MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 06 Desember 2017 11:18
Hujan Emas di Negeri Orang, Hujan Batu di Negeri Sendiri

Secercah Harapan Hidup, Warga di Beranda Negara (2)

MIRIS: Di Bukit Sion inilah, Nur dan Petrus kerap kali berehat dalam perjalanan pergi maupun pulang sekolah di Dusun Lourdes, Sebatik Tengah. RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Saat melakukan peliputan di Dusun Lourdes, Radar Tarakan bertemu dengan pasangan suami istri. Mereka adalah mantan pekerja TKI asal Malaysia. Krisman Fadius (50) dan Aisyah (43). Mereka tinggal di Dusun Liang Bunyu, Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan.

 

Ruri Jamianto, SEBATIK

 

UNTUK menemukan kedua pasangan ini, penulis harus melakukan perjalanan panjang. Jaraknya kurang lebih 5 kilometer (km) dari Dusun Lourdes, yang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Akses jalan di sana sulit. Penulis harus menjajaki satu persatu bukit serta lembah di setiap perjalanan.

Jumat, 24 November lalu, sekira pukul 14.38 Wita, perjalanan mulai dilakukan. Matahari saat itu menampakkan wujudnya dari balik kumpulan awan mendung, membuat rasa hangat hingga menyentuh permukaan kulit.

Hembusan angin, meniupkan aroma ikan asin dari lubang-lubang rumah kayu di pinggir jalan. Meski demikian, perjalanan terus berlanjut hingga tiba di sebuah bukit menanjak yang bernama Bukit Sion. Bukit ini sangat dikenal oleh masyarakat Dusun Berjoko Lourdes, dan Dusun Liang Bunyu, Sebatik Tengah.

Untuk menjajaki bukit ini tidaklah mudah. Perlu betis dan mental yang kuat agar bisa sampai ke atas bukit. Beberapa kali penulis harus beristirahat serta berbaring di tepi jalan setapak menuju bukit yang jalan menanjaknya terjal dengan kemiringan 45 derajat.

Setibanya di puncak bukit, penulis sontak takjub melihat keindahan Pulau Sebatik. Semuanya tampak indah dari atas bukit ini. Kita dapat melihat Pulau Sebatik secara utuh. Penulis juga dengan jelas mendengar silih berganti lantunan azan berkumandang dari menara masjid.

Namun, dari bukit ini pula, kita dapat menyaksikan langsung pemandangan kontras kondisi Sebatik tampak seperti kampung. Sementara Tawau Malaysia, yang masih tampak jelas di depan mata, gedung menjulang berwarna putih memantulkan cahaya. Seperti layaknya kota yang tertata, bahkan dibandingkan dengan Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan, Tawau terlihat lebih megah dengan banyaknya gedung bertingkat.

Beberapa menit berselang, di puncak bukit ini penulis berpapasan dengan dua bocah Sekolah Dasar (SD) yang baru saja pulang dari sekolah. Dari wajahnya terlihat jelas, mereka kelelahan seperti yang penulis alami. Namun, kelelahan mereka seperti sudah menjadi santapan sehari-hari.

“Kalian mau ke mana?,” tanya penulis kepada kedua bocah ini.

“Mau pulang ke rumah kak, di Liang Bunyu,” jawab Nur, gadis kecil yang sedang membawa bahan belanjaan yang tersimpan dalam plastik putih di tangan kanannya.

“Apakah masih jauh dari bukit ini?” tanyaku kembali.

“1 km lagi kak dari bukit ini. Setelah itu, kita akan lewati lembah dan masuk hutan. Nanti akan terlihat perkampungan kami. Di situlah rumah kami. Kalau boleh tahu, kakak mau ke mana?” tanya Petrus, anak laki-laki berkulit hitam yang juga baru pulang sekolah ini.

“Mau ke Desa Liang Bunyu. Mau ketemu Pak Krisman dan Bu Aisyah,” jawab penulis lagi.

Mendengar jawaban penulis, Petrus lantas mengatakan bahwa Nur yang sedang bersama kami ini adalah anak Pak Krisman dan Bu Aisyah. “Ini anaknya,” kata Petrus sambil menunjuk Nur.

Sambil beristirahat sejenak, Petrus, anak kecil yang penuh semangat ini menceritakan tentang Bukit Sion. Diceritakannya, warga di sini sangat sering ke Bukit Sion untuk mencari hiburan. Hiburannya adalah, mereka sekadar ingin melihat kelap-kelip lampu di perbatasan. Gedung yang tinggi, berwarna-warni, dan mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Terutama saat menjelang tahun baru.

Di perbatasan Malaysia, katanya, setiap malam pergantian tahun hiasan kembang api selalu menghiasi langit di perbatasan Malaysia. Sementara di sini, gelap dengan lampu pelita di tangan.

“Di sini kami bisa melihat semuanya. Ada gedung tinggi, ada hutan, ada orang berjalan dan semuanya. Kalau malam, kami hanya melihat lampu terang benderang di Malaysia,” kata Petrus, sambil menunjuk ke arah Tawau.

Sementara Nur, duduk tenang dengan barang belanjaannya. Seperti mi goreng, kerupuk dan ikan sarden. Di tempat tinggalnya, bahan makanan seperti ini tidak dapat ditemukan. Sebab tidak ada satupun toko di sana.

Meski begitu, Petrus dan Nur memiliki cita-cita yang mulia. Nur ingin menjadi seorang dokter. Sementara Petrus ingin menjadi pendeta. “Besar kelak, aku ingin menjadi dokter. Aku ingin menyembuhkan ibu dan bapakku jika sakit. Karena kami sendiri untuk bisa berobat, harus ke luar hutan. Naik gunung, lalu turun gunung lagi,” ucap Nur.

“Kalau aku ingin menjadi pendeta. Agar perkampungan ini selalu aman dalam lindungan Tuhan,” lanjut Petrus.

Dari penuturan Nur dan Petrus, ternyata mereka adalah anak berprestasi di sekolahnya di SDN 005, Lourdes. Nur mendapat juara delapan di kelas. Sementara Petrus mendapat juara empat. “Meski di sana gedung menjulang tinggi, kami ingin hidup dan tinggal di sini,” kata Petrus lagi.

Tak terasa, matahari mulai menutup diri. Tanpa berlama-lama, kami bertiga berjalan bersama menuju rumah orang tua Nur. Kurang lebih setelah 30 menit berjalan kaki melewati lembah dan hutan, atap rumah berfondasi kayu pun mulai terlihat. Itu sekaligus menandakan Desa Liang Bunyu sudah semakin dekat.

“Kita sudah sampai,” kata Petrus seraya memamerkan kondisi dusun yang berada di tengah hutan ini, ternyata hanya ada enam rumah saja.

Penulis akhirnya sampai di rumah Nur, dan berjumpa dengan Krisman dan Aisyah, mantan TKI di Malaysia. Aisyah berasal dari Sulawesi Selatan, tepatnya dari Kabupaten Bulukumba. Sementara sang suami, Krisman berasal dari NTT.

Dengan penuh keramahan, mereka menyambut penulis dengan suguhan secangkir air putih. Mereka tahu, perjalanan untuk sampai ke desa ini tidaklah mudah. Krisman mengatakan, kehidupan yang ia jalani saat ini bersama sang istri jauh lebih baik, meski hidup sebagai petani dengan hasil yang tak menentu. Bagi Krisman, hidup dan tinggal di negara sendiri, jauh lebih nyaman ketimbang tinggal di negara seberang.

“Lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang. Meski hidup kami di sini pas-pasan dan bercucuran keringat mencari sesuap nasi, tapi hidup kami aman. Daripada hidup di negara tetangga, tapi tidak aman,” kata Krisman.

Krisman menceritakan, ia bersama istrinya masuk ke Sebatik tahun 2014 lalu. Saat itu ia tidak memiliki apa-apa. Namun seketika ada pembagian tanah, ia pun mencoba meminta kepada pihak terkait untuk mendapatkan tanah tinggal bersama sang istri.

“Kami bersyukur, meski kami sangat jauh dari perkotaan. Kami hanya mengandalkan hasil kebun sayur-sayuran untuk bisa dijual dan bisa menyekolahkan anak kami,” jelasnya.

Diceritakan Krisman, 20 tahun lalu, ia hidup dan kerja di Malaysia sebagai sopir pengangkut barang. Ia mendapat gaji yang lumayan besar saat itu. Namun sejak bertemu Aisyah, yang juga bekerja sebagai TKI di Malaysia, Krisman mempunyai tekad untuk membawa Aisyah pulang ke Indonesia membangun rumah tangga.

“Istri saya ini lahirnya di Malaysia sana. Ibu dan bapaknya masih di Malaysia. Namun saya meminta dia kembali ke Indonesia untuk membangun keluarga kecil di sini (Sebatik),” katanya lagi.

Meski rumah mereka harus melewati bukit terjal, ditambah jauh dari keramaian, pasangan suami istri ini benar-benar bahagia bersama empat orang anaknya, termasuk Nur.

Hutan, bukit, bahkan hewan buas sekalipun bukan halangan bagi mereka. Bagi Krisman, menjadi warga negara Indonesia dan tinggal di perbatasan yang daerahnya terpencil tidak boleh egois. Harus banyak-banyak bersabar. Apalagi selalu diiming-imingi pekerjaan oleh negara tetangga.

“Berkebun sudah cukup untuk membesarkan keempat anak-anak saya, dan cukup untuk makan. Saya merasa, hidup di tengah-tengah hutan dan berada di negara sendiri sudah sangat menyenangkan,” jelasnya.

Anak-anak Krisman saat ini, dua di antaranya sedang bersekolah di Aji Kuning Sebatik, melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dan dua lagi, termasuk Nur masih di bangku SD.

“Dua anak saya yang sekolah di SMP tinggal di asrama di Aji Kuning, Sebatik Tengah. Mereka tidak bisa pulang balik, karena jauh. Jadi hanya Nur dan adiknya saja yang bersekolah dengan jalan kaki setiap harinya,” bebernya.

Meski tidak ada fasilitas listrik di rumahnya, Krisman mengaku dengan lampu pelita saja sudah cukup. Hanya saja, ia sangat kasihan melihat anaknya Nur yang setiap malam wajahnya menghitam karena terkena asap pelita. Belum lagi, setiap malam Nur harus menunduk untuk bisa melihat tulisan di setiap halaman bukunya.

Namun begitu, Krisman sangat bersyukur karena prestasi anaknya di sekolah tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Padahal untuk belajar saja anaknya tidak banyak waktu. Sebab waktunya kebanyakan habis di perjalanan pulang pergi sekolah, karena lokasi yang jauh.

Waktu di jam tangan penulis menujukkan pukul 16.00 Wita. Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba gelap menghitam. Yah, beginilah kondisi rumah Krisman dan Aisyah. Rumah yang gelap hanya diterangi sumbu pelita. Ditambah kunang-kunang yang menghiasi  sudut rumah.

Malam itu, penulis ditawarkan untuk menginap di rumahnya. Sebab jika harus kembali berjalan kaki ke Desa Lourdes, butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan. Dan ancaman hewan liar bisa membahayakan penulis.

Menjelang malam, sang ibu mulai menyiapkan makanan. Malam itu, kami makan bersama. Di atas papan kayu, kami makan lesehan. Menunya sangat sederhana. Nasi putih, sayur ubi, ikan asin dan sarden.

Semua terasa sangat nikmat. Sangat enak.

Usai makan, Nur sibuk dengan buku-buku besarnya yang ia simpan di rak buku. Penulis pun menyaksikan bagaimana penderitaan mereka saat ini. Namun, mereka tetap bahagia dengan keseharian yang serba kekurangan itu.

“Beginilah keadaan kami kak. Tapi saya tetap ingin pergi ke sekolah meski apapun keadaannya. Mau hujan ataupun panas, saya tetap pergi sekolah. Terkadang kalau hujan, plastik beras saya ambil untuk menutupi diri agar tidak hujan. Terkadang juga, buku-buku saya basah, karena perjalanan yang becek dan jauh. Tapi itu tidak masalah,” ucap Nur.

Ia hanya bisa berharap, cita-citanya kelak dapat terwujud, dan bisa mengubah nasib kedua orang tuanya. Meski setiap pergi sekolah, ia tidak membawa uang jajan, namun bekal makanan dari sang ibu menjadi sebuah pesan yang menyemangati dirinya bahwa sekolah sangat penting dan ia harus menjadi orang berhasil.

“Setiap hari bawa nasi goreng kak. Tidak ada lauk. Kadang ada ikan asin. Kasihan ibu sama bapak bekerja keras untuk membiayai kami, belum lagi kedua kakak ku yang pasti membutuhkan biaya banyak untuk sekolah dan makanannya,” pungkasnya.

(*/ddq/bersambung)


BACA JUGA

Senin, 15 Oktober 2018 13:30

Jajal Tanjakan Gang-Gang

TARAKAN - Puluhan goweser dari berbagai komunitas sepeda di Bumi Paguntaka,Sabtu (13/10) ikut ambil…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:36

Kampanye, DPRD Harus Cuti

LARANGAN penggunaan fasilitas negara dalam berkampanye wajib dipatuhi para anggota dewan perwakilan…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:35

APBD-P 2018 Menunggu Pembahasan

TARAKAN - Pembahasan draf Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS)…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:33

Pengungsi Sulteng Banyak Mengaku Warga Kaltara

PALU- Setelah melakukan penyisiran terhadap warga Kaltara di beberapa titik lokasi bencana gempa dan…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:30

Bantuan Parpol Kaltara Masih Tetap

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Utara kembali menyalurkan bantuan keuangan (bankeu) kepada sejumlah parpol…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:29

Bertahan di Indekos, Ikut Menjarah demi Bertahan Hidup

Gempa seketika mengguncang Palu. Seluruh warga berhamburan menyelamatkan diri, Jumat 28 September petang.…

Minggu, 14 Oktober 2018 22:50

Siswa Sayat Tangan Bukan karena Minuman

TARAKAN – Produk minuman Torpedo sudah dievaluasi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)…

Minggu, 14 Oktober 2018 22:48

DLH Berharap Peran RT dan Lurah

TARAKAN - Maraknya pembuangan sampah sembarangan yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab,…

Minggu, 14 Oktober 2018 22:43

Kesulitan Dapatkan Pendanaan

TARAKAN – Peran pelatih di dunia olahraga, tugas pokok utamanya ialah sistem kepelatihan yang…

Minggu, 14 Oktober 2018 22:38

Terpukul Kehilangan Oscar, Penggantinya Belum Pasti

TARAKAN – Saat ini kerisauan para pelatih tinju Kaltara masih dirasakan, pasca satu atletnya yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .