MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 05 Agustus 2017 19:05
Berawal dari Kecintaan, Kini Miliki 260 Jenis Tanaman

Mengenal Lebih Dekat dengan Lefran Singal, Peraih Kalpataru

MEMBANGGAKAN: Lefran Singal ketika menerima piala Kalpataru dari Presiden Joko Widodo pada puncak Hari Lingkungann yang dilaksanakan di Jakarta, Rabu (2/8). Lefran Singal untuk Radar Kaltara

PROKAL.CO, Satu dari 10 penghargaan Kalpataru yang diserahkan Presiden Joko Widodo pada puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup di  Gedung Manggala Wanabakti, Rabu (2/8) lalu diberikan kepada Lefran Singal (59), pria asal Kabupaten Bulungan mewakili Kalimantan Utara. Apa saja yang sudah dilakukan pemiliki kebun seluas 20 hekatare hingga upayanya dihargai dengan Kalpataru. Berikut liputannya?

 

SOPIAN HADI, Tanjung Selor

 

KALPATARU  merupakan penghargaan yang diberikan kepada kelompok atau perorangan yang telah berjasa dalam melestarikan lingkungan. Nah, tahun ini penghargaan tersebut salah satunya diterima Lefran Singal untuk kategori Pembina Lingkungan dan satu-satunya di Kalimantan Utara.

Namun Kalpataru bagi pria kelahiran Pujungan (dulu Bulungan kini Malinau), 20 mei 1958 itu bukanlah tujuan utamanya membuka lahan 20 hektare untuk menaman sekira 260 jenis tanaman yang sudah teridentifikasi, termasuk tanaman buah maupun pohon hutan yang bermanfaat namun sudah sulit ditemukan. Terlebih tidak jauh dari pusat kota, seperti kebun milik suami dari Julan Tigang ini di RT 4 Desa Gunung Seriang, Kecamatan Tanjung Selor.

Apalagi pria yang sebelumnya pernah berprofesi sebagai pedagang babi ini tidak memiliki ilmu soal tanam-menanam.”Otodidak saja, saya tidak pernah berlajar soal budidaya tanaman,” kata Lefran saat dihubungi melalui teleponnya yang kemarin (4/8) masih di Jakarta bersama istri tercintanya.

Namun hasilnya tidak terduga dan cukup membanggakan. Bahkan dari usahanya menanaman buah-buahan seperti durian, jeruk, merica, cempedak, buah lapiu, dan lainnya bisa mencukupi hidupnya bersama istri dan tiga orang putranya serta tanaman-tanamannya. Karena hasil kebun buah dijual di sekitaran Tanjung Selor.

 

Bahkan jerih payah yang mulai direncanakan tahun 2003 juga menghasilkan penghargaan bergengsi yang kali pertama diterimanya.

Penghargaan yang diterimannya itu, aku dia karena dirinya dinilai dapat membina dan melestarikan lingkungan dengan mengembangankan atau mengintegrasikan berbagai jenis tanaman buah-buahan dan pohon hutan yang kini mulai sulit ditemukan, seperti kayu kapur, keruing, bengkirai, kayu hitam, kayu gaharu, kayu ulin dan lainnya. Selain itu dirinya juga aktif memelihara hutan yang ditanam di lahan seluas 4 hektare dari 20 hektare lahan yang sudah ditanami ratusan tanaman tersebut dengan rutin melakukan reboisasi.

“Tapi semua ini datangnya dari rasa kecintaan saya terhadap semua jenis tanaman, termasuk  tanaman hutan,” ujarnya.

Sekarang dengan adanya hutan di komplek kebun yang disebutnya sebagai kebun integrasi karena di dalamnya juga terdapat ternak kambing ini dengan sendirinya hewan-hewan liar, khususnya burung berdatangan untuk hidup tenang di hutan budidayanya. Bahkan salah satu burung yang betah berteduh di hutan yang kerap juga menjadi lokasi peneliti mahasiswa dari universitas dalam maupun luar Kaltara ini adalah burung enggang.

Burung enggang merupakan burung khas yang menjadi simbol masyarakat Kalimantan.”Tentu tidak hanya burung itu, banyak lagi burung lainnya,” sebut pria tamatan salah satu SMA di Bulungan ini.

Pria yang mulai membudidaya berbagai jenis tanaman pada tahun 2005 inipun ingin menghabiskan sisa hidupnya di kebun yang baru-baru ini mulai diintegrasikan dengan ternak kambing yang kotorannya akan dimanfaatkan jadi pupuk organik itu.

“Tidak ada pilihan lain, ya mungkin sepanjang hayatlah saya di sini (berkebun),” pungkasnya.(**)


BACA JUGA

Rabu, 16 Januari 2019 12:07

Ditugaskan di Krayan, 1 CPNS Mundur

TANJUNG SELOR - Satu dari 444 peserta seleksi calon pegawai…

Rabu, 16 Januari 2019 12:05

Jembatan Meranti Terancam Jadi ‘Pajangan’ Lagi

TANJUNG SELOR - Pembangunan jalan penghubung Jembatan Meranti menuju Buluh…

Rabu, 16 Januari 2019 12:04

Pemilik Miras Hanya Diberi Sanksi Tipiring

MALINAU – Dua ibu rumah tangga (IRT), yakni De dan…

Rabu, 16 Januari 2019 12:03

2018, Empat Penderita HIV/AIDS Meninggal

TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan mencatat empat penderita…

Rabu, 16 Januari 2019 10:33

Butuh 7 Menit, Musnahkan Sabu 11 Kg

TANJUNG SELOR - Direktorat Reserse Narkoba (Dirnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda)…

Selasa, 15 Januari 2019 13:56

6.060 WP di Kaltara Belum Taat

TANJUNG SELOR – Dari total 9.413 yang menyampaikan Surat Pemberitahuan…

Selasa, 15 Januari 2019 13:54

TBS Malinau Dijual ke Nunukan

MALINAU  - Petani kelapa sawit di Kabupaten Malinau belakangan ini…

Selasa, 15 Januari 2019 13:52

Terminal Tipe A Tunggu Restu Kemenhub

TANJUNG SELOR - Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara)…

Selasa, 15 Januari 2019 13:49

Terapkan Metode Cara Membaca Wartawan

Membaca sebuah buku hingga saat ini masih menjadi kebiasaan yang…

Selasa, 15 Januari 2019 13:43

Sekprov: Jangan Jadikan Kaltara Batu Lompatan

TANJUNG SELOR - Sejak terbentuknya Kalimantan Utara (Kaltara), sudah tiga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*