MANAGED BY:
SELASA
17 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 09 September 2017 10:31
TPA Baru Gunakan Sistem Pemrosesan Baru
PENGERJAAN: TPA Juata Laut yang sedang digarap akan menggunakan sistem pemrosesan baru dengan cara sampah akan ditimbun ke dalam tanah. JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Pembuatan tempat pemrosesan akhir (TPA) yang rencananya akan dipindahkan ke Juata Laut mulai dikerjakan. 43 hektare tanah dipersiapkan untuk menampung sampah yang sudah tidak dapat lagi dimuat di TPA Hake Babu. Di TPA baru akan digunakan sistem controlled landfiil (penutupan tanah secara berkala).

Kepala UPT TPA Hake Babu, Abdul Muin mengatakan untuk luasan tanah memang sudah clear, hanya yang masih terkendala saat ini pembuatan akses jalan masuk yang banyak menuai protes. Padahal pihaknya hanya akan membuat jalan sementara saja untuk pengerjaan perataan tanah TPA.

“Sekarang itu memang masih membuat jalan untuk masuk saja agar dapat bekerja, tetapi sebenarnya hanya sebentar saja dan untuk sekedar dapat bekerja lewati jalan itu, bukan menjadi akses masuknya nanti,” kata Muin. 

Untuk tahapan persiapan TPA baru ini, sedang dilakukan proses pematangan lahan atau land clearing agar dapat menggali dan memasukkan sampah-sampah nantinya. Karena lokasi pembuangan sampah seluas 1 hektare itu berada di bukit yang jauh dari warga.

“Pembuangan sampahnya kan berada jauh di atas, jadi butuh akses masuk,” ujarnya.

Pihaknya berencana untuk membuat fasilitas pendukung TPA, seperti kantor dan Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah air limbah sampah agar tidak merusak lingkungan sekitar. Tetapi memang saat ini masih akan memfokuskan pada perataan tanah saja agar nantinya dapat digunakan menaruh dan menimbun sampah-sampah yang ada.

Lebih lanjut Muin menjelaskan, meyoal IPAL nantinya akan dilakukan beberapa proses seperti, setiap pembusukan tumpukan sampah akan dicampurkan dengan air hujan dan akan menghasilkan air lindi. Air itulah yang nantinya akan diolah karena akan sangat berbahaya jika dibuang tanpa diolah terlebih dahulu.

“IPAL itu kalau sudah terlihat aman, baru akan dibuang ke badan air. Kami juga akan selalu memantau secara intens,” katanya.

Selain itu yang juga turut menjadi perhatian pemerintah terkait bau yang ditimbulkan nantinya, UPT TPA Hake Babu akan melakukan program meminimalisir bau dari tumpukan sampah tersebut. Namun, kecil kemungkinan warga akan terganggu dengan aroma khas dari sampa-sampah tersebut karena lokasi pembuangan akan jauh dari pemukiman warga sekitar 1 kilometer, ditambah lagi banyaknya hutan di lokasi, sehingga akan menekan bau sampah.

Untuk pengoperasionalannya nanti jikalau memang sudah jadi akan menggunakan sistem sanitary landfiil yang artinya setiap hari dilakukan penimbunan tanah urug di atas sampah yang telah diratakan, minimal dengan menggunakan sistem controlled landfiil yang artinya penutupan tanah dilakukan secara berkala

“Kami akan menimbun sampah itu secara berkala, agar bakteri tidak berkembang biak. Memang berkala, dan tidak bisa setiap hari, karena biaya pengoperasiannya lebih mahal,” ujarnya.

Tetapi memang untuk Kota sedang seperti Tarakan hanya cukup dengan sistem controlled sesuai dengan undang-undang persampahan no 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Rencananya juga pemerintah menargetkan akan menjadikan lokasi pembuangan sampah sebagai tempat wisata atau green TPA agar menjadi TPA yang ramah akan lingkungan. Berbeda dengan TPA Hake Babu yang memang saat ini sudah over load, sehingga harus ditutup.

“Sekarang kami sedang benahi dulu sebelum ditutup, karena memang tidak boleh ada dua TPA,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang warga Juata Laut yang berada di Jalan Bukit Indah, Iyus mengatakan dia tetap tidak setuju untuk pembangunan TPA, karena takut akan menimbulkan bau busuk seperti TPA sebelumnya. Tetapi kalaupun memang harus dibuat, diharapkan agar apa yang dikatakan pemerintah dapat terealisasi dengan baik.

“Kalau sampai tidak terealisasi, kami akan tuntut hak kami. Kalau memang akan dibuat serapi dan ramah lingkungan maka kami dukung,” ujarnya. (*/yus/nri)


BACA JUGA

Senin, 16 Juli 2018 20:22

Padahal Selalu Ada Pemeliharaan, Tapi Listrik Sering Padam

  TARAKAN - Masyarakat Tarakan mengeluh lantaran listrik PLN kembali padam hampir di seluruh wilayah,…

Senin, 16 Juli 2018 16:19

Arkanata Akram Menjadi Saksi Sportivitas Pecinta Sepakbola

Menyaksikan Final Piala Dunia Rusia 2018 asyiknya dengan nonton bareng (nobar). Seperti kemeriahan nobar…

Senin, 16 Juli 2018 16:17

BNNP Berharap Gedung Rehabilitasi Dihibahkan

TARAKAN – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara berharap gedung rehabilitasi pengguna…

Senin, 16 Juli 2018 16:16

Pura-Pura Miskin Tidak Diterima

Jalur keluarga miskin (gakin) dengan kuota minimal 50 persen, dengan maskimal tidak terbatas dimanfaatkan…

Senin, 16 Juli 2018 16:15

Manipulasi SKTM, Tindak Tim Verifikasi

PENGGUNAAN surat keterangan tidak mampu (SKTM) oleh masyarakat yang tergolong mampu, membuat sistem…

Senin, 16 Juli 2018 16:13

Selamatkan Diri, Lempar Anak Lewat Jendela

TARAKAN - Apa pun pasti akan dilakukan seorang ibu saat mendapati buah hatinya dalam bahaya. Begitu…

Senin, 16 Juli 2018 09:14

Negosiasi Berjam-jam, Pelantikan FPI Batal

TARAKAN – Ratusan personel dari TNI dan Polri, Sabtu (14/7) melakukan pengamanan di terminal Bandara…

Senin, 16 Juli 2018 09:13

Pemkot Sampaikan Permintaan Maaf

Pemkot Sampaikan Permintaan Maaf KEDATANGAN Wakil Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) di Kota Tarakan,…

Senin, 16 Juli 2018 09:12

Wisata Asyik ke Embung Geomembran

SELAIN menawarkan banyak wisata budaya, masih ada satu wisata yang enggak kalah menarik dan wajib banget…

Senin, 16 Juli 2018 09:10

Jalan Gunung Selatan Jadi Lokasi TPS

TARAKAN– Jalan Gunung Selatan yang sebenarnya merupakan “paru-paru” bagi Bumi Paguntaka…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .