalaian petugas PDAM,” bebernya.

Menurut Zulvia juga, konsumen dalam hal ini posisinya sangat dirugikan, dan dapat dilihat berapa banyak konsumen di Tarakan yang sangat bergantung dengan air PDAM ini. Sementara yang terkuak baru ada puluhan pelanggan di Januari 2018.

”Kalau misalnya PDAM masih berkukuh pada tuntutannya untuk meminta pada konsumen untuk membayar. Maka konsumen dapat melaporkan kasus ini kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Tarakan yang baru saja di bentuk yang nantinya dapat disebut sebagai Class Action” bebernya.

Dan riskannya lagi menurut Zulvia. Dengan adanya tagihan yang meninggi, Konsumen menjadi korban dan dituntut harus membayar tagihan-tagihan lalu, yang konsumen sendiri tidak tahu.

“Jadi tidak bisa seperti itu, perjanjiannya itu selesai karena sudah membayar tagihan sesuai catatan yang diberikan. Ada hak dan kewajiban yang kita pakai selama sebulan itu. Dan dianggap  selesai. Sama misalnya makan di salah satu warung, di mana kasirnya salah menjumlahkan. Lalu, bulan depan kita makan tiba-tiba si kasir datang menagih pembayaran yang salah itu. Ya tidak bisa, kan sudah selesai perjanjian konsumen dan pemilik,” ucapnya.

Diakuinya, memang kadang kala konsumen ini selalu merasa dirugikan. Karena bagi konsumen ini mending tidak ada listrik atau beras, dari pada tidak ada air.”Saya melihat konsumen di Tarakan ini sangat jarang untuk melaporkan. Palingan mengadu di medsos,” tuturnya. (eru/nri)


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 15:41

70 Persen Speedboat Reguler Buat Pintu Darurat

  TARAKAN - Belajar dari sejumlah insiden kecelakaan kapal cepat atau speedboat di laut Kaltara,…

Rabu, 20 Juni 2018 15:06
Debat Kandidat Pilwali Tarakan 2018

Saling Lempar Pertanyaan, Jawaban Paslon Bikin Adem

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 15:05

Cara Para Calon Pilwali Tarakan Meyakinkan Pemilih

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 15:03

Begini Angan-Angan Para Paslon Mewujudkan Tujuan Pembangunan di Tarakan

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 14:58
Debat Kandidat Pilwali Tarakan 2018

Ternyata Pertanyaan Undian Dalam Debat Seperti Ini

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 14:53
Debat Kandidat Pilwali Tarakan 2018

Di Mata Panelis, Ada Masalah Anggaran dan Birokrasi

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 14:50
Debat Kandidat Pilwali Tarakan 2018

Diingat Yah! Janji Paslon Dalam Visi Misinya

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 14:50

Begini Yel-Yel Para Paslon Dalam Debat Tadi Malam

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di…

Rabu, 20 Juni 2018 12:04

Serang Warga, ‘Cupping’ Biasa Diberi Makan

NUNUKAN - Seorang warga Mamolo, Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Syamsuddin alias…

Rabu, 20 Juni 2018 12:02

Digelar Sabtu hingga Tak Ada Buras dan Ketupat

Hampir seluruh umat muslim di Indonesia melaksanakan salat id serentak pada Jumat (15/6). Namun berbeda…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .