MANAGED BY:
JUMAT
20 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 14 Agustus 2017 12:00
Kredit Boleh Tapi Harus Ada Keterbukaan
ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, Jika melihat dari padangan Islam, fenomena memiliki kendaraan secara kredit itu sah-sah saja dan diperbolehkan selagi mengikuti ketentuan yang ada. Hal itu dibernarkan Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) Kaltara Zainuddin Dalillah.

Adapun ketentuan yang dimaksud Zainuddin Dalilah yakni, saat proses jual beli berlangsung ada ketegasan atau penjelasan secara detail mengenai untung dan rugi antara pembeli dan penjual, yang dilakukan secara terbuka.

“Secara Islam tidak dilarang selama ada ketegasan. Karena dalam Islam telah diatur hukum jual beli, ada ayat yang berbunyi dihalalkan jual beli dan yang diharamkan itu riba,” tegas Zainuddin.

Mengambil satu contoh kasus misalnya, seseorang pembeli hendak membeli motor dengan harga cash (tunai) Rp 20 juta. Namun karena pembeli bermaksud ingin melakuakan kredit, jika ditotalkan harga keseluruhan menjadi Rp 30 juta dengan cicilan berjangka waktu sekitar 4 tahun.

“Sebelumnya harus ada ketegasan dengan yang mau beli. Maksudnya kasih penjelasan mengenai harga jual asli dan nominal untungnya jika itu sudah diberikan dan pembeli setuju maka boleh dilakukan,” ungkapnya.

Namun, jika tidak terjadi ketegasan atau penjelasan mengenai total kerugian dan untung, pada kasus inilah yang bisa mengarah ke riba. Riba di sini dimaksudkan penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.

“Jadi semisalnya si penjual menawarkan barang ke pembeli tapi pembeli sama sekali tidak tahu berapa harga jual sebenarnya tanpa bunga, berapa harga jual setelah dikredit. Ini bukan jual beli namanya,” lanjut Zainuddin kepada Radar Tarakan, Minggu lalu.

Jika terjadi kasus demikian, artinya si penjual melakukan proses penjualan dengan harga tersembunyi, dilakukan pula tidak transparan tak diketahui jelas untung dan rugi diamalami pembeli, akan berimplikasi terhadap riba.

Untuk itu, lanjutnya Zainuddin menganjurkan agar calon pembeli sebelum memutuskan membeli dengan sistem pembayaran kredit harus mengetahui, memperhitungkan untung dan rugi dan meminta penjelasan secara detail serta perjanjian jual beli agar di kemudian hari ketika terjadi persoalan bisa ditangani.

Lanjutnya lagi, pada dasarnya pula pembeli tidak diberatkan. Kecuali atas persetujuan pembeli. Kenyataannya, kondisi saat ini fenomenanya banyak melakukan pembayaran kredit karena terpaksa.

“Setuju sebenarnya tapi setuju terpaksa karena keadaan mungkin. Mau tidak mau harus diterima total keuntungan dan kerugiannya karena  Dibutuhkan, ini yang akan tentu saja bisa memberatkan si pembeli,” urai Zainuddin lagi.

Lantas bagaimana jika kasus setuju terpaksa ini disikapi MUI? Menurut Zainuddin tentu saja jika penjualan tersebut memberatkan orang lain ditambah lagi tidak ada kejelasan, ketegasan dan tidak transparansi akan menjadi dosa lantaran memakan uang hasil riba.

“Begitu juga di Tarakan, banyak berlaku kasus seperti ini. Karena pengalamana saat masih di Basnas banyak yang datang mengeluh meminta bantuan dan rata-rata masalahnya karena terlilit utang dan tidak bisa bayar kreditan,” ungkap Zainuddin lagi.

Belajar dari beberapa pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya, untuk itu Zainuddin mengimbau masyarakat agar sebaiknya menghindari dari kasus pembayaran secara kredit yang nantinya akan menimbulkan utang dan membuat kondisi dalam kesulitan. Sebaiknya jika tidak dalam keadaan terpaksa sedang membutuhkan, lebih baik pembelian barang yang nominalnya besar dilakukan secara cash. Karena jika memaksakan nantinya bisa jadi terlilit.

“Bersabarlah menunggu sambil terus mengumpulkan dan komitemen. Dalam setahun bisa terkumpul akan lebih baik dibayarkan lunas  daripada kredit bertahun-tahun meski DP dianggap murah namun di kemudian hari memberatkan,” tegas Zainuddin.

Selain kredit motor, Zainuddin menambahkan lagi, berlaku pula untuk sejenis barang mewah lainnya. Adab menjual yang dilakukan nabi di zamannya, dalam proses jual beli, selalu memberikan ketegasan dalam hal untung rugi dan kualitas.

Misalnya dulu di zaman Rasulullahcerita Zainuddin. Pada kasus pembeli menjual ember dengan masing-masing jenis dan kualitas. Yang bagus harganya tentu lebih besar dibanding yang mengalami kekurangan misalnya bocor. “Maka dijelaskan perbedaannya. Kalau sekarang kan ada saja oknum yang menyamaratakan yang berkualitas dan tidak dijual sama. Dan itu tidak boleh dilakukan,” pungkas Zainuddin. (zia/nri)


BACA JUGA

Kamis, 19 Juli 2018 11:34

Ratusan Sopir Angkot Demo Tolak Grab

TARAKAN - Ratusan sopirĀ  angkot yang tergabung dalam SPTI dan sopir angkutan konvensional lainnya, Kamis…

Kamis, 19 Juli 2018 11:21

Presiden Jokowi Belum Dipastikan Datang

TARAKAN – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi)…

Kamis, 19 Juli 2018 11:19

200 Pelanggan Alami Gangguan Token Listrik

TARAKAN – Tak hanya merasakan pemadaman listrik saja, masyarakat Tarakan juga sempat tidak bisa…

Kamis, 19 Juli 2018 11:17

Tiga Daerah Raih WDP

TARAKAN -  Tiga dari lima kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara mendapat opini Wajar Dengan…

Kamis, 19 Juli 2018 11:16

Tak Penuhi Kuota, Selektif Pilih Bacaleg

TARAKAN – Bertambahnya jumlah daerah pemilihan (dapil) di Bumi Paguntaka membuat para legislator…

Kamis, 19 Juli 2018 09:56

Lapas Penuh, Hak Tahanan Tak Terpenuhi

TARAKAN - Kondisi lembaga pemasyarakatan (lapas) cukup memprihatinkan. Tak hanya kapasitasnya, namun…

Kamis, 19 Juli 2018 09:48

Drainase Minim, Percepat Kerusakan Jalan

TARAKAN – Ketua RT 63, Kelurahan Karang Anyar, Maria Renius mengatakan, belum lama ini beberapa…

Rabu, 18 Juli 2018 23:06

Antisipasi Lonjakan Harga Sembako

TARAKAN – Mengatasi lonjakan harga kebutuhan pokok di Bumi Paguntaka, terutama menjelang pelaksanaan…

Rabu, 18 Juli 2018 11:50

Tambah Flight di Rakernas Apeksi

TARAKAN – Jelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi)…

Rabu, 18 Juli 2018 11:47

Karena Rindu Orang Tua, Pulang ke Tarakan Bermalam

Rasa kaget dan tidak percaya, ketika mendengar kabar bahwa Muhammad Riharja sudah berpulang menghadap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .