MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 27 November 2017 13:04
Sekolahkan Anak hingga Menjadi Brigpol

Para Generasi Nelayan ‘Lembek-Lembek’ di Juata Laut

BEDA GENERASI: Pardi mengangkat pukatnya yang berisi ikan pepija saat melaut di perairan utara Pulau Tarakan, Sabtu (25/11) siang. Foto kanan, Laudi, salah seorang nelayan yang mengolah pepija menjadi oleh-oleh khas Tarakan sejak 1987 silam. AZWARD HALIM/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Sekitar 17 kilometer ke utara dari jantung pemerintahan Kota Tarakan, ribuan kepala keluarga menggantungkan penghidupannya dari hasil laut. Tak terkecuali para nelayan pepija di sepanjang pesisir Juata. Mereka telah mengangkat derajat masyarakat Tarakan, hingga dikenal sebagai daerah penghasil ikan tipis. Olahan pepija mendapat tempat di lidah masyarakat. Namun siapa sangka, olahan tangan yang banyak diburu itu tak berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayannya.

AZWARD HALIM, Tarakan

PERBURUAN ikan pepija atau nomei telah berlangsung sejak 1980-an. Ikan itu akhirnya ‘berjaya’ di medio 2000-an. Bila musim mudik tiba, masyarakat Tarakan yang umumnya pendatang membawa pulang oleh-oleh ikan tipis ke kampung halaman. Ikan tipis yang telah diolah lazimnya digoreng seperti kerupuk, cocok untuk lauk pendamping.

Lama kelamaan permintaan meningkat. Perburuannya kemudian tak hanya melibatkan puluhan nelayan. Banyak di antara yang gagal mendapatkan udang di laut beralih mencari pepija. “Saya tak bisa mengatakan jika saya salah seorang yang terlama di sini. Saya masih bujang saat menginjak kampung ini. Tanah lapang berupa semak belukar. Hanya ada jalan-jalan kecil untuk sampai ke dermaga laut,” ujar Laudi (52) memulai kisahnya sebagai nelayan pepija.

Warga RT 15 Juata Laut ini lama mendiami kawasan RT 07, Juata Laut yang kini menjadi pusat pengolahan pepija. “Mengontrak pertama kalinya di sini. Saya belum punya anak, bekerja sebagai nelayan. Dulu kan banyak yang kerja mencari udang, tapi sekarang kebalikannya. Lebih banyak yang mencari pepija,” ujar Laudi lantas mengingat-ingat riwayatnya saat masih muda.

Armada nelayan saat itu masih sangat tradisional. Mesin hanya diperuntukkan sebagai penggerak baling-baling. Sehingga pukat, alat yang digunakan menjaring ikan harus diturunkan dengan mengerahkan banyak tenaga. Sama dengan ketika menariknya kembali ke atas kapal. Terkadang jika tangkapan lebih banyak, Laudi hanya mengikat mulut ‘kantong’ pukat, kemudian menggiringnya menggunakan perahu ke dermaga penampung untuk diangkat di sana.

“Dulu belum banyak nelayan pepija. Satu periode, empat kali menarik di laut itu kita bisa dapat ikan tipis kering sampai dengan 3 kuintal,” urainya.

Alat yang dipakai pun didesain agar lebih efektif menjaring pepija. Sebab tengkulak menolak jika bahan baku bercampur dengan binatang lain.

“Semuanya diciptakan nelayan di sini. Perahunya pun dibuat di sini,” kata Laudi sembari menyebut pekerjaan itu dipelajari secara otodidak.

Nelayan di beberapa RT di kawasan itu merupakan warga pendatang sejak puluhan tahun lalu. Di lautan, sebagai ‘guide’ keberadaan ikan hanya lumba-lumba putih.

Hewan mamalia ini acap kali menuntun para nelayan pepija. Jika lumba-lumba tersebut telah muncul di perairan, maka itu sebagai penanda keberadaan ikan pepija yang berkelompok telah datang.

“Lumba-lumba itu sangat akrab dengan nelayan, saat menjaring pun mereka sering bermain di sekitar perahu nelayan. Seolah tahu, nelayan juga ingin berbagi makan,” imbuhnya.

Kendati tetap melaut, pekerjaan itu kini lebih banyak dikerjakan anaknya, Ritar (25). Sejak kecil anaknya itu dibawa ke laut. Agar mampu mengemudikan kapal atau mengoperasikan jaring, Laudi terkadang membiarkan anaknya belajar sendiri. Menurutnya, dengan begitu anaknya cepat paham dan menguasai teknik-teknik menangkap pepija.

“Tidak banyak saya campuri, kadang kalau di laut saya tidur. Kalau sudah saya arahkan, saya biarkan saja, biarkan dia belajar sendiri,” ungkapnya.

Sudah 30 tahun Laudi menangkap pepija. Menurutnya, kehidupan nelayan masih jauh dari kata sejahtera. Tak banyak yang bernasib sama sepertinya, yang mampu menyekolahkan anak sampai menjadi polisi. 

Dua tahun lalu, Riana (19) anak keduanya menamatkan pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bumi Turangga Balikpapan dan kini menjadi anggota Kepolisian Resor Tarakan.

“Anak perempuan saya yang satu menjadi polisi, satu lagi hanya sampai pendidikan menengah. Beginilah keseharian kami. Di antara kami tak ada yang kaya, yang kaya tengkulaknya, rumah besar. Lihat saja masih banyak yang mengontrak,” tutur Laudi lantas menunjuk sepanjang jalan lingkungan yang telah diaspal di Kampung KB, RT 07, Juata Laut.

Ikan pepija diburu sepanjang tahun. Jika musimnya tiba, maka tangkapan akan melimpah. Nelayan menyayangkan perlakuan tengkulak dalam menentukan harga. Terkadang tak menutupi biaya pengeluaran. Kata Laudi, jika saja ada pengendali harga, nelayan pepija kemungkinan akan sejahtera. Anak-anaknya bakal sekolah tinggi.

“Bagaimana anak mau sekolah tinggi, ketika mereka sudah beranjak dewasa pasti berpikirnya membantu keluarga. Karena kehidupan seperti ini. Dengan segala cara, kami mencari cara agar tetap bisa bertahan,” tukasnya.

Pemberlakuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2/2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela dan pukat tarik membawa kegelisahan bagi nelayan. Mereka sempat berdemo, menyampaikan aspirasi mereka.

Memang dilema, di saat peraturan itu diperketat, di lain sisi pemerintah dinilai tak memberi solusi. Misalnya dengan bantuan armada perikanan. “Kami ini mencari ikan bukan untuk kaya, tetapi menyambung hidup tidak lebih dari itu,” kata Rosniah menimpali Laudi, sejawatnya itu.

Belum lagi harga bahan bakar dan onderdil mesin kapal yang mahal. “Kalau semuanya ditata dengan baik, bisa saja dijalankan peraturannya. Yang penting kami ini, jangan dibinasakan. Nelayan itu saja pencariannya. Kalau mereka kaya, maka mereka akan membeli kapal yang besar. Melaut lebih jauh,” kata Laudi kembali.

“Dulu dilarang pukat harimau, kami akhirnya tidak pakai lagi. Sekarang mau dilarang lagi yang kami pakai ini. Tapi habis demo kemarin, katanya bisa lagi dipakai,” keluhnya.

Pardi (32), anak dari pasangan Daeng Manangka (58) dan Manurung (52) adalah generasi kedua nelayan pepija. Ia melanjutkan pekerjaan sang ayah, rekan Laudi. Hidup di komunitas nelayan tak memberinya banyak pilihan. “Inilah pekerjaan kami,” tutur Pardi dengan ramah.

Pardi telah beristri dan dikaruniai anak. Sekali dalam dua pekan ia melaut. Begitulah siklus penangkapan ikan pepija. Menurutnya, biaya besar menjadi masalah bagi nelayan. Menyiasatinya sangat sulit. “Minyak (BBM) sudah pasti beli, kalau gak beli yah gak bisa jalan. Es balok, kalau habis dibelah harus ada. Belum lagi kalau ada kerusakan kapal,” bebernya.

Untungnya, sang istri banyak membantu. Proses pengolahan setelah tahap penangkapan biasanya diurusi istrinya. Dari situ biasanya butuh waktu tiga atau empat hari hingga ikan benar-benar bisa dijual.

Daeng Manangka, ayah Pardi menyinggung soal keberpihakan pemerintah selama ini. Angin segar soal bantuan kepada nelayan kerap singgah di telinganya, namun tak pernah terealisasi. Rumitnya persoalan birokrasi, pengurusan administrasi membuat mereka enggan mengiba kepada pemerintah.

“Kartu keluarganya sudah berubah warna di-fotokopi terus. Yang kenyang pengurusnya saja, bantuan nelayan itu tak pernah sampai ke kami. Ada lagi bilang harus membentuk kelompok ini, itu, sudah kami lakukan. Tak ada juga. Itu saja bagi kami, agar kami diperhatikan, bukan dilarang,” harapnya.

Nelayan tak ingin berpangku tangan, mengerahkan kemampuan agar tetap bisa melaut. “Gali lubang tutup lubang. Sebelum turun melaut berutang, habis jualan ikan baru bayar utang. Begitu saja,” timpal Laudi lagi.

Rerata masyarakat nelayan memanfaatkan keberadaan kredit perbankan. Menurutnya kredit bank banyak membantu. Bunganya pun tidak begitu besar. “Saya sering. Kami semua pakai uang bank. Nah, bagaimana jadinya kalau tiba-tiba dilarang melaut. Mau dibayar pakai apa sudah pinjaman kami. Bank sangat membantu, saya biasa pinjam Rp 25 juta, pengembaliannya dalam setahun, paling selisihnya Rp 2 jutaan dalam setahun cicilan itu,” jelasnya.

Harapan terbesar nelayan, pemerintah hadir sebagai penengah. Mengatur tentang pengolahan pepija agar ikan tipis itu membawa perubahan, berkesinambungan. Minimal mewujudk

nelayan. (*/ddq)


BACA JUGA

Rabu, 14 November 2018 15:55
Dugaan Korupsi Lahan di Karang Balik

BPKP Bilang Tersangka di Tangan Penyidik

TARAKAN – Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalimantan Utara…

Rabu, 14 November 2018 15:54

Air Menyembur di Bagian Mesin Lampu

TARAKAN - Keenam anak buah kapal (ABK) tugboat atau kapan…

Rabu, 14 November 2018 15:52

Wisuda UBT, Lagu ‘Ayah’ untuk Orangtua Enggarsyah

TARAKAN - Universitas Borneo Tarakan mewisuda 262 mahasiswanya di Gedung…

Rabu, 14 November 2018 15:51

Canggung Hanya karena Anak dari Desa

Emha Bintang menerima predikat cum laude pada wisuda ke-XX Universitas…

Rabu, 14 November 2018 15:49

Perbatasan Rentan Kekerasan terhadap Perempuan

JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN BERI ORASI ILMIAH: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan…

Rabu, 14 November 2018 15:48

UNTUNG NGGA DITUNTUT MATI..!! Dituntut 20 Tahun, Cewek Cantik Ini Syok

TARAKAN- Terdakwa kasus sabu 1,08 kg yaitu Andi Riski Amelia…

Rabu, 14 November 2018 11:53

Di Pesantren Lapas, BNNP Temukan Sabu

TARAKAN – Berkunjung ke Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Tarakan,…

Rabu, 14 November 2018 11:51

Persoalan Sampah Masih Berlarut-larut

TARAKAN - RT 13 Kelurahan Selumit Pantai masih memiliki masalah…

Rabu, 14 November 2018 11:47

Wakil Menteri ESDM Harapkan Konversi BBM ke LPG Bisa Lebih Hemat

TARAKAN - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),…

Selasa, 13 November 2018 21:45

FINAL! DPT Tarakan 154.706 Pemilih

TARAKAN - Komisi Pemilihan Umum (KPU) memilih menunggu petunjuk teknis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .