MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 27 Desember 2017 10:08
2018, Harus Prihatin dan Banyak Tantangan

Untuk Ciptakan Lahan Pertanian Sawah di Malinau

TERIMA TANTANGAN: Bupati Malinau Yansen TP saat melakukan panen padi sawah organik bersama Direktur Irigasi Kementan RI pada 20 Desember lalu. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU-Direktur Irigasi Kementerian Pertanian RI, Ir Tunggul M.Sc menyampaikan beberapa hal kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara bahwa pembangunan pertanian ini harus terus digenjot agar produktivitasnya meningkat. Sehingga, ketahanan pangan di daerah juga kuat dan terwujudnya swasembada pangan nasional di daerah.

Ir Tunggul pun menantang para petani dan pemerintah daerah untuk mengalahkan daerah Merauke. “Saya ingin, bisakah Malinau ini kalahkan Merauke itu. Karena saya juga bangun di sana 50 ribu hektare sawah dengan rerata produktivitas panen di sana mencapai 6,2 ton per hektare,” sebutnya.

Karena itu, ia sangat mengharapkan kepada Kabupaten Malinau untuk bisa menggarap lahan pertanian sawah minimal membangun dengan luasan 3.000 hektare dengan tiga kali panen. Tentunya dengan produksi yang lebih meningkat, kualitas bagus serta diharapkan lebih menonjolkan pertanian sistem organik. “Hal ini juga akan disampaikan kepada kepala Badan Penelitian dan Pembangunan (Balitbang) supaya lebih terkonsentrasi dan memprioritaskan Malinau untuk dikembangkan,” ungkapnya.

Sementara itu terkait dengan bisnis padi, Ir Tunggul Panudju mensyukuri bahwa Pemkab Malinau telah menolak beras miskin (Raskin) yang sekarang berubah menjadi beras sejahtera (Rastra) dan menggunakan produk dalam daerah Malinau sendiri. Bahkan, diupayakan agar pemerintah daerah mendorong para petani menanam padi dengan sistem organik dengan tiga kali panen dalam per tahun dengan harga yang menyenangkan petani. Karena beras organik ini, per kilogramnya dengan harga minimal Rp 10 ribu. Bahkan di minimarket itu bisa mencapai Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilonya. “Keinginan saya, antara 7 hingga 10 hektare itu minimal lahan pertanian padi yang ada di sekitar embung ini bisa di kelola dan dikembangkan sistem organik. Yakni dengan tidak menggunakan pupuk dari luar, alias memproduksi pupuk pestisida sendiri,” pinta Tunggul dengan alasan bahannya dinilai cukup tersedia.

Karena itu, Ir Tunggul menegaskan, sekitar embung geomembran Malinau ini dapat berfungsi dan dimanfaatkan secara maksimal agar dapat memaksimal petani dalam menggarap lahannya dengan tanam 3 kali dan panen tiga kali. Ke depannya, diharapkan bisa diterapkan dengan sistem satu kali olah dan sekali tanam, maka selebihnya panen karena lokasi pertanian sawah di sekitar embung Malinau ini sangat bagus dan tertutup. “Lahan sawah di sekitar embung ini bisa dikelola dan dikembangkan sampai 20 hektare dan bisa dibuka dan dilayani dengan pengairan dari  embung ini,” tukasnya.

Menjawab tantangan dari Direktur Irigasi Kementerian Pertanian RI tersebut, Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si menjelaskan, bahwa konsep pertanian masyarakat Kabupaten Malinau ini ada dua, yaitu berladang dan sawah. “Boleh dikatakan, stok lahan sawah masyarakat Malinau ini cukup. Karena dilihat oleh Direktur Irigasi dan Lahan Kementan RI itu di sekitar embung geomembran itu hanya yang terkecil kawasan dan hamparannya. Masih ada luas 300 hektare, 500 hektare dan bahkan 1000 hektare,” sebut Bupati Malinau Yansen TP menjawab Direktur Irigasi dan Lahan Kementan RI Ir Tunggul Panudju terkait dengan ketersediaan lahan dan potensi pengembangan pertanian sawah di Kabupaten Malinau.

Oleh karena itu, kata Yansen TP, jika Kementan RI menantang untuk menciptakan lahan sawah 300 hingga 500 hektare sawah itu disyukuri Yansen TP bahwa Kabupaten Malinau sangat siap. Karena lahan hamparan di Pulau Sapi juga ada satu kawasan dengan luasan bisa mencapai 500 hektar. Lokasi ini juga telah ditetapkan Pemkab Malinau sebagai Pusat Pertanian Rakyat Sejahtera (PPRS) dan mengajak Kementan RI untuk menjadikan lokasi itu menjadi kawasan pertanian sebagai model pertanian dari Kementan RI. “Di lokasi ini, modelnya kawasan yang tersedia tidak hanya untuk menanam padi, tetapi juga untuk berternak, budidaya ikan dan perkebunan. Karena menarik tempatnya, saya dorong menjadi desa wisata,” tegas Yansen TP. (ida/fly)


BACA JUGA

Rabu, 14 November 2018 11:48

Berharap TMMD Berskala Besar Digelar di Malinau

MALINAU – Bupati Malinau Dr Yansen TP MSi mengapresiasi pelaksanaan…

Rabu, 14 November 2018 11:47

TMMD Menyentuh Kehidupan Dasar Masyarakat

MALINAU – Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-103 tahun 2018…

Rabu, 14 November 2018 11:45

KSAD Ucapkan Terima Kasih kepada Bupati

MALINAU – Pelaksanaan kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) di…

Selasa, 13 November 2018 11:42

Pandangan Umum DPRD Sangat Diapresiasi

MALINAU – Sebelum menyampaikan jawaban atas pandangan umum dari fraksi-fraksi…

Selasa, 13 November 2018 11:41

Hari Pahlawan Wajib Diperingati

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si menegaskan bahwa…

Selasa, 13 November 2018 11:39

Demi Menegakkan NKRI, Pahlawan Korbankan Jiwa Raga

MALINAU - Pada momentum upacara peringatan Hari Pahlawan yang dilaksanakan…

Senin, 12 November 2018 13:23

FKUB Harmoniskan Kehidupan Masyarakat

MALINAU – Usai mengukuhkan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)…

Senin, 12 November 2018 13:21

Pengurus FKUB Periode 2018-2023 Dikukuhkan

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si, Jumat (9/11),…

Senin, 12 November 2018 13:19

Inovatif, Malinau Juara II TTG Tingkat Nasional

MALINAU – Jumat (9/11), Mujiono, ST didampingi, Sofiana, Kepala Bidang…

Senin, 12 November 2018 08:24

Akses Sulit, Buka Jalan 1.000 Meter

MALINAU – Pembukaan jalan 1.000 meter untuk membantu memudahkan akses…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .