MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Selasa, 22 Agustus 2017 10:56
Lulus SD Sudah Jadi Calon Ibu

Kelemahan Pengawasan Orang Tua Terhadap Anak

ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, TARAKAN – Pernikahan dini di Bumi Paguntaka dalam delapan bulan terakhir ternyata kurang lebih enam pasangan calon pengantin yang menikah. Yang artinya angka pernikahan dini masih terjadi di Tarakan.

Fenomena ini dipengaruhi banyak faktor rata-rata karena peristiwa pranikah atau yang sering dikenal dengan maried by accident (hamil duluan). Hal ini perlu diwaspadai seluruh orang tua, sebab jika lemah dalam mengawasi anak, maka sudah pasti si anak tersebut akan menanggung beban sebagai ibu muda di usia yang sangat muda juga. Bukan itu saja, cita-cita yang didambakan harus pupus di tengah jalan.

Radar Tarakan mencoba bertemu dengan salah seorang orang tua yang harus menikahkan anaknya di bawah umur, lelaki yang enggan disebutkan namanya ini mengakui, dia terpaksa harus merelakan anaknya bersuami lantaran karena sang anak yang berusia 15 tahun karena ‘kecelakaan’.

Pernikahan tersebut berlangsung Selasa (15/8) lalu, sekitar pukul 10.00 Wita. Sang ayah dari mempelai perempuan itu menceritakan, sebenarnya anak perempuannya itu baru lulus Sekolah Dasar (SD) dan berencana akan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun karena usia putrinya 15 tahun sehingga sulit untuk melanjutkan di sekolah negeri.

Lelaki berusia 40 tahun ini, ternyata tidak mengetahui jika putrinya memiliki pacar. Yang dia tau putrinya selalu meminta izin untuk keluar rumah. Lantaran sudah mempercayai sang anak, maka tidak ada kecurigaan sedikitpun terhadap perilaku anaknya. Lemahnya pengawasan ini juga diperparah sejak sang istri tidak berada di Tarakan dari tahun lalu hingga Juli ini.

 “Cuma saya, dia (putrinya) dan adiknya di rumah, jadi mamanya datang karena anaknya mau menikah saja ke Tarakan,” lanjutnya.

Dia berharap kejadian ini tidak dialami anak-anak muda di Tarakan, sebab dia juga menyesali apa yang dialami oleh anaknya. “Semoga ini jadi pelajaran bagi orang tua agar tidak terjadi seperti ini,” tuturnya.

Untuk diketahui, remaja yang berinisial NS ini kelahiran Tarakan, 14 Juli 2002 ini yang dinikahkan dengan AR yang sudah genap berusia 29 tahun pada 25 Agustus mendatang. Radar Tarakan mencoba menemui AR di ruang tamu, saat itu AR dan NS terlihat sedang bercerita. NS masih terbilang belia untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu. Senyumannya yang polos sama seperti anak-anak sebayanya yang harusnya sedang menikmati aktivitas belajar di sekolah.

Diceritakan AR sang mempelai pria, dia merupakan perantauan dari Mamuju, Sulawesi Barat. Karena ingin mengadu nasib, maka 2010 lalu dia mencoba mencari peruntungan di Tarakan. Saat ini dia bekerja di salah satu perusahaan swasta.

Singkat cerita, AR mengenal NS sekitar April lalu. Karena sering terlibat dalam serangkaian kegiatan di Gereja, akhirnya tumbuh benih-benih cinta di antara kedua sejoli ini. AR mengaku, sejak pertama kali melihat NS ia langsung terpesona lantaran kepribadiannya yang baik dan murah senyum ini. Akhirnya sekitar Juni lalu, mereka memutuskan untuk berkenalan lebih dalam dan akhirnya berpacaran yang akhirnya berujung pernikahan, yang dinilai mendadak oleh ayah NS.

“Masih bisa dibilang anak-anak, tapi waktu pertama kali lihat saya memang jatuh cinta,” tuturnya sambil tersenyum.

AR menyadari bahwa usia NS masih labil dan manja, namun ia berkomitmen akan menuntun dan membimbing NS agar siap menjadi seorang istri yang dewasa. “Dia kan memang masih anak-anak, jadi wajar saja kalau nantinya sifat kekanak-kanakannya,” jelas pria berkulit gelap ini.

Tidak hanya itu saja, Radar Tarakan mendapatkan informasi pernikahan di bawah umur pernah dilakukan di wilayah Kelurahan Selumit Pantai.

Namun dengan kasus berbeda, salah seorang warga Kelurahan Selumit Pantai yang enggan dikorankan namanya ini mengatakan, tetangganya itu menikah karena mengalami pelecehan seksual. Kasus ini sempat dilaporkan ke Polres Tarakan, namun dapat diselesaikan secara kekeluargaan dengan meminta sang laki-laki untuk menikah dengan korban. “Sebenarnya kasusnya ini sudah lama, bahkan perempuannya sudah melahirkan anak mereka,” ucapnya.

Di lokasi yang berbeda salah seorang warga juga menjelaskan, jika beberapa waktu lalu ada warga yang tinggal di daerah tempat tinggalnya yang ingin melaksanakan pernikahan. Namun, rencana pernikahan tersebut di tolak oleh pihak Kantor Urusan Agama (KUA) setempat karena sang gadis masih berusia di bawah umur dan juga gadis tersebut bukan warga asli kelurahan Selumit Pantai.

“Baberapa waktu lalu memang ada yang ingin menikah dibawah umur, tapi tidak jadi karena ditolak sama KUA terus perempuannya juga bukan warga asli sini,” ungkapnya.

Gadis itu merupakan warga asli Kabupaten Sungai Nyamuk hal ini lah yang membuat pihak KUA tidak bisa mengizinkan pernikahan mereka. “Perempuannya itu bukan warga sini, dia orang sungai nyamuk,” Katanya.

Dari info yang Radar Tarakan himpun, di salah satu SD yang berada di Kelurahan Selumit pernah salah seorang muridnya mengalami hal sama. Yakni menikah saat masih di usia dini.

Namun, saat ditelusuri salah seorang tenaga pengajar di sekolah tersebut enggan berkomentar banyak, menurut info yang didapatkannya anak tersebut juga mengalami maried by accident pada waktu ini, dan saat ini sudah melahirkan.

SUDAH BALIG DIIZINKAN MENIKAH

Menikah sebelum usia yang ditetapkan peraturan, yakni usia calon mempelai pria mencapai usia 19 tahun dan calon mempelai wanita berusia 16 tahun. Harus mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama.

Panitera Muda Hukum di Pengadilan Agama Tarakan, Muhammad Yusuf mengatakan, perkawinan diizinkan jika calon mempelai pria sudah berusia 19 tahun. Dan calon mempelai wanita mencapai usia 16 tahun, hal tersebut sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Jika calon mempelai pria maupun wanita berada dibawah umur seperti yang disebutkan dalam pasal 7 ayat 1, maka calon mempelai wajib mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama (PA).

“Jika calon mempelai memenuhi persyaratan bisa diberikan dispensasi,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (21/8).

Yusuf melanjutkan, adapun persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon suami, yakni sudah balig (mencapai kedewasaan), mempunyai pekerjaan, sehat jasmani dan rohani, tidak ada paksaan, tidak mempunyai hubungan keturunan (nasab). “Jadi kalau calon mempelai pria belum bekerja, mungkin orang tua bersedia menafkahi kehidupannya,” lanjut Yusuf.

Sambungnya, sedangkan persyaratan untuk calon mempelai, yakni sudah baligh (mencapai kedewasaan), sehat jasmani dan rohani, tidak ada paksaan, diizinkan oleh orang tua kandung atau walinya, dan tidak mempunyai hubungan keturunan (nasab). “Pada saat di sidang, pasti ditanya sudah baligh atau belum, kalau belum pasti ditunda, tapi sejauh ini semuanya memenuhi persyaratan,” sambungnya.

Dikatakannya, pernikahan di bawah umur harus mendapatkan persetujuan dari Pengadilan Agama (PA) terlebih dahulu sebelum dinikahkan secara sah di Kantor Urusan Agama (KUA). Sebab di KUA hanya mencata dan tidak mengkaji secara mendalam. Sehingga perlu mendapatkan persetujuan dari Pengadilan Agama berupa dispensasi usia menikah. “Jadi dari KUA menyarankan ke Pengadilan Agama, kalau sudah ada dispensasi baru KUA nikahkan,” kata Yusuf.

Ia juga mengatakan, berkas dari KUA biasanya sekitar tiga minggu baru diproses dan dimasukkan dalam daftar sidang. Sedangkan saat sidang juga membutuhkan waktu sekitar dua minggu bahkan dua bulan untuk mengeluarkan dispensasi usia menikah. Sebab pertimbangan hakim berdasarkan hukum agama dan hukum pemerintahan.

“Tergantung dari saksi-saksi yang dihadirkan, persyaratannya cepat terpenuhi. Biasanya juga hakim kan ada kepentingan di luar kota, bisa saja sidangnya ditunda,” terangnya.

Diungkapkan oleh Yusuf, biasanya saat pengajuan dispensasi menikah, calon mempelai merahasiakan alasannya menikah dibawah umur. Namun saat disidang, alasannya akan terungkap. Entah itu karena faktor pergaulan yang salah maupun karena faktor ekonomi sehingga harus dinikahkan.

“Mungkin karena pacaran terlalu dekat. Biasanya juga pasangannya bisa menjamin kehidupannya, atau calon mertua bisa memberikan pekerjaan,” tutupnya.

TAK ADA DISPENSASI TAK BOLEH MENIKAH

TARAKAN – Jika sudah terjadi ‘kecelakaan’ maka jalan satu-satunya adalah menikah, meskipun masih di bawah umur. Kendati begitu negara tetap mengakui pernikahan tersebut dengan catatan, harus meminta penetapan dispensasi menikah agar sah di mata hukum.

Akademisi hukum dari Universitas Borneo Tarakan, Dr. H. Basri SH, MH mengatakan, meski di dalam Undang-Undang (UU) Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawainan pada Bab 2 pasal 7 ayat 1 sudah disebutkan bahwa Pernikahan hanya diizinkan jika usia laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun.

Namun, untuk pernikahan yang terjadi bagi pasangan yang belum cukup umur baik itu dari pihak laki-laki maupun perempuan, maka akan diberikan dispensasi nikah dalam hal penyimpangan dari usia yang telah ditentukan.

“Memang akan diberikan dispensasi dari pengadilan atau dari pejabat lain yang telah ditunjuk, baik dari pihak laki-laki atau perempuan yang tidak cukup umur namun harus menikah,” ungkap lelaki yang meraih gelar Doktornya di Universitas Airlangga Surabaya ini.

Nah, dengan adanya dispensasi, maka pernikahan boleh dilakukan. Walaupun harus bertentangan dengan UU PA. Karena kedua Undang-undang ini berbeda peraturan, asalkan tidak mengesploitasi sang anak maka sah-sah saja itu dapat dilakukan.

“Kebanyakan kan, anak-anak itu menikah karena faktor kehamilan yang sudah terjadi sebelum menikah. Yang pasti jangan sampai pernikahan dengan paksaan,” jelasnya.

Nantinya, bisa atau tidaknya pernikahan dilangsungkan, pengadilan ataupun pejabatnya yang akan menilai alasan dari pernikahan yang dilakukan oleh anak di bawah usia boleh menikah tersebut.  “Pernikahan itukan terjadi karena kesepakatan, jadi semua akan berlangsung jikalau kedua pihak setuju,” ujarnya.

Jikalau tidak ada izin atau surat dispensasi dari pengadilan ataupun pejabat, sudah pasti KUA tidak akan mungkin memberikan izin pernikahan. Karena pengurusan menikah di bawah umur ini sangat wajib untuk mendapatkan surat dispensasi. Karena kalau tidak, maka tidak akan diakui oleh negara.

“Itu memang sudah aturan yang dilakukan oleh pasangan di bawah usia pernikahan,” tuturnya.

Jikalau KUA melaksanakan pernikahan tanpa adanya surat dispensasi, maka secara administrasi sudah melanggar peraturan. Hal ini sudah diatur dalam UU perkawinan tersebut. (*/one/*/him/*/yus/nri/dd)


BACA JUGA

Sabtu, 18 November 2017 11:27

Baru Tiga Tahun Sudah Rusak

TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan mendapat sorotan tajam karena dianggap tak refresentatif…

Sabtu, 18 November 2017 11:25

Terlalu Memilih Pekerjaan, Kesempatan Terbuang

TARAKAN – Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Tarakan mengungkap serapan tenaga kerja selama…

Sabtu, 18 November 2017 11:22

WADUH..!! Investor Pemasok Gas Mundur

TARAKAN – Sebelumnya banyak investor yang siap menyuplai gas ke PT PLN (Persero) Unit Layanan…

Sabtu, 18 November 2017 11:11

Dua Hari, Tiga Korban Tewas di Jalan

TARAKAN - Nahas, sebuah mobil Daihatsu Xenia dengan nomor polisi KT 1680 RE yang dikemudikan Muhammad…

Sabtu, 18 November 2017 11:10

Sentra Industri Telan Biaya Rp 20 Miliar

TARAKAN - Sentra indusri kecil dan menengah saat ini tengah dibangun di Jalan Hake Babu dengan luas…

Sabtu, 18 November 2017 11:08

Reklame Mendominasi Perizinan

TARAKAN – Sejak Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Tarakan menjadi Dinas Penanaman Modal,…

Sabtu, 18 November 2017 11:04

Dua Jembatan di Dua Gang Rusak

TARAKAN - Ketua RT 2, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Ihsan mengatakan, terdapat dua titik jembatan yang…

Sabtu, 18 November 2017 11:03

Pedagang Berburu Uang Kecil

Tarakan-Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Tarakan,  pendistibusian uang baru terus dilakukan…

Sabtu, 18 November 2017 10:59

Genset Rp 2,9 Juta ‘Diembat’ Paman

TARAKAN – Entah apa yang ada di benak TC (nama diinsialkan), pelaku pencuri genset keponakan sendiri.…

Jumat, 17 November 2017 12:24

JANJI YA...!! Mulai Desember Tak Ada Pemadaman

TARAKAN – Persoalan listrik di Bumi Paguntaka memang belum berakhir. Kekurangan pasokan gas masih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .