MANAGED BY:
SABTU
20 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 22 Desember 2017 16:14
Belum Diserahkan, SK Bisa Berubah

Effendhi Siap Hengkang dari Hanura

Ilustrasi

PROKAL.CO, JAKARTA – Saling klaim dukungan Hanura kabarnya sudah berakhir. Dukungan tersebut berlabuh ke satu pasangan calon (paslon) yakni H. Badrun dan H. Ince A. Rifai Yusuf. Hal itu dikuatkan dengan beredarnya surat keputusan (SK) yang bernomor SKEP/B/046/DPP-Hanura/XI/2017. Yang langsung ditandatangani Ketua Umum Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO).

Saat dikonfirmasi, Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hanura Sarifuddin Sudding menyatakan, SK yang beredar itu belum pasti. Lantaran, keputusan dan kebijakan belum putuskan oleh ketua umum yang bakal mendukung siapa nantinya. “Yang menentukan itu ketua umum. Jadi masih menunggu keputusan. Tentunya itu (SK beredar) belum pasti,” ujar Sarifunddin kepada Radar Tarakan, Kamis (21/12).

 

Sarifuddin tidak memungkiri terkait beredarnya SK tersebut ke publik Bumi Paguntaka. Namun, jika SK itu belum diserahkan secara resmi kepada kandidat, maka dapat dipastikan SK dukungan itu  bisa berpindah tangan ke kandidat lain. “Beda artinya jika, sudah diserahkan berarti tidak ada perubahan,” tambahnya.

 

Untuk kepastian waktu kapan memberikan SK ke kandidat yang akan mereka dukung. Hanura belum dapat memastikan. Sebab, kebijakan ada pada ketua umum. "Masih dirumuskan ketua, belum bisa dipastikan," singkatnya mengakhiri.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hanura, Ingkong Ala menegaskan, hingga saat ini DPP Partai Hanura belum ada menentukan pilihannya untuk mengusung pasangan mana.

 

“Belum ada putusan. Besok (hari ini), akan dilakukan pertemuan dengan DPP di Semarang. Mungkin di sana nanti akan ada keputusannya,” ujar Ingkong kepada Radar Tarakan saat ditemui di Kantor Bupati Bulungan, Kamis (21/12). “Jadi kalau ada isu bahwa kami (Hanura) ke Badrun, itu kami (DPD) belum tahu. Sejauh ini kami belum dapat putusan apa-apa,” sambung pria yang menjabat Wakil Bupati Bulungan ini.

 

Menurutnya, saling klaim dukungan dari partai itu merupakan hal yang biasa dalam dunia politik. Bahkan, hal seperti itu bukan kali pertamanya terjadi, tapi sudah sering saat menjelang pesta demokrasi seperti saat ini.

 

Disinggung mengenai komitmen Hanura ini, dirinya mengatakan memprioritaskan kader. Artinya, jika dukungan dalam bentuk SK itu tidak ditujukan ke dr. Khairul dan Effendhi, maka komitmen partai dapat dipertanyakan. “Komitmen partai memang ke kader. Tapi, kembali lagi bahwa keputusan tetap merupakan kebijakan DPP. Kami tetap mendukung siapa yang akan diusung oleh partai,” tegasnya.

 

Sebab, pada dasarnya semua pasangan itu baik. Hal itu terbukti dengan langkah yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengusulkan dua pasangan calon tersebut (Khairul-Effendhi dan Badrun-Ince) ke DPP.  “Intinya, siapapun yang akan diusung partai nanti, menurut saya tidak ada masalah. Jadi dalam hal ini kami tetap akan menunggu keputusan dari DPP. Kita tunggu saja nanti seperti apa,” sebutnya.

 

Terpisah, kader Hanura Effendhi Djuprianto yang juga merupakan pasangan dr. Khairul untuk meraih kursi orang nomor satu di Tarakan itu menuturkan, SK yang beredar itu dinilai janggal.

“Dalam SK yang nomor 46 itu, harus ada lembar keduanya. Nah, kalau yang ada tanda tangan Pak OSO itu kan hanya surat rekomendasi bukan SK. Coba saja lihat judulnya itu,” tutur lelaki yang pernah menjabat, Ketua DPRD Kota Tarakan tersebut.

Effendhi menyebutkan kedua foto SK yang beredar tersebut bukanlah menjadi satu kesatuan. Dia menduga, bahwa surat tersebut hanyalah hasil rekomendasi bukan keputusan. “Artinya, kemungkinan SK dari Hanura itu belum,” ucapnya.

Sebelumnya, Effendhi mengaku bersyukur dengan diterbitkannya SK Hanura tersebut. Baginya penerbitan SK dukungan murni hak DPP Hanura. Sehingga dia sebagai kader, tidak memiliki hak untuk memprotes. Namun dia juga memiliki hak untuk mengundurkan diri, dari partai yang membesarkan namanya tersebut.

 “Mau tidak mau saya harus mengundurkan diri dari kepengurusan Hanura. Karena itu sudah berbeda dari prinsip dan komitmen pengaderan partai,” tegas lelaki yang kini duduk sebagai legislator Kaltara.

Dia mengaku kecewa, sebab saat pelaksanaan rapat koordinasi dengan Hanura. DPP dengan tegas menyampaikan bahwa Hanura akan selalu mengutamakan kadernya. Artinya Effendhi sebagai kader akan didukung untuk maju pilwali bersama dr. Khairul.

“Kalau SK yang beredar itu benar terjadi. Berarti itu tidak sesuai dengan apa yang didengungkan oleh petinggi partai,” jelas Effendhi.

Namun jauh di lubuk hatinya terdalam, dia masih meyakini bahwa SK Hanura bisa berpihak dengannya. Hari ini rencananya Effendhi diminta oleh Sekjen DPP Sarifuffin Sudding untuk bertemu di Jakarta, membahas hal tersebut.

Sementara itu, dr. Khairul  mengungkapkan pada Oktober 2017 lalu, ia resmi mendapatkan surat rekomendasi dari Hanura, dengan syarat memiliki koalisi partai dan harus memiliki pasangan untuk maju di pilwali 2018. Dari hasil komunikasi tersebut, artinya dr. Khairul berhasil membangun komunikasi yang berbuah koalisi dengan dari Nasdem, Demokrat dan Hanura.

Untuk penentuan wakil, diakui dr. Khairul, setiap partai politik pengusungnya memang mengusulkan beberapa nama untuk dipilih. Akan tetapi, pada akhirnya menjatuhkan pilihan ke Effendhi Djuprianto, yakni figur yang berasal dari Hanura.

“Jadi memang awalnya sudah diusung partai. Jadi kalau memang terjadi demikian, kami tidak masalah jika tetap menggandeng Pak Effendhi,” terangnya.

Untuk diketahui, sejak dua minggu lalu dr. Khairul sempat ke Jakarta untuk berkomunikasi kepada DPP Hanura, namun ia mendapatkan jawaban bahwa hingga kini Hanura belum menyatakan sikap, apalagi mengeluarkan SK.

Di sisi lain, melihat kondisi tersebut pengamat politik di Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago menjelaskan, apa yang dilakukan DPP Hanura hal yang wajar dan tentunya, ada pertimbangan. Sebab, melihat dua pasagan calon itu memiliki peluang besar untuk memenangkan Pilwali Tarakan 2018 mendatang.  "Penilaian dari partai pengusung, pergerakan mesin partai untuk memenangkan calon jadi pertimbangan," kata Direktur Eksekutif Voxpol ini.

 

Kondisi tersebut sering terjadi disejumlah daerah. Belum lagi setelah pilkada serentak partai bakal dihadapkan dengan Pilpres 2019. Untuk itu, partai tidak ingin tumbang dan mengambil risiko karena ini berkelanjutan. "Dua tahun ke depan merupakan tahun politik. Jadi mesin partai harus bekerja mulai dari sekarang," jelas alumni Universitas Indonesia ini. (*/shy/akz/iwk/nri)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Juli 2019 10:39

Ada yang Padam Dua Kali Sehari

TARAKAN – Mulai hari ini, Sabtu (20/7) PT PLN (Persero)…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:37

Kembali ke THM, Minibus Putih Ditembak

TARAKAN - Satreskrim Polres Tarakan melakukan penyelidikan perkara penembakan terhadap…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:36

HM yang Ancam Kapolri, Sempat Demo di Jakarta

TARAKAN – Diduga melayangkan ancaman melalui media sosial (medsos) kepada…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:31

Pemkot Dukung Penuh Pawai Pembangunan

TARAKAN - Rencana pelaksanaan pawai pembangunan oleh Radar Tarakan dan…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:28

Hibahkan 2 Hektare untuk Bangun BPOM

TARAKAN – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berencana mendirikan…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:25

Lokasi Sekolah Baru Belum Final

ADANYA penambahan dua sekolah menengah pertama (SMP) pada 2019-2020, disambut…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:03

Koperasi di Kaltara Terlilit Utang Lama

TARAKAN - Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:01

Akses Embung Bengawan Dibenahi Sementara

TARAKAN- Kondisi akses jalan lingkungan menuju Embung Bengawan, Kelurahan Juata…

Sabtu, 20 Juli 2019 09:55

Perbaikan hanya Janji Belaka

TARAKAN - Rusaknya jalan yang terdapat di Jalan Aki Balak…

Jumat, 19 Juli 2019 09:44

Ramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Pawai pembangunan akan dilaksanakan dalam 31 hari lagi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*