MANAGED BY:
KAMIS
26 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 10 Januari 2018 11:06
Nunukan Miliki Peluang Besar

Lepas Ketergantungan Sembako Malaysia

MASIH ADA: Keberadaan LPG 14 Kg asal Tawau, Malaysia yang hingga saat ini masih banyak digunakan masyarakat menjadi salah satu contoh lemahnya persaingan produk dalam negeri dengan buatan luar negeri. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Ketergantungan terhadap Malaysia bukan rahasia lagi di Kabupaten Nunukan. Sebagai wilayah perbatasan, tentunya masih sangat membutuhkan suplai barang, khususnya sembilan bahan pokok (sembako) ke masyarakat. Hal ini terjadi akibat sulinya transportasi untuk mendatangkan barang dalam negeri.

Namun, saat ini tentunya berbeda. Apalagi adanya jalur tol laut yang menyambangi wilayah perbatasan. Yakni, Pelabuhan Sebatik dan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Tentunya, bukan hal mustahil lagi mendatangkan gula pasir, minyak makan, dan tepung, yang selama ini didominasi dari Tawau, Malaysia.

Sejak masuknya transportasi laut Surabaya-Nunukan, sejumlah produk lokal mulai masuk ke Nunukan. Seperti minuman mineral dan makanan ringan lainnya. Tak hanya itu, beberapa alat elektronik juga demikian. Semakin tahun mendominasi di wilayah perbatasan. Termasuk pakaian dan lainnya. Hal ini merupakan bukti nyata jika saat ini barang yang disuplai pengusaha di Nunukan tak hanya didominasi  produk Tawau, Malaysia. Namun produk dalam negeri mulai ramai dan menjadi kebutuhan masyarakat Nunukan. Sebab, ketersedian barangnya memang ada. “Saya yakin, jika barang sembako dari Malaysia itu ditetapkan cukainya, seperti perdagangan luar negeri, harganya pasti lebih mahal dari barang yang dari Surabaya,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Nunukan Ir. Jabbar kepada media ini.

Ia mencontohkan tabung  Liquified Petroleum Gas (LPG) 14 kilogram (kg) milik Malaysia. Sampai saat ini masih saja banyak ditemukan. Khususnya di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik. Padahal, pemerintah telah mendatangkan LPG 3 kg yang diperuntukan bagi warga kurang mampu. Lalu, ada juga LPG 12 dan 5,5 kg yang khusus untuk masyarakat kelas menengah ke atas. “Tapi, sampai saat ini LPG produk Pertamina itu sulit bersaing. Karena LPG Malaysia itu tetap bisa masuk,” ungkapnya.

Menurutnya, selama ini alasan yang terlontar kepada masyarakat pengguna LPG Malaysia lantaran pemerintah tak menyediakan LPG buatan dalam negeri. Namun, setelah disiapkan, justru tak digunakan. Olehnya itu, sudah saatnya ketergantungan terhadap produk Malaysia dihilangkan secara perlahan. “Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Hanya saja, kemauan itu harus didukung dengan instansi tekait juga. Tidak hanya kami saja,” tegasnya.

Dikatakan, selama ini produk Tawau, Malaysia memang sangat mudah masuk ke Nunukan dan Pulau Sebatik. Ini lantaran masih kentalnya dengan budaya kearifan lokal yang telah terjadi sejak lama. Bahkan, ketika Kabupaten Nunukan masih merupakan wilayah kecamatan dari Kabupaten Bulungan. “Inilah yang ingin pelan-pelan diubah. Segala produl dalam negeri mulai didatangkan untuk melepask ketergantungan itu,” ujarnya.

Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Nunukan Irsan Humokor mendukung penuh upaya Pemkab Nunukan. Khususnya Disdag Nunukan dalam menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap produk Tawau, Malaysia.  “Apalagi saat ini transportasi dari Pulau Jawa dan Sulawesi sudah sangat mendukung. Sehingga, upaya itu memang perlu didukung,”ungkapnya saat dihubungi media ini kemarin.

Ia mengatakan, agar tujuan Pemkab Nunukan tercapai, tentunya diperlukan koordinasi dengan instansi terkait yang ada di Kabupaten Nunukan. Karena, tanpa dukungan itu semua tentunya sulit diwujudkan. “Saya rasa, komitmen bersama saja yang perlu ada. Tidak hanya pemerintah daerah saja, tapi juga instansi vertikal lainnya. Khususnya pengusaha yang selama ini memasuk barang asal Malaysia itu,” jelasnya. (oya/ash)


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 12:02
Dugaan Beras Selundupan dari Vietnam

Keuntungan Sudah Dibagi-bagi?

NUNUKAN – Beras Vietnam yang diangkut kapal MV Dong Thien Phu Golden masuk ke Sebatik diduga ada…

Rabu, 25 April 2018 11:08

Listrik Padam, UNBK SMP Terganggu

NUNUKAN – Hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional Berbasik Komputer (UNBK) tingkat Sekolah Menengah…

Rabu, 25 April 2018 11:07

Harga Rumput Laut Anjlok

NUNUKAN – Sempat berada di harga Rp 20 ribu per kilogram, kini harga rumput laut kering anjlok…

Selasa, 24 April 2018 12:40

Bea Cukai Pasang Badan

NUNUKAN – Kapal MV Dong Thien Phu Golden yang mengangkut 2.900 ton beras asal Vietnam dengan tujuan…

Selasa, 24 April 2018 11:12

Tunjangan Khusus Guru Tak Diberikan

NUNUKAN - Sejumlah guru di Kecamatan Krayan kembali mengadukan nasib mereka di Dewan Perwakilan Rakyat…

Senin, 23 April 2018 12:23

Pos Imigrasi ‘Diserbu’ Warga

NUNUKAN – Pelayanan Imigrasi Kelas II Nunukan yang dilakukan di Pos Imigrasi Sungai Pancang Sebatik…

Senin, 23 April 2018 12:22

PR Kedua Negara Perbatasan

NUNUKAN – Permasalahan tenaga kerja Indonesia (TKI), penyelundupan barang haram hingga teroris…

Minggu, 22 April 2018 12:12

Kapal Berbendera Vietnam Dipaksa Sandar di Pelabuhan Tunon Taka

NUNUKAN - Kapal asal Vietnam dipaksa bersandar di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan. Kapal yang memiliki…

Sabtu, 21 April 2018 10:26

Warga Harus Segera Pindah

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan dalam waktu dekat, akan segera membersihkan area…

Sabtu, 21 April 2018 10:14

Persoalan Lawas, Dideportasi Bukan TKI Resmi

NUNUKAN – Bekerja di luar negeri masih menjadi magnet tersendiri bagi para Warga Negara Indonesia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .