MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 09 Februari 2018 10:43
Dinkes Kecolongan

Nasi Berbau dan Berwarna Hitam

POSITIF KERACUNAN: Para pelajar yang mengalami gejala pusing dan mual diberi pertolongan di Puskesmas Karang Rejo dan RSUD Tarakan, kemarin (7/2). JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Keracunan 47 pelajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Tarakan menjadi tamparan keras bagi Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan. Pengawasan dan pemeriksaan makanan jajanan di sekolah-sekolah sudah menjadi tanggung jawab kedua instansi tersebut. Kepala Dinkes Tarakan Subono yang akhirnya menetapkan kasus keracunan tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB) mengaku kecolongan. “Bisa dikatakan seperti itu (kecolongan). Ini langsung kami tetapkan sebagai KLB. Meski itu korbannya hanya lima kami juga tetapkan KLB,” ungkap Subono.

Selama kurang lebih tiga tahun menjabat sebagai Kadinkes, ini merupakan kejadian dengan korban terbanyak. “Dulu itu pernah anak TK, kapan kejadiannya saya lupa. Saat itu penyebabnya karena air. Namun, untuk jumlah korban anaknya itu tidak sebanding dengan yang terjadi pada anak-anak SMP ini,” jelasnya.

Dinkes pun telah mengambil beberapa sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan puluhan siswa-siswi ini. Namun, pihaknya enggan berspekulasi lebih awal, sumber makanan yang menyebabkan para pelajar keracunan. “Kami belum tahu persis asal muasal dari racun itu, dari makanan mana. Apakah itu nasi uduk atau bubur? Dan ini masih dilakukan pendalaman untuk dilakukan penelitian di laboratorium,” bebernya.

Berdasarkan pantauan media ini, Dinkes mengerahkan lima ambulans untuk mengevakuasi para pelajar yang menjadi korban keracunan ke pusat pelayanan kesehatan yang ada.  “Kami minta tambahan mobil ambulans dari Puskesmas Gunung Lingkas dan Puskesmas Sebengkok. Sehingga, total mobil yang kami kerahkan itu sebanyak lima unit mobil ambulans,” ucapnya.

Sementara tenaga medis seperti dokter, berkonsentrasi di Puskesmas Karang Rejo. Lokasi di mana para korban diberi pertolongan pertama. “Untuk biaya pengobatannya itu jika tidak ada BPJS, maka akan ditanggung pemerintah. Kalau ada BPJS maka akan menggunakan itu,” jelasnya.

Dan saat ditanya kembali, apakah dalam waktu dekat Dinkes akan melakukan pemeriksaan dan peningkatan pengawasan terhadap kantin-kantin sekolah, Subono mengatakan bagian dari pengawasan akan kembali berjalan. Pencegahan dan edukasi bagaimana membuat makanan yang sehat serta bahan-bahan yang tidak boleh digunakan. “Secara rutin dan tanpa ada kasus ini sebenarnya. Kami pun sudah melakukan pembinaan secara rutin. Baik itu program baik dari puskesmas maupun dari dinas,” jelasnya. Adapun pembinaan yang dimaksud ialah, seperti lokasi tempat, baik itu lokasi tempat pembuangan sampah maupun makanannya. Apakah tidak mengandung zat-zat berbahaya. “Kami lakukan keseluruhan mulai dari penjualnya, lokasi tempat jualannya hingga kehigenisan makanannya. Karena jangan sampai penjualnya juga dapat menyalurkan penyakit,” terang Subono.

AROMA NASINYA GANJAL

Kejadian di SMPN 2 menimbulkan kepanikan di tengah jam sekolah. Baru saja lonceng tanda istirahat berbunyi, puluhan pelajar tiba-tiba mengalami pusing dan muntah-muntah. Beberapa di antaranya mengerang sakit di bagian perut. Para guru pun panik.

Salah seorang siswa kelas VIII, Muhammad Zulfan (14) mengungkapkan sekira pukul 10.00 Wita, ia dan teman-temannya ke kantin untuk makan. Kebetulan ia memesan nasi uduk, sementara teman lainnya pesan soto ayam. Namun sekira pukul 11.00 Wita, saat jam pelajaran berlangsung, ia merasa mulas. Zulfan pun sempat muntah-muntah dan akhirnya dilarikan ke Puskesmas Karang Rejo. “Di sini dari kelas 7 sampai kelas 9. Tadi makan sama teman, tapi beda menu. Saya makan nasi uduk, yang muntah-muntah. Temanku makan soto tapi tidak apa-apa,” tutur pria berkulit putih ini.

Dikatakan, memang nasi uduk yang ia makan kali ini berbeda dari hari biasanya. Pasalnya aroma dari nasi uduk agak berbau, namun ia tidak begitu menanggapi sebab ia mengira hanya kebetulan. “Sering saja makan nasi uduk di situ tapi baru kali ini begini. Penjualnya sudah lama juga, tapi tadi memang aromanya agak bau,” bebernya.

Senada, Nur Fitra, siswi kelas VII ini mengatakan, nasi uduk yang ia konsumsi saat jam istirahat seperti berwarna hitam. Ketika jam pelajaran berlangsung, tepatnya pukul 11.30 Wita ia merasa  pusing dan mual. Di kelasnya sebanyak enam orang mengeluhkan hal yang serupa. “Sempat muntah-muntah, jadi dibawa sama guru ke sini,” kata Nur yang ditemui di Puskesmas Karang Rejo.

Perasaannya mulai membaik setelah diperiksa dokter dan diberi obat. Orang tua murid, Bada (60) yang merupakan warga Karang Anyar, mengatakan ia terkejut ketika menerima telepon dari anaknya yang bernama Fitra. Ia bergegas naik taksi menuju Puskesmas Karang Rejo. Pikirannya tak karuan dalam perjalanan. “Dia telepon, katanya tadi makan nasi uduk. Saya itu berpikiran yang buruk, karena di sini tidak hanya anak saja tapi ada cucu juga, namanya Andini,” bebernya.

Dengan kejadian ini, ia berharap agar ke depannya pihak sekolah memperketat pengawasan di kantin. Agar kejadian yang membahayakan anak sekolah tidak terulang. “Pas saya sampai sudah ada 30 anak-anak di sini. Saya juga heran kenapa nasi uduknya,” katanya.

Orang tua murid pun satu per satu memenuhi ruang tindakan Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Karang Rejo. Ada juga orang tua yang bergegas mencari air kelapa untuk anaknya di sekitaran puskesmas. “Sudah saya kasih minum air kelapa tadi, jadi sudah agak mendingan,” tutur Yasni.

Yasni mengatakan, awalnya ia merasa anaknya yang bernama Anira hanya tidak enak badan. Sehingga ia menjemput di sekolah dan membawa pulang ke Karang Anyar. Namun karena Anira tidak berhenti muntah-muntah, akhirnya ia menelepon wali kelas Anira. Akhirnya wali kelasnya meminta agar Anira dibawa ke Puskesmas Karang Rejo untuk diperiksa lebih lanjut. “Awalnya temannya telepon, jadi saya jemput ke sekolah. Saya pikir hanya masuk angin, jadi langsung bawa pulang ke rumah. Tapi di rumah muntah-muntah,” jelasnya.

Pemeriksaan terus dilakukan tim medis Puskesmas Karang Rejo. Pukul 12.54 Wita, seorang siswi bernama Natalia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan karena terus muntah-muntah. Kemudian disusul oleh Putri, Meta, Audi, Riski dan Risnawati.

Dijelaskan Kepala Puskesmas Karang Rejo, dr. Jumiati, secara fisik enam pelajar yang dibawa ke RSUD mulai drop, denyut nadi berdetak kencang, keluhan sakit di perut tidak berkurang. Akhirnya puskesmas memutuskan untuk merujuk ke RSUD Tarakan mendapatkan penanganan yang lebih intens. “Fisiknya mulai drop, yang khawatirnya mereka syok jadi kami bawa ke rumah sakit,” jelasnya singkat.

Saat ditanyai mengenai hasil pemeriksaan, ia belum menyimpulkan apa penyebab para pelajar tersebut muntah-muntah.

ENAM SISWA DILARIKAN KE RSUD

Dari 47 siswa SMPN 2 Tarakan yang keracunan makanan, enam di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit. Beruntung, enam orang tersebut akhirnya ditangai dengan cepat. Salah satu murid SMPN 2 Tarakan yang sempat dilarikan ke rumah sakit, Risky Juliardi (15) mengatakan bahwa, awalnya ia hanya merasa pusing hingga mual. Namun sayang, karena ia terlihat sangat lemah, akhirnya dilarikan ke RSUD Tarakan untuk ditangani lebih lanjut. “Dirawat di RSUD. Bukan Cuma saya, tapi lima orang teman saya juga. Semuanya kami ada 6 orang,” tuturnya kepada Radar Tarakan.

Tepat pada pukul 12.30 Wita, ia tiba di RSUD Tarakan bersama dengan lima temannya, dan langsung mendapatkan pertolongan dari dokter. Beruntung, dokter menyatakan bahwa ia masih dalam kondisi baik.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Medis Jalan pada RSUD Tarakan Zeddin Ronald mengatakan, dalam kasus tersebut terindikasi keracunan makanan yang berasal dari kantin. “Setelah kami melakukan tanya jawab kepada pasien, keluhannya dan sumber dugaan keracunannya itu hampir sama dan dari kantin yang sama. Jadi kami menduga kalau ini keracunan makanan,” ungkapnya.

Adapun penanganan awal yang dilakukan pihaknya ialah menghilangkan keluhan lebih dulu. Nah, akibat sering muntah, siswa yang keracunan tersebut akhirnya dehidrasi, sehingga diinfus. “Kondisi pasien sampai sekarang sudah stabil, dan rencananya langsung dipulangkan. Untuk sementara, dalam kasus ini dapat tertangani dengan baik, sehingga tidak ada yang dirawat inap,” jelasnya.

Melalui hal tersebut, Zeddin mengharapkan jika setiap orang tua pasien mengalami keluhan tambahan akibat keracunan, untuk segera ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat seperti dokter praktik atau puskesmas. “Kalau ada kejadian seperti ini, kami meminta agar pihak orang tua tidak panik, dan segera bawa ke fasilitas kesehatan. Kami terbuka dan pasti akan melayani,” tuturnya.

“Biasanya ada orang tua yang tetap bertahan agar anaknya dirawat inap, padahal tidak perlu dirawat inap. Ini juga akan membebani kami. Jadi, serahkan kepada pihak rumah sakit saja,” imbuhnya.

Terkait penggunaan air kelapa yang dibawa oleh orang tua kepada anak-anak yang keracunan, ia menyatakan bahwa penggunaan air kelapa mengandung elektrolit yang hampir sama dengan cairan tubuh manusia. “Tapi kami mengimbau agar apapun yang diberikan kepada pasien, itu harus sepengetahuan petugas,” terangnya.

Di lokasi yang sama, Keperawatan Rawat Jalan RSUD Tarakan Triana mengatakan bahwa ini merupakan kasus yang tidak terduga. Untuk itu, ia mengimbau kepada setiap pemilik kantin atau warung makan, agar dapat mencicipi masakan atau minuman yang akan ia hidangkan bagi setiap pembeli, sehingga dapat diketahui kelayakan konsumsinya. Tak hanya itu, khusus kepada pihak orang tua siswa, ia mengharapkan agar terus memberikan saran kepada anak-anak untuk dapat menjaga asupan makanan anak agar terjamin higienis. “Jika perlu, orang tua meminta anak untuk membawa bekal biar lebih aman dan sehat,” katanya. (eru/*/one/*/shy/lim)


BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 10:43

Pura-Pura Antar Teman

TARAKAN - Dalam 21 adegan rekonstruksi pada Rabu (21/2), terungkap bahwa Abdul Rajak (48) berhasil lolos…

Kamis, 22 Februari 2018 10:40

BPK Ungkap Risiko Bisnis Kelalaian PDAM

TARAKAN – Kejadian yang dialami Lukas Yusuf (42), warga RT 17 Kelurahan Karang Harapan, Tarakan…

Kamis, 22 Februari 2018 10:38

Utusan Sekolah yang Obsesi Mempelajari Kehidupan Masyarakat

Tuntas, dua dari empat pasangan calon (paslon) Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tarakan dapat…

Kamis, 22 Februari 2018 10:34

Cuti Setahun, Siti Kukuh Dampingi Suami

TARAKAN - Tercatat sebagai satu-satunya aparatur sipil negara (ASN) yang mengajukan cuti selama masa…

Kamis, 22 Februari 2018 10:30

Rp 70 M untuk Bangun Balai POM

Tarakan - Guna meningkatkan pengawasan dan perlindungan bagi masyarakat terhadap obat dan makanan…

Kamis, 22 Februari 2018 10:28

Dua Kali Longsor, Penanganan Masih Sementara

TARAKAN - Musibah longsor kembali terjadi di Tarakan, tepatnya di RT 4 Kelurahan Pamusian. Longsor yang…

Kamis, 22 Februari 2018 10:27

Tak Banyak Usulan, Infrastruktur Masih Baik

TARAKAN - Ketua RT 9, Kelurahan Pamusian, Eddy Suyono mengatakan, infrastruktur di wilayahnya dapat…

Rabu, 21 Februari 2018 11:21

Petugas PDAM Lalai, Konsumen Menanggung

TARAKAN - Betapa terkejutnya Lukas Yusuf (42), warga RT 17 Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Utara ketika…

Rabu, 21 Februari 2018 11:18

Gubernur Anggap Dua ASN Melecehkan UU

TARAKAN – Beredarnya foto dua kepala dinas (kadis) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan,…

Rabu, 21 Februari 2018 11:15

Turut Awasi Institusi Masing-Masing

TARAKAN – Memberantas tindak pidana narkotika di Kaltara, memang menjadi pekerjaan yang hingga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .