MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 12 Januari 2018 13:36
Risiko Besar, Tegas Menolak Penumpang Non Manifes

Kisah Para Nakhoda Speedboat Reguler di Perairan Kaltara

SIAP BERANGKAT: Dalle yang bersiap-siap menakhodai speedboat dengan rute Tarakan-Nunukan. LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Risiko dalam pekerjaan sebagai nakhoda begitu besar. Mengantarkan seluruh penumpang ke tujuan di seluruh daerah dan kabupaten di Kaltara, dengan selamat adalah misinya. Namun tak banyak yang tahu seberapa berat tanggung jawab bagi seorang nakhoda. Berikut cerita selengkapnya.

LISAWAN YOSEPH LOBO

AKTIVITAS di Pelabuhan SDF  Tarakan sudah dimulai sejak pagi hari. Para calon penumpang mulai berdatangan pada pukul 07.00 wita. Perlahan-lahan dermaga dipadati dengan hilir mudik kendaraan calon penumpang.

Tak hanya itu, para pedagang pun sudah mulai menjajakan dagangannya. Petugas loket juga sudah mulai menawarkan tiket-tiket ke para calon penumpang yang akan bepergian menuju Tanjung Selor, Nunukan, Bunyu, Malinau dan Sebatik. Seruan dari para supir pun terdengar untuk menawarkan jasanya.

Pemandangan pagi itu, terlihat beberapa penumpang mulai memenuhi ruang tunggu dermaga, kursi yang disediakan sudah diisi calon penumpang. Karena kursi tersebut terbatas,  tak jarang beberapa calon penumpang berdiri atau berjongkok sembari menunggu speedboat yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing. Peran seorang nakhoda sangat penting di balik perjalanan menuju tempat tujuan para penumpang.

Salah seorang nakhoda yang ditemui penulis, Dalle (47) yang sudah bergelut dipekerjaan ini sejak 1996 silam. Menceritakan awal mula dia bisa mengemudi kapal cepat itu, saat berusia 26 tahun.

Sudah tentu suka-duka bergelut di balik pekerjaan ini sudah dirasakannya. Puluhan tahun menjadi nakhoda, membuatnya sudah paham beberapa rute seperti rute Tarakan ke Nunukan, Tanjung Selor, Berau dan Malinau.

Sebelum menjadi nakhoda, Dalle mengawali pekerjaannya sebagai anggota anak buah kapal (ABK). Menjadi ABK selama satu tahun, tentu sudah mendapatkan pengalaman mengenai perairan Kaltara ini. Entah mengapa, ia tertarik menjadi nakhoda. Padahal semasa sekolah dulu, dia bercita-cita ingin menjadi seorang aparatur sipil negara (ASN). Sebab dia masih percaya ASN dapat menjamin di hari tuanya.

“Tapi semenjak saya sudah mengabdikan diri dengan pekerjaan ini. Cita-cinta menjadi seorang pegawai mulai sirna. Dari pengalaman selama menjadi ABK, perlahan-lahan kecintaan saya terhadap pekerjaan ini mulai tumbuh,” cerita ayah dua anak ini.

Sejak saat itu, Dalle mulai menyeriusi pekerjaan berisiko ini. Sebelum benar-benar menjadi seorang nakhoda, terlebih dahulu Dalle harus memiliki surat izin berlayar dan surat kecakapan khusus (SKK) dari Syahbandar.

Bagi lelaki kelahiran Sidrap, 25 Oktober 1970 ini, melakukan perjalan disetiap rute di perairan Kaltara itu merupakan tantangan tersendiri baginya. Diakuinya juga mencari nafkah di perairan sangat berisiko.  Dia harus paham setiap rute. Seperti rute Tarakan-Malinau harus berhati-hati karena banyak kayu berserakan di sungai. Lalu rute Tarakan menuju daerah Berau, banyak ombak yang harus dihadapi sebab lautan lepas. Diakuinya, durasi perjalanan juga sudah tentu mengandalkan dari cuaca dan kondisi di perairan.

Saat ini Dalle, setiap harinya membawa para penumpang speedboat Tarakan-Nunukan. Pada rute ini juga penuh tantangan. Ombak besar harus bisa ditaklukan agar para penumpangnya bisa sampai ke tujuan dengan selamat.  “Tergantung juga kalau tidak bisa lewati laut, masih bisa lewat di sungai,” ungkapnya, saat ditemui di Pelabuhan SDF Tarakan.

Puluhan tahun berada di perairan, tidak hanya harus bisa melewati  tantangan di perairan lepas saja. Terkadang dia harus mengambil keputusan bak buah simalakama, di mana dia harus memutuskan tetap membawa penumpang yang sudah kehabisan tiket. Biasanya penumpang tersebut memiliki segudang alasan agar tetap ikut berangkat.

Dari mulai harus berangkat pada saat itu juga karena ada urusan penting yang perlu diselesaikan. Terkadang ada juga yang beralasan orang tuanya sakit.

Namun Dalle tak ingin mengambil risiko, keselamatan penumpang lainnya. Dia harus bisa tegas dalam hal ini, meski dengan berat hati. Sebab setiap speedboat mempunyai kapasitas penumpang yang berbeda-beda. Sehingga dia selalu menolak dan memberi pengertian ke calon penumpang tersebut jika sudah memenuhi kapasitas yang seharusnya.

“Non manifes itu ibaratnya dibantu salah, tapi tidak dibantu juga salah. Karena membawa muatan lebih itu tanggung jawabnya lebih besar. Jadi harus konsentrasi dan berhati-hati,” ungkapnya.

Saling bertukar informasi dengan nakhoda lainnya mengenai kondisi di perairan, juga sangat penting. Sebab kondisi perairan tidak bisa dipredikisi. Baginya keselamatan nomor satu. Dia juga mewajibkan para penumpangnya memakai life jacket. Namun terkadang ada saja penumpang yang bandel.

“Setiap perjalanan kami selalu koordinasi melalui radio yang terhubung dengan nakhoda lain untuk tahu kondisi perairan. Dan tak lupa berdoa sebelum berangkat, itu kuncinya untuk bisa selamat selama perjalanan,” tuturnya.

Sama halnya dengan Iskandar Alam (37) yang sudah berlayar sejak 6 tahun silam dengan rute Tarakan-Malinau.  Sering kali ia merinding jika mengingat peristiwa terbaliknya speedboat di perairan Kaltara. Banyak faktor yang dapat menyebabkan peristiwa nahas di perairan.

“Saya kalau berangkat harus mempersiapkan peralatan seperti global positioning system (GPS) atau kompas dan radio,” terangnya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, nakhoda dituntut untuk memiliki komitmen dalam mengikuti peraturan yang ada. Dia tak ingin memberangkatkan jika jumlah penumpang melebihi kapasitas. Sebab tanggung jawab sangat besar.

“Nakhoda bisa menolak sekalipun agen bilang muat sekian. Karena tanggung jawab di tengah perjalanan itu nakhoda bukan agen. Apalagi kalau merasa tidak sanggup membawa penumpang, ya harus jujur,” tegasnya.

Diceritakan Iskandar, tak hanya itu saja yang harus dihadapi nakhoda. Kabut, gelombang dan hujan menjadi tantangan tersendiri baginya. Terkadang ombak bisa mengombang-ambingkan speedboat, sehingga membuat jantungnya seketika berdegup kencang. Sering kali terjadi perubahan cuaca, di tengah perjalanan hujan lebat dan angin kencang. Saat itu juga ia harus memutuskan untuk lebih baik menepikan speedboat ke pinggir mengantisipasi hal buruk terjadi.

Diakuinya Iskandar, rute Tarakan-Malinau atau sebaliknya normal hanya membutuhkan waktu selama tiga jam saja. Tetapi jika cuaca tak bersahabat bisa sampai empat jam.

“Karena kita bawa nyawa, jadi tanggung jawabnya besar. Speedboat kadang tidak bisa mengimbangi apalagi kalau penuh penumpang,” bebernya.

Baginya, tak ada istilah “uang sampingan” bagi non manifes. Sebab ini demi keselamatan. Tak hanya itu, dia juga tegas dalam penggunaan life jacket. Jika penumpang tidak mengindahkan peraturan maka tiket dikembalikan.

“Karena biar bagaimana itu tanggung jawab kita, kalau ada apa-apa pasti nakhoda yang dipertanyakan,” ungkapnya. (***/nri)


BACA JUGA

Selasa, 18 September 2018 23:57

BKSDA Sarankan Diserahkan ke LK

TARAKAN – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyarankan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan…

Selasa, 18 September 2018 23:44

Sehari Penukaran, Tembus 1.142 Kartu GPN

TARAKAN – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalimantan Utara terus mendorong penggunaan sistem…

Selasa, 18 September 2018 12:24

KASIHAN..!! Beruang Madu Kurus di Kandang Besi

TARAKAN – Sedih rasanya melihat nasib tiga ekor beruang madu di dua kandang di dalam Hutan Kota…

Selasa, 18 September 2018 12:22

Potensi PAD, Investasi dan Libatkan Pihak Ketiga

KRITIK datang dari pemerhati lingkungan di Kalimantan Timur (Kaltim). Mantan Direktur Kawasan Wisata…

Selasa, 18 September 2018 12:19

Dibatasi, Dolar Naik, hingga Kompetitor Menguat

Semarak Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, tidak berdampak signifikan bagi usaha jasa percetakan seperti…

Selasa, 18 September 2018 12:13

DPT Dicermati untuk Kali Kedua

TARAKAN- Imbauan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI agar dilakukan pencermatan ulang terhadap jumlah…

Selasa, 18 September 2018 12:11

Imunisasi MR Masih 46 Persen

TARAKAN – Pencapaian imunisasi measles rubella (MR) di Kalimantan Utara (Kaltara) masih cukup…

Selasa, 18 September 2018 11:59

Dua Spesialis Congkel Jok Motor Terciduk

TARAKAN - Dua pelaku pencurian spesialis merusak jok motor berhasil diamankan pihak kepolisian dari…

Selasa, 18 September 2018 11:51

Dolar Naik, Material KPR Ikut Naik

TARAKAN- Naiknya kurs dolar masih menjadi polemik. Pasalnya berbagai usaha juga mengalami imbasnya,…

Selasa, 18 September 2018 11:48

Akses Menuju Pemakaman Rusak Parah

TARAKAN - Jalan lingkungan menuju ke arah Tempat Pemakaman Umum (TPU) khusus Nasrani, Kelurahan Juata…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .