MANAGED BY:
SELASA
21 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 11 Desember 2017 11:30
Pening Jadi Debt Collector hingga Tak Diangkat Jadi Karyawan

Perjalanan Karir Titus Sri Hardianto, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tarakan

PEKERJA KERAS: Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tarakan, Titus Sri Hardianto di ruang kerjanya, kemarin (10/12). LISAWAN YOSEPH LOBO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Titus Sri Hardianto merasa kerasan di Kalimantan Utara. Ayah tiga anak asal Sidoarjo, Jawa Timur itu telah menjabat Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Tarakan selama 14 bulan. Perjalanan panjang mengantarkan dia hingga kariernya seperti sekarang. Seperti apa perjalanan hidup Titus –akrab disapa. Berikut liputannya.

LISAWAN YOSEPH LOBO

TITUS muda menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) di Universitas Jember, Jawa Timur pada 1998 silam. Menyandang status sarjana ekonomi, Titus sadar harus segera bekerja setelah kelulusan itu.

Di benaknya, pekerjaan tak harus dipilih-pilih. Yang penting bisa bekerja. Akhirnya ia menyerahkan sebuah surat lamaran kerja di diler yang bergerak di penjualan kendaraan roda dua. Titus diterima. Tapi tidak bertahan lama, hanya dua bulan. Pekerjaan sebagai debt collector ternyata sulit.

“Saya tidak betah karena hanya berhadapan dengan orang yang bermasalah. Namanya juga kredit pasti orangnya bermasalah,” tuturnya sambil tertawa lepas.

Beberapa bulan kemudian, awal tahun 1999, ia diterima di salah satu bank swasta di Surabaya. Saat masyarakat masih merasakan dampak dari krisis moneter. Titus bekerja di bagian pasar tradisional. Ia menikmatinya, lebih enjoy dan tidak terikat.

Titus merasa lebih bisa diterima orang, lebih banyak mengenal pedagang yang memberinya banyak pengalaman.

“Kenal dengan pedagang sesuatu yang baik. Karena kita lebih tahu kehidupan mereka seperti apa,” kenang Titus.

Dua tahun bekerja di perbankan, ia menyakinkan diri. Meminta segera diangkat menjadi pegawai tetap. Karena permintaannya tak diterima manajemen, Titus memilih mundur.

“Pada saat itu hanya sebagai tenaga kontrak, tidak diangkat-angkat sebagai karyawan,” katanya sambil tertawa.

Tepat 2001, ia bekerja di PT Asuransi Kesehatan (Askes) Indonesia yang dinaungi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Diterima sebagai staf di Kantor PT Askes Cabang Karawang. Tiga tahun berikutnya, dia dimutasi ke Kantor PT Askes Cabang Cirebon sebagai staf di Bagian Kepesertaan dan Pemasaran. Karena memang pada saat itu, PT Askes mempunyai produk asuransi komersial yang dipasarkan lewat perusahaan-perusahaan swasta.

2005, dia dimutasi lagi ke Kantor PT Askes Wilayah Jawa Timur, sebagai staf pelaporan. Meski dipindahkan tugas ke mana saja, Titus selalu menerima. Akhirnya 2009 dia dipromosikan sebagai Asisten Manajer Bidang Kepesertaan dan Pemasaran di Kantor PT Askes Cabang Banyuwangi. Tepat 2013, dia dimutasi lagi ke Gresik yang masih dinaungi Kantor Cabang Surabaya.

“Jadi saya bertanggung jawab terhadap pelayanan PT Askes pada satu kota,” jelasnya.

2014, PT Askes berkembang menjadi BPJS Kesehatan. Hal ini sejalan dengan implementasi Undang-Undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional dan Undang-Undang nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

“Jadi BPJS Kesehatan ditunjuk oleh negara untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan nasional,” ucapnya memberi informasi.

2016, dia dipromosikan ke Tarakan sebagai Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tarakan. Tentu perasaannya bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Dia bahagia karena selama ini kinerjanya diperhatikan dan dinilai baik. Namun ia merasa sedih karena ia sadar akan ditempatkan jauh dari keluarga.

Tetapi dia berusaha melanjutkan tekadnya dan berpikir positif bahwa di balik sesuatu pasti ada hikmah yang tersembunyi.

“Jadi dengan begitu rasa sedih hilang dan berangkat ke Tarakan dengan semangat,” ujarnya.

Apalagi dia membawahi lima kabupaten/kota di seluruh wilayah Kaltara. Perbedaan yang paling jelas mengenai geografis Pulau Tarakan. Lautan lebih mendominasi, sehingga moda transportasi perairan lebih dominan. Setiap bepergian, bisa berjam-jam di atas air.

Membandingkan dengan kota-kota sebelumnya, di setiap perjalanan, satu jam bisa melewati beberapa kota. Tapi tidak di Kaltara.

Bahkan sejak menjabat dari September 2016 lalu, ia pernah merasakan perjalanan di sungai selama enam jam, tepatnya dari Malinau ke Bulungan.

“Padahal kalau di Jawa, perjalanan dua jam saja sudah pindah kantor cabang karena wilayahnya sudah beda,” ucapnya sambil tersenyum.

Mensiasati itu, ketika harus keluar kota, biasanya Titus mempersiapkan jauh hari sebelumnya. Awalnya terasa sulit, namun karena sudah terbiasa akhirnya Titus menikmati setiap perjalanan dinas luarnya.

“Kerja di BPJS Kesehatan Cabang Tarakan seperti berpetualangan karena faktor lautan yang lebih mendominasi,” terangnya.

Diceritakan Titus, pengalaman pertama dia dapatkan pada saat baru satu minggu dia bertugas di Tarakan. Saat itu, dia langsung melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Nunukan. Di Nunukan, ada penandatanganan kerja sama dengan Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang disaksikan oleh Bupati Nunukan, Hj. Asmin Laura Hafidz. Dari serangkaian kegiatan sosialisasi, diskusi dengan warga berlangsung lama. Padahal dia dan stafnya sudah terlanjur memesan tiket speedboat pukul 14.00 Wita menuju Tarakan. Namun karena acara belum selesai, akhirnya dia memutuskan untuk berpamitan dan mengejar jam keberangkatan. Namun setibanya di pelabuhan, ternyata speedboat yang seharusnya ditumpangi sudah berlayar.

“Jadi terpaksa menginap semalam di Nunukan. Karena pengalaman itu kami sudah tidak pesan tiket dengan cepat, kalau memang harus nginap kita tinggal dulu,” kenangnya.

Pengalaman kedua, lanjut Titus, dalam perjalanan dinas dari Malinau ke Bulungan dengan mobil operasional kantor. Kebetulan kondisi jalan banyak yang rusak dan berlubang. Pada saat itu mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Lubang besar di depan mata nyaris saja membawa maut. Mobil serasa “terbang” shockbreaker mengayung setelah dua roda depan menginjak lubang.

“Seperti terbang. Saya pikir sudah terbalik. Itu di tengah hutan, tidak ada kendaraan lewat. Tapi untungnya mobil masih bisa jalan, setelah sampai, harus masuk bengkel,” kisah Titus.

Perjalanan karier yang diceritakannya sebenarnya tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Pada saat umur 10 tahun, saat masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar Negeri 5 Surabaya, ayahnya meninggal dunia. Pahit yang dia rasakan, kehilangan sosok penting saat usianya masih belia. “Saya kelas 5 SD, adikku kelas 3 SD dan yang terakhir masih umur 3 tahun,” ucap sulung tiga bersaudara itu.

Ibunya tidak memiliki pekerjaan dan kebetulan almarhum ayahnya sebagai PNS golongan II. Sehingga ibunya hanya berharap dari uang pensiun almarhum sang ayah. “Alhamdulillah kita tetap punya semangat. Satu sisi aku melihat orang yang hidupnya serba kekurangan tetapi ulet, akhirnya bisa berhasil. Jadi hal semacam itu yang menjadi inspirasi untuk tetap bisa menunjukkan bahwa kita juga bisa,” tegasnya.

Pedoman yang paling dia pegang, bahwasanya hidup di dunia ini tidak terlepas dari restu orang tua. Oleh karena itu, dia berusaha agar sikapnya tidak melukai hati orang tua.

“Karena ridaAllah tergantung dari orang tua, jangan sampai melukai hati orang tua, apalagi ibu yang paling mujarab,” tuturnya dengan tegas.

Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya putus asa untuk menimba ilmu, akhirnya dia kuliah di Universitas Jember pada 1992. Dia kuliah sambil bekerja sebagai penanggung jawab asrama putra. Karena pada saat itu ada pusdiklat bulu tangkis yang disponsori oleh JPNN, Jawa Pos.

“Kalau tempat tinggal dan makan sudah sepaket dalam mes atlet, jadi tinggal sisipkan untuk bayar uang kuliah. Sementara kedua adikku kuliah dan dibiayai negara. Jadi semua kalau ada kemauan pasti Tuhan buka jalan,” ucapnya sambil bersyukur.

Tentu mencari ilmu sambil kuliah tidak mudah, apalagi saat ada turnamen di luar kota, sehingga dengan terpaksa dia meninggalkan mata kuliah.

“Makanya saya kuliah memakan waktu hampir enam tahun,” kata pria murah senyum ini.

Jika berbicara mengenai keluarganya, setiap dua minggu sekali dia mengunjungi istri dan tiga orang anaknya di Sidoarjo, Jawa Timur. Sabtu dan Minggu dia optimalkan untuk anak-anaknya. Dia merasa tidak punya waktu banyak untuk keluarganya. Tetapi dia ingin memberikan waktu yang berkualitas kepada keluarganya.

“Kalau Sabtu saya jemput anak sekolah. Minggu anak-anak minta dibawa jalan-jalan. Jadi kita penuhi karena memang tidak punya waktu secara kuantitas, tapi kualitas yang diutamakan,” tutup Titus. (*)


BACA JUGA

Selasa, 21 Agustus 2018 16:54

Kuota Angkutan Online Se-Kaltara 191 Unit

TARAKAN- Pengoperasian kendaraan online atau angkutan sewa khusus belum dibuka, kendati diketahui kuota…

Selasa, 21 Agustus 2018 16:12

Optimis PAD Sampai Target

TARAKAN - Meski jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) saat ini baru mencapai 30 persen, namun pihak pemerintah…

Selasa, 21 Agustus 2018 16:09

Inginkan Wilayah Pesisir Diperhatikan

TARAKAN—Hingga 2018, wilayah RT 2 Kelurahan Karang Anyar Pantai, belum mendapat bantuan perbaikan…

Selasa, 21 Agustus 2018 16:00

Predikat SAKIP Tarakan Masih C

TARAKAN - Predikat Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang diperoleh Bumi Paguntaka…

Selasa, 21 Agustus 2018 14:28

Dua Pelaku Penerima Sabu 1 Kg Berhasil Dibekuk di Makassar

  TARAKAN - Polres Tarakan bekerja sama dengan Polda Sulsel, Kamis (16/8) berhasil membekuk dua…

Senin, 20 Agustus 2018 23:59

RASAKAN..!! Kapal Illegal Fishing Ditenggelamkan

TARAKAN – Penenggelaman kapal ikan asing (KIA) yang melakukan illegal fishing digelar serentak…

Senin, 20 Agustus 2018 23:43

SUDAH TAK WAJAR..!! Harga Ayam Potong di Tarakan

TARAKAN – Harga daging ayam di sejumlah pasar masih saja berpolemik. Berkaca dari Hari Raya Idulfitri…

Senin, 20 Agustus 2018 17:32

Sabu Dikirim via Kargo

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara) bersama Bandara Internasional Juwata…

Senin, 20 Agustus 2018 17:30

Jaringan Tiga Kabupaten Blackout

TARAKAN - Ruang baterai Site Telkom Mamburungan Minggu (19/8) malam hangus terbakar. Belum diketahui…

Senin, 20 Agustus 2018 17:23

Dilanda Suhu Panas, Jamaah Lebih Banyak di Hotel

SUHU panas di Kota Makkah yang mencapai 46 derajat celcius membuat para jamaah calon haji diimbau untuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .