MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Senin, 04 Desember 2017 13:01
Masa Kecil Terampil Menjahit, Pernah Jadi Saksi Tragedi Tri Sakti 1998

Mengulik Kisah Perjalanan Panjang Almarhum Drs. Arakian Idris

SELAMAT JALAN PAK: Drs. Arakian Idris semasa masih hidup, saat dikelilingi sanak keluarga. IST

PROKAL.CO, Dunia pendidikan di Bumi Paguntaka kembali berduka. Drs. Arakian Idris, guru dan dosen yang pernah  berpuluh tahun   bergelut mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar, mengembuskan napas terakhirnya di usia 65 tahun, Minggu (3/12).

Andi Pausiah

Setelah bertahan dari koma selama 5 hari, almarhum Idris, akhirnya tutup usia tepat pukul 08.50 Wita. Tepatnya Minggu (26/11) lalu, almarhum sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan lantaran komplikasi penyakit seperti diabetes, gagal ginjal, lambung dan paru-paru yang diderita sejak setahun lalu.

Semasa hidup, guru yang sudah pensiun di usia 58 tahun di Hang Tuah Tarakan ini  yang dikenal tegas, bijak dan pengayom di kalangan anak didiknya. Begitu juga di kalangan mahasiswa yang pernah diampuhnya, menyimpan kisah yang begitu menginspirasi dan sulit terlupakan.

“Bapak itu kalau mengajar di kelas tidak pernah bawa buku, materi itu dihapal beliau di luar kepala,” kenang Dede Puji Setiawati, salah seorang mahasiswa angkatan 2011 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Merunut perjalanan panjang dan perjuangan pria kelahiran 19 Oktober 1952 ini, kisah Idris sempat diabadikan dalam rubrik sosok, dari majalah perdana yang diluncurkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers UBT. Penulis terlibat langsung dalam proses peliputan dan wawancara di kala itu, semasa almarhum masih aktif mengajar di UBT tahun 2013.

Dalam kisahnya yang direkam penulis, Idris sempat menceritakan pengalaman masa kecil hingga perjuangan melanjutkan bangku kuliah dengan biaya sendiri.   Pria ini terlahir sederhana dan terbiasa dengan kerasnya hidup. Siapa sangka Idris kecil memiliki keterampilan menjahit sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Keadaan ekonomi dan  rumitnya takdir yang harus dilewati mengharuskan Idris hidup mandiri. Yah, sejak kecil  Idris berstatus yatim piatu.

Meski berada di tengah kondisi terhimpit ekonomi, untuk urusan pendidikan, tetap yang paling prioritas. Semangat pantang menyerah  dan tak berhenti berjuang  membuat ia dikagumi beberapa guru ketika masih menduduki bangku SD Katolik  Wa One di Flores. Lalu, tiga tahun, Idris kembali berhasil menamatkan pendidikan sekolah menengah pertamanya di  SMP Awas Hingan Adonara, Flores Timur.

Sembari tetap melakukan rutinitasnya usai sekolah,  menjahit beberapa kain untuk dijadikan pakaian jadi dan dijual kepada pelanggan. Meski diakui Idris, hasil dari  pekerjaan sampingannya tetap tak mampu menutupi kebutuhan hidup.

Semasa mengajar di SMA Hang Tuah, Idris memang dikenal begitu disiplin dan tegas terhadap anak didiknya. Itu semua hasil tempa didikan yang diperoleh dari sang guru di masa kecil. “Waktu SMP, sekolah saya dipimpin Pastor Van Deer Houw. Beliau orang Belanda. Bisa dikatakan orang itu sangat sadis. Tapi baik. Dan kesadisannya itu  sekarang saya terbiasa menjalani hidup yang keras ini. Saya memiliki pengalaman luar biasa dengan beliau,” ucap Idris kala itu, 2013 silam.

Tak berhenti di tingkat SMP, di saat anak-anak seumurannya memutuskan tak melanjutkan pendidikan, tidak demikian bagi Idris. Tiga tahun akhirnya berhasil menamatkan di SMK Surya Mandala, Adonara. Masih dengan mengandalkan penghasilan dari jahit-menjahit pakaian. Perjalanan seusai menamatkan bangku SMA ternyata tak berjalan mulus.

Keputusan yang sulit harus dilakukan demi kembali menghasilkan pundi rupiah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Idris memutuskan merantau ke Malaysia sekitar tahun 1972. Idris memulai perjuangannya dari titik nol. Ia saat itu bekerja di Bedeng, sebagai pemotong rumput, membuka lahan baru.

Riska, anak pertama Idris pun membenarkan kisah sang ayah. Saat penulis kembali mengonfirmasi ulang mengenai kebenaran kisah ini, Minggu (3/12) malam, Riska membenarkan bahkan menambahkan, ayahnya melakukan pekerjaan tersebut untuk bisa melanjutkan kuliah di IKIP, Malang.

 “Dan sebelum beliau kembali ke Malang, beliau diberikan sekotak mie instant tapi isinya bukan mie melainkan uang yang ternyata sengaja dikumpulkan sang toke untuk biaya pendidikan beliau,” ungkap Riska sembari menyebutkan, kisah Idris banyak diabadikan di dalam buku diari Idris yang menuliskan perjalanan panjang hidupnya sejak kecil, remaja, masa kuliah dan masa menjadi dosen hingga saksi sejarah kasus kela Tri Sakti 1998 silam.

Semasa kuliah, Idris tercatat aktif  sebagai kapten pesepak bola  di luar kegiatan kampus. Di dalam kegiatan kampus sendiri, Idris  bergabung dalam Dewan Komisaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di IKIP Malang.  Empat tahun menamatkan  bangku kuliah, Idris diterima sebagai dosen  sementara di IKIP Malang.  Tapi tak berlangsung lama, Idris lalu memulai karir mengajarnya sebagai dosen  di Bruneidarussalam. Selang 8 bulan mengajar,  ia memutuskan kembali ke Indonesia.

Satu kisah yang paling membekas di kalangan mahasiswanya yakni, Idris kerap menceritakan kisahnya yang pernah menjadi saksi sejarah kasus  Tri Sakti. Sepulang dari Bruneidarussalam, Idris melamar menjadi dosen di Universitas Tri Sakti. Tragedi tahun 1998 terjadi tepat di depan matanya.

Kata Idris kala itu, demonstrasi besar-besaran terjadi di kalangan mahasiswa di rezim Soeharto.  Saat insiden Tri Sakti terjadi, ia tengah mengajar. Dalam ingatannya, enam mahasiswanya, tak terkecuali Elang yang juga mahasiswa meminta izin untuk tidak kuliah. Selang beberapa saat kemudian, di hadapan matanya sendiri,  Elang bersimbah darah.

“Punggungnya hancur,  usunya terburai. Tertembak senapan dengan peluru babi. Yang menembak saat itu yakni tentara Kopasus dan bukan polisi seperti yang diberitakan di media,” ungkap Idris.

Ia saat itu tak terima mahasiswanya tertembak dan nekat menuliskan kejadian sebenarnya di koran dan akhirnya berujung masuk dalam daftar pencarian.

“Kami sekeluarga minggat ke NTT, karena bapak dituduh sebagai dalang penggerak mahasiswa padahal bukan. Saya waktu itu masih SMP, sampai dibuntuti orang-orang asing,” ungkap Riska mengenang.

Hingga akhirnya, Idris bersama keluarga memutuskan merantau ke Tarakan.   Ia pun kembali memulai perjalanan panjangnya menjadi guru di SMA Hang Tuah Tarakan, mengajar di SMP 7 Tarakan, SMP Tunas Kasih dan sejumlah sekolah lainnya. Di UBT, Idris memulai mengajar sekitar tahun 2001 hingga tahun 2013. Di usia 58, pensiun dari guru di Hang Tuah, ia tetap mengajar di Universitas Borneo Tarakan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebagai dosen bahasa Indonesia dan berstatus dosen luar biasa (DLB) bersama 6 dosen lainnya.

Selain mampu mengajarkan bahasa Indonesia, Idris juga dikenal jago dan fasih berbahasa Inggris. Idris juga jago bahasa Inggrisnya. Hal itu diungkapkan Riska. Kini almarhum sudah berpulang dan tenang di alam sana. Meski, dua hari sebelumnya, diakui Riska, almarhum masih berjuang, bertahan menunggu dua anaknya yang bertugas di Jakarta. “Mas Fajar dan Mas Akbar, adik saya. Alhamdulillah, bapak masih sanggup bertahan  dan masih sempat bertemu dengan anak-anaknya sebelum mengembuskan napas terakhirnya pagi kemarin,” ungkap Riska mengakhiri. (***/nri)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Desember 2017 08:20

Pembayaran PL Belum Tuntas

TARAKAN – Sejumlah kegiatan penunjukan langsung (PL) 2016 lalu belum juga dibayar, bahkan meninggalkan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:19

Pemerintah Prioritaskan Pembangunan

TARAKAN- Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tarakan yang ke-20 kemarin dirayakan di area Sport Center,…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:17

Potensi Kaltara Banyak Dilirik Pengusaha Malaysia

TARAKAN – Potensi Kalimantan Utara (Kaltara) bak emas tersembunyi. Karena saat ini banyak perusahaan-perusahaan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:16

Museum Berbayar, Pengunjung Tetap Banyak

TARAKAN - Museum Perang Dunia II dan Museum Perminyakan Kota Tarakan, saat ini menjadi salah satu ikon…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:14

Diklaim Dua Kubu, Hanura Bimbang

TARAKAN - Setelah sekian lama bungkam, Partai Hati Nurani Rakyat akhirnya membuka membeberkan soal siapa…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:10

Ajukan Penangguhan, Perusahaan Harus Diaudit

TARAKAN – Sebelum diberlakukannya upah minimum kota (UMK) Tarakan 1 Januari 2018, pemerintah memberikan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:09

AM dan HR Saling Tunjuk

TARAKAN – Langkah dua incaran Satreskoba Polres Tarakan akhirnya terhenti. Mereka yang diketahui…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:06

Laporkan Harta Tak Dikenakan Sanksi

TARAKAN – Direktorat Jenderal Pajak pada Kementerian Keuangan beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:04

PARAH NI ORANG..!! Baru Bebas 4 Hari, Kembali Masuk Bui

TARAKAN - RE (24) residivis kasus pencurian yang baru bebas 4 hari yang lalu, terpaksa kembali harus…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:03

DPRD Akan Lembur Bahas APBD 2018

TARAKAN - Pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni 2018, ditargetkan akan selesai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .