MANAGED BY:
SELASA
23 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 06 Januari 2018 11:56
Selama 17 Tahun Mencari Obat Epilepsi untuk Santi

Keliling 34 Provinsi di Indonesia dengan Bersepeda demi Kesembuhan Anak

KELILING INDONESIA: Masrani (celana jeans biru) dan Santi (jilbab biru) foto bersama perwakilan komunitas sepeda Tarakan, Senin (1/1). Lisawan/Radar Tarakan

PROKAL.CO, Seorang ayah Masrani (48) mengajak anak bungsunya Santi (20) menjelajahi Indonesia. Bukan untuk berlibur atau traveling. Tetapi mereka berdua bertekad untuk bisa menemukan obat dari penyakit yang diderita si bungsu. Karena keterbatasan biaya, mereka terpaksa berkeliling di 34 provinsi dengan bersepeda.

LISAWAN YOSEPH LOBO

Sejak berusia dua tahun, Santi sudah diajak touring dengan bersepeda oleh ayahnya. Konon ibunya meninggal karena sakit saat Santi, berusia lima bulan. Sejak itu, Masrani menjadi ayah sekaligus ibu untuk kedua putrinya itu.

Anak sulungnya bernama Lia (22), sudah memiliki keluarga kecil. Sehingga Masrani fokus untuk pengobatan Santi saja. Sejak lahir, Santi menderita epilepsi atau yang lebih dikenal dengan penyakit ayan. Selama satu tahun lebih, Santi mendapatkan pengobatan medis namun harapan sembuh juga tak kunjung datang.

“Sudah ikut resep dokter tapi tidak ada perubahan,” tutur pria asli Banjarmasin ini.

Masrani tak berputus asa. Dia bertekad untuk bisa menemukan obat untuk anak bungsunya itu. Maka pada tahun 2000, dia memutuskan untuk melakukan perjalan bersama anaknya dengan bersepeda. Untuk bisa menemukan obat untuk Santi.

Sepeda berwarna biru ini merupakan peninggalan orang tua Masrani. Konon usianya sudah 31 tahun, tepatnya sejak 1986 silam. Ada yang unik dari sepedanya ini. Di bagian belakang tempat Santi duduk, ada bendera merah putih dan papan berukuran 10 x 15 centimeter (cm) yang dilengkapi dengan pancasila beserta foto Presiden Indonesia yang pertama.

Meski usia sepedanya sudah cukup tua, secara kasatmata masih terlihat bagus. Diakuinya, dia tak pernah mengganti fisik sepeda yang setia menemani mereka berdua itu. Berbeda dengan ban sepeda yang sudah tidak bisa terhitung lagi berapa kali mereka menggantinya. Dalam Desember ini saja sudah sebanyak 19 kali ganti ban. “Iya karena kami rawat jadi masih bagus kelihatannya,” ucap pria murah senyum ini.

Selama 17 tahun berkeliling Indonesia, sudah 33 provinsi yang dijelajahi. Untuk melengkapi provinsi di seluruh Indonesia, akhirnya di penghujung 2017 lalu, ia berhasil menginjakkan kakinya di Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai provinsi termuda di Indonesia. Maka genap lah 34 provinsi yang sudah ditelusuri untuk mencari pengobatan Santi.

“Jadi di mana pun kami melangkah, kami tetap sambil mencari pengobatan untuk anak. Alhamdulillah, selama 17 tahun ini sudah 34 provinsi yang kami bisa kunjungi,” katanya.

Pria asal Banjarmasin ini, sudah menginjakkan kaki di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Medan, Aceh, Palu, Lampung, dan masih banyak lagi. Namun selama perjalanannya itu, Masrani belum menemukan obat untuk Santi. Tentu saja ada secuil harapan untuk mendapatkan kesembuhan di provinsi termuda ini. “Rasanya belum menyerah. Di mana pun ada orang pintar, mungkin bisa menolong kami,” ucapnya.

Diakui ayah dua anak ini, epilepsi ini dapat kambuh sewaktu-waktu. Tak jarang kerap kali kambuh di tengah perjalanan saat bersepeda. Sering kali Masrani dibantu orang lain yang melihatnya di jalan. Ia juga membacakan salawat sambil mengolesi minyak di tubuh Santi dengan minyak angin yang sering dibawanya.

Apapun yang dilalui Masrani untuk mendapatkan kesembuhan Santi, entah itu lewat darat maupun laut, sebagai bentuk perhatiannya kepada buah hatinya itu. Selama 17 tahun touring tentu membuat Santi merasa senang karena melihat tempat baru dan keramahan masyarakat yang menyambut hangat kedatangannya.

Namun kepribadian Santi sedikit tak sabaran. Ternyata gadis kelahiran Pontianak ini cepat bosan.

“Biasanya kan kami menunggu pertemuan keluarga (komunitas) ibaratnya silaturahmi antar keluarga. Tapi dia maunya cepat-cepat berangkat lagi,” kata Masrani sambil tertawa.

Konon setiap ia hendak meninggalkan suatu daerah, ia diarahkan untuk menuju ke daerah lainnya oleh rekan-rekan komunitas sepeda. Semisal, selepas di Tarakan selama dua hari, ia diarahkan ke Nunukan. Melalui komunitas sepeda di Tarakan, menginformasikan ke rekan-rekan di Nunukan untuk menyambut kedatangan Masrani dan Santi.

Begitu seterusnya dilakukan oleh komunitas sepeda di seluruh Indonesia. Sehingga ketika tiba disuatu daerah, tak lagi kesulitan mencari tempat tinggal. Terkadang, dalam perjalanan panjang melalui darat, ketika waktu menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat, ia berhenti dan mencari tempat peristirahatan. Ia juga tidak pernah memaksakan perjalanan.

Biasanya ia menumpang tidur di warung-warung bahkan di musala. Selalu saja ia bertemu dengan orang baik yang memberikan makan dan minum saat beristirahat.

“Kita sesuaikan dengan medan juga. Dari Berau menembus Tanjung Selor 8 jam lamanya. Nah itu tanjakan masih bisa kami jangkau, tapi kalau dari Berau ke Samarinda itu tanjakannya lebih tinggi,” ucapnya sambil tertawa.

Setelah tiba di Tarakan, Masrani baru bersepeda satu kali putaran dari dermaga Pelabuhan Tengakayu II menuju mes Pertamina di daerah Ladang, Kecamatan Tarakan Tengah menuju rumah salah seorang rekannya.

Saat ditemui, Santi sedikit pemalu, ia lebih banyak diam. Tetapi seketika berbicara, ia nampak bersemangat mengikuti ayahnya berkeliling dengan sepeda. Diakuinya, ia senang berpindah dari satu daerah ke daerah lain demi mendapatkan kesembuhan. “Iya senang,” jawabnya dengan singkat. (***/nri)


BACA JUGA

Selasa, 23 Januari 2018 12:50

Rekor Awal Tahun, Empat Jam Padam

TARAKAN – Meski sudah berganti tahun, namun persoalan pemadaman listrik masih terjadi. Padahal…

Selasa, 23 Januari 2018 12:47

Dana Suvenir Balon Capai Rp 100 Juta

TARAKAN – Memasuki masa kampanye Pilwali Tarakan para pengusaha jasa pembuatan spanduk, baliho…

Selasa, 23 Januari 2018 12:45

Enam Kelurahan Rawan Kecurangan

TARAKAN - Kecurangan pada proses pemilihan umum (Pemilu), menjadi atensi khusus yang harus disikapi…

Selasa, 23 Januari 2018 12:36

Tak Cukup Bukti, Laporan Dihentikan

TARAKAN - Gugatan pasangan Sabirin Sanyong dan Tajuddin Tuwo (Santun) kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU),…

Selasa, 23 Januari 2018 12:29

Hanura Terancam Jadi Penonton

TARAKAN - Konflik yang terjadi di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) belum…

Selasa, 23 Januari 2018 12:27

Tegaskan Imunisasi Dihalalkan MUI

TARAKAN – Target 92 persen pemberian imunisasi kepada anak-anak hingga saat ini oleh Dinas Kesehatan…

Selasa, 23 Januari 2018 12:23

Drainase Tersumbat Pasir dan Sampah

TARAKAN – Pada umumnya permasalahan di setiap lingkungan rukun tetangga (RT) hampir sama. Jika…

Senin, 22 Januari 2018 14:22

Balon-Tim Sukses Harus Melek UU

PERSOALAN biaya kampanye memang rentan mengarah ke arah black campaign. Belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya,…

Senin, 22 Januari 2018 14:19

Arief Jadi Wali Kota Selama 130 Hari

TARAKAN – Sang petahana Sofian Raga yang memutuskan untuk ingin melanjutkan kerjanya, pada Pilwali…

Senin, 22 Januari 2018 14:07

Andalkan Sumbangan Sukarela Masyarakat-Gereja

KEBERADAAN maskapai Mission Aviation Fellowship (MAF), seolah menjadi penolong bagi masyarakat pedalaman…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .