MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 06 Februari 2018 13:40
Tak Butuh Perlindungan, PGRI Minta Guru Dihormati
DIHINGGAPI DUKA: Suasana proses belajar mengajar di salah satu SMA Negeri di Nunukan. RIKO ADITYA/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Dunia pendidikan kembali berduka. Ahmad Budi Cahyono, guru honorer harus meninggal usai dianiaya salah seorang pelajarnya. Ironisnya, kejadian itu terjadi di kelas ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar. Kasus tersebut terjadi di Sampang, Madura, Kamis (1/2) lalu.

Ini pukulan telak bagi dunia pendidikan. Seorang guru, yang diibaratkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan rela kehilangan waktu untuk keluarga demi memberikan pendidikan kepada masyarakat malah mendapat perlakuan yang tak layak.

Solidaritas sesama guru pun bermunculan. Meski tidak besar, namun apa yang menimpa seorang guru honorer yang mengajar mata pelajaran seni rupa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Torjun, Sampang, Madura mendapat sorotan para guru. Termasuk di Kabupaten Nunukan.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nunukan Muhammad Jasmin Gerin S. Pd mengecam atas kejadian tersebut. Ia mengaku peristiwa tersebut seharusnya mendapat perhatian serius seluruh kalangan. Khususnya kepada orang tua pelajar yang selama ini menyerahkan pendidikan anaknya di sekolah. Termasuk pemerintah untuk memberikan perlindungan hukum terhadap profesi seorang pendidik. “Harusnya kejadian ini jadi pelajaran untuk semuanya. Jangan ada lagi Ahmad Budi selanjutnya,” ungkap Jasmin, kemarin (3/2).

Menurutnya, kejadian pelecehan dan tindakan yang merugikan seorang tenaga pendidik itu dapat saja terjadi di seluruh daerah. Termasuk di Kabupaten Nunukan sebagai wilayah perbatasan. Tak dipungkiri, sudah banyak kasus yang terjadi. Tak hanya pelajar saja, bahkan orang tua pelajar juga menyalahkan dan menyalahkan guru yang bersangkutan.

Ia mengatakan, pendidikan karakter akan berhasil ketika diikuti dengan cara mendidik anak oleh orang tua. Waktu guru mendidik di sekolah terbatas. Anak lebih lama dengan orang tua. Membangun karakter pelajar itu tidak mudah. “Penanaman pendidikan karakter harus lebih ditingkatkan lagi. Mental dan perilaku pelajar harus dipupuk dengan kebaikan. Salah satunya melalui aktivitas kerohanian,” ujarnya.

Kasus yang terjadi terhadap tenaga pendidik di Kabupaten Nunukan ini bukan tidak pernah terjadi. Salah satunya kasus tentang penganiyaan yang dilaporkan oleh seorang murid sekolah dasar (SD) oleh orang tuanya. Karena dianggap bersalah, guru yang selama ini memberikan pelajaran kepada seorang pelajar harus merasakan dinginnya tembok penjara.

Firman, warga Jalan Pelabuhan Baru mengatakan, apa jadinya jika tidak ada profesi guru. Banyak anak-anak yang tidak bisa baca tulis. Jika baca tulis tidak bisa, maka pengangguran dan tindakan kriminal banyak. Orang tua yang selama ini sibuk dengan pekerjaan mereka tentunya tidak memiliki waktu untuk memberikan pelajaran kepada anaknya. Jika pun ada, pasti prosesnya tidak fokus. Dan, jika pun ada yang bisa fokus, tidak mungkin bisa banyak. “Sebandel-bandelnya saya, tidak pernah sampai punya niat memukul guru. Terima hukuman apa yang diberikan, meskipun harus menanggung malu. Malu sama teman-teman,” ungkapnya.

Apa yang terjadi di Madura, lanjutnya, diharapkan tak terjadi juga di Kabupaten Nunukan ini. Semua komponen masyarakat dapat menjaga dan saling menghargai. Orang tua pelajar kepada guru, begitu juga pelajar terhadap guru dan orang tuanya. Sebab, dengan adanya rasa menghormati maka peristiwa kekerasan dan pelecehan dan perilaku yang menyalahi aturan dapat dihindari. “Khusus para orang tua, tentunya dapat memberikan pemahaman kepada anak akan tuga seorang guru,” ujarnya.

Terpisah, seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah menengah atas negeri (SMA) di Kabupaten Nunukan mengaku jika sikap pelajar saat ini memang beragam. Sebenarnya tetap sama dengan pelajar-pelajar di era 1980-an maupun 1990-an. Hanya saja, saat ini pengaruh terhadap perkembangan zaman cukup banyak berpengaruh. “Maksudnya, soal bandel, setiap tahun ada saja pelajar demikian. Tapi, untuk sampai melukai seorang guru, tentunya menjadi hal yang sangat miris,” ungkapnya.

Selama ini, lanjutnya, sistem pendidikan yang dijalankan kepada pelajar itu sudah tepat. Hanya saja, beberapa pelajar dan juga guru itu tidak dapat menjalankan sistem tersebut. Terasa kaku dan akhirnya menyebabkan peristiwa yang tak diinginkan terjadi. “Pola pendidikan dan sistem mengajar memang harus menyesuaikan. Namun, untuk tata krama tidak pernah berubah. Seorang pelajar wajib menghormati gurunya. Selama guru itu masih berada di norma-norma agama,” pungkasnya. (oya/lim)


BACA JUGA

Jumat, 21 September 2018 11:00

Anggaran Dipangkas, Satpol PP Jadi “Macan Ompong”

NUNUKAN – KinerjaSatuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Nunukan sebagai penegak peraturan daerah…

Jumat, 21 September 2018 10:57

Manfaatkan Belanja Alat Dapur

NUNUKAN – Kalender Islam 10 Muharam kemarin dijadikan momen unik oleh sebagian ibu-ibu di Nunukan,…

Jumat, 21 September 2018 10:56

Setelah DCT Ditetapkan, Pertarungan Dimulai

NUNUKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nunukan telah menetapkan 302 calon anggota Dewan Perwakilan…

Jumat, 21 September 2018 10:55

Minggu, Rombongan Asal Nunukan Tiba

JAMAAH haji asal Nunukan yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 11 embarkasi haji Balikpapan,…

Jumat, 21 September 2018 10:54

Tak ada Formasi Bagi K2

NUNUKAN – Honorer kategori dua (K2) harus berkecil hati. Sebab, dari pengumunan formasi Calon…

Kamis, 20 September 2018 13:04

Alasan Anggaran, RS Tak Dioperasikan

PELAYANAN Kesehatan di 11 kecamatan yang berada di wilayah tiga di antaranya, Kecamatan Sebuku, Sembakung,…

Kamis, 20 September 2018 12:46

Jembatan Rp 7,5 Miliar Mulai Dikerjakan

NUNUKAN – Setelah menanti 13 tahun lamanya, jembatan permukiman warga di rukun tetangga (RT) 10,…

Kamis, 20 September 2018 12:28

Ketahuan Mencuri, Pemuda Divonis Penjara Satu Tahun

NUNUKAN – Terdakwa Jamal, pemuda berusia 18 tahun dengan perkara pencurian akhirnya menjalani…

Kamis, 20 September 2018 12:26

Tak Ditahan, HM Wajib Lapor

NUNUKAN – HM, seorang pendidik dari salah satu Sekolah Menengas Pertama (SMP) di Nunukan yang…

Kamis, 20 September 2018 12:20

Pencarian Ditutup, Rini Azhara Belum Ditemukan

NUNUKAN – Tim SAR gabungan belum juga menemukan sosok Rini Azhara (7) yang hilang di pasar malam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .