MANAGED BY:
JUMAT
20 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 11 Desember 2017 11:35
Lambang Tujuh Hari Kehidupan

Bentuk Rasa Syukur Kepada Maha Pencipta

PROSES: Pengerjaan Padaw Tuju Dulung dan Maligay di area Balai Adat Tidung Tarakan. Diperkirakan proses pengerjaan akan selesai Kamis (10/12). Rencananya akan diturunkan dalam perayaan upacara Iraw Tengkayu, pada Minggu 16 Desember 2017 mendatang. JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Jika Bulukumba Sulawesi Selatan identik dengan Pinisi, sama halnya dengan Bumi Paguntaka yang identik dengan Padaw Tuju Dulung. Hanya saja, Padaw Tuju Dulung ini adalah perahu, notabene lebih kecil dari kapal. Perahu yang setiap perayaan Iraw Tengkayu harus selalu ada. Namun, apakah Anda mengetahui arti dari setiap ornamen-ornamen yang ada di perahu khas suku Tidung? Berikut liputannya.

-----------------------------------

Masyarakat Tarakan pasti sudah tidak asing dengan perahu yang identik dengan perayaan Iraw Tengkayu ini. Perayaan yang selalu ada setiap hari ulang tahun (HUT) Bumi Paguntaka.Tak hanya masyarakat Tarakan saja yang menunggu perayaan dua tahun sekali ini. Tetapi wisatawan dari luar juga sering meluangkan waktunya, hanya untuk menyaksikan sendiri pesta rakyat ini.

Padaw berasal dari bahasa suku Tidung yang artinya perahu. Tuju Dulung artinya tujuh haluan. Dulunya perahu ini yang kerap kali digunakan masyarakat suku Tidung, yang saat itu bekerja sebagai nelayan di perairan Kaltara.

Radar Tarakan mencoba menemui, sang pengarah prosesi penurunan Padaw Tuju Dulung, Iraw Tengkayu 2017, Datu Norbeck menceritakan prosesi ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas, limpahan rezeki dari Sang Maha Pencipta.

 “Jadi pada prinsipnya ini adalah tempat menghanyutkan sesaji. Pada keyakinan orang tua dulu, sesaji yang dihantarkan itu tergantung komunikasi pawang dengan alam gaib. Apa yang mereka mau, itu yang disajikan. Tapi untuk perayaan Iraw Tengkayu ini, kami hanya menyiapkan sesaji yang sifatnya standar seperti beras ketan kuning merah, hitam, putih, kemudian juga nasi, telur ayam, ayam panggang, dan pisang hijau yang jumlahnya harus ganjil. Dengan syarat tidak boleh menawar saat membeli bahan-bahannya,” cerita Datu Norbeck mengawali.

 Padaw Tuju Dulung merupakan budaya kaum nelayan. Sebab, dahulu Tarakan merupakan pulau kecil yang penduduk aslinya yang merupakan suku Tidung dengan mata pencaharian sebagai nelayan.

“Yang biasa kami pakai ini kelihatannya memang aneh karena tujuh haluan. Bentuk haluan perahunya bercabang tiga. Haluan tengah berusun tiga. Haluan kanan dan kiri masing-masing bersusun dua. Maka terdapat tujuh haluan yang dimaksudkan dari jumlah hari dalam seminggu. Di mana kehidupan manusia itu berlangsung dari Senin hingga Minggu,” ungkap pemilik sanggar tari SBT Paguntaka.

Tak hanya itu, Padaw Tuju Dulung juga memiliki lima tiang yang berdiri tegak. Itu melambangkan dengan salat lima waktu. Lalu di tengah perahu, terdapat maligay atau rumah-rumahan yang terdiri dari empat pintu, yang berarti empat mazhab dalam agama Islam.

“Setelah masyarakat suku Tidung menganut agama Islam, Padaw Tuju Dulung  ini semata-mata hanya perayaan budaya. Tidak lagi seperti dulu. Filosofinya pun sudah menyesuaikan dengan kaidah agama Islam,” tutur lelaki yang masih semangat mengenalkan budaya suku Tidung ke generasi muda ini.

Tak hanya ornamennya saja yang unik, Padaw Tuju Dulung juga memiliki berbagai macam warna yang identik dengan suku Tidung. Masyarakat Tidung pesisir, memiliki tiga warna dasar yang disebut ulos artinya strata masyarakat. Warna-warna terdiri dari kuning, hijau dan putih. Kuning merupakan warna bagi para bangsawan. Hijau untuk para pendatang yang dihormati. Putih melambangkan tokoh masyarakat yang bersahaja.

“Jadi bisa dimaknai kuning itu kemuliaan, kehormatan, keagungan. Lalu, hijau itu kepercayaan dan keyakinan, dan putih itu pengabdian, bersih, dan tulus,” tambahnya.

Meski memiliki tiga warna dasar, pada Padaw Tuju Dulung warna putih tidak turut disematkan. Hal itu dikarenakan, pada pemahaman masyarakat pesisir, putih dan hitam bukanlah warna. Sehingga untuk menyatukan kuning, dan hijau, dipilihlah warna merah agar Padaw Tuju Dulung terlihat besipot yang berarti lebih cantik.

“Jadi di dalam dekorasi putih itu diganti dengan merah agar dekorasi lebih cantik atau kontras. Merah punya makna ketegasan. Hitam juga biasa digunakan untuk memberi aksen supaya jelas, jadi dia semacam keteguhan. Jadi itulah filosofinya secara umum,” ungkapnya.

Dalam keyakinannya, pembuatan Padaw Tuju Dulung semestinya berukuran tujuh dipa atau sekitar 12 meter. Lalu, pada proses pembuatannya juga melalui beberapa tahapan ritual khusus.

Selain bertujuan menunjukkan rasa syukur penurunan padaw juga dipercaya untuk meminta kesembuhan atas penyakit yang dialami. Namun, budaya itu telah bergeser sejak 1916, di mana Datu Adil sebagai raja Tidung terakhir saat itu diculik dan diasingkan oleh Belanda. H

“Memang ada ritual tapi hanya untuk orang-orang tertentu saja, kalau untuk Iraw ini, kami hanya pakai yang standar dan berdoa secara Islam, untuk ukurannya kami juga hanya membuat ukuran 7 meter,” katanya.

Pada pelaksanaan penurunan Padaw biasanya dilakukan pada saat hitungan air mati atau jadi, atau biasa disebut bubung air pada pertengahan bulan. Namun, Padaw diturunkan saat air surut dan dipikul beberapa orang.

Dipercaya perahu yang dihanyutkan ini nantinya, akan bermuara menuju laut kaljum, di mana di tengahnya terdapat pusaran air dengan kayu berdiri tegak di tengahnya yang disebut kayu janggi, konon di sana lah pusat bumi.

Selain puncak penurunan Padaw Tuju Dulung, nantinya juga akan ada tarian kolosal yang diikuti 200 siswa dari perwakilan sekolah menengah atas (SMA) di Kota Tarakan.

“Jadi Iraw Tengkayu ini merupakan perayaan, yang meliputi kegiatan makan, minum, dan menari, yang artinya bersuka ria dan memang sejak zaman dulu menari itu sudah ada,” jelasnya.

Perayaan Iraw Tengkayu tahun ini, para penari akan membawakan tiga jenis tarian. Yakni iluk sedungan yang berarti tari gembira. Busak kambang atau bunga mekar yang bersumber dari kesenian japin. Lalu, ulin lingkuda, kepulangan sang pemimpin.

“Makna dari ketiga rangkaian tarian itu masyarakat Kota Tarakan yang berbahagia menyambut kepulangan sang pemimpin pemenang. Karena  Iraw Tengkayu sudah memperoleh predikat satu sebagai perayaan terpopuler tingkat nasional pada 2016,” ungkapnya. (ega/nri)


BACA JUGA

Jumat, 20 Juli 2018 12:08

Deadline Ganti Rugi Belum Pasti

TARAKAN – Gangguan sistem jaringan yang sempat dirasakan kurang lebih 200 pelanggan karena tidak…

Jumat, 20 Juli 2018 12:05

Lakukan Perbaikan Optimis Raih WTP

TARAKAN – Wali Kota Tarakan Sofian Raga berharap laporan keuangan selanjutnya bisa mendapatkan…

Jumat, 20 Juli 2018 12:04

Kesbangpol Belum Lakukan Verifikasi

TARAKAN – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan, Agus Sutanto menegaskan…

Jumat, 20 Juli 2018 11:29

Sisihkan APBD untuk Lansia

Tarakan—Angka harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Hal itu seiiring…

Jumat, 20 Juli 2018 11:28

Penutup Gorong-Gorong Rusak

TARAKAN – Rutin mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang diadakan setiap…

Jumat, 20 Juli 2018 11:26

JR Otak Curanmor di Tiga Lokasi

TARAKAN – Selain sebagai pelaku pencurian 38 aki tower milik Telkomsel dan XL, JR yang sebelumnya…

Jumat, 20 Juli 2018 11:23

Usai Menegur, Kepala MS Berdarah

TARAKAN – Niat hanya menegur tetangganya, RA, yang menambatkan kapalnya tidak di lokasi semestinya,…

Kamis, 19 Juli 2018 21:15

Stok Air Tersisa untuk Tiga Hari

TARAKAN - Kondisi air bersih di Bumi Paguntaka kian krisis. Komposisi air di tiga embung sudah semakin…

Kamis, 19 Juli 2018 21:12

Transportasi Online Dianggap Ilegal

TARAKAN – Kemarin, aksi damai kembali dilakukan Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI)…

Kamis, 19 Juli 2018 11:34

Ratusan Sopir Angkot Demo Tolak Grab

TARAKAN - Ratusan sopirĀ  angkot yang tergabung dalam SPTI dan sopir angkutan konvensional lainnya, Kamis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .