MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Kamis, 07 Desember 2017 13:16
Mereka Sekolah Keluar Negeri Setiap Hari

Secercah Harapan Hidup, Warga di Beranda Negara (3-Habis)

PENUH SEMANGAT: Beginilah kondisi anak-anak Dusun Bergosong, Tawau Malaysia yang harus berjalan kaki 10 kilometer untuk bersekolah di Sebatik. RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Jika sudah memiliki tekad, apapun kesulitan dan tantangan akan dihadapi demi masa depan yang gemilang. Puluhan tunas bangsa yang tinggal di Dusun Bergosong, Tawau - Malaysia ini berjuang lebih keras agar bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Rury Jamianto, SEBATIK

PERJALANAN penulis dari Dusun Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan menuju Dusun Lourdes bersama Nur dan Petrus, Sabtu 25 November lalu, dilakukan pagi sekali. Jarum jam masih menunjukkan pukul 05.48 Wita. Matahari baru mulai menampakkan sinar cahaya dari balik bukit yang menjulang tinggi.

Senyuman hangat matahari memberikan semangat, seraya memanjakan pandangan seketika terlihat hamparan sawah yang masih hijau.

Kicauan khas suara burung beo silih berganti ikut menambah syahdunya alam perbukitan, seakan memberikan salam selamat jalan kepada kami bertiga.

Kurang lebih empat kilometer berjalan kaki, dan waktu pun menunjukkan pukul 07.30 Wita. Tibalah penulis di sebuah sekolah kayu nan kokoh, namun sangat memprihatinkan.

Sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter persegi itu merupakan sekolah tumpuan. Sekolah SD Negeri satu-satunya yang berada di Dusun Lourdes.

Sekolah ini sangat penting bagi masa depan anak-anak dari Dusun Lourdes, Dusun Liang Bunyu serta dari Dusun Bergosong. Hampir 50 persen peserta didik yang mengenyam pendidikan di sekolah ini adalah anak-anak TKI. Sepintas pandangan mata, sekolah ini sangat memprihatinkan. Bersama Petrus dan Nur, penulis menjajaki satu persatu tangga bukit menuju sekolah.

Benar saja. Meja belajar yang terbuat dari kayu itu terlihat bolong. Lantainya langsung ke permukaan tanah berpasir tak beraturan. Jika dipijak, lantainya tidak rata.

Meski kondisinya seperti ini, anak-anak yang bersekolah tetap semangat untuk belajar. Yah, ruangan itu adalah ruangan bagi anak-anak yang masih duduk di kelas satu hingga kelas tiga.

Sebenarnya gedung SDN 005 ini hanya ada satu. Tapi karena tidak cukup menampung anak-anak ini, maka penduduk sekitar berinisiatif membangun gedung kayu seadanya untuk mereka belajar. Gedung itu persis di sebelahnya.

Satu gedung beralaskan kayu, dan satunya lagi beralaskan pasir. Setiap gedung memiliki tiga ruang kelas.

Sambil melihat kondisi sekolah, ternyata ada seorang murid yang terduduk diam di sudut ruang kelas seraya memegang perutnya, seperti menahan rasa sakit. Penulis pun menghampirinya sembari bertanya.

“Kamu kenapa dik?” tanyaku saat itu.

Awalnya ia menolak untuk menjawab pertanyaan penulis. Lidahnya ‘terkunci’ seolah ada batu besar yang mengganjal isi hatinya.

Setelah beberapa saat mencoba mendekati, ia mulai terlihat lebih tenang. Penulis mencoba mendengarkan pelan-pelan apa yang membuatnya seperti ini. “Saya lapar kak, tidak ada uang jajan. Makanan saya tertinggal di rumah, di Dusun Bergosong,” ungkap Markus (7).

Mendengar keluhnya saat itu, penulis pun bergegas mengambil dompet dari dalam tas. Namun baru teringat, ternyata penulis belum mengambil uang di ATM dan hanya menemukan uang selembaran ringgit, senilai satu ringgit yang jika dirupiahkan hanya Rp 3.400.

Mendengar uang ringgit, ia berkata, uang Malaysia ini laku jika dibelanjakan di sekolahnya.

“Benar ini laku? Yah sudah, kamu ambil saja, pakai beli makanan,” jawabku.

Seketika, ia pun berdiri dan mengambil uang ringgit berwarna biru itu. Air matanya yang menetes di pipinya kemudian diusap dengan tangan kanannya. Sambil berlari, ia menuju sebuah bukit di sisi kiri sekolahnya. Penulis ikut melihat bagaimana dengan lahapnya ia menyantap nasi putih dengan lauk mi kuning.

Tak lama kemudian, lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak di SDN 005 berlarian menuju ruangan masing-masing. Sementara penulis mencoba mengunjungi ruang guru. Di pintu ruang guru, penulis bertemu dengan seorang guru bernama Andreas Baha (39).

Ia merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sekolah ini. Dengan keramahannya, Andreas pun meluangkan waktunya sejenak untuk berbincang-bincang dengan penulis.

Pria asal Lewoleba, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menceritakan bagaimana anak-anak di SDN 005, baik dari Dusun Lourdes, Dusun Liang Bunyu, dan anak-anak TKI dari Dusun Bergosong Malaysia, berjuang mengenyam pendidikan.

“Di SDN 005 Dusun Lourdes, ada 54 anak TKI yang datang dari Dusun Bergosong untuk belajar di sini. Baik itu yang pulang pergi Indonesia-Malaysia, maupun yang menginap di rumah warga agar tidak terlambat pergi ke sekolah,” kata Andreas.

Selama 13 tahun ia mengabdi sebagai guru dan akhirnya menjadi PNS, ia menyaksikan langsung bagaimana anak-anak TKI dari negara tetangga berjalan kaki untuk bisa sampai ke Indonesia menggapai mimpinya.

“Mereka berjalan kaki setiap pagi. Pulang di kala terik matahari. Lewati bukit terjal dan masuk ke kebun warga yang menanam pohon coklat, lalu melintasi hutan dan menyusuri ribuan pohon kelapa sawit milik Malaysia,” kata Andreas.

Jalur ini menjadi santapan setiap hari anak didiknya. Meski begitu, mereka tidak pernah mengeluh. Anak-anak ini sangat bersemangat untuk sekolah di Indonesia. “Anak-anak dari Dusun Bergosong ini setiap hari berjalan kaki berkilo-kilometer untuk bisa bersekolah. Dan mereka berprestasi di sekolah. Seperti Ana dan Nizam yang duduk di bangku kelas enam,” lanjut Andreas dengan bangganya.

Di sekolah ini, para guru tidak memberlakukan aturan ketat bagi muridnya, terutama yang dari Dusun Bergosong karena datang terlambat.

Murid yang datang terlambat dan basah kuyup karena menempuh perjalanan jauh tetap diperbolehkan mengikuti pelajaran seperti biasa. “Kami juga tidak tega dengan kondisi mereka seperti itu. Masa mau dihukum. Tapi setahu saya mereka ini anaknya disiplin dan tepat waktu. Terlambat itu ada, namun jika cuaca buruk seperti hujan,” bebernya.

Mendengar cerita Andreas, penulis tertantang untuk melihat langsung bagaimana anak-anak Dusun Bergosong ini berjalan kaki melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap harinya.

Andreas memberi gambaran, untuk sampai ke Dusun Bergosong hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Jaraknya sekitar 10 kilometer, dengan waktu tempuh 3 jam perjalanan (jika tidak hujan).

JAJAKI PERJALANAN SEKOLAH PULANG PERGI KE MALAYSIA

Sepulang sekolah, pukul 12.00 Wita, Andreas pun mempertemukan penulis dengan beberapa anak-anak dari Dusun Bergosong. Termasuk Ana dan Nizam yang merupakan murid berprestasi dari Dusun Bergosong. Andreas menyampaikan kepada mereka bahwa Radar Tarakan akan mengikuti mereka sampai ke dusun.

Mendengar hal tersebut, anak-anak ini sontak bergirangan dan penuh semangat.

Tanpa menunggu lama, setapak demi setapak jalan pun kami lalui bersama. Menanjaki satu persatu bukit tak menghalangi penulis untuk bisa sampai ke wilayah Malaysia, tempat mereka tinggal.

Tawa serta candaan menghiasi selama perjalanan. Hingga teriknya panas matahari di suhu 30 derajat celcius pun tak terasa lagi. Pandangan mata penulis tertuju ke setiap langkah kaki anak-anak ini. Sepatu yang bercampur lumpur serta warnanya yang sudah memudar itu, tetap tak menghalangi jalan. Menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya membuat perjalanan begitu semangat.

25 menit berjalan, kami beristirahat sejenak di balik pohon pisang milik warga Dusun Lourdes. Anak-anak kecil ini kembali bercanda. Tak beberapa lama kemudian, cuaca mulai mendung. Penulis dan anak-anak ini kembali melanjutkan perjalanan sebelum hujan datang. Sebagian ada yang berlari untuk mencapai bukit yang menanjak.

Penulis pun ikut berlari terbawa suasana antusiasnya anak-anak, hingga berat badan 80 kilogram ini membuat tubuh kian lelah untuk berjalan lagi.

Hebatnya, tak pernah sekalipun terucap dari bibir mereka kata mengeluh, apalagi mengatakan kata lelah. Hanya canda serta tawa yang kerap mengisi perjalanan ini.

Sampai di bukit, kami kembali menyaksikan sebuah perusahaan besar menjulang tinggi dengan asap pekatnya. Dikatakan anak-anak Dusun Bergosong, itu adalah tempat orang tua mereka mengais rezeki, yakni di perusahaan kelapa sawit milik Malaysia.

Hingga memasuki area kebun pohon coklat milik warga Dusun Lourdes, jalan setapak mulai licin. Bahkan saat menuruni tanjakan, penulis sempat terpeleset lantaran tanah di perkebunan ini begitu licin. Ditambah banyaknya daun berserakan.

Perjalanan ini pun membuat sebagian anak-anak lapar dan haus. Namun karena tidak ada toko ataupun kios yang menjual air minum, perjalanan terus berlanjut meski tenggorokan terasa kering di leher. Menuruni bukit, pohon coklat pun menjadi pegangan penulis beserta anak-anak ini. Karena jika tidak berhati-hati bisa saja tergelincir dan kepala terbentur pepohonan.

Waktu sudah mulai sore. Jarum jam menujukkan pukul 15.35 Wita. Ribuan kelapa sawit pun mulai terlihat, anak-anak Dusun Bergosong lantas bersorak menandakan bahwa kami sudah akan sampai ke rumah.

Dalam hati, penulis akhirnya merasakan langsung bagaimana penderitaan mereka yang tak pernah lelah menyeberangi bukit terjal dan hutan belantara demi cita-cita yang sangat sederhana namun sarat makna ini. Yakni ingin mengubah keadaan.

Sebelum memasuki wilayah Dusun Bergosong, penulis dan anak-anak ini beristirahat sejenak di bawah pohon kelapa sawit untuk kesekian kalinya. Penulis pun mencoba mendengarkan keluh kesah serta impian mereka untuk masa depan kelak. Duduk manis, dengan wajah penuh keringat dan kelelahan.

Penulis pun berbincang dengan salah seorang murid bernama Ana. Gadis berusia 12 tahun ini merupakan anak TKI dari Dusun Bergosong, Tawau-Malaysia. Ia rela menempuh jarak puluhan kilometer, menembus hutan belantara, ribuan pohon kelapa sawit dan perbukitan dari rumah ke sekolahnya dengan berjalan kaki.

Dikatakan Ana, seperti inilah keadaan dia dan teman-temannya. Setiap hari, agar tidak terlambat tiba di sekolah pada pukul 07.30 pagi, Ana dan teman-temannya harus berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 subuh. Oleh karena itu, dia harus bangun lebih subuh lagi.

Sebab untuk bisa sampai ke Dusun Lourdes yang sudah masuk wilayah Indonesia, jalan terdekat adalah melewati perkebunan coklat tadi. Kondisi jalan yang becek serta harus melewati hutan dan pohon kelapa sawit ini kerap membuat seragam sekolah mereka kotor.

“Kami sering basah kuyup karena kehujanan di perjalanan sebelum sampai ke sekolah. Kadang kami diejek teman-teman di sekolah karena pakaian yang kotor bercampur lumpur,” lanjut Ana.

Supaya tidak mendapatkan ejekan setiap tiba di sekolah, anak-anak dari Dusun Bergosong ini pun mencari cara agar sepatu dan seragam mereka tetap bersih. Yaitu memasukkan seragam serta sepatu ke dalam tas. Mereka memilih mengenakan baju biasa serta sandal jepit untuk berjalan kaki menuju sekolah.

“Semenjak itu kami tidak diejek lagi. Karena kalau sampai di sekolah kami langsung ganti seragam,” katanya.

Ana merupakan salah satu murid berprestasi di sekolahnya. Ia langganan juara dua di kelasnya. Meski ia tidak tinggal di Indonesia, namun jiwa raganya sepenuhnya untuk Indonesia. Ana memiliki cita-cita mulia. Ia ingin menjadi seorang guru untuk membantu anak-anak yang berada di perbatasan.

“Karena jika besar kelak aku pasti bisa mengubah kondisi kami. Anak bangsa harus bisa mengenyam pendidikan,” ucap Ana sambil tersenyum kala itu.

Sementara itu, Muhammad Nizam (13) yang saat ini duduk di bangku kelas enam SD, merupakan seorang remaja multitalent yang sangat enerjik. Selain mendapat juara satu di kelasnya, ia juga gemar mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pramuka. “Aku kalau besar nanti mau menjadi tentara. Karena ingin membahagiakan kedua orang tua, dan menjaga wilayah perbatasan ini,” kata Nizam, yang disambut gembira teman-teman seperjuangannya ini.

Kata Nizam, ia sangat sedih ketika melihat kedua orang tuanya harus bekerja dari pagi sampai malam. Sehingga untuk mencapai impiannya, Nizam pun sangat bersungguh-sungguh dalam belajar.

“Ibu pernah berkata, apa yang saya mimpikan harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Meski sekolah jauh, bukan halangan untuk bisa menempuh pendidikan,” kata Nizam dengan mata berkaca-kaca.

Waktu semakin sore, mereka pun melanjutkan perjalanannya. Untuk terakhir kalinya mereka menyampaikan pesan yang sarat makna.

Kepada penulis, mereka meminta untuk kerap dikunjungi dan diperhatikan seperti anak-anak kota lainnya. “Ke sini lagi yah kak. Bawakan kami sepatu dan seragam sekolah,” pesan Nizam seraya melambaikan tangan kepada penulis yang harus kembali ke Tanah Air, Sebatik.(*/ddq)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Desember 2017 08:20

Pembayaran PL Belum Tuntas

TARAKAN – Sejumlah kegiatan penunjukan langsung (PL) 2016 lalu belum juga dibayar, bahkan meninggalkan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:19

Pemerintah Prioritaskan Pembangunan

TARAKAN- Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tarakan yang ke-20 kemarin dirayakan di area Sport Center,…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:17

Potensi Kaltara Banyak Dilirik Pengusaha Malaysia

TARAKAN – Potensi Kalimantan Utara (Kaltara) bak emas tersembunyi. Karena saat ini banyak perusahaan-perusahaan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:16

Museum Berbayar, Pengunjung Tetap Banyak

TARAKAN - Museum Perang Dunia II dan Museum Perminyakan Kota Tarakan, saat ini menjadi salah satu ikon…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:14

Diklaim Dua Kubu, Hanura Bimbang

TARAKAN - Setelah sekian lama bungkam, Partai Hati Nurani Rakyat akhirnya membuka membeberkan soal siapa…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:10

Ajukan Penangguhan, Perusahaan Harus Diaudit

TARAKAN – Sebelum diberlakukannya upah minimum kota (UMK) Tarakan 1 Januari 2018, pemerintah memberikan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:09

AM dan HR Saling Tunjuk

TARAKAN – Langkah dua incaran Satreskoba Polres Tarakan akhirnya terhenti. Mereka yang diketahui…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:06

Laporkan Harta Tak Dikenakan Sanksi

TARAKAN – Direktorat Jenderal Pajak pada Kementerian Keuangan beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:04

PARAH NI ORANG..!! Baru Bebas 4 Hari, Kembali Masuk Bui

TARAKAN - RE (24) residivis kasus pencurian yang baru bebas 4 hari yang lalu, terpaksa kembali harus…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:03

DPRD Akan Lembur Bahas APBD 2018

TARAKAN - Pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni 2018, ditargetkan akan selesai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .