MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 23 Februari 2018 10:41
Menebus Dosa Proyek Raksasa

SAUDARA SAYA ROBERT LAI (1)

PERSAHABATAN: Robert Lai (berkaus kuning) bersama grup senam Dahlan Iskan. Disway untuk Radar Tarakan

PROKAL.CO, BEGITU banyak pertanyaan tentang siapa Robert Lai dan siapa Meiling yang sering saya sebut dalam tulisan saya, maka saya akan ungkap kisah persahabatan saya yang indah dan panjang dengan kedua orang tersebut.

Banyak pelajaran yang saya peroleh dari persahabatan itu. Misalnya bagaimana kami memutuskan untuk tidak perlu punya hubungan bisnis. Agar tidak mengganggu persahabatan. Juga bagaimana saling mengingatkan agar tetap bisa membedakan mana bisnis yang terhormat dan mana bisnis yang ngawur. Bagaimana tetap menjaga agar “manusia bisnis” tidak berubah menjadi “binatang bisnis”.

Persahabatan saya dengan Robert Lai sudah berlangsung lebih 20 tahun. Sudah seperti saudara. Robert lahir di Hongkong. Tapi sejak kecil diajak merantau orang tuanya ke Singapura. Karena itu meski kewarga negaraanya Singapura, Robert berhak memiliki KTP Hongkong.

Dengan memegang paspor Singapura, dia bebas masuk ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, negara-negara Eropa daratan bahkan ke Israel. Dan dengan KTP Hongkong dia bebas keluar masuk Tiongkok. Akibatnya setiap kali bersama Robert ke luar negeri, selalu saja dia menunggu saya yang lebih lama dalam melewati proses imigrasi.

Waktu pertama kali bertemu, Robert Lai adalah seorang pengacara perusahaan. Dia menjadi pengacara untuk banyak perusahaan publik di Hongkong maupun Singapura. Juga di Vietnam.

Hari itu, akhir tahun 1990-an, dia bertemu saya di Batam. Saya lagi ada rapat di pulau dekat Singapura itu. Robert saat itu mewakili perusahaan publik di Singapura tapi pemiliknya orang Indonesia. Seorang konglomerat muda (waktu itu) yang lagi paling top di Indonesia.

Robert, dengan jas, dasi dan kenecisannya langsung menarik simpati kami yang lagi rapat. Antara kami dan Robert kelihatan amat kontras. Kami adalah para manajer koran yang umumnya berpenampilan agak kumuh.

Saat itulah sang konglomerat muda menawarkan kerja sama membangun super highway coridor di Kemayoran, Jakarta. Kami yang menggarap kontennya. Saat itu internet masih di awal masa pertumbuhannya. Belum banyak orang gila internet seperti sekarang.

Untuk merumuskan perjanjian kerja sama itulah sang konglomerat menugasi Robert Lai membuat draft MoU. Minggu berikutnya Robert ke Surabaya. Ke kantor saya. Seminggu lamanya. Menyusun draft perjanjian yang diawali dengan MoU itu. Itulah untuk pertama kalinya Robert ke Surabaya seumur hidupnya.

Selama di Surabaya Robert selalu makan siang di kantin Graha Pena. Sebagai orang Hongkong lidahnya kurang cocok dengan masakan yang ada. Saya tahu dia pandai masak. Maka itu saya minta Robert masuk ke dapur resto. Mengajari chef kami.

Mau. Dia ajarkan prinsip-prinsip membuat makanan yang enak. Salah satunya: api harus sangat panas. Dengan demikian makanan yang digoreng sangat lezat: luarnya kriuk-kriuk (crispy) dalamnya masih lembut.

Robert juga meninggalkan satu ajaran untuk membuat bihun goreng. Sampai sekarang, di resto Graha Pena, Insya Allah, masih ada satu menu yang dinamakan “Bihun Robert”. Itulah bihun goreng dengan resep dari Robert Lai. Salah satu yang saya paling suka.

MoU dengan konglomerat muda itu akhirnya saya tandatangani. Saya tidak menyangka dampaknya yang begitu hebat. Saat MoU itu diumumkan di pasar modal Singapura, nilai saham perusahaan konglomerat tersebut melejit jit-jit. Sang konglomerat menikmati gain luar biasa saat itu juga.

Robert merasa tidak enak terhadap saya. Kok sepertinya saya hanya dimanfaatkan untuk menggoreng saham. Apalagi proses realisasi proyek super highway coridor Kemayoran tidak ada kemajuan.

Robert datang lagi ke Surabaya. Untuk minta maaf kepada saya. Dia merasa bersalah.

Saya tegaskan bahwa dia tidak bersalah. Dia hanyalah pengacara yang mendapat tugas dari perusahaan yang mengontraknya, untuk melakukan apa yang jadi tugasnya.

Tapi Robert tetap merasa ikut bersalah. Dia pun mengusulkan untuk membatalkan MoU itu. Agar saya terhindar dari konsekwensi tidak berjalannya proyek tersebut. Dia menawarkan diri untuk membuat dokumen-dokumen (dalam bahasa Inggris) yang harus saya tandatangani. Saya setuju dan berterima kasih.

Yang kedua, Robert menyatakan tidak mau lagi bekerja untuk perusahaan tersebut. Bahkan tidak mau lagi jadi pengacara. Pensiun.

Dan yang ketiga, inilah awal persahabatan yang panjang itu, dia ingin membantu saya untuk kerja apa pun. Tanpa dibayar. Sebagai penebus dosa, katanya. Saya menganggap hal itu berlebihan tapi Robert serius.

Dari segi ekonomi Robert sebenarnya bukan orang kaya untuk ukuran Singapura. Tapi hidupnya cukup. Dia masih memperoleh penghasilan dari jabatannya sebagai komisaris di beberapa perusahaan publik. Baik yang di Hongkong maupun yang di Singapura.

Sejak merasa bersalah itu Robert sering ke Surabaya. Juga sering mendampingi saya ke luar negeri. Terutama kalau lagi ke Hongkong, Taiwan atau Tiongkok.

Istri Robert, Dorothy, merelakan suaminya terus pergi bersama saya. Sering Dorothy lah yang mengatur jadwal perjalanan. Kemampuan bahasa asingnya, termasuk bahasa Prancis, membuat Dorothy bisa menyelesaikan banyak hal.

Secara intelektual saya juga merasa cocok dengan Robert. Pengetahuannya sangat luas. Apalagi di bidang pengelolaan bisnis.Tapi Robert juga asyik di bidang filsafat. Kami bisa diskusi filsafat berjam-jam dengan Robert.

Tidak ada sensitivitas tertentu, dalam hubungan persahabatan kami. Misalnya di bidang agama. Robert adalah orang yang tidak beragama. Bisa menerima prinsip agama apa pun termasuk agama saya: Islam.

Bepergian dengan Robert juga hemat. Kami bisa bermalam satu kamar yang ranjangnya dua buah. Juga biasa mencuci pakaian dalam sendiri. Kami sama-sama membuat hidup ini simpel. Tidak menuhankan gengsi. Kami suka menertawakan perilaku orang kaya, yang kaus kaki pun di-laundry-kan di hotel.

Kami juga biasa cukur rambut di sebuah gang di Beijing atau Shanghai. Tidak harus di barber shop-nya hotel bintang lima. “Hidup ini indah,” ujar Robert. “Kalau kita bisa menikmatinya.” Sikap rakuslah yang sering membuat kenikmatan hidup itu rusak.

(bersambung/nri)


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 13:06

Dana Transfer ke Kaltara 2019 Naik Rp 514 Miliar

JAKARTA - Alokasi dana transfer ke daerah pada 2019 untuk…

Rabu, 12 Desember 2018 13:04

Mengejar Materi, tapi Tak Sesuai Nurani

Titik terendah dalam kehidupan adalah sesuatu yang lumrah dialami manusia.…

Rabu, 12 Desember 2018 13:01

“Percuma Bicara, tapi Tanpa Tindakan”

TARAKAN – Belum ada langkah lebih jauh dari Pemerintah Kota…

Rabu, 12 Desember 2018 12:59

Jumlah DPTHP Berkurang 442 Pemilih

TARAKAN- Meski telah dilakukan penetapan Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan…

Rabu, 12 Desember 2018 12:41

Mulyawati Divonis Delapan Tahun Penjara

TARAKAN - Majelis hakim menjatuhkan vonis delapan tahun penjara kepada…

Rabu, 12 Desember 2018 12:38

Pelaku Curanmor dan Spesialis Jambret Berhasil Dibekuk

TARAKAN - Spesialis jambret dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) berhasil…

Rabu, 12 Desember 2018 12:34

Pemilih di Lapas Dibagi Dua Kategori

TARAKAN - Pemilihan umum yang akan digelar pada April mendatang…

Rabu, 12 Desember 2018 12:33

Tiga Puskesmas Tunda Reakreditasi

TARAKAN – Banyaknya kegiatan menjelang akhir tahun menjadi salah satu…

Rabu, 12 Desember 2018 12:31

Nelayan Tuntut Pemerataan BBM

TARAKAN - Tak tahan dengan pembagian BBM bersubsidi yang diduga…

Rabu, 12 Desember 2018 12:30

Tiga Minggu Tak Diangkut, Sampah Menumpuk

TARAKAN - Pemandangan tidak sedap terlihat di RT 03 Jalan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .