MANAGED BY:
SELASA
21 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 06 Januari 2018 11:56
Selama 17 Tahun Mencari Obat Epilepsi untuk Santi

Keliling 34 Provinsi di Indonesia dengan Bersepeda demi Kesembuhan Anak

KELILING INDONESIA: Masrani (celana jeans biru) dan Santi (jilbab biru) foto bersama perwakilan komunitas sepeda Tarakan, Senin (1/1). Lisawan/Radar Tarakan

PROKAL.CO, Seorang ayah Masrani (48) mengajak anak bungsunya Santi (20) menjelajahi Indonesia. Bukan untuk berlibur atau traveling. Tetapi mereka berdua bertekad untuk bisa menemukan obat dari penyakit yang diderita si bungsu. Karena keterbatasan biaya, mereka terpaksa berkeliling di 34 provinsi dengan bersepeda.

LISAWAN YOSEPH LOBO

Sejak berusia dua tahun, Santi sudah diajak touring dengan bersepeda oleh ayahnya. Konon ibunya meninggal karena sakit saat Santi, berusia lima bulan. Sejak itu, Masrani menjadi ayah sekaligus ibu untuk kedua putrinya itu.

Anak sulungnya bernama Lia (22), sudah memiliki keluarga kecil. Sehingga Masrani fokus untuk pengobatan Santi saja. Sejak lahir, Santi menderita epilepsi atau yang lebih dikenal dengan penyakit ayan. Selama satu tahun lebih, Santi mendapatkan pengobatan medis namun harapan sembuh juga tak kunjung datang.

“Sudah ikut resep dokter tapi tidak ada perubahan,” tutur pria asli Banjarmasin ini.

Masrani tak berputus asa. Dia bertekad untuk bisa menemukan obat untuk anak bungsunya itu. Maka pada tahun 2000, dia memutuskan untuk melakukan perjalan bersama anaknya dengan bersepeda. Untuk bisa menemukan obat untuk Santi.

Sepeda berwarna biru ini merupakan peninggalan orang tua Masrani. Konon usianya sudah 31 tahun, tepatnya sejak 1986 silam. Ada yang unik dari sepedanya ini. Di bagian belakang tempat Santi duduk, ada bendera merah putih dan papan berukuran 10 x 15 centimeter (cm) yang dilengkapi dengan pancasila beserta foto Presiden Indonesia yang pertama.

Meski usia sepedanya sudah cukup tua, secara kasatmata masih terlihat bagus. Diakuinya, dia tak pernah mengganti fisik sepeda yang setia menemani mereka berdua itu. Berbeda dengan ban sepeda yang sudah tidak bisa terhitung lagi berapa kali mereka menggantinya. Dalam Desember ini saja sudah sebanyak 19 kali ganti ban. “Iya karena kami rawat jadi masih bagus kelihatannya,” ucap pria murah senyum ini.

Selama 17 tahun berkeliling Indonesia, sudah 33 provinsi yang dijelajahi. Untuk melengkapi provinsi di seluruh Indonesia, akhirnya di penghujung 2017 lalu, ia berhasil menginjakkan kakinya di Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai provinsi termuda di Indonesia. Maka genap lah 34 provinsi yang sudah ditelusuri untuk mencari pengobatan Santi.

“Jadi di mana pun kami melangkah, kami tetap sambil mencari pengobatan untuk anak. Alhamdulillah, selama 17 tahun ini sudah 34 provinsi yang kami bisa kunjungi,” katanya.

Pria asal Banjarmasin ini, sudah menginjakkan kaki di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Medan, Aceh, Palu, Lampung, dan masih banyak lagi. Namun selama perjalanannya itu, Masrani belum menemukan obat untuk Santi. Tentu saja ada secuil harapan untuk mendapatkan kesembuhan di provinsi termuda ini. “Rasanya belum menyerah. Di mana pun ada orang pintar, mungkin bisa menolong kami,” ucapnya.

Diakui ayah dua anak ini, epilepsi ini dapat kambuh sewaktu-waktu. Tak jarang kerap kali kambuh di tengah perjalanan saat bersepeda. Sering kali Masrani dibantu orang lain yang melihatnya di jalan. Ia juga membacakan salawat sambil mengolesi minyak di tubuh Santi dengan minyak angin yang sering dibawanya.

Apapun yang dilalui Masrani untuk mendapatkan kesembuhan Santi, entah itu lewat darat maupun laut, sebagai bentuk perhatiannya kepada buah hatinya itu. Selama 17 tahun touring tentu membuat Santi merasa senang karena melihat tempat baru dan keramahan masyarakat yang menyambut hangat kedatangannya.

Namun kepribadian Santi sedikit tak sabaran. Ternyata gadis kelahiran Pontianak ini cepat bosan.

“Biasanya kan kami menunggu pertemuan keluarga (komunitas) ibaratnya silaturahmi antar keluarga. Tapi dia maunya cepat-cepat berangkat lagi,” kata Masrani sambil tertawa.

Konon setiap ia hendak meninggalkan suatu daerah, ia diarahkan untuk menuju ke daerah lainnya oleh rekan-rekan komunitas sepeda. Semisal, selepas di Tarakan selama dua hari, ia diarahkan ke Nunukan. Melalui komunitas sepeda di Tarakan, menginformasikan ke rekan-rekan di Nunukan untuk menyambut kedatangan Masrani dan Santi.

Begitu seterusnya dilakukan oleh komunitas sepeda di seluruh Indonesia. Sehingga ketika tiba disuatu daerah, tak lagi kesulitan mencari tempat tinggal. Terkadang, dalam perjalanan panjang melalui darat, ketika waktu menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat, ia berhenti dan mencari tempat peristirahatan. Ia juga tidak pernah memaksakan perjalanan.

Biasanya ia menumpang tidur di warung-warung bahkan di musala. Selalu saja ia bertemu dengan orang baik yang memberikan makan dan minum saat beristirahat.

“Kita sesuaikan dengan medan juga. Dari Berau menembus Tanjung Selor 8 jam lamanya. Nah itu tanjakan masih bisa kami jangkau, tapi kalau dari Berau ke Samarinda itu tanjakannya lebih tinggi,” ucapnya sambil tertawa.

Setelah tiba di Tarakan, Masrani baru bersepeda satu kali putaran dari dermaga Pelabuhan Tengakayu II menuju mes Pertamina di daerah Ladang, Kecamatan Tarakan Tengah menuju rumah salah seorang rekannya.

Saat ditemui, Santi sedikit pemalu, ia lebih banyak diam. Tetapi seketika berbicara, ia nampak bersemangat mengikuti ayahnya berkeliling dengan sepeda. Diakuinya, ia senang berpindah dari satu daerah ke daerah lain demi mendapatkan kesembuhan. “Iya senang,” jawabnya dengan singkat. (***/nri)


BACA JUGA

Selasa, 21 Agustus 2018 16:54

Kuota Angkutan Online Se-Kaltara 191 Unit

TARAKAN- Pengoperasian kendaraan online atau angkutan sewa khusus belum dibuka, kendati diketahui kuota…

Selasa, 21 Agustus 2018 16:12

Optimis PAD Sampai Target

TARAKAN - Meski jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) saat ini baru mencapai 30 persen, namun pihak pemerintah…

Selasa, 21 Agustus 2018 16:09

Inginkan Wilayah Pesisir Diperhatikan

TARAKAN—Hingga 2018, wilayah RT 2 Kelurahan Karang Anyar Pantai, belum mendapat bantuan perbaikan…

Selasa, 21 Agustus 2018 16:00

Predikat SAKIP Tarakan Masih C

TARAKAN - Predikat Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang diperoleh Bumi Paguntaka…

Selasa, 21 Agustus 2018 14:28

Dua Pelaku Penerima Sabu 1 Kg Berhasil Dibekuk di Makassar

  TARAKAN - Polres Tarakan bekerja sama dengan Polda Sulsel, Kamis (16/8) berhasil membekuk dua…

Senin, 20 Agustus 2018 23:59

RASAKAN..!! Kapal Illegal Fishing Ditenggelamkan

TARAKAN – Penenggelaman kapal ikan asing (KIA) yang melakukan illegal fishing digelar serentak…

Senin, 20 Agustus 2018 23:43

SUDAH TAK WAJAR..!! Harga Ayam Potong di Tarakan

TARAKAN – Harga daging ayam di sejumlah pasar masih saja berpolemik. Berkaca dari Hari Raya Idulfitri…

Senin, 20 Agustus 2018 17:32

Sabu Dikirim via Kargo

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara) bersama Bandara Internasional Juwata…

Senin, 20 Agustus 2018 17:30

Jaringan Tiga Kabupaten Blackout

TARAKAN - Ruang baterai Site Telkom Mamburungan Minggu (19/8) malam hangus terbakar. Belum diketahui…

Senin, 20 Agustus 2018 17:23

Dilanda Suhu Panas, Jamaah Lebih Banyak di Hotel

SUHU panas di Kota Makkah yang mencapai 46 derajat celcius membuat para jamaah calon haji diimbau untuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .