MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 24 Januari 2018 11:19
Tak Mengenyam Pendidikan, Kental Dialek Melayu

Cerita WNI Lahir dan Tumbuh Besar di Malaysia

DIBERI PENDAMPINGAN: Deportan yang dipulangkan Pemerintah Malaysia mendapatkan pendampingan di Rusunawa, Ujang Dewa, Nunukan Selatan, Minggu (21/1). ASRULLAH/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, Hidup berpuluh tahun di Malaysia menjadi kisah sebagian besar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dideportasi. Di antaranya ada yang akhirnya melihat tanah air untuk pertama kali karena langkah pengusiran Pemerintah Malaysia itu. Mereka adalah anak-anak TKI yang orang tuanya mengadu nasib di jiran sebelum dilahirkan. Fera (15), merupakan contoh anak TKI yang hidup dan tumbuh besar di Malaysia.

ASRULLAH

SEBANYAK 15 orang deportan anak-anak dari 121 orang dipulangkan paksa Pemerintah Malaysia pada Kamis (18/1) lalu. Sebelum menginjakkan kaki di tanah air 121 deportan harus melalui hukuman kurungan di sejumlah Pusat Tahanan Sementara (PTS) di Sabah. Tiba di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan sekira pukul 17.30 Wita dengan menumpangi KM Purnama. Saat berada di Pelabuhan Tunon Taka, tergambar wajah bahagia, lepas dari jerat hukuman Pemerintah Malaysia. Sebelum memasuki ruang tunggu Pelabuhan Tunon Taka para deportan berbaris di dermaga pelabuhan. Beberapa deportan tak mengenakan alas kaki. Maklum saja saat diamankan aparat Malaysia, harta yang dibawa hanya baju yang melekat di badan.

Sebelum deportan dibawa ke Rumah Susuan Sederhana Sewa (Rusunawa) yang berada di Jalan Ujang Dewa, Nunukan Selatan, personel Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Nunukan melakukan pendataan. Ratusan deportan ini harus tinggal di Rusunawa sebelum dipulangkan ke kampung halaman.

Pada Jumat, (19/1) sekira pukul 09.00 Wita, Radar Nunukan bertemu dengan Fitri (15) di Rusunawa. Fera merupakan anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Stevanus dan Elisabet. Masih teringat jelas kejadian yang mengantarkan Fera bersama keluarganya mendekam di PTS Manggatal. Saat itu ia bersama keluarganya sedang tertidur pulas. Namun, suasana tiba-tiba mencekam, saat sejumlah aparat Malaysia melakukan razia di tempat tinggalnya.

Karena tidak dapat memperlihatkan dokumen resmi membuat Fera mendekam di PTS selama 40 hari lamanya. Selama berada di Sabah ia ikut membantu orang tuanya bekerja di perkebunan kelapa sawit. Sama seperti sejumlah saudara laki-lakinya setiap pagi ikut bersama sang ayah. Namun, ia sempat bekerja di salah satu toko sebagai pelayan. Dengan upah setiap bulan RM 700 setara dengan Rp 2,1 juta. Hal itu tidak bertahan lama lantaran diamankan karena tak memiliki dokumen resmi. “Sempat kerja di kedai (toko). Tapi sekejap (sebentar) saja,” Fera bercerita kental dengan dialek Melayu.

Sedangkan, sang kakak Imanuel (19) mulai bekerja sebagi pembersih perkebunan kelapa sawit sejak berusia 10 tahun. Hingga saat ini bersama lima orang saudaranya, selama berada di Sabah tidak pernah mengenyam pendidikan. Ia lebih memilih ikut bekerja mendapatkan upah daripada harus menempuh perjalanan jauh untuk sekolah. Sang ayah, Stevanus (56) mengaku sudah berada di Sabah puluhan tahun. Setelah mengakhiri masa lajang, ia bersama sang istri memutuskan untuk merantau ke Sabah, Malaysia. Berada di Sabah bekerja di perusahaan kelapa sawit. Ia berpindah-pindah sari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Pria asal Nusa Tenggara Timur (NTT) kesulitan menghitung ada berapa perusahaan pernah memanfaatkan jasanya. Selama bekerja di Sabah ia tidak memiliki dokumen resmi. Enam anaknya pun demikian. “Ada banyak tempat kerja. Puluhan tahun juga sudah di Sabah. Maaf sudah lupa,” ucapnya sembari tertawa.

Setelah berada di Nunukan, ia tidak ingin memboyong keluarganya kembali ke kampung halaman. Asalannya sulit mencari kerja. Sehingga, Ia memilih mencari kerja di Nunukan.

Tak jauh berbeda dengan cerita Fera dan keluarganya, Lukas (27), pria berdarah Sulawesi Selatan itu bekerja sebagai petani kebun sayur. Merasakan deportasi untuk pertama kalinya. Ia tumbuh dan besar di Sabah, bekerja sebagai petani selama puluhan tahun bersama orang tuanya. Namun, pada tahun 2010 orang tuanya kembali dan menetap di kampung halaman, Tana Toraja.

Lukas bersama sang kakak memilih bertahan. Pada 2016 lalu ia sempat kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Toraja untuk bertemu orang tuanya. Selang sebulan ia memilih kembali ke Sabah untuk bekerja. Upah RM 700 setiap bulan dia sisipkan untuk dikirim ke kedua orangtuanya. Ia meninggalkan Sabah dan masuk ke Nunukan dan sebaliknya melalui jalur ilegal. Dengan mengeluarkan biaya Rp 700 ribu, Lukas bebas melintas negara. “Lewat samping (ilegal, Red), bayar sama mandor (calo),” ucapnya.

Setelah diamankan dan mendekam di PTS selama lima bulan lamanya tak membuat tekadnya surut untuk kembali ke Malaysia. Tawaran fasilitas pemulangan gratis dari BP3TKI Nunukan tak digubris. Selain ingin bekerja, keinginan bertemu sang kakak sebagai alasan untuk kembali. Namun, kali ini ia tidak melalui rute ilegal yang pernah ia lewati bersama keluarganya. Ia bertekad memiliki dokumen resmi untuk bekerja di Malaysia. “Di sebelah (Sabah, Red) ada kakak. Jadi mau balik lag,i tapi pakai paspor,” tukasnya. (***/lim)


BACA JUGA

Kamis, 21 Maret 2019 11:18

Pasokan Listrik Segera Pulih Bertahap

TARAKAN – Proses pigging atau pembersihan pipa akhirnya rampung dilakukan…

Kamis, 21 Maret 2019 11:14

ADA APA INI..?? Empat Sukhoi Mengudara di Perbatasan Kaltara

TARAKAN – Empat pesawat Sukhoi jenis SU-27 dan SU-30 dari…

Kamis, 21 Maret 2019 11:13

CIHUYY ..!! Ngga Lama Lagi di Tarakan Ada Cinema XXI

TARAKAN – Pertengahan tahun ini, Cinema XXI di lantai empat…

Kamis, 21 Maret 2019 11:11

4 ASN Mangkir Kerja, 2 Kampanye di Medsos

TARAKAN - Menjadi anggota aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan untuk…

Kamis, 21 Maret 2019 10:37

Cabuli Anak di Bawah Umur, CK Diringkus Polisi

TARAKAN – Perbuatan yang dilakukan oleh pria berinsial CK (37)…

Kamis, 21 Maret 2019 10:31

Besi Bermunculan di Badan Jalan

TARAKAN – Minimnya perawatan jalan lingkungan, kerusakan semenisasi jalan pun…

Rabu, 20 Maret 2019 11:17

Pigging Klir, Listrik Berangsur Pulih

TARAKAN – PT Medco E&P Tarakan tengah berusaha merampungkan proses…

Rabu, 20 Maret 2019 11:15

Kelalaian Warga, Lahan Kembali Terbakar

TARAKAN - Kebakaran lahan kembali terjadi di RT 05 Kelurahan…

Rabu, 20 Maret 2019 11:13

“WTP Bukanlah Tanda Kelulusan, tapi Kewajiban”

Dalam kaitan membangun Indonesia, masyarakat perlu memiliki pemahaman cukup untuk…

Rabu, 20 Maret 2019 11:12

Kampanyekan Heart of Borneo Jadi Wisata Dunia

JAKARTA - Tak hanya kekayaan sumber daya alam berupa minyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*