MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 17 Juli 2017 13:08
KKMB Perlu Sentuhan Swasta
IFRANSYAH/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Kurangnya perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan dalam membangun sarana dan pra sarana di Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan (KKMB) Tarakan dinilai lembaga legislatif perlu sentuhan swasta.

Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Tarakan Adnan Hasan Galoeng mengatakan, peluang ini bisa saja dilakukan. Namun dia kurang mengetahui regulasi jika KKMB dialihkan ke pihak ketiga. Namun dari sisi lain, pemerintah sebagai regulator, sedangkan dunia usaha bisa menjadi operator.  “Ayo kita buat regulasi lalu serahkan kepada dunia usaha untuk melakukan pengelolaan. Seharusnya pemerintah jangan masuk untuk mengelola tempat itu,” ungkapnya saat dikonfirmasi Radar Tarakan, Jumat (7/7).

Dijelaskannya, para pelaku usaha dianggap memiliki kejelian terhadap pengelolaan yang mendatangkan pundi-pundi rupiah. Sebaliknya, jika dikelola oleh salah satu dinas, naluri untuk mendatangkan keuntungan sangat kecil.  “Kalau dikelola dinas monoton saja, ada anggaran dia kelola dan dia tidak berusaha mendapatkan income sebanyak mungkin. Makanya saya miris jika alasan defisit terus,” beber pria berbadan besar ini.

Menurutnya, jika melihat kondisi KKMB sekarang yang banyak terjadi kerusakan, terutama pada papan tempat berpijak yang sudah rapuh, dikhawatirkan dapat membuat pengunjung terjatuh. Seharusnya, KKMB tersebut dikelola dengan baik agar pengunjung bisa merasa nyaman.

“Harusnya, jika ada yang jatuh, orang tersebut bisa minta tanggung jawab ke pemkot karena fasilitas itu tidak ditata sedemikian rupa. Kan di luar negeri begitu,” tutur ketua fraksi Gerindra di DPRD Tarakan.

Hingga kini, usulan untuk diserahkan ke swasta oleh anggota DPRD Tarakan belum ada tindak lanjut. Belum ada tindak lanjutnya, karena ini kan masih sebatas wacana dari DPRD, untuk pembicaraan lanjutnya dengan pemerintah belum ada,” ungkap Adnan saat dikonfirmasi ulang kemarin (16/7).

Namun, dia memastikan akan segera melakukan koordinasi dengan pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Tarakan. Mengingat, KKMB merupakan salah satu aset wisata unggulan di Kota Tarakan.

"Kita akan segera membicarakan ini, karena ini menyangkut objek wisata andalannya Tarakan, jika selama ini dibawah penangangan pemerintah masih begitu-begitu saja, kenapa tidak untuk memberikan peluang pihak ketiga mengelola sebagai regulatornya, dan pemerintah tetap menjadi operator," tambahnya.

Sementara itu, salah seorang pengusaha di Tarakan, Makmur menilai, tempat wisata di Tarakan masih banyak yang produktif. Salah satunya KKMB. Menurutnya, kawasan yang berada di bilangan Jalan Gajah Mada  saat ini sudah “mati suri”.

Sebab, KKMB sekarang tidak mengalami perkembangan dan tidak ada pemeliharaan yang jelas. “KKMB sudah terbengkalai. Padahal itu adalah investasi suatu daerah yang cukup besar. Jika ini produktif, yakin semua wisatawan bakal ke Tarakan,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Makmur, hewan bekantan yang menjadi ciri khas Tarakan perlu dilestarikan dan diekspos ke luar daerah. Sama halnya yang disampaikan Adnan Hasan Galoeng, dia setuju jika KKMB dikelola oleh pihak ketiga. Selain dari manajemen yang berbeda, serta melihat pengelola yang serius untuk menangani KKMB. “Kalau pihak ketiga tidak punya keahlian juga percuma. Perlu diseleksi pihak ketiga yang mampu untuk membuat KKMB lebih hidup,” pungkasnya.

KKMB PERLU DIJAGA KEALAMIANNYA

Selain menjadi salah satu tujuan obyek wisata alam yang sering dikunjungi, KKMB Tarakan juga merupakan paru-paru kota dan berfungsi melindungi Bumi Paguntaka dari abrasi laut.

Namun yang kadang dilupakan, fungsi utama KKMB sebagai kawasan konservasi. Perlu perhatian semua pihak agar KKMB dapat menjadi habitat yang baik untuk hutan mangrove dan bekantan serta jenis hewan lainnya.

Project Leader Kayan Mentarang Landscape World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Dede Hendra Setiawan mengungkapkan, KKMB Tarakan sangat perlu diberikan perhatian, karena ketika berbicara mengenai kawasan konservasi, KKMB merupakan habitat alami bekantan yang juga merupakan obyek ekowisata.

“Beberapa fasilitas yang ada saat ini perlu diperhatikan, khususnya fasilitas pendukung bagi para pengujung,” ujarnya.

Hutan mangrove yang ada, kata Dede, secara keseluruhan saat ini sudah bagus. Namun, sampah menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi hutan mangrove dan utamanya ekosistem lain yang hidup di sekitar hutan. Seperti udang, ikan, kepiting, dan hewan yang lainnya.  Untuk itu papan pemberitahuan membuang sampah dan ketersediaan tempat sampah patut menjadi perhatian.

“Ketika air laut pasang dan kemudian surut, terkadang sampah di laut juga tersangkut di KKMB Tarakan,” tuturnya.

Tak hanya fasilitas saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga bekantan sebagai spesies monyet asli Kalimantan. Selain itu, bekantan merupakan jenis primata yang dilindungi dan terancam punah sehingga tidak diperbolehkan untuk diburu atau diperdagangkan. Maka dari itu, pelestarian hayati bekantan dengan adanya KKMB merupakan salah satu upaya mencegah kepunahan satwa langka.

“Selama daya dukung habitatnya memenuhi, tentunya bekantan diperbolehkan tinggal di KKMB. Mengenai daya dukung habitat bekantan yang ada di sana perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bekantan. Misalnya terkait dengan berapa luasan kawasan dan interaksi sosialnya,” ujar Dede.

Bekantan memang mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian, dan daun-daunan. Mereka akan hidup baik pada hutan mengrove yang baik. Diakui Dede, WWF Indonesia sering melakukan sosialisasi tentang kelestarian hewan dilindungi. Tak hanya bekantan, tapi semua hewan yang patut untuk dilestarikan.

“Pengamatan ketika saya berkunjung di sana ada monyet ekor panjang. Terkadang terjadi persaingan daerah habitat dan daerah makanan antara bekantan dan monyet ekor panjang. Jangan sampai monyet ekor panjang mengganggu habitat bekantannya,” ujarnya. 

Ditambahkan, Marine Conservation and Responsible Fisheries Senior Officer WWF Indonesia M. Budi Santosa mengatakan, hutan mangrove yang ada di KKMB memang ditujukan sebagai obyek wisata. Masyarakat Kota Tarakan patut bersyukur karena memiliki hutan mangrove yang letaknya di pusat kota. Sejauh ini kondisi hutan mangrove yang ada di KKMB dinilainya cukup baik.

“Pengamatan saya malah fasilitas pendukung pada KKMB yang rusak dan perlu diperhatikan. Jembatan kayunya ada yang rusak dan miring, meski sekarang memang ada yang lebih bagus. Yang perlu diperhatikan adalah pagar kayu pada KKMB yang hilang,” ujarnya.

Hutan mangrove secara umum di Kota Tarakan cukup bagus. Hutan mangrove pada kondisi alami dan tanpa gangguan dari manusia dapat hidup hingga 20-30 tahun.

Polisi Hutan Pelaksana Lanjutan pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Resort Tarakan, Santi Rerok mengungkapkan, kondisi dan pengembangbiakan bekantan pada KKMB sejauh ini cukup baik dan hutan mangrove yang ada di KKMB merupakan habitat asli yang cocok untuk satwa bekantan.

“Jika makanan yang berkurang, kondisi cuaca, dan penyakit menjadi faktor yang mengganggu perkembangan dan habitat bekantan, selain luasan wilayahnya,” tuturnya.

Bekantan termasuk jenis hewan pemalu yang tidak mau berinteraksi dengan manusia, berbeda halnya dengan hewan monyet ekor panjang. Bekantan adalah satwa yang harus hidup lepas bebas.

“Bekantan adalah satwa yang dilindungi dan terancam punah,” tuturnya.

Hutan mangrove yang ada di KKMB selain tempat wisata juga berfungsi menjaga bibir pantai dari terjangan ombak. Hanya saja, sampah yang dibuang sembarangan, khususnya sampah plastik yang tidak dapat diurai dapat mengganggu ekosistem yang ada di KKMB. Fasilitas yang ada terkadang rusak karena pengunjung tidak menjaga fasilitas-fasilitas tersebut.

“Satu contoh, penyu. Penyu memakan ubur-ubur, kalau ada yang membuang sampah plastik bening ke laut, terkadang dimakan oleh penyu sehingga bisa menyebabkan kematian,” ujarnya. (*/sep/ega/*/jhn/udn/nri)


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 12:10
Terkait 2.900 Ton Beras Vietnam via Sebatik

NAH KAN..!! Kemendag Sebut Selundupan

JAKARTA – Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri pada Kementerian Perdagangan Oke…

Rabu, 25 April 2018 11:59

AH PAYAH..!! Angka Kemiskinan Meningkat

TARAKAN - Populasi penduduk di Kaltara sedang mengalami pertumbuhan masif. Baru-baru ini Badan Pusat…

Rabu, 25 April 2018 11:57

Tak Sabar Ingin Bertemu dengan Pelajar Papua Barat

Indonesia Student & Youth Forum (ISYF) kembali menggelar Forum Pelajar Indonesia ke-10 (FOR X) dengan…

Rabu, 25 April 2018 11:55

GAWAT BAH..!! Penderita TBC Terus Bertambah

MESKI tidak menjadi kasus terbesar di Kalimantan Utara, namun penularan penyakit tuberkulosis (TBC)…

Rabu, 25 April 2018 11:53

Pusaka Tegaskan Tidak Ikut Aksi Penolakan FPI

ORGANISASI masyarakat (ormas) Pusaka Tarakan menegaskan tidak ikut ambil bagian dalam aksi damai penolakan…

Rabu, 25 April 2018 11:48

Antre Cetak E-KTP, Jaringan Malah Lelet

TARAKAN - Antrean panjang terjadi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tarakan dikarenakan…

Rabu, 25 April 2018 11:41

AC RSUD Bocor-Bocor Tak Kunjung Diperbaiki

TARAKAN - Penanganan plafon yang bocor di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan belum juga terealisasi.…

Rabu, 25 April 2018 11:32

Anggaran Menipis, Dishub Terpaksa Mengutang

TARAKAN - Traffic light yang berada di simpang Ladang, Pamusian, Tarakan Tengah, sudah dua hari tidak…

Rabu, 25 April 2018 11:30

Trayek Harus Dikurangi

TARAKAN - Bus rapid transit (BRT) yang telah beroperasi di Tarakan sejak 2017 lalu, memang masih harus…

Rabu, 25 April 2018 11:28

2022 Tak Terima Uang Tunai

Tarakan- Direncanakan bulan April ini, Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) mulai diimplementasikan secara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .