MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 11 November 2017 11:20
Irianto Tertarik Beli Dua Pesawat Bikinan Anak Bangsa
Gubernur Irianto dengan latar belakang pesawat buatan PT DI, Nurtanio N-219.

PROKAL.CO, TARAKAN – Puluhan pesanan pesawat N219 berdatangan, jauh sebelum pesawat itu diberi nama. PT Dirgantara Indonesia (DI) yakin bisa memenuhi kebutuhan pesawat perintis, karena N-219 akan diproduksi per 2019. Kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan nama yang disematkan pada pesawat buatan anak Bangsa itu, yakni Nurtanio.

 Nama Nurtanio dipilih karena dia merupakan sosok perintis di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Pringgoadisuryo adalah kepala LAPAN pertama saat berdiri pada 27 November 1964. Namanya juga pernah diabadikan menjadi nama perusahaan PT DI saat kali pertama beroperasi.

Presiden Jokowi menuturkan, salah satu hal yang dia teladani dari Nurtanio adalah semangat kerja. Dia ingat betul kalimat tersebut. “Sudah, kita tidak usah ribut-ruibut yang penting kerja,” ucap Jokowi menirukan Nurtanio, saat meresmikan penamaan pesawat di Lanud Halim Perdanakusuma kemarin (10/11).

Menurut Jokowi, pesawat yang masih berupa prototipe itu harus segera dikomersialkan. “Kalau ini sudah selesai seluruhnya, maka proses berikutnya adalah proses bisnis,” tutur mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Pesawat tersebut harus bisa masuk dan ikut bersaing di dunia industri dirgantara, dan menjadi komoditas yang laku di pasaran. Bila itu terjadi, industri pesawat terbang nasional akan mampu berkembang.

Sementara itu, Gubernur Kaltara, H. Irianto Lambrie mendapat kesempatan menyaksikan peresmian pesawat baru buatan Anak Bangsa, N219 yang diproduksi oleh PT DI bekerja sama dengan LAPAN. Irianto menjadi satu-satunya kepala daerah yang diundang pada peresmian N219 oleh Presiden Jokowi di Base Ops Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/11) pagi.

Menurut gubernur, pesawat yang diberi nama Nurtanio oleh Presiden Jokowi ini menyimpan kecanggihan luar biasa, bahkan lebih baik dari pesawat sejenis buatan asing. Pesawat N219 memiliki kecepatan maksimum mencapai 210 knot, dan kecepatan terendah mencapai 59 knot. Artinya pesawat ini bisa terbang dengan kecepatan cukup rendah namun pesawat masih bisa terkontrol, ini penting terutama saat memasuki wilayah tebing dan pegunungan. Spesifikasi ini yang membuat gubernur tertarik untuk membelinya.

“Kami akan diskusikan dengan DPRD karena tujuannya adalah untuk ambulans udara sekaligus untuk angkutan ke perbatasan dalam menyongsong DOB (Daerah Otonomi Baru),” kata Irianto kepada Radar Tarakan.

Wacana ini juga sejalan dengan rencana Pemprov Kaltara untuk membangun bandara perintis di Lumbis Ogong dan Sebuku, serta daerah yang selama ini belum terjangkau maskapai penerbangan.

“Kelebihan pesawat ini bisa take off dan landing di landasan sepanjang 500 meter saja. Selain itu bisa mengangkut 19 orang dengan bobot bagasi 2,3 ton. Jadi untuk mengangkut sembako ke perbatasan tentu sangat bagus,” ujar Irianto.

Lantas seperti apa skema pembeliannya? Dijelaskan gubernur, ada beberapa skema pembayaran yang bisa dilakukan untuk membeli pesawat ini dengan catatan tidak memberatkan APBD Provinsi. “Kalau bisa sistem kredit, kerja sama atau investor,” tuturnya.

Bisa juga menggunakan dana APBD provinsi, tapi pembiayaannya bertahap, atau Pemprov Kaltara bekerja sama dengan investor, atau dengan opsi lain pinjaman kredit perbankan.

Namun yang pasti, Pemprov Kaltara harus melakukan kerja sama dengan maskapai yang sudah punya izin terbang, salah satunya Pelita Air. “Saya sudah diskusi dengan Dirut DI (Dirgantara Indonesia). Ada beberapa skema yang dapat dilakukan untuk pembelian pesawat ini,” jelasnya.

Untuk penjajakan awal, lanjut Irianto, pihaknya sudah mengagendakan Dinas Perhubungan Provinsi Kaltara dan DPRD Kaltara untuk meninjau pembuatan pesawat tersebut langsung ke hanggarnya. “Sistemnya kerja sama bisnis. Bisa melibatkan perusda atau kita mendorong pihak swasta yang beroperasi dan kita fasilitasi,” jelasnya.

Menurut gubernur, pesawat lokal buatan PT DI ini prospeknya bagus, apalagi untuk wilayah Kaltara yang wilayahnya luas dan berada di perbatasan.  Saat disinggung mengenai pengalaman Pemprov Kaltim yang pernah membeli pesawat namun operasionalnya terhenti dan akhirnya dijual, menurutnya berbeda dengan wacana saat ini.

“Itu salah beli jenis pesawat. Terlalu kecil kapasitasnya. Baling-baling satu,” ujar Irianto yang saat itu belum menjadi sekprov.

Untuk diketahui, Pesawat N219 ini bisa digunakan untuk mengangkut penumpang sipil, angkutan militer, angkutan barang atau kargo, evakuasi medis, hingga bantuan saat bencana alam. Dengan kelebihan tersebut, pesawat ini juga lebih murah dibandingkan pesawat sejenisnya, yaitu Twin Otter.

Dapur pacu pesawat buatan Bandung ini dilengkapi dengan dua mesin Pratt & Whitney Aircraft of Canada Limited PT6A-42 masing-masing bertenaga 850 SHP dan dilengkapi dengan Hartzell 4-Blade Metal Propeller. Pesawat N219 mampu mengangkut beban hingga 7.030 kilogram (kg) saat take off dan 6.940 kg saat mendarat. Kecepatan pesawat N219 bisa mencapai 210 knot dengan kecepatan ekonomisnya 190 knot.

Rencananya, Pemprov Kaltara akan membeli 2 unit pesawat seperti ini, untuk melayani seluruh rute penerbangan ke wilayah perbatasan Kaltara. Armada pertama pesawat yang ditaksir seharga Rp 80 miliar per unit itu, diprediksi sudah dapat teranggarkan mulai 2018 dan 2019. Pembayarannya dibagi dalam dua tahap, Rp 40 miliar pada 2018 dan sisanya di 2019.

Gubernur mengestimasikan, jika Pemprov Kaltara bersama DPRD Kaltara bersepakat menganggarkan dana pembelian pesawat yang memiliki kemampuan mengangkut muatan hingga 2 ton lebih tersebut pada 2018. Maka di 2019 sudah dapat difungsikan untuk melayani 3 fungsi utama pembelian pesawat itu. Yakni, transportasi barang ke perbatasan, pengangkutan orang dan ambulans udara.

“Rencana pengadaan pesawat ini memang inisiatif saya. Namun, untuk merealisasikannya sepenuhnya harus melalui persetujuan berbagai pihak terkait. Utamanya, DPRD Kaltara. Jadi perlu saya tekankan, ini bukan atas dasar keinginan pribadi atau inisiatif Pemprov Kaltara,” kata Irianto.

Beberapa menteri dan deputi pun turut hadir dalam acara peresmian pesawat tersebut. Seperti Menteri BUMN Rini Sumarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, serta Direktur Utama PT DI Elfien Guntoro.

Meski demikian, Irianto memastikan wacana ini akan dilakukan kajian terlebih dahulu apakah layak untuk dilakukan pembelian pesawat atau tidak. “Tentu akan kita kaji,” pungkasnya.

 Sementara itu, Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro menuturkan, saat ini pesanan pesawat N-219 sudah mencapai 80 unit. Baik maskapai swasta maupun pesanan dari pemerintah daerah. Pesawat itu memang dirancang untuk terbang di daerah terpencil, dan mampu mendarat di landasan sepanjang 400-500 meter. Sementara, pesanan dari luar Indonesia masih terus dijajaki, salah satunya dari Meksiko.   Produksi akan dimulai pada 2019.

“Mudah-mudahan awal Juli kami sudah bisa delivery. Dan untuk first customer yang kami deliver adalah Pelita Air Service,” terangnya.

Sementara, pelanggan kedua yang membeli pesawat yang harga per unitnya mencapai USD 6 juta itu adalah Gubernur Kaltara. Pesawat N-219 yang terbang kemarin adalah prototipe pertama. rencananya, prototipe kedua akan selesai pada 2018.

“Kami akan terus uji coba sampai jam terbangnya minimal 350,” lanjutnya. Sehingga, bisa betul-betul diketahui apa saja kekurangan pesawat tersebut.

Disinggung mengenai target, Elfien optimistis PT DI bisa memproduksi hingga 50 pesawat per tahun. Namun, untuk tahun-tahun pertama, dia hanya menargetkan produksi 6-12 unit per tahunnya. Terlebih, pada 2019 ada konsumen pertama yang memang harus mendapat prioritas.

Mengenai ketangguhan N-219, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa N-219 merupakan salah satu yang terbaik di kelasnya. “Dia mampu bermanuver dengan kecepatan yang lambat, sehingga cocok untuk terbang di antara pegunungan dan perbukitan,’’ tuturnya. (ddq/jpg/nri)


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 23:34

Penyebab Kebakaran Diduga Puntung Rokok

TARAKAN – Neneng (38) seketika panik, Sekira pukul 23.00 WITA, Rabu (19/9). Cahaya api memendar…

Kamis, 20 September 2018 23:31

Polda Akan Kumpulkan Bukti

TARAKAN - Buntut dugaan pemukulan terhadap lima mahasiswa oleh oknum kepolisian saat aksi unjuk rasa…

Kamis, 20 September 2018 13:01

Dinkes Minta Tambahan Waktu

TARAKAN – Masih rendahnya cakupan untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun mendapatkan imunisasi…

Kamis, 20 September 2018 12:56

SK Pemberhentian Sudah Ditandatangani

TARAKAN — Upaya  Wakil Wali Kota Tarakan Khaeruddin Arief Hidayat untuk bisa lolos sebagai…

Kamis, 20 September 2018 12:44

Beruang Itu Diduga Sakit dan Stres Berat

TIGA ekor beruang madu yang hidup di dua kandang di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan Kampung…

Kamis, 20 September 2018 12:30

922 Gram Sabu Dilarutkan di Air

TARAKAN - Sabu-sabu sebanyak 922,12 gram dimusnahkan pihak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP)…

Kamis, 20 September 2018 12:13

SK Honorer Tunggu Data Valid

TARAKAN - Kejelasan status tenaga honorer saat ini masih terus diperjelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan…

Kamis, 20 September 2018 12:10

Ditinggal, Rombong PKL Diangkut

TARAKAN - Empat unit rombong milik pedagang kaki lima (PKL) yang berada di depan Taman Berkampung, Kelurahan…

Kamis, 20 September 2018 12:09

Di Samping Jalan Rusak Ada Jurang

TARAKAN – Ketua RT 4, Kelurahan Juata Laut, Amiruddin mengatakan beberapa usulan yang diajukan…

Kamis, 20 September 2018 12:08

Jaringan Bermasalah, Pencetakan E-KTP Terkendala

TARAKAN – Setelah masalah kekurangan blanko Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) terselesaikan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .