MANAGED BY:
SABTU
23 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Selasa, 08 Agustus 2017 11:21
Anak-Anak Masih Jualan di Lampu Merah, Satpol PP Kecolongan?

Diduga Aksi Tersebut Dikendalikan Oknum Warga

JUALAN: Meski sudah berulangkali diamankan, anak-anak yang berjualan di lampu merah masih menjajakan dagangannya dari pagi hari. GUNAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Meski kerap kali dilakukan razia, masih ada saja anak-anak yang nekat berjualan kue di persimpangan empat lampu merah  yang mempertemukan Jalan Jenderal Sudriman, Jalan Yos Sudarso, Jalan Mulawarman dan Jalan Gaja mada.

Seperti yang terlihat  sekitar pukul 08.00 Wita, Senin (7/8). Dua anak laki-laki tampak asyik menenteng plastik berisi kue dan luwes menjajakan ke pengendara setiap kali lampu merah menyala.

Radar Tarakan pun melakukan konfirmasi kepada pihak Satpol PP Tarakan. Melalui Kepala Bidang Kesejahteraan, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat pada Satpol PP Tarakan, Waridi justru  mengatakan bahwa pihaknya tak pernah lagi melihat anak-anak yang berjualan kue.

Memang sekitar Juli lalu pihaknya sempat mengamankan empat anak yang berjualan di lampu merah persimpangan Grand Tarakan Mall (GTM) dan di daerah Ladang. Keempat anak laki-laki tersebut diperkirakan berusia kurang lebih 10 tahun. Namun lanjutnya untuk saat ini pihaknya tak pernah lagi melihat anak-anak berjualan di lampu merah.

“Kita pernah menangkap empat anak bulan kemarin pas event STQ,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Senin (7/8).

Larangan berjualan tersebut sesuai peraturan daerah (Perda) nomor 13 tahun 2002 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan Kota Tarakan.

Sejauh ini pihaknya sudah mengamankan sebanyak sembilan anak yang didapati berjualan di lampu merah. Anak-anak yang diamankan biasanya pihaknya memberikan penyuluhan agar tidak berjualan disetiap titik lampu merah. Ditekankan Waridi, bahwa lampu merah bukan tempat berjualan, baik berjualan makanan, koran dan sebagainya yang melakukan transaksi jual beli. Yang dikhawatirkan karena daerah lampu merah rawan kecelakaan.

“Di sana tempat arus kendaraan siapa tahu ada kecelakaan, ada yang keserempet,” terang Waridi.

Anak-anak tersebut sudah diberi surat pernyataan dan teguran. Apabila ke depannya anak-anak tersebut masih bandel dan tetap berjualan pihaknya tetap akan mengamankan dan akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial. Belakangan ini pihaknya juga tidak pernah melihat anak-anak yang berjualan kue di lampu merah GTM maupun lampu merah Ladang. Meski demikian, pihaknya mengimbau agar masyarakat yang melihat anak-anak berjualan di lampu merah segera melaporkan ke instansi terkait.

Ditambahkannya bahwa apakah kemungkinan anak-anak tersebut melihat mobil patroli dan bersembunyi sehingga pihaknya tak menemukan anak-anak yang masih berjualan di lampu merah.

Nggak ada, mudahan ini dan seterusnya sudah tidak ada lagi yang berjualan di lampu merah,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Tarakan, Kuswadi Jakaria mengatakan bahwa melihat dari kasus seperti itu memang ada orang yang mengendalikan anak-anak tersebut untuk menghasilkan uang. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika instansi terkait berkoordinasi dengan pihaknya dalam memberikan pengarahan agar kesejahteraan sosial anak dapat diperhatikan.

“Biasanya Satpol PP akan serahkan anak tersebut ke Dinas Sosial untuk diberikan pengarahan agar fungsi kesejahteraan anak bisa kembali lagi seperti bersekolah,” ujar Jaka, sapaan akrabnya.

Anak yang berusia 0 (nol) hingga 18 tahun tidak diperkenankan untuk bekerja. Apabila memang ingin meringankan beban orang tua tetapi tidak melupakan kewajibannya sebagai anak sekolah. Sebab  setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi yang diatur dalam Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 perubahan dari Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kita lakukan pembinaan, karena anak yang bekerja di bawah umur seperti perbudakan. Ada orang tua yang lebih pilih memperkerjakan anaknya dibanding disuruh ke sekolah,” jelasnya.

Dikatakan oleh Jaka, bahwa ini tidak dapat dibiarkan. Berdasarkan pengamatannya, di antara lima Kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Utara (Kaltara), Tarakan merupakan kota yang dapat dikatakan kumuh dan padat. Dan anak-anak sudah mulai berani menunjukkan diri seperti meminta-minta di pinggir jalan bahkan berjualan. Oleh sebab itu dirinya mengimbau bahwa tanggung jawab ini tidak sepenuhnya dibebankan oleh Pemerintah Kota, tetapi peran orang tua sangat diperlukan oleh anak-anak.

“Di Tarakan ini yang paling kumuh dan sumpek. Nah orang tua itu adalah guru terbaik,” pungkasnya. (*/one/zia)


BACA JUGA

Jumat, 22 September 2017 22:10

WASPADA..!!! Pelaku Gendam di Tarakan Mulai Kelayapan

TARAKAN - Maraknya aksi kejahatan tidak mengenal waktu dan siapa korbannya.  Kali ini, Saleh yang…

Jumat, 22 September 2017 21:15

Penandatanganan NPHD Akhirnya Dilaksanakan

TARAKAN- Proses penandatanganan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPDH), akhirnya resmi dilaksanakan pada…

Jumat, 22 September 2017 12:10

Kapal Pesiar Lady Candy “Enggan” Bersandar di Pelabuhan

TARAKAN – Kapal pesiar Lady  Candy berbendera Cayman Island, akhirnya tiba  perairan…

Jumat, 22 September 2017 12:08

Ratusan Anak Dicebur ke Laut

TARAKAN –Ratusananak dilempar ke laut saat jam masih menunjukan pukul 06.00 Wita kemarin (21/9)…

Jumat, 22 September 2017 12:06

Tahu Lewat Browsing Internet, Ingin Membangun Kaltara di Bidang Kesehatan

Memiliki pendidikan yang tinggi hingga ke luar negeri merupakan impian sebagian anak di Indonesia. Termasuk…

Jumat, 22 September 2017 12:02

Seleksi Sekkot Tarakan Menuju Masa Akhir

SELEKSI Sekertaris Kota (Sekkot) Tarakan sudah mencapai tahap assessment dan penulisan essay yang telah…

Jumat, 22 September 2017 11:58

Dua Tahun Vakum, PWI Tarakan Terbentuk Lagi

PENGURUSAN Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) perwakilan Tarakan yang vakum sejak 2015 lalu coba dihidupkan…

Jumat, 22 September 2017 11:56

Berkah CPNS, Tiket Tujuan Tanjung Selor Ludes

TARAKAN – Membludaknya peserta calon Pegawai Negeri Sipil yang ingin mengantarkan berkasnya ke…

Jumat, 22 September 2017 11:51

Rektor UBT: Alumni Tak Perlu Bayar Legalisir Ijazah

Rektor UBT Prof Dr. Adri Patton pun menegaskan bahwa selama kepemimpinannya di kampus ini, ia tidak…

Jumat, 22 September 2017 11:50

Lima Tahun Poskamling Vakum

TARAKAN – Ketua RT 14, Kelurahan Karang Rejo, Hamidah mengatakan, ada imbauan dari Pemerintah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .