MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Selasa, 05 Desember 2017 11:47
Dijajah Sinyal Tetangga, Merah Putih Tetap Berkibar

Secercah Harapan Hidup, Warga di Beranda Negara (1)

DIHUNI EKS TKI: Pintu masuk Dusun Lourdes, Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. RURY JAMIANTO/RADARTARAKAN

PROKAL.CO, Di Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terdapat sebuah perkampungan yang bernama Dusun Lourdes. Perkampungan ini sunyi dan terpencil. Lokasinya berbatasan langsung dengan Malaysia. Penghuninya adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di Malaysia. Berikut liputan Radar Tarakan di Sebatik.

RURY JAMIANTO, Sebatik

PANAS terik matahari begitu menyilau di mata, saat speedboat bermesin 800 PK membawa Radar Tarakan  ke ujung negeri di utara Kalimantan ini. Dermaga Bambangan di Sebatik menjadi titik awal penulis untuk memulai perjalanan.

Kamis, 23 November lalu, tepat pukul 10.20 wita, aktivitas perdagangan di dermaga yang berkonstruksi kayu ini terlihat sibuk. Selain ada aktivitas pasar tradisional, penumpang yang akan berangkat menuju Sungai Nyamuk tampak hilir mudik di pandangan mata.

Aktivitas seperti ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan aktivitas perdagangan tradisional di Tarakan. Begitupun dengan transportasi lautnya.

Hanya saja, cuaca di Sebatik benar-benar jauh berbeda dengan cuaca di Tarakan. Aplikasi weather di perangkat gadget penulis menunjukkan angka 30 derajat celcius. Padahal saat berangkat, suhu di Tarakan hanya 26 derajat celcius.

Cuaca terik tidak menyurutkan semangat penulis untuk bisa sampai ke Dusun Lourdes. Dusun ini memang menarik perhatian Radar Tarakan. Sebab, informasi yang diperoleh dari komunitas One Person One Book (OPOB) Kaltara, di dusun ini semua penghuninya hidup serba keterbatasan. Sinyal seluler di sana pun lebih kuat sinyal milik Malaysia.

Dan yang lebih memprihatinkan lagi, di sebuah kampung yang bernama Bergosong, ada puluhan anak Indonesia yang harus sekolah ke luar negeri setiap hari.

Untuk mencapai ke Dusun Lourdes, dari Dermaga Bambangan Sebatik penulis harus menggunakan jasa ojek. Jarak yang ditempuh ke Dusun Lourdes sejauh 15 kilometer (km). Sepanjang jalan yang dilalui sudah beraspal, tapi berliku-liku.

Sepanjang jalan juga, kita dapat menghirup udara segar dengan banyaknya pepohonan yang rindang. Di kanan kiri, jelas terlihat pegunungan yang indah.

Tiba-tiba saja, sopir ojek mengerem kendaraan secara mendadak. Ternyata sebagian jalan aspal tersebut ada yang mengalami erosi karena terkikis derasnya air sungai dari gunung.

Lima menit perjalanan, raung mesin motor jenis bebek mulai berteriak kencang. Jalanan mulai menanjak. Angka penunjuk di spidometer menunjukkan motor berlari di kecepatan 15-20 km per jam dengan persneling 1 dan 2.

Lagi-lagi penulis dibuat berdecak kagum akan pesona alam Sebatik. Hutan yang yang rindang, serta minimnya rumah penduduk, memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Seketika itu, udarapun memberikan energi positif.

Namun, penampakan itu sekilas berubah. Ketika Tawau Malaysia mulai terlihat di ujung mata. Kontrasnya perbedaan sangat tidak bisa disembunyikan lagi.

Bibir penulis spontan mengucap; astaga.

Pemandangan Kota Tawau nan jauh di sana jelas terlihat bangunannya yang menjulang, berbanding terbalik dengan kondisi Sebatik di pandangan mata saat itu.

Yang sangat memprihatinkan lagi ialah, di daratan Sebatik ini ada sebuah pabrik besar yang sangat mencolok di tengah hutan. Bangunan ‘raksasa’ itu ternyata perusahaan kelapa sawit milik Malaysia, yang di sisi kanan dan kirinya bersebaran pohon kelapa sawit berpuluh-puluh hektare.

“Itu perusahaan kelapa sawit milik Malaysia. Di sana banyak kepala sawit yang diproduksi dan banyak TKI yang bekerja di sana,” ucap Budi (32), sopir yang juga warga Sebatik.

Tak jauh dari perusahaan tersebut, Budi pun kemudian menunjukkan bangunan sekolah tapal batas. Bangunan kecil yang berada di tengah hutan ini, sangat mudah dikenal karena sengnya berwarna biru.

“Bangunan kecil itu sekolah tapal batas. Tempat sekolah anak-anak TKI yang ditinggalkan orang tuanya untuk bekerja di Malaysia,” lanjutnya.

Kurang lebih dua jam, sampailah penulis ke sebuah dusun kecil, yaitu Dusun Lourdes. Dusun inilah yang menjadi tempat tinggal mantan TKI itu. Meski letaknya di Kalimantan, jangan berharap dapat menemui suku asli Kalimantan di perkampungan ini.

Justru, kita akan bertemu dengan orang-orang dari Indonesia Timur, yang rata-rata penduduknya mayoritas berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sebagian kecil lagi berasal dari Sulawesi.

Di perkampungan ini, kita dapat menemukan ratusan eks TKI, yang lari dari Malaysia. Kini mereka hidup membangun mimpi, menggarap lahan dan berjuang keras untuk meneruskan generasinya.

PERANG TAK TERLIHAT

Saat pertama kali memasuki dusun ini, penulis dihadapkan sebuah persoalan. Sinyal seluler yang sangat penting untuk komunikasi, tiba-tiba menghilang. Anehnya, beberapa menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk. Pesannya tertulis: “Selamat datang di Malaysia. Nikmati paket promo Asia Australia (Telpon ke Indonesia-SMS-Internet).”

Pesan ini mengisyaratkan bahwa saat ini penulis sudah berada di batas negara Indonesia-Malaysia. Jika menyetujui pesan tersebut, maka tarif yang digunakan sudah masuk roaming. Sebab operator seluler yang muncul di gadget penulis sudah berubah menjadi My Maxis, milik Malaysia.

Kondisi ini ternyata sudah lama dialami orang-orang yang berada di Dusun Lourdes. Mereka seperti harus ‘perang’ dengan sinyal milik tetangga.

Tak ada lagi satupun sinyal dari operator telekomunikasi seluler Indonesia yang terdeteksi. Jika ingin mendapatkan sinyal seluler Indonesia, satu-satunya cara adalah naik ke puncak bukit di dusun ini.

Penulis pun mencobanya. Sambil berjalan kaki, penulis menjajaki bukit yang tak jauh dari rumah warga di Lourdes. Di bukit ternyata ada Gereja Santa Maria, tempat ibadah para eks TKI yang didominasi Kristen Katolik.

Saat menemukan lokasi yang tepat dan mendapatkan sedikit sinyal, penulis langsung mencoba melakukan panggilan untuk berkoordinasi ke Tarakan. Ternyata hanya ada dua hingga tiga batang jaringan di handphone. Meski begitu, komunikasi suara pun masih tersendat-sendat. Berteriak di handphone pun belum menjamin suara akan terdengar jelas di telinga.

"Di sini kalau telepon kadang lancar. Kadang juga tersendat-sendat,” ungkap Daniel, salah seorang warga Dusun Lourdes.

Dikatakan Daniel, jika tidak berhati-hati dan tidak selalu mengecek ponsel, maka yang terjadi adalah perubahan provider sinyal menjadi "roaming" internasional dan dapat memakan pulsa hingga berkali-kali lipat banyaknya.

Komunikasi seluler di wilayah ini memang sangat sulit dan terbatas. Tapi tetap saja dusun yang sepi dan jauh dari riuh pikuk perkotaan ini memiliki sebuah kenyamanan.

Untuk menyelisik bagaimana dusun ini bisa berdiri, penulis menemui tokoh adat Lourdes, yang sekaligus menjadi perintis terbentuknya perkampungan kecil yang kini ditinggali mantan TKI untuk mengadu nasib.

Ia adalah Petrus Roga. Meski usianya tidak muda lagi, namun nasionalismenya tak luntur sedikitpun. Itu ia buktikan saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tahun 1996 silam, di tengah hutan belantara inilah ia mulai membuka lahan yang tujuannya hanya satu, agar para kerabatnya yang bekerja dan tinggal di Tawau Malaysia bisa pulang ke Indonesia untuk membangun sebuah mimpi.

“Ini dulunya masih hutan belantara. Jalanan dulu tidak sebagus ini. Sekarang sudah beraspal. Dulu di sini banyak nyamuk epidemi dan hewan buas yang sewaktu-waktu dapat menerkam kami yang tinggal di sini. Namun kembali lagi, saya harus membangun kehidupan di sini,” kata Petrus.

Tahun 2002, deportasi TKI besar-besaran terjadi. Ini kemudian membuat Lourdes menjadi sebuah kampung. Seketika itu, Petrus yang tinggal lebih dulu di kampung ini memanggil keluarganya yang dideportasi untuk membangun rumah.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 2005, Loudres yang berarti sunyi atau terpencil berubah menjadi permukiman yang ramai.

Petrus menamakan Loudres, dikarenakan ia terinspirasi dari nama kota kecil yang ada di Prancis. Kota tempat seseorang yang pernah melihat Bunda Maria dan merupakan kota ziarah bagi umat Katolik di Eropa.

“Perkampungan ini dulunya sangat sunyi. Dan perlahan-lahan mantan TKI datang untuk membangun kehidupan. Saya senang melihat itu. Mereka memiliki tanah, rumah dan perkebunan sendiri. Dan tidak perlu lagi bekerja ke Malaysia,” jelasnya.

Penduduk kampung Loudres sebagian besar adalah mantan TKI yang berasal dari Flores NTT. Mereka membangun rumah-rumah kayu di lereng bukit. Hampir semua penduduknya memiliki hubungan keluarga.

Beberapa bekerja di kebun sendiri. Namun, ada juga yang tetap memilih bekerja di negara tetangga sebagai buruh perkebunan dan kilang. Setiap hari mereka melintasi perbatasan untuk bekerja.

Tak hanya membangun rumah, para penduduk ini pun membangun gedung sekolah, dengan hanya mengandalkan kayu seadanya. Kayu yang diambil dari hutan.

Hal itu dilakukan agar anak-anak TKI ini bisa menuntut ilmu, ketika kedua orang tua mereka pergi berkebun, menanam sayur dan buah-buahan.

“Dulu belum ada gedung sekolah sebaik ini. Dulu itu atap sekolah masih menggunakan daun nipah, dan gedungnya masih sangat miris sekali. Kadang atap bocor, dan dinding sekolah rusak, dan meja untuk digunakan belajar benar-benar tidak bisa digunakan,” jelasnya.

 

Selain itu, Petrus semakin bersemangat ketika ia menyaksikan sendiri antusias anak-anak TKI dari Bergosong (sebuah desa di Tawau Malaysia) yang datang untuk bersekolah ke Dusun Lourdes. Meski satu-satunya akses ke sini, anak-anak sekolah itu harus berjalan kaki bolak-balik ke luar wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia sejauh 10 km.

“Meski pembangunan belum sesuai harapan, setidaknya saya dan mereka bisa bernapas lega karena anak-anak mantan TKI ini sudah bisa mengakses pendidikan meski seminim mungkin,” tuturnya.

Selain menamakan dusun tersebut Lourdes, penduduk di dusun ini juga membangun sebuah replika patung Bunda Maria di sebuah gua buatan, mirip seperti patung Bunda Maria yang ada di Prancis.

Dari halaman gereja itu, kita juga bisa melihat gedung-gedung tinggi di Tawau, Malaysia. Bahkan ketika malam, kita dapat melihat lampu gemerlap, menghiasi perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Sayangnya, hingga hari ini di Dusun Lourdes belum ada sekolah menengah negeri di sekitar kampung. Mereka  yang ingin sekolah ke jenjang SMP atau SMA, harus ‘merantau’ ke Desa Aji Kuning, Sebatik Tengah. Waktu tempuhnya kurang lebih 20 menit dengan sepeda motor.

"Kalau pagi-pagi banyak rombongan anak sekolah dari perkebunan sawit Bergosong Malaysia. Mereka itu adalah anak-anak pekerja yang ingin bersekolah di wilayah Indonesia," lanjutnya.

Penulis juga bertemu dengan Kepala Dusun Lourdes, Yosep Bala (48). Ia mengatakan, kampung kecil yang belum genap berusia 20 tahun ini secara perlahan mulai menata diri. Tempat yang dahulu tidak dilirik orang, kini sudah memiliki jumlah penduduk sebanyak 1.256 orang, dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 340 KK.

“Yang dulunya eks TKI, kini sudah bisa menggarap lahan kebun sendiri. Sebagian besar ada yang bekerja di kebun kelapa sawit. Ada pula yang bekerja di kebun pohon cokelat, hingga buah-buahan. Mereka yang memiliki hasil perkebunan juga masih menjual hasil kebunnya ke negeri seberang, karena di wilayah mereka belum ada pabrik untuk mengolah sawit,” bebernya.

Tak hanya itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup pun, warga Lourdes masih mengandalkan produk-produk asal Malaysia. Karena untuk menuju Sebatik, sangatlah jauh. Pilihannya, mereka harus ke perbatasan untuk mendapatkan barang kebutuhan dapur.

“Kami masih terkendala terbatasnya infrastruktur di perbatasan, serta sulitnya mendapatkan air. Ketersediaan air di kampung Lourdes ini masih mengandalkan tadah hujan. Jika tidak ada hujan, kami harus mencari mata air ke pegunungan dengan jalan menanjak yang tak mudah,” ucapnya.

Sementara soal listrik, Yosep justru bersyukur karena saat ini hampir sebagian besar rumah di Dusun Lourdes sudah memiliki listrik. Sebelumnya listrik di Lourdes diusahakan secara swadaya.

“Bagi mereka yang mampu, mereka bisa membeli generator listrik. Bagi yang tidak mampu, bertahan dengan lampu daya surya. Walaupun begitu, warga kampung Lourdes tidak pernah gentar menatap masa depan, hidup dan berjuang di atas lahan sendiri,” ucapnya.

Di desa Lourdes juga menyimpan sebuah gua yang dapat menarik perhatian para TKI di perbatasan Malaysia. Yakni gua Santa Maria Lourdes, yang lokasinya berada di atas bukit Lourdes.

“Kadang kampung kami ini didatangi orang-orang dari Malaysia untuk melihat gua yang ada di atas bukit. Gua itu adalah gua buatan tangan-tangan warga Lourdes tahun 2013, dan ini menjadi ikon wisata religi di kampung kami,” jelasnya lagi.

Meskipun kadang kala perkampungan ini diteror oleh kemarau akibat tidak adanya PDAM, longsor di perbukitan, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang kurang memadai, ataupun sinyal komunikasi kurang baik, nasionalisme mereka tetap terjaga. Bendera Merah Putih masih tetap berkibar di halaman rumah mereka.

“Warga saya di sini orangnya selalu bersemangat dan selalu berusaha. Meski itu jauh sekalipun, mereka bisa melaluinya hanya dengan berjalan kaki,” jelasnya lagi.

Radar Tarakan pun sempat bertemu salah seorang eks TKI. Dia adalah Monika Mole. Wanita berusia 57 tahun ini salah satu di antara ratusan TKI yang ikut dideportasi dari Sabah, Malaysia.

Diceritakannya, pada tahun 2002 terjadi deportasi besar-besaran buruh migran Indonesia yang bekerja di Malaysia. Saat itu terjadi penumpukan TKI yang hendak dipulangkan dari pelabuhan Tawau ke Nunukan.

“Saya di antara sekian TKI yang dipulangkan. Paspor saya saat itu juga tidak berlaku lagi. Sehingga kami dikumpulkan lalu dipulangkan,” kata Monika.

Tak ada yang dapat dilakukan Monika saat itu. Padahal gajinya sebagai pekerja di pabrik sangat menggiurkan. Ia bisa mendapatkan gaji hingga RM 2.000 (Rp 6.613.146) setiap bulannya. Meski demikian, tak berarti hidup Monika beserta sang suami aman. Hampir setiap hari, ia diteror bak penjahat oleh Polisi Diraja Malaysia lantaran dianggap imigran gelap, kala itu.

“Kalau ada razia, kami sembunyi. Atau pergi menjauh dari tempat bekerja. Karena polisi di Malaysia setiap melaksanakan razia cek paspor imigran. Jika ketemu paspor mati, maka kami bisa ditangkap lalu dipenjarakan,” jelasnya.

Saat pemulangan, dan tiba di Pulau Sebatik, Monika bersama sang suami sempat wara-wiri mencari lahan untuk ditempati tinggal bersama. Mereka komitmen untuk memulai hidup dan kembali menata kehidupan di Indonesia.

Kesulitan demi kesulitan terus menimpa Monika dan suaminya saat itu. Lokasi yang jauh dari perkotaan, membuatnya harus berjalan kaki setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat Monika dan suami menemukan sebuah lokasi, yang sekarang bernama Dusun Lourdes, ia pun bergegas menuju perkampungan tersebut, dengan harapan dapat membangun rumah serta berkebun.

Ia pun bertemu dengan Petrus Roga, yang tak lain adalah pendiri dusun ini. Dengan seizinnya saat itu, ia perlahan-lahan merintis rumput dan pepohonan untuk membangun sebuah istana kecil yang akan ditinggali bersama sang suami.

“Kalau kehidupan di sini aman saja, karena tidak dikejar-kejar polisi Malaysia. Karena jika ada pemeriksaan paspor, kami dibuat tidak tenang. Lihat polisi Malaysia itu, kami seperti penjahat yang harus dibuang,” katanya.

Waktu terus berjalan, kehidupan Monica pun perlahan-lahan berubah. Ia hidup bersama suami dari hasil perkebunan yang ia lakukan. Meski hasilnya tak besar, namun bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. (*/ddq/bersambung)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Desember 2017 08:20

Pembayaran PL Belum Tuntas

TARAKAN – Sejumlah kegiatan penunjukan langsung (PL) 2016 lalu belum juga dibayar, bahkan meninggalkan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:19

Pemerintah Prioritaskan Pembangunan

TARAKAN- Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tarakan yang ke-20 kemarin dirayakan di area Sport Center,…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:17

Potensi Kaltara Banyak Dilirik Pengusaha Malaysia

TARAKAN – Potensi Kalimantan Utara (Kaltara) bak emas tersembunyi. Karena saat ini banyak perusahaan-perusahaan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:16

Museum Berbayar, Pengunjung Tetap Banyak

TARAKAN - Museum Perang Dunia II dan Museum Perminyakan Kota Tarakan, saat ini menjadi salah satu ikon…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:14

Diklaim Dua Kubu, Hanura Bimbang

TARAKAN - Setelah sekian lama bungkam, Partai Hati Nurani Rakyat akhirnya membuka membeberkan soal siapa…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:10

Ajukan Penangguhan, Perusahaan Harus Diaudit

TARAKAN – Sebelum diberlakukannya upah minimum kota (UMK) Tarakan 1 Januari 2018, pemerintah memberikan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:09

AM dan HR Saling Tunjuk

TARAKAN – Langkah dua incaran Satreskoba Polres Tarakan akhirnya terhenti. Mereka yang diketahui…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:06

Laporkan Harta Tak Dikenakan Sanksi

TARAKAN – Direktorat Jenderal Pajak pada Kementerian Keuangan beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:04

PARAH NI ORANG..!! Baru Bebas 4 Hari, Kembali Masuk Bui

TARAKAN - RE (24) residivis kasus pencurian yang baru bebas 4 hari yang lalu, terpaksa kembali harus…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:03

DPRD Akan Lembur Bahas APBD 2018

TARAKAN - Pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni 2018, ditargetkan akan selesai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .