MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 12 Januari 2018 13:36
Risiko Besar, Tegas Menolak Penumpang Non Manifes

Kisah Para Nakhoda Speedboat Reguler di Perairan Kaltara

SIAP BERANGKAT: Dalle yang bersiap-siap menakhodai speedboat dengan rute Tarakan-Nunukan. LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Risiko dalam pekerjaan sebagai nakhoda begitu besar. Mengantarkan seluruh penumpang ke tujuan di seluruh daerah dan kabupaten di Kaltara, dengan selamat adalah misinya. Namun tak banyak yang tahu seberapa berat tanggung jawab bagi seorang nakhoda. Berikut cerita selengkapnya.

LISAWAN YOSEPH LOBO

AKTIVITAS di Pelabuhan SDF  Tarakan sudah dimulai sejak pagi hari. Para calon penumpang mulai berdatangan pada pukul 07.00 wita. Perlahan-lahan dermaga dipadati dengan hilir mudik kendaraan calon penumpang.

Tak hanya itu, para pedagang pun sudah mulai menjajakan dagangannya. Petugas loket juga sudah mulai menawarkan tiket-tiket ke para calon penumpang yang akan bepergian menuju Tanjung Selor, Nunukan, Bunyu, Malinau dan Sebatik. Seruan dari para supir pun terdengar untuk menawarkan jasanya.

Pemandangan pagi itu, terlihat beberapa penumpang mulai memenuhi ruang tunggu dermaga, kursi yang disediakan sudah diisi calon penumpang. Karena kursi tersebut terbatas,  tak jarang beberapa calon penumpang berdiri atau berjongkok sembari menunggu speedboat yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing. Peran seorang nakhoda sangat penting di balik perjalanan menuju tempat tujuan para penumpang.

Salah seorang nakhoda yang ditemui penulis, Dalle (47) yang sudah bergelut dipekerjaan ini sejak 1996 silam. Menceritakan awal mula dia bisa mengemudi kapal cepat itu, saat berusia 26 tahun.

Sudah tentu suka-duka bergelut di balik pekerjaan ini sudah dirasakannya. Puluhan tahun menjadi nakhoda, membuatnya sudah paham beberapa rute seperti rute Tarakan ke Nunukan, Tanjung Selor, Berau dan Malinau.

Sebelum menjadi nakhoda, Dalle mengawali pekerjaannya sebagai anggota anak buah kapal (ABK). Menjadi ABK selama satu tahun, tentu sudah mendapatkan pengalaman mengenai perairan Kaltara ini. Entah mengapa, ia tertarik menjadi nakhoda. Padahal semasa sekolah dulu, dia bercita-cita ingin menjadi seorang aparatur sipil negara (ASN). Sebab dia masih percaya ASN dapat menjamin di hari tuanya.

“Tapi semenjak saya sudah mengabdikan diri dengan pekerjaan ini. Cita-cinta menjadi seorang pegawai mulai sirna. Dari pengalaman selama menjadi ABK, perlahan-lahan kecintaan saya terhadap pekerjaan ini mulai tumbuh,” cerita ayah dua anak ini.

Sejak saat itu, Dalle mulai menyeriusi pekerjaan berisiko ini. Sebelum benar-benar menjadi seorang nakhoda, terlebih dahulu Dalle harus memiliki surat izin berlayar dan surat kecakapan khusus (SKK) dari Syahbandar.

Bagi lelaki kelahiran Sidrap, 25 Oktober 1970 ini, melakukan perjalan disetiap rute di perairan Kaltara itu merupakan tantangan tersendiri baginya. Diakuinya juga mencari nafkah di perairan sangat berisiko.  Dia harus paham setiap rute. Seperti rute Tarakan-Malinau harus berhati-hati karena banyak kayu berserakan di sungai. Lalu rute Tarakan menuju daerah Berau, banyak ombak yang harus dihadapi sebab lautan lepas. Diakuinya, durasi perjalanan juga sudah tentu mengandalkan dari cuaca dan kondisi di perairan.

Saat ini Dalle, setiap harinya membawa para penumpang speedboat Tarakan-Nunukan. Pada rute ini juga penuh tantangan. Ombak besar harus bisa ditaklukan agar para penumpangnya bisa sampai ke tujuan dengan selamat.  “Tergantung juga kalau tidak bisa lewati laut, masih bisa lewat di sungai,” ungkapnya, saat ditemui di Pelabuhan SDF Tarakan.

Puluhan tahun berada di perairan, tidak hanya harus bisa melewati  tantangan di perairan lepas saja. Terkadang dia harus mengambil keputusan bak buah simalakama, di mana dia harus memutuskan tetap membawa penumpang yang sudah kehabisan tiket. Biasanya penumpang tersebut memiliki segudang alasan agar tetap ikut berangkat.

Dari mulai harus berangkat pada saat itu juga karena ada urusan penting yang perlu diselesaikan. Terkadang ada juga yang beralasan orang tuanya sakit.

Namun Dalle tak ingin mengambil risiko, keselamatan penumpang lainnya. Dia harus bisa tegas dalam hal ini, meski dengan berat hati. Sebab setiap speedboat mempunyai kapasitas penumpang yang berbeda-beda. Sehingga dia selalu menolak dan memberi pengertian ke calon penumpang tersebut jika sudah memenuhi kapasitas yang seharusnya.

“Non manifes itu ibaratnya dibantu salah, tapi tidak dibantu juga salah. Karena membawa muatan lebih itu tanggung jawabnya lebih besar. Jadi harus konsentrasi dan berhati-hati,” ungkapnya.

Saling bertukar informasi dengan nakhoda lainnya mengenai kondisi di perairan, juga sangat penting. Sebab kondisi perairan tidak bisa dipredikisi. Baginya keselamatan nomor satu. Dia juga mewajibkan para penumpangnya memakai life jacket. Namun terkadang ada saja penumpang yang bandel.

“Setiap perjalanan kami selalu koordinasi melalui radio yang terhubung dengan nakhoda lain untuk tahu kondisi perairan. Dan tak lupa berdoa sebelum berangkat, itu kuncinya untuk bisa selamat selama perjalanan,” tuturnya.

Sama halnya dengan Iskandar Alam (37) yang sudah berlayar sejak 6 tahun silam dengan rute Tarakan-Malinau.  Sering kali ia merinding jika mengingat peristiwa terbaliknya speedboat di perairan Kaltara. Banyak faktor yang dapat menyebabkan peristiwa nahas di perairan.

“Saya kalau berangkat harus mempersiapkan peralatan seperti global positioning system (GPS) atau kompas dan radio,” terangnya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, nakhoda dituntut untuk memiliki komitmen dalam mengikuti peraturan yang ada. Dia tak ingin memberangkatkan jika jumlah penumpang melebihi kapasitas. Sebab tanggung jawab sangat besar.

“Nakhoda bisa menolak sekalipun agen bilang muat sekian. Karena tanggung jawab di tengah perjalanan itu nakhoda bukan agen. Apalagi kalau merasa tidak sanggup membawa penumpang, ya harus jujur,” tegasnya.

Diceritakan Iskandar, tak hanya itu saja yang harus dihadapi nakhoda. Kabut, gelombang dan hujan menjadi tantangan tersendiri baginya. Terkadang ombak bisa mengombang-ambingkan speedboat, sehingga membuat jantungnya seketika berdegup kencang. Sering kali terjadi perubahan cuaca, di tengah perjalanan hujan lebat dan angin kencang. Saat itu juga ia harus memutuskan untuk lebih baik menepikan speedboat ke pinggir mengantisipasi hal buruk terjadi.

Diakuinya Iskandar, rute Tarakan-Malinau atau sebaliknya normal hanya membutuhkan waktu selama tiga jam saja. Tetapi jika cuaca tak bersahabat bisa sampai empat jam.

“Karena kita bawa nyawa, jadi tanggung jawabnya besar. Speedboat kadang tidak bisa mengimbangi apalagi kalau penuh penumpang,” bebernya.

Baginya, tak ada istilah “uang sampingan” bagi non manifes. Sebab ini demi keselamatan. Tak hanya itu, dia juga tegas dalam penggunaan life jacket. Jika penumpang tidak mengindahkan peraturan maka tiket dikembalikan.

“Karena biar bagaimana itu tanggung jawab kita, kalau ada apa-apa pasti nakhoda yang dipertanyakan,” ungkapnya. (***/nri)


BACA JUGA

Selasa, 18 Desember 2018 14:33

Dalih 'Buta' Aturan Oknum Parpol

TARAKAN - Kasus money politic atau politik uang yang diduga…

Selasa, 18 Desember 2018 14:29

Fasilitas Taman Berkampung Dirusak

TARAKAN - Wajah Bumi Paguntaka menjadi lebih indah dengan hadirnya…

Selasa, 18 Desember 2018 14:28

KPU: Kardus Tak Berbeda dari Aluminium

TARAKAN - Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menggunakan kotak…

Selasa, 18 Desember 2018 12:29

Ahli Sebut Video dari Terdakwa Asli

TARAKAN – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi ahli digital…

Selasa, 18 Desember 2018 12:15

Laporan Warga Asing Dominan Illegal Fishing

TARAKAN - Beberapa perusahaan yang ada di Kaltara memakai jasa…

Selasa, 18 Desember 2018 12:14

PDAM Segera Tambah Satu Unit Pompa Utama

TARAKAN - Belum maksimalnya pelayanan air bersih di Kota Tarakan,…

Selasa, 18 Desember 2018 12:08

Sampah Semesta Belum Terlaksana Semua

TARAKAN - Program Sampah Semesta yang digalakkan Pemerintah Kota (Pemkot)…

Senin, 17 Desember 2018 13:03

Cantik Instan Berbahaya

Memiliki wajah yang cerah, putih, halus, tanpa flek hitam dan…

Senin, 17 Desember 2018 13:00

Temukan Dua Kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

Capaian imunisasi measles dan rubella (MR) di Tarakan belum cukup…

Senin, 17 Desember 2018 12:55

Mau BPJS Sehat, Naikkan Iuran!

TARAKAN - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai memikirkan rencana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .