MANAGED BY:
SELASA
22 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 10 Februari 2018 10:19
Belum Ada Jaminan Beras Higienis

Penyebab Keracunan Massal Masih Menunggu Hasil Lab

ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, TARAKAN - Indikasi keracunan makanan yang dialami 60 pelajar SMPN 2 Tarakan, Rabu (7/2) diduga akibat memakan nasi uduk atau berasal dari beras yang digunakan pengelola kantin. Kendati begitu, hingga kini belum diketahui penyebab pastinya. Apakah beras yang dimasak menjadi nasi uduk tersebut higienis atau ada penyebab lainnya.

Kasi Perlindungan Konsumen pada Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Tarakan, Ibrahim mengatakan pengawasan beras memang sering dilakukan dan rutin, tetapi hanya sebatas stok pangan saja. Untuk pengawasan kehigienisan beras dari segi kesehatannya atau kebersihannya, tidak masuk dalam kewenangannya.

“Itu tugas BPOM atau Dinas Kesehatan yang mengecek berasnya, jika nanti ada razia pengecekan baru kami ikut untuk melihat dan membantu,” katanya.

Diakuinya, selama ini beras yang masuk ke Tarakan bisa dipastikan aman karena semuanya beras bermerek dan sudah terdapat nomor BPOM langsung. “Beras di Tarakan, bisa dipastikan memiliki merek yang terkenal dengan kualitas yang baik,” ungkap Ibrahim.

Jika memang terdapat keanehan dalam beras, pasti akan ketahuan, terutama setelah dicampurkan bahan-bahan masakan yang lain. Pada dasarnya beras yang ada di Tarakan aman dan terjamin kualitasnya sehingga jika akan menimbulkan efek samping, kemungkinannya akan sangat kecil.

“Kalau beras yang dicampurkan bahan lainnya ya kami tidak bisa memeriksanya, tetapi pada dasarnya semua beras yang ada di Tarakan itu aman,” ungkapnya lagi.

Kata Ibrahim, yang lebih berwenang untuk menyelidiki seharusnya dari BPOM dan Dinas Kesehatan Tarakan karena lebih mengetahui kandungan apa saja yang berada dalam beras. Sementara mereka lebih kepada pengawasan stok pangan agar tetap terjaga dan bisa dikonsumsi masyarakat sekitar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Subono menjelaskan untuk mengetahui hasil sample makanan melalui uji laboratorium membutuhkan waktu beberapa hari. Sebab, mereka terpaksa harus  mengirim sampel ke Samarinda.

“Lab kami mestinya mampu melakukan itu, namun karena sesuatu dan lain hal sehingga harus dikirim ke BPOM Samarinda. Itu biasanya bisa seminggu, bisa dua minggu. Tergantung dari sana. Kalau lab kami bisa digunakan mungkin hitungan hari saja bisa selesai,” ujar Subono, Kamis (8/2).

Dinkes Tarakan juga sudah mengambil sejumlah sisa-sisa makanan di kantin dan di rumah penjual tersebut untuk dijadikan sampel uji laboratorium. Namun, Subono tidak mengetahui persis berapa item yang dijadikan sampel.

Dia tak ingin berspekulasi lebih awal, terkait penyebab keracunan yang kabarnya berasal dari beras. Mereka hanya akan menjelaskan jika sudah mendapatkan hasil dari BPOM Samarinda.

Dinkes Tarakan bersama jajaran terkait serta kepala sekolah dari seluruh SD dan SMP di Tarkaan, sudah mendapatkan pengarahan dari kepala daerah untuk meningkatkan pengawasan makanan di sekolah. “Intinya pihak sekolah diminta untuk melakukan pembinaan dan pemantauan,” ungkap Subono.

Terpisah, Kepala BPPOM Samarinda Fanani Mahmud mengatakan saat ini dia tidak dapat berkomentar banyak terkait sampel makanan, yang menyebabkan 60 pelajar SMPN 2 Tarakan keracunan.

“Nanti satu pintu saja ya, akan saya jelaskan ke Pak Subono untuk kembali bisa menjelaskan ke teman-teman media,” singkat Fanani saat dihubungi melalui telepon seluler.

MASIH MENUNGGU HASIL LAB

Insiden keracunan makanan yang dialami 60 pelajar SMPN 2 Tarakan, Rabu (6/2) belum masih belum berakhir. Seluruh pihak masih menunggu hasil laboratorium untuk mengetahui penyebab insiden tersebut.

Pengelola Kantin SMPN 2 Tarakan, Santi Gunawati (48) menceritakan, selama sepuluh tahun dia berjualan di kantin, tidak pernah sama sekali terjadi insiden seperti ini. Dia selalu menyediakan bahan-bahan dasar yang fresh. Mulai dari sayur-sayuran hingga bahan dasar nasi uduk seperti beras dari langganannya.

Setiap harinya, Santi sudah mempersiapkan jualannya dari sore hari. Mulai dari mencuci beras untuk nasi uduk, kemudian mempersiapkan santan yang direbus agar dijamin ketahanan dan kematangannya. “Saya persiapkan itu mulai jam 6 sore menjelang magrib,” ungkapnya.

Keesokan harinya, pukul 04.00 Wita, Santi kembali memulai aktivitasnya mengukus beras yang sudah dicampurkan santan. Setelah semua persiapan jualannya selesai, pukul 05.30 Wita, Santi bersiap berangkat ke SMPN 2 Tarakan untuk menjajakan jualannya.

“Biasanya saya memang tidak menghidang semua makan di pagi hari, setelah mendekati jam istirahat baru saya mulai menata makanan untuk anak-anak. Setiap hari saya lakukan seperti ini,” ungkap Santi.

Pada Rabu (7/2) pukul 10.15 WITA, saat jam istirahat. Sebanyak 92 piring nasi uduk telah laku terjual. Setelah laku terjual, seperti biasanya Santi langsung membereskan barang dagangannya untuk bersiap pulang ke rumah.

Dan sesampai di rumah, pada pukul 11.00 wita, dia mendapatkan kabar jika ada siswa-siswi yang muntah-muntah usai memakan makanan jualannya.

Setelah dipanggil kembali ke sekolah, Santi memberikan keterangan kepada polisi dan memberikan sampel-sampel, bahkan polisi ikut ke rumahnya untuk mengambil sampel makanan yang ada di dalam rumah. Setelah itu dia diminta untuk ke kantor Polres Tarakan guna memberikan keterangan.

Kepada Radar Tarakan, Santi mengaku kejadian ini sungguh di luar dugaan dan sama sekali tidak ada unsur kesengajaan. “Saya meminta maaf dengan kejadian ini semua pihak ikut direpotkan termasuk ke para pihak sekolah, orang tua dan murid. Kami tidak ingin berspekulasi, kami pun masih menunggu hasil untuk bisa tahu di mana penyebabnya,” ungkap perempuan berhijab ini.(*/shy/naa/nri/ddq)


BACA JUGA

Senin, 21 Mei 2018 21:04

Pemkot Pengin Mengadu ke Kemendagri

TARAKAN - Rencana pengalihan sejumlah aset Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov)…

Senin, 21 Mei 2018 17:43

Terduga Jaringan ISIS Sebut Dirinya Iseng

TANJUNG SELOR – Terduga teroris AS (22) yang beberapa waktu lalu diamankan Densus 88 Antiteror,…

Senin, 21 Mei 2018 12:49

Kadin Bingung Birokrasi Kewenangan di Laut

Beras 2.900 ton dari Vietnam. Begitu temuan aparat Kamis 19 April lalu. Kapal Vietnam Dong Thien Phu…

Senin, 21 Mei 2018 12:45

Hidup dari Pecahan Batu Kerikil

Tidak selamanya kehidupan layak dan dinikmati dengan nyaman. Sennang, nenek berusia 72 tahun di RT 61…

Senin, 21 Mei 2018 12:32

Tak Ada Bom, EF Dipulangkan

PRIA berinisial EF yang sempat membuat heboh Bandara Internasional Juwata Tarakan pada Jumat (18/5),…

Senin, 21 Mei 2018 12:29

Perketat Lingkungan, Poskamling Harus Aktif

TARAKAN – Mengantisipasi tindak kriminal di lingkungan rukun tetangga (RT), masing-masing Ketua…

Senin, 21 Mei 2018 11:16

Waspada Indekos dan Kontrakan

SEJAK penangkapan AS, terduga kelompok ISIS di Karang Anyar, Tarakan Barat, Kamis 17 Mei lalu, Pemerintah…

Senin, 21 Mei 2018 11:11

Pelunasan Tahap Kedua Menunggu Dua CJH

GELOMBANG kedua tahap pelunasan biaya haji kembali dibuka sejak 16 Mei lalu hingga 25 Mei mendatang.…

Senin, 21 Mei 2018 11:08

Jeli dan Perketat TPS

TARAKAN - Penggunaan lilin pada jari kelingking saat pemilihan memang harus dicegah. Pasalnya, jika…

Senin, 21 Mei 2018 11:02

Prioritaskan Dua Item di Musrenbang

TARAKAN – Di lingkungan RT 1, Kelurahan Kampung Enam memprioritaskan dua item dalam usulan Musyawarah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .