MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Sabtu, 19 Agustus 2017 12:13
Terombang-ambing 5 Jam di Laut

Tertolong Berkat SMS Titik Koordinat ke Bakamla

SENYUM BAHAGIA: Rombongan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang akhirnya bisa sampai di Tarakan setelah diselamatkan KRI Kerapu, kemarin (18/8). JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Keadaan laut tidak ada yang tahu, tenang tak berarti aman. Kamis (17/8) kemarin, tepat dihari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) rombongan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi terombang-ambing selama kurang lebih 5 jam di perairan Kalimantan Utara (Kaltara).

Rombongan yang terdiri dari 9 orang staf Setjen Biro Perencanaan di Kementerian, beserta 3 orang wartawan berniat untuk lebih awal tiba di Bumi Paguntaka. Namun tak disangka perjalanan yang harusnya bisa ditempuh selama 3 jam menjadi lebih lama karena ombak setinggi 1,5 meter membuat mereka terombang-ambing di laut antara Pulau Baru dan Pulau Bunyu.

Salah seorang staf kementerian, Nana Suryana mengatakan awalnya mereka memang meminta tolong kepada warga Sebatik untuk dicarikan speedboat menuju Tarakan.

“Pertimbangannya, apabila kami dapat tiba Kamis malam, artinya kami dapat beristirahat selama satu malam di Tarakan. Kemudian Jumat siangnya kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta,” tuturnya.

Selang beberapa jam mereka mendapatkan info, ada satu speedboat yang siap untuk berangkat ke Tarakan sore itu. Sehingga rombongan memutuskan untuk berangkat sore itu juga menuju Tarakan dengan membawa barang masing-masing.

“Waktu kami berangkat dari Tarakan menuju Sebatik, perjalanannya baik-baik saja. Sehingga kami berpikir meskipun sudah sore perjalanan kembali ke Tarakan tidak ada masalah,” tambah Samsul, salah satu staf kementerian.

Mereka tidak mengetahui jika perjalanan antar pulau di Kaltara jika menggunakan speedboat malam hari sangat berisiko. Ditambah cuaca yang akhir-akhir ini tidak menentu dengan kondisi jalur laut yang gelap.

“Nakhoda dan motoris juga tidak ada yang mengingatkan,” tutur Samsul.

Nana kembali menceritakan, awal perjalanan menuju Tarakan sore itu berjalan lancar pada 2 jam pertama. Namun setelah magrib, rombongan bertemu dengan nelayan yang juga berada di perairan untuk menanyakan arah menuju Tarakan, karena speedboat Doa Ibu tidak memiliki fasilitas Global Positioning System (GPS) sebagai penunjuk lokasi.

“Saat berada di Perairan Bunyu itu yang kami tahu dari nelayan, nakhoda speedboat  ternyata kehilangan arah,” ungkap Nana.

Namun, nakhoda tetap melanjutkan perjalanannya, sejam kemudian ombak mulai menghantam speedboat dan semakin lama semakin tinggi. Cuaca malam itu juga tidak baik, ditambah turunnya hujan. Tetapi nakhoda tetap berusaha melanjutkan perjalanan, agar bisa segera sampai ke Tarakan. Hanya saja tingginya ombak melebihi 1,5 meter seolah membuat speedboat tidak berdaya.

“Ketika speedboat berjalan melawan ombak, speedboat kami terhempas mundur. Berulang-ulang kali. Nakhoda berteriak agar semua berpegangan. Kami sudah berusaha untuk mengeluarkan air, tapi usaha itu sia-sia karena speedboat tetap dimasuki air karena saat itu hujan,” cerita Nana.

Dengan kondisi panik, semua penumpang langsung menggunakan pelampung atau life jacket yang tersedia. Sebagian dari mereka diketahui tidak dapat berenang. Air laut dari hempasan ombak perlahan-lahan masuk ke dalam speedboat dan membuat mereka seluruhnya basah kuyup.

Speedboat yang mereka tumpangi itu tidak seluruhnya tertutup terpal, sehingga air dengan mudah masuk ke dalam. Dalam keadaan panik semua berusaha untuk menyalakan handphone, tetapi hanya 2 unit handphone milik rombongan yang bisa digunakan.

 “Handphone yang masih berfungsi kami pergunakan untuk mengirim Short Message Service (SMS), penunjuk GPS, dan kompas,” jelasnya.

Vika, salah seorang penumpang yang handphonenyamasih bisa digunakan. Vika kemudian mengirim pesan bahwa mereka terombang ambing di laut ke salah satu nomer petugas Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla), yaitu Letkol Valkan Wicaksono.

“Karena kalau kami terus melawan ombak, speedboat terhempas mundur dan air masuk,” tuturnya.

Tina, penumpang lainnya menceritakan, saat itu mereka gelisah dan takut karena keadaan tidak kunjung normal. Bagaimana tidak, pada saat itu kondisi gelap gulita, hujan deras, tiupan badai kencang, serta ombak yang tinggi menghantam speedboat yang mereka tumpangi.

Mereka kemudian memutuskan untuk mengikuti arah ombak dan mencari pulau terdekat yaitu Pulau Bunyu menggunakan handphone yang masih berfungsi sebagai GPS dan kompas.

“Dari Kamis malam hingga Jumat dini hari kami terombang ambing di lautan. Dengan kondisi solar pada mesin tinggal setengah,” tutur Dwi.

Setelah berjuang melawan ombak, mereka sempat terdampar di lokasi yang tidak jauh dari Pulau Bunyu. Karena keadaan sekitar yang tidak ada penerangan sehingga rombongan memutuskan tidak turun dari speedboat.

Sela 1,5 jam kemudian, Bakamla dan Lantamal XIII Tarakan datang menghampiri mereka menggunakan KRI Kerapu, saat itu juga rombongan dievakuasi untuk dibawa menuju Tarakan. Pagi harinya rombongan sampai di Tarakan dan langsung menuju Lantamal XIII Tarakan yang berada di Jalan Yos Sudarso.

“Jujur, kami sangat trauma,” timpal Samsul.

KRI KERAPU LANGSUNG OPERASI SAR

Setelah mendapatkan informasi adanya speedboat dari Sebatik terombang-ambing di lautan karena dihantam ombak tinggi, Badan Keamanan Laut (Bamkala) dan Lanmatal XIII Tarakan langsung melakukan operasi SAR. Yang akhirnya 12 orang penumpang speedboat Doa Ibu berhasil dievakuasi dan selamat.

Kepala Biro Umum Bakamla, Laksamana Pertama TNI Suradi mengatakan, Kamis malam mereka menerima informasi tersebut. Kemudian tim langsung mengkroscek kebenaran itu dengan menanyakan ke staf kementerian, apakah ada rombongan berangkat menuju Tarakan. Setelah mendapat kejelasan dan kebenaran informasi, ia kemudian melakukan komunikasi dengan Direktur Operasi Laut, Laksamana Rahmat Eko. Sehingga tim menggerakan 1 unit Kapal bernama KM. Gajah Laut.

“Jumat dini hari kami bergerak ke lokasi kejadian,” tutur Suradi, kemarin (18/7).

Kemudian setelah berkoordinasi dengan unsur-unsur terkait, mulai dari Badan Sar Nasional (Basarnas), Lanal Nunukan, dan Lantamal XIII Tarakan. Tim langsung melakukan operasi SAR menuju lokasi kejadian. Karena pada malam tersebut TNI AL, KRI Kerapu yang saat itu sedang bertugas dan kebetulan berada di dekat lokasi, maka KRI Kerapu langsung mengambil sikap untuk meluncur ke lokasi di perairan dekat Pulau Bunyu.

“Tim langsung mengambil sikap untuk mengevakuasi,” jelasnya.

Dia bersyukur karena dalam operasi SAR tersebut KRI Kerapu telah tiba di lokasi Jumat (18/8) sekitar pukul 02.00 Wita dengan cepat. Tim berhasil menyelamatkan 12 orang dalam rombongan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Speedboat yang dinaiki oleh rombongan kementerian itu mengalami mati mesin dan terdampar di perairan dekat Pulau Bunyu, bagian utara Pulau Tarakan, ini juga diakibatkan oleh hujan deras dan badai,” tuturnya.

Dijelaskannya, pada kondisi normal biasanya perjalanan menggunakan speedboat dari Sebatik tujuan Tarakan hanya membutuhkan waktu selama 3 jam. Namun dikarenakan kondisi cuaca yang tidak baik, hujan dan badai, maka speedboat tersebut masih berada di perairan sekitar Pulau Baru dan Pulau Bunyu lebih dari waktu perkiraan.

“Kurang lebih selama 5 jam speedboat tersebut terapung. Alhamdulilah, dengan kecepatan kami dan keterlibatan pihak terkait semua penumpang dapat dievakuasi dan selamat. 4 anak buah kapal speedboat tersebut kami selamatkan juga,” tuturnya.

Setelah sampai di Tarakan, sebagian rombongan kementerian langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta.

Sementara itu, Komandan Lantamal XIII Tarakan, Laksamana Pertama Ferial Fachroni melalui Komandan Pos TNI AL Bunyu, Letda M Hirin mengungkapkan, pihaknya menerima informasi terdamparnya speedboat yang memuat 12 penumpang itu,  sekira pukul 23.36 Wita.

"Jadi kami (Pos AL Bunyu) dapat informasi dari Lantamal XIII Tarakan dan Lanal Nunukan ada speedboat rombongan Kemendes yang terdampar di Sungai Teritip Pulau Bunyu," kata Hirin saat ditemui awak media ini di ruangannya, kemarin (18/8).

"Saya langsung koordinasi dengan Komandan KRI Kerapu 812 Mayor Laut (P) Ramli Arif yang kebetulan berada di laut Bunyu." sambungnya.

Nah, kata Hirin, setelah dilakukan plooting, di mana posisi titik koordinat yang dikirim oleh salah satu penumpang ke Lantamal, dilanjutkan ke Pos AL Bunyu. Setelah itu KRI Kerapu langsung melakukan SAR ke titik koordinat tersebut.

Setelah itu dilakukan evakuasi. Prosesnya membutuhkan waktu karena posisi speedboat dari Sebatik dengan tujuan Tarakan sebelum akhirnya terdampar di Bunyu ditemukan di daerah yang tak berpenghuni. Sekira 6 mil dari Pelabuhan Bunyu.  Selain itu KRI Kerapu juga harus memerhatikan kondisi kedangkalan laut.

"Posisinya dekat dengan wilayah tambang PT Garda Tujuh Buana. Cuaca juga kurang bersahabat karena gelombang akibat angin kencang. Semua penumpang langsung dievakuasi ke Tarakan" ujarnya. (*/jhn/keg/nri/dd)


BACA JUGA

Sabtu, 18 November 2017 11:27

Baru Tiga Tahun Sudah Rusak

TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan mendapat sorotan tajam karena dianggap tak refresentatif…

Sabtu, 18 November 2017 11:25

Terlalu Memilih Pekerjaan, Kesempatan Terbuang

TARAKAN – Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Tarakan mengungkap serapan tenaga kerja selama…

Sabtu, 18 November 2017 11:22

WADUH..!! Investor Pemasok Gas Mundur

TARAKAN – Sebelumnya banyak investor yang siap menyuplai gas ke PT PLN (Persero) Unit Layanan…

Sabtu, 18 November 2017 11:11

Dua Hari, Tiga Korban Tewas di Jalan

TARAKAN - Nahas, sebuah mobil Daihatsu Xenia dengan nomor polisi KT 1680 RE yang dikemudikan Muhammad…

Sabtu, 18 November 2017 11:10

Sentra Industri Telan Biaya Rp 20 Miliar

TARAKAN - Sentra indusri kecil dan menengah saat ini tengah dibangun di Jalan Hake Babu dengan luas…

Sabtu, 18 November 2017 11:08

Reklame Mendominasi Perizinan

TARAKAN – Sejak Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Tarakan menjadi Dinas Penanaman Modal,…

Sabtu, 18 November 2017 11:04

Dua Jembatan di Dua Gang Rusak

TARAKAN - Ketua RT 2, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Ihsan mengatakan, terdapat dua titik jembatan yang…

Sabtu, 18 November 2017 11:03

Pedagang Berburu Uang Kecil

Tarakan-Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Tarakan,  pendistibusian uang baru terus dilakukan…

Sabtu, 18 November 2017 10:59

Genset Rp 2,9 Juta ‘Diembat’ Paman

TARAKAN – Entah apa yang ada di benak TC (nama diinsialkan), pelaku pencuri genset keponakan sendiri.…

Jumat, 17 November 2017 12:24

JANJI YA...!! Mulai Desember Tak Ada Pemadaman

TARAKAN – Persoalan listrik di Bumi Paguntaka memang belum berakhir. Kekurangan pasokan gas masih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .