MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 23 Januari 2018 12:48
Lebih Banyak Menghabiskan Hari-Harinya di Rumah Sakit

Adam Al Fatah, Penderita Penyakit Jantung Bawaan yang Terkendala Biaya

DIRAWAT: Adam terbaring lemah di ruang PICU ditemani Siti (ibunya) sejak 19 Desember. Foto: Lisawan/Radar Tarakan

PROKAL.CO, Adam Al Fatah anak sulung pasangan Siti (28) dan Hery (38), harus merasakan sakit yang sudah dideritanya sejak berumur 1 bulan 10 hari. Sejak saat itu chek up ke rumah sakit merupakan aktivitas Adam, agar tetap mendapatkan perawatan medis. Kini si kecil Adam harus dirujuk ke RSCM Jakarta dengan harapan bisa sembuh dari penyakitnya.

LISAWAN YOSEPH LOBO

DI ruang ber-AC, Adam Al Fatah, kelahiran Malang, 5 Mei 2011 ini terlihat diselimuti sarung berwarna biru. Adam terbaring lemah, tubuh mungilnya sudah dipasangi selang oksigen di kedua rongga hidung Adam. Adam sudah berada di ruang PICU, lantai 2 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan sejak 19 Desember 2017.

Ibunda Adam, Siti menceritakan, jika penyakit yang diderita Adam ini memang sudah dirasakannya sejak berumur 40 har saat mereka tinggal di Malang, Jawa Timur. Adam didiagnosa menderita penyakit jantung bawaan (PJB). Pertengahan 2011 silam sejak  diagnosa dokter seperti itu, Adam sering masuk dan keluar dari rumah sakit. Bahkan, Adam lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit dibandingkan di kediaman orang tuanya.

“Sering keluar dan masuk rumah sakit. 2 minggu opname, 3 hari di rumah. Opname satu bulan, satu minggu di rumah, begitu terus selama satu tahun,” ujar Siti mengawali cerita sembari meneteskan air matanya.

Ibu mana yang tega melihat anaknya merasakan sakit, detik demi detik Adam lewati dengan rasa sakit. Satu tahun berlalu. Ketika itu, saat Adam batuk hanya diberi obat dan beberapa hari kemudian ia sembuh. Tidak sampai opname di rumah sakit. Sehingga pada tahun 2015 silam, Siti beserta suami dan anak memberanikan diri untuk memutuskan merantau ke Kaltara tepatnya di Tanjung Selor. Dengan tekat ingin mengubah nasib.

Saat awal-awal berada di Ibu Kota Kaltara itu, kondisi kesehatan Adam lumayan membaik. Dia bermain bersama teman-teman sebayanya, berlari-lari hanya saja kondisi fisiknya lemah tak seperti anak lainnya.

Ketika  menginjak usia enam tahun, tepatnya Oktober 2017 lalu kondisi kesehatan Adam kembali drop. Padahal sebelumnya, dia hanya batuk dan flu, tetapi tiga bulan lalu Adam muntah-muntah bahkan merasa sakit kepala yang sangat hebat. Siti dan suaminya langsung membawa Adam ke  klinik di Tanjung Selor dan diagnosa menderita tifus. Selama tiga hari dirawat, keadaan Adam membaik dan diizinkan pulang.

Namun baru dua hari di rumah, Adam kembali drop dan keadaannya semakin parah. Akhirnya Adam dibawa ke RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor. Selama dua bulan Adam dirawat di rumah sakit. Karena tidak ada perubahan, akhirnya Adam dirujuk ke RSUD Tarakan tepatnya 19 Desember 2017 lalu.

Serangkaian tes dilakukan seperti ekokardiografi atau echo, pemeriksaan yang memberikan gambaran mengenai jantung. Semenjak pemeriksaan itu, menunjukkan jantung Adam semakin parah. Bahkan yang seharusnya darah kotor dan bersih berada pada katup yang berbeda, namun kondisi itu justru bercampur di jantung Adam.

Echo terakhir di rumah sakit ini, di jantungnya ditemukan benjolan seperti bekuan darah,” ucap wanita asli Malang ini.

Kemungkinan rasa sakit kepala yang dialami Adam, merembet dari penyakitnya karena kekurangan oksigen selama bertahun-tahun. Saat diperiksa, di kepala Adam ditemukan tiga kantong cairan berisi nanah.

“Satu ukuran besar sudah dioperasi dan dua agak kecil diharapkan bisa punah seiring diberinya antibiotik. Kami tidak tahu sejak kapan timbulnya, mungkin ini karena kekurangan oksigen selama bertahun-tahun,” jelasnya sambil menangis tersedu-sedu.

Sama halnya di Tanjung Selor, mereka pun tidak memiliki kerabat seorang pun di Bumi Paguntaka. Hampir satu bulan berada di Tarakan, Siti dan Hery tinggal di rumah sakit.

Ayah Adam, Hery memutuskan untuk mencari sesuap nasi dengan ikut berjualan gorengan di sekitaran rumah sakit. Ketika malam hari menghampiri, saat ingin beristirahat, ayahnya hanya bisa merebahkan tubuhnya di ruang tunggu.

“Kalau ruang tunggu penuh, bapaknya menginap di panti dekat rumah sakit,” katanya.

Adam merupakan anak sulung dari dari dua bersaudara. Namun karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit dan ayahnya harus bekerja, akhirnya adik Adam, Ferdy dirawat oleh neneknya di Malang, Jawa Timur. Sebab ketika Ferdy masih tinggal bersama orang tuanya, dengan terpaksa sang ayah turut membawa Ferdy ke tempat kerjanya. Dan itu sangat membahayakan Ferdy, apalagi di tengah bangunan yang sedang dibangun.

“Jadi dibawa ke kampung dulu, karena tidak tega. Dulu ikut bapaknya kerja, sampai tertidur di samping septic tank,” ucapnya.

Hampir satu bulan di rawat di RSUD Tarakan, Adam dirujuk ke Rumah Sakit dr. Cipto Mangkusumo (RSCM), Jakarta. Namun karena berasal dari keluarga kurang mampu, keberangkatan Adam sempat terkendala masalah biaya.

Siti dan suami meminta bantuan melalui komunitas-komunitas Tanjung Selor maupun Tarakan. Tak banyak yang dituntut Siti, ia hanya berharap kesembuhan untuk Adam. “BPJS ada, rumah sakit sudah banyak membantu. Maunya Adam bisa bermain, belajar dan cerewet seperti dulu lagi,” tutur Siti.

Sementara itu, seorang relawan, Juli mengatakan, sejak Senin (15/1) lalu, dokter merujuk Adam ke RSCM untuk mendapatkan tindakan medis lebih lanjut. Pada saat itu kondisi Adam sudah stabil sehingga ini merupakan kesempatan memberangkatkan Adam. Namun mengingat Adam berasal dari keluarga tak mampu, akhirnya keberangkatannya sempat ditunda lantaran keterbatasan biaya. Akhirnya ia dan kedua orang tua Adam menargetkan Adam diberangkatkan pada Jumat (19/1).

Sejak itu, selama dua hari ia dan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Kalimantan Utara (Kaltara) mencari donasi melalui komunitas-komunitas yang ada di Tarakan maupun Bulungan dan donatur lainnya. Akhirnya Rabu (17/1) terkumpul lah dana untuk Adam senilai Rp 12 juta, ia mengira dana sebesar itu sudah mencukupi untuk Adam diberangkatkan. Namun pada saat konfirmasi ulang ke maskapai, ternyata dana yang dibutuhkan sebesar Rp 24 juta.

Mendengar kekurangan biaya masih setengah dari dana yang sudah terkumpul, membuat Juli merasa drop. Apalagi hanya tersisa satu hari sebelum jadwal keberangkatan. Tanpa ada rasa pesimis, Juli tetap meyakinkan Ibu Adam bahwa akan berangkat sesuai yang dijadwalkan. Masih banyak masyarakat yang berhati bak malaikat di Bumi Paguntaka ini.

Dengan dibantu siswa dan siswi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tarakan dan komunitas lainnya yang menggalang dana di pinggir jalan, akhirnya Kamis (18/1) dana untuk biaya keberangkatan Adam terkumpul.

“Jadi selama dua hari dari komunitas Sahabat Hijrah Tarakan, Sedekah Tarakan, SMA Negeri 1 Tarakan bantu galang dana di jalan selama dua hari. Ada juga donatur dan komunitas lainnya yang datang langsung memberikan bantuan,” tutur wanita berhijab ini.

Kini Adam sudah berada di Jakarta, namun tak berarti ia melepas tanggung jawab untuk membantu Adam. Sejauh ini ia tetap mencari donasi, apalagi proses penyembuhan Adam membutuhkan proses yang lama.

Minggu (21/1) malam, ia menerima kabar bahwa keberadaan Adam di RSCM sudah dikoordinasikan dengan dokter khusus yang akan menangani Adam. Memang dalam merujuk Adam di RSCM untuk mendapatkan penanganan khusus penyakit jantung dan tumor di kepalanya.

“Mereka membutuhkan dukungan yang besar. Insya Allah di sana Adam dimudahkan. Kami berharap dengan ini dapat menggerakkan hati masyarakat luas untuk membantu Adam,” ucapnya penuh harapan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan IZI Kaltara, Herlan Fauzy mengatakan, meskipun Adam sudah diberangkatkan ke Jakarta, namun sejauh ini IZI masih membuka donasi melalui online untuk membantu Adam. Apalagi kehidupan sehari-hari kedua orang tua Adam selama menemani Adam berobat, tentu membutuhkan biaya.

“Kita kan back up untuk kehidupan sehari-hari kedua orang tuanya di sana. Jadi kita cari donasi selama 21 hari, kalau memang sudah tidak ada kita tutup dan serahkan semua donasi yang ada. Kalau masih membutuhkan dana, kita pasti open lagi,” singkatnya. (***/nri)


BACA JUGA

Jumat, 23 Februari 2018 10:49

Korban Salah Catat Bermunculan

TARAKAN – Ternyata tak hanya Lukas Yusuf, saja yang syok akan tagihan airnya yang melonjak senilai…

Jumat, 23 Februari 2018 10:45

Oleng Kiri, Terperosok ke Selokan

TARAKAN – Warga yang tinggal di daerah Jalan Kusuma Bangsa tepatnya di dekat gedung Polisi Militer…

Jumat, 23 Februari 2018 10:43

Besar di Tarakan, Tahu Seluk-beluk Perkembangan Kota

Tiga di antara empat pasangan calon (paslon) Pilwali Tarakan sudah berdiskusi langsung dengan kru dan…

Jumat, 23 Februari 2018 10:41

Menebus Dosa Proyek Raksasa

BEGITU banyak pertanyaan tentang siapa Robert Lai dan siapa Meiling yang sering saya sebut dalam tulisan…

Jumat, 23 Februari 2018 10:40

Bila Negatif, Penyelidikan Dihentikan

TARAKAN – Meski Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda merilis hasil lab atas makanan,…

Jumat, 23 Februari 2018 10:38

Anggaran Kurang-Kontur Tanah Jadi Penyebab

TARAKAN — Dari 5.000 sambungan jaringan gas (jargas) yang menjadi target Perusahaan Gas Negara…

Jumat, 23 Februari 2018 10:37

Butuh Perbaikan Jalan Akses ke Masjid

TARAKAN – Ketua RT 10, Kelurahan Selumit, Gunawan mengatakan, semenisasi jalan lingkungan layak…

Jumat, 23 Februari 2018 10:36

Jalan di Tarakan yang Rawan Kecelakaan

TARAKAN – Minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) menjadi salah satu penyebab seringnya terjadi kecelakaan…

Kamis, 22 Februari 2018 10:43

Pura-Pura Antar Teman

TARAKAN - Dalam 21 adegan rekonstruksi pada Rabu (21/2), terungkap bahwa Abdul Rajak (48) berhasil lolos…

Kamis, 22 Februari 2018 10:41

Dinkes Bingung Penyebab Keracunan

TARAKAN – Sungguh sangat mengejutkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda merilis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .