MANAGED BY:
RABU
14 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 08 Februari 2018 10:54
Kecam Penganiayaan Guru di Madura
SOLIDARITAS: Aksi solidaritas sesama tenaga pendidik dilakukan PGRI Nunukan di depan Tugu Dwikora Nunukan terhadap Ahmad Budi Cahyono, Rabu (7/2). SYAMSUL/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Peristiwa yang menimpa guru di Sampang, Madura, awal Februari lalu menggemparkan dunia pendidikan Indonesia.  Karena, sebelum meninggal dunia dan dirawat di rumah sakit, guru mata pelajaran kesenian atas nama Ahmad Budi Cahyono itu mengalami penganiayaan. Ironisnya, yang melakukan penganiayaan itu merupakan pelajarnya sendiri.

Kecaman terhadap perilaku pelajar dan nasib yang dialami Ahmad Budi Cahyono tersebut tak hanya menjadi perbincangan orang ramai. Namun, menjadi pemicu gerakan terhadap sistem pendidikan dan pola ajar yang dinilai kini semakin kebablasan. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tak luput jadi sasaran.

Di sejumlah wilayah, aksi solidaritas terhadap Ahmad Budi Cahyono terjadi. Guru yang tergabung dalam organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tak tinggal diam. Mulai di tingkat kabupaten hingga pusat terus memperlihatkan rasa solidaritas sesama tenaga pendidik. Seperti halnya yang dilakukan PGRI Kabupaten Nunukan.

Puluhan pengurus PGRI Nunukan akhirnya melakukan aksi di depan Tugu Dwikora, Rabu (7/2). Aksi itu menjadi bukti solidaritas dan ungkapan belasungkawa terhadap keluarga Ahmad Budi Cahyono, guru kesenian SMAN 1 Torju, Kabupaten Sampang, Madura.

Tak terlihat poster dan aksi orasi yang mengecam tindakan tersebut. Namun, setiap perserta yang hadir menggunakan baju batik PGRI dan menggunakan pita hitam di lengan kiri mereka sebagai simbolis jika dunia pendidikan di Indonesia sedang dirundung musibah.

Ketua PGRI Nunukan Muhammad Jasmin Gerin S.Pd mengatakan, aksi ini sengaja dilakukan siang hari karena memprioritaskan pekerjaan sebagai tenaga pendidikan di pagi hari. Selain itu, aksi ini juga hanya diikuti pengurus inti PGRI Kabupaten Nunukan dan pengurus di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Selatan saja. “Karena kalau mau ikutkan anggotanya, dikhawatirkan menggangu proses belajar mengajar di sekolah,” ungkap Jasmin, saat ditemui usai kegiatan yang berlangsung hanya 30 menit itu kemarin.

Selain aksi seperti ini, lanjutnya, ada juga pengumpulan sumbangan dana yang nantinya diberikan kepada istri korban. Sumbangan ini bersifat sukarela. Teknisnya, masing-masing sekolah memungutnya lalu dikumpulkan ke pengurus PGRI kabupate,n lalu ditransferkan langsung ke rekening yang bersangkutan. “Tapi, semuanya dilaporkan dulu ke pengurus PGRI pusat. Ada laporan dan berita acaranya. Pelaksanaan pemungutan berakhir Sabtu (10/2) mendatang,” bebernya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua PGRI Kalimantan Utara (Kaltara) Husin Manu mengaku salut dengan teman-teman guru di Nunukan. Termasuk yang di tingkat kecamatan. Karena rasa solidaritas terhadap sesama tenaga pendidik dan peristiwa yang menimpa seorang guru di Madura.

Namun, peristiwa yang dialami Ahmad Budi Cahyono merupakan pukulan telak dan pelajaran penting terhadap pola pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Sebab, pendidikan tidak hanya fokus terhadap kecerdasan otak saja, namun juga pendidikan karakter. “Pendidikan karakter ini juga seharusnya lebih ditingkatkan lingkungan keluarga, khususnya orang tua. Karena, pelajar itu lebih banyak waktunya di rumah dibanding di sekolah,” katanya.

Pada konferensi kerja nasional (Konkernas) PGRI di Padang beberapa waktu lalu, kasus ini juga dibahas. Karena mendapat desakan rekan-rekan guru di wilayah perbatasan, akhirnya paparan yang diberikan ke perwakilan Kaltara juga disampaikan mengenai perhatian terhadap tenaga pendidikan. “Saya sempat menyampaikan agar kasus ini juga diusut tuntas. Karena, permintaan rekan-rekan guru di perbatasan,” ungkapnya. (oya/ash)


BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 13:55

UMK 2019 Ditetapkan Rp 2,8 Juta

NUNUKAN – Setelah melalui pembahasan dan pertimbangan sejumlah pihak, Pemerintah…

Selasa, 13 November 2018 13:54

Tambah Dua Kecamatan di Perbatasan

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan, kembali memekarkan dua kecamatan…

Selasa, 13 November 2018 13:53

Bupati Pilih ‘Diam’ Soal Fee Proyek

NUNUKAN – Dunia maya kembali dihebohkan atas unggahan salah satu…

Selasa, 13 November 2018 13:51

Masih Banyak yang Kesulitan Menjangkau Ibu Kota

NUNUKAN – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Nunukan, akan…

Selasa, 13 November 2018 11:48

Kebakaran di Desa Atap Dipicu Korsleting

NUNUKAN – Para korban insiden kebakaran di Desa Atap Kecamatan…

Senin, 12 November 2018 13:52

Pernah Bertugas sebagai Koordinator Eksekutor Pidana Mati

Bertugas di daerah perbatasan merupakan hal baru bagi AKBP Teguh…

Senin, 12 November 2018 13:39

Pemasangan Harus Sesuai Aturan

NUNUKAN – Alat peraga kampanye (APK) harus dipasang sesuai dengan…

Senin, 12 November 2018 13:38

Pastikan Pengesahaan APBD 2019 Tak Terlambat

NUNUKAN – Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Nunukan Serfianus mengaku, pengesahan Anggaran…

Senin, 12 November 2018 13:37

Ogah CDOB Dijadikan Komoditas Elite

SEBATIK – Masyarakat Sebatik meminta para elite politik tak lagi…

Senin, 12 November 2018 13:36

Rumah Ditinggal, si Jago Merah Mengamuk

SEBATIK – Baru berselang sehari setelah insiden kebakaran di Desa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .