MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 29 November 2017 12:27
Dari Semak Belukar hingga Dijadikan Tempat Wisata

Warga Pantai Amal yang Sudah Menetap Sejak 45 Tahun Silam

TAK INGIN PINDAH: Laumpang, warga Pantai Amal, Tarakan yang belum tahu akan tinggal di mana, jika benar-benar digusur Lantamal XIII Tarakan. LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Laumpang salah seorang warga yang sudah menetap di wilayah Pantai Amal sejak 1972. Ini merupakan tahun terakhir dia bisa tinggal di bibir pantai kegemaran masayrakat Tarakan itu. Sebab, kabarnya pemilik lahan itu yakni Lantamal sudah meminta warga sekitar untuk mengosongkan wilayah tersebut Desember ini.

LISAWAN YOSEPH LOBO

Bumi Paguntaka memang bukan tempat pertama Laumpang merantau. Sebelumnya dia mengais rezeki dan memulai hidup di usia muda di Malaysia. Namun karena kerinduannya akan Indonesia, Laumpang pulang ke negeri Ibu Pertiwi. Dia memutuskan untuk menetap di Tarakan yakni di wilayah Pantai Amal.

Di ruang tamu yang berukuran 6x6 meter, diceritakan Laumpang, sekira tahun 1972 ia mulai menetap di Pantai Amal, Tarakan. Namun sebelum dia memutuskan untuk menetap di wilayah ini, ia memang sudah meminta penjelasan dari pemerintah. Dalam hal ini Kepala Desa yang bernama Pak Murhan dan Ketua RT 4 yang bernama Pak Jabir. Innformasi yang mereka dapatkan bahwa wilayah ini tak bertuan. Sehingga ia ditawarkan untuk membangun perkampungan nelayan di sini.

“Dari tahun 1970 saya dipanggil, tapi baru masuk ke Pantai Amal tahun 1972. Seandainya tidak ada penjelasan seperti itu, mungkin kami juga tidak di sini,” tutur pria kelahiran Wajo, 31 Desember 1944 ini.

Padahal pada waktu itu, ia bermaksud akan ke Tanjung Selor. Namun diminta untuk bertahan di Pantai Amal, Tarakan. Pada saat itu, nama Pantai Amal memang sudah melekat sejak sebelum ditinggalinya.

Awal mula Laumpang beserta warga, membuat jalan setapak yang panjangnya 3,8 kilometer. Jalan itu tembus ke daerah Kampung Enam. Konon, karena masih hutan sehingga warga takut jalan seorang diri. Sebab masih dipenuhi semak belukar, kicauan binatang juga masih terdengar. Tak jarang ular sering ditemukan saat berjalan kaki. Setiap melintas, warga harus bermodalkan parang agar bisa menyelamatkan dari serangan binatang.

“Dulu kalau berdua saja jalan kaki, itu kami takut ke Kampung Enam. Kami  tidak berani kalau tidak bawa parang. Itu pohon kelapa yang paling tinggi di depan rumah saya, sudah saya tanam sejak 1972,” ujar pria asli keturunan Bugis ini.

Karena pada saat itu masih sepi penduduk, kebutuhan masih bisa diambil dari hutan. Sekira 10 meter warga bisa mencari kayu untuk membuat pondok-pondok kecil, apalagi pohon nipah dan nabung masih sangat mudah ditemukan kala itu.

Sekira satu kilometer jaraknya dari bibir pantai, ditemukan bangunan bekas asrama, yang kabarnya pernah ditinggali oleh tentara Jepang. Dan banyak tiang-tiang lampu, bahkan ada sebuah tiang listrik yang langsung mengarah ke pantai, dan ada juga tiang listrik yang ke arah Kampung Enam.

Pada tahun 1972 itu juga, ia tinggal bersama Ketua RT 4, karena masih ada hubungan keluarga. Kurang lebih empat tahun mereka tinggal di wilayah Pantai Amal dengan membuat pondok-pondok kecil dari pohon nibung dan nipah, yang berukuran 4x6 meter luasnya.

“Jadi sudah mau berbuah kelapa yang saya tanam, baru saya panggil keluarga di kampung,” kenangnya.

Pada saat itu Pantai Amal masih masuk dalam Kelurahan Kampung Enam. Diceritakan Laumpang mengenai sejarah Pantai Amal Lama dan Amal Baru ini. Sebelumnya Jalan Swadaya, yang saat ini bernama Jalan Binalatung, dibuat untuk bisa tembus ke Kampung Enam.

Namun pada saat itu Kepala Camat yang bernama Simamura mengatakan, jalan tembusannya cukup jauh. Akhirnya mereka kembali membuat jalan tembusan lagi, namun dibelokkan ke daerah Slipin, yang sekarang dikenal dengan sebutan Pantai Amal Lama. Karena merasa jauh, akhirnya mereka membuat lagi jalan tembusan tepat di daerah Angkatan Laut sekira 1996, yang saat ini dikenal dengan Pantai Amal Baru. Sehingga pada saat sudah ada dua jalur, apabila orang dari kota, konon pada saat itu warga dari Kampung Enam dan Kampung Empat hendak ke daerah Pantai Amal, maka disebut lah Pantai Amal Lama dan Amal Baru.

“Orang dari kota bilang mau ke Amal Lama, karena dulu di sana jalannya. Yang di sini (Jalan Binalatung, Red) malah jadi Amal Baru,” terangnya.

Konon nama sebelumnya merupakan Jalan Swadaya karena dibuat oleh masyarakat. Diingatnya, sekira 1993 ia menjadi Ketua RT 8, sehingga ia meminta agar masing-masing warga membuat jalan dua meter per orang. Sebab pada saat itu belum ada bantuan dari pemerintah.

“Kalau tidak berusaha tidak ada jalan karena dulu belum ada bantuan,” jelasnya.

Sebelum Kelurahan Pantai Amal terbentuk, Pantai Amal Lama masuk dalam Kelurahan Kampung Empat. Sementara Pantai Amal Baru masuk dalam Kelurahan Kampung Enam. Namun sekira 2004, Kelurahan Pantai Amal terbentuk. Karena sangat jauh jika ada urusan kecil harus berjalan kaki sejauh 3,8 kilometer. Itupun pada saat itu, Kantor Kelurahan dibuat dengan seadanya saja. Sekira 2009 baru dibenahi infrastrukturnya oleh pemerintah.

“Di sini ada RT 8, RT 7 dan RT 9 masuk Kampung Enam. Kalau Amal Lama ikut di Kampung Empat. Jadi waktu ada lurah baru disatukan itu Pantai Amal ini,” tuturnya.

Sekira 1977, pulau kecil ini mulai dihuni penduduk. Dan pada saat itu sudah terbentuk Pasar Beringin untuk berjualan ikan. Kekayaan alam saat itu sangat berlimpah, ikan-ikan di perairan Tarakan sangat banyak. Konon pada saat itu, nelayan tidak sepenuhnya menggunakan perahu. Langsung turun ke pantai yang airnya sampai dada orang dewasa, sekira 1,2 meter dalamnya. Sekali menebarkan jaring, langsung mendapatkan ikan beberapa keranjang untuk dijual ke pasar.

“Jadi saya heran betul kalau ada yang bilang ini tanah Angkatan Laut, padahal kita sudah tahu dulu kita masuk sini karena masih banyak tanah kosong,” jelasnya.

Menurut Laumpang, mereka tak tau harus kemana, jika  kehilangan tempat tinggal karena lahan Pantai Amal diklaim milik Lantamal XIII Tarakan. Apalagi warga Pantai Amal mayoritas bermata pencaharian nelayan. Mustahil jika nelayan tidak berada di daerah pesisir. Tak ada keinginannya untuk pindah dari Pantai Amal ini, ia pun tidak berniat untuk pulang ke kampung halamannya, di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

“Jadi kalau saya ke kampung, orang akan bertanya-tanya sangking lamanya saya tinggalkan. Pasti bertanya, orang dari mana itu, padahal kampung sendiri,” tutupnya. (***/nri)


BACA JUGA

Minggu, 20 Mei 2018 21:29

Situasional, Tembak di Tempat

TARAKAN - Instruksi tembak di tempat kepada orang yang dicurigaI sebagai teroris hanya bisa dilakukan…

Minggu, 20 Mei 2018 20:47

Gubernur Seriusi Blok Gas Sei Menggaris

JAKARTA – Kelistrikan menjadi perhatian serius Gubernur Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr.…

Sabtu, 19 Mei 2018 09:11

Unjuk Gigi di Genius Olympiad Amerika

TARAKAN - Satuper satusiswa Kaltara unjuk gigi di ajang internasional. Setelah Ari Pardoan Manurung…

Sabtu, 19 Mei 2018 09:03

Belum Lunas, Sekolah Disegel Tukang

TARAKAN - Pembangunan sekolah secara swakelola di SMKN 2 Tarakan saat ini tiba-tiba terkendala. Tukang…

Sabtu, 19 Mei 2018 09:01

Antisipasi Ramadan, Seribu Ton Beras Dipasok Bulog

STOK beras di Bulog Tarakan dipastikan aman untuk Kaltara beberapa bulan ke depan. Pasalnya, beras yang…

Sabtu, 19 Mei 2018 08:58

Transportasi Online Beroperasi, Kuotanya Dibatasi

TARAKAN- Transportasi umum berbasis online telah beroperasi di Tarakan, meski saat ini hanya jenis roda…

Sabtu, 19 Mei 2018 08:56

Sudah Ditinjau, Warga Berharap Realisasi

TARAKAN – Ketua RT 9, Kelurahan Selumit, Jamal Ka’ba mengatakan, untuk mengantisipasi banjir,…

Jumat, 18 Mei 2018 19:43

Mengaku Bawa Bom, Penumpang Lain Histeris

TARAKAN – Penumpang Lion Air berinisial EF terpaksa diamankan petugas Avsec Bandara Juwata Internasional…

Jumat, 18 Mei 2018 12:00

Suka Bagi Video ISIS

MENILIK kehidupan AS, terduga teroris selama di Tarakan, ia diketahui pernah bersekolah di salah satu…

Jumat, 18 Mei 2018 11:55

Deteksi 17 Terduga Teroris

TARAKAN – Video anggota kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Tarakan membuat publik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .