MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Senin, 17 Juli 2017 12:59
Sumber PAD Terabaikan

14 Tahun Berdiri Fasilitas Tidak Pernah Diganti

RUSAK: Salah satu titik jembatan hutan mangrove di KKMB Tarakan yang sering dilalui pengunjung. Kondisinya kini banyak berlubang dan berbahaya jika tidak berhati-hati. Foto diabadikan Minggu (16/7). IFRANSYAH/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Kondisi fasilitas Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan (KKMB) Tarakan saat ini sangat memprihatinkan. Sebab, banyak sarana dan prasarana yang mulai rusak dan rapuh termakan usia. Bagaimana tidak, fasilitas yang sudah ada sejak empat belas tahun terakhir ini masih saja digunakan tanpa ada penggantian atau penambahan.

Banyak pengunjung yang mengeluhkan, bahkan mempertanyakan perbaikan dan penambahan fasilitas yang ada di KKMB. Karena sudah 5 tahun terakhir, KKMB terlihat monoton. ‘Wajahnya’ sama saja dan tidak ada yang berubah dari segi fasilitas.

Meski begitu, kawasan ini memang menarik perhatian wisatawan. Terbukti setiap tahun, ada saja mahasiswa luar negeri seperti Exter University Inggris yang melakukan penelitian di kawasan mangrove satu-satunya di Indonesia yang terletak di tengah kota.

Namun sayang, saat ini beberapa fasilitas dan akses jalan di KKMB Tarakan sudah rusak. Bahkan beberapa pengunjung mengakui kalau mereka hampir terpeleset akibat jalan rusak dan licin jika hujan.

Salah seorang pengunjung yang berasal dari Palembang, Amin (55) mengakui jika KKMB cukup menarik dikunjungi. Sebab, dia tidak pernah melihat tempat wisata seperti ini di Surabaya dan Jakarta. Kalaupun ada tidak semenarik yang ada di Tarakan karena memang pohon-pohonnya sudah tinggi menjulang.

“Lebih bagus di sini, sebab Jakarta juga ada tapi pohonnya masih kecil-kecil,” ungkapnya kepada Radar Tarakan.

Amin sangat menikmati kesegaran alam yang ditawarkan oleh KKMB Tarakan. Namun, saat berjalan mengelilingi KKMB, dia hampir terpeleset karena kondisi jembatan yang licin dan basah. Diakuinya, fasilitas yang ada sudah cukup baik. Hanya saja, ada beberapa yang harus diperbaiki. Terutama jembatan sebagai akses jalan pengunjung untuk mengelilingi kawasan seluas 22 hektare tersebut.

“Iya, hampir terpeleset karena licin. Dan banyak plastik-plastik di bawah kolong jembatan, mungkin karena masih banyak yang belum sadar yah,” tuturnya sambil tersenyum.

Selain itu, seorang pengunjung dari Balikpapan yang mencari pekerjaan di Tarakan, Alen (21) mengakui baru beberapa hari di Tarakan, namun kebetulan lewat sekitar KKMB sehingga memilih untuk mampir.

“Lagi jalan-jalan aja, pas lewat sini kebetulan lihat ini makanya singgah,” jelas pria berkulit putih ini.

Ia menilai KKMB sangat rindang dan sejuk, sehingga bagus untuk refreshing. Tetapi beberapa jembatannya perlu dibenahi karena sebagian ada yang rusak sehingga cukup membahayakan pengunjung.

“Jalannya aja sih diperbaiki, karena memang sudah ada yang rusak,” ucapnya sambil melihat sekeliling.

Laduani (52), wisatawan domestik asal Papua mengakui keeksotikan KKMB. Menurut dia tempat wisata ini sangat bagus karena berada di tengah kota dan patut dijadikan percontohan pelestarian alam. Ini juga menjadi inspirasi untuk daerah asalnya Papua yang banyak ditumbuhi pepohonan.

“Saya dari Papua melihat ini sangat luar biasa, kami pikir nggak ada salahnya kalau bangun seperti ini di Papua,” ucap Laduani yang kental logat Papua.

Diceritakannya, di Papua banyak pepohonan, tetapi tidak pernah terpikirkan untuk membuat wisata seperti ini. Saat memasuki KKMB, dia merasakan udara yang sangat berbeda, apalagi banyak spesies hewan-hewan langka yang dilestarikan sehingga terjaga kealamiannya. “Dengan adanya wisata Mangrove ini sangat luar biasa dan hebatnya berada dalam kota,” bebernya tersenyum.

Dia mengetahui tempat ini dari seorang temannya, sehingga memutuskan untuk berkunjung ke KKMB yang juga menjadi daya tarik Bumi Paguntaka. Banyak kota yang sudah dia kunjungi, tetapi baru kali ini menemukan wisata yang seperti ini.

“Selain Bali yah. Tapi di Bali kan di pinggir-pinggirnya, kalau di sini di tengah kota,” terangnya.

Menurutnya, keunikan wisata ini harus dijaga. Terutama perbaikan kondisi jembatan karena ada beberapa titik yang rusak. “Beberapa fasilitas mungkin perlu direhab karena saya lihat sudah cukup lama,” ucapnya sambil melihat jembatan yang diinjaknya.

Warga Tarakan, Mai (42) mengatakan, dia bisa mengunjungi kawasan ini seminggu sekali karena kawasan ini menawarkan udara yang sejuk dan tenang sehingga bisa mengembalikan mood untuk menghadapi rutinitas harian.

“Kalau cari suasana sih ke sini untuk ngadem, lebih senang di sini karena tenang, ada suara-suara hewan juga, suasananya lebih alami,” kata perempuan berhijab ini.

Dia berharap agar masyarakat yang berkunjung ke KKMB Tarakan bisa lebih peduli untuk menjaga kebersihan dan perlu adanya penambahan fasilitas yang rusak sehingga pengunjung bisa menikmati keindahannya. Termasuk kebersihannya, diharapkan lebih ditingkatkan lagi. “Mungkin tempat duduknya ditambah, trus jembatannya juga diperbaiki,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengembangan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Kota Tarakan, Abdul Salam mengatakan, mereka sudah tidak bisa lagi mengajukan anggaran, sehingga KKMB terlihat monoton dari tahun ke tahun. Seharusnya, memang itu perlu diperhatikan, agar pengunjung tidak jenuh. Padahal untuk tempat wisata harusnya setiap tahun perlu dieksplorasi untuk diperbarui.

Dia pun mengakui jika gazebo dan kursi-kursi yang ada sudah banyak yang rusak karena sudah 14 tahun dibangun. Begitu juga dengan jembatan yang sudah ada sejak 2003 lalu. Perbaikan setiap tahun ada, tetapi hanya di tambal sulam saja, dan tidak ada penambahan gazebo atau kursi-kursi yang baru.

“5 tahun tidak ada penambahan, kecuali ada sarana bacaan baru dan ruang informasi. Tetapi lain-lainnya itu hanya perbaikan saja, kalau untuk penambahan gazebo dan tempat duduk tidak ada lagi,” ujarnya.

Memang diakuinya saat ini KKMB Tarakan sangat butuh pembenahan, sehingga pengunjung selain bisa menikmati udara yang segar dan sejuk sambil melihat Bekantan serta hutan mangrove, bisa dimanjakan dengan berbagai fasilitas lainnya seperti suvenir dan atraksi-atraksi lainnya.

“Harusnya ada fasilitas lainnya, seperti jogging track atau sarana-sarana permainan yang bisa diadaptasi dengan lingkungan mangrove itu, karena itu sangat potensial untuk pengembangan KKMB,” kata Salam kepada Radar Tarakan.

Dikatakannya, memang di KKBM sudah dibuatkan area pengembangan untuk jogging track, tetapi hanya separuh saja dan harus terhenti karena anggaran yang terbatas. Padahal, rencananya akan dibuat berkeliling untuk pengunjung yang ingin berolahraga. Dan jika untuk penambahan binatang lainnya, memang sedikit sulit karena itu harus menyesuaikan dengan lingkungan hutan mangrove. Karena tidak semua binatang cocok untuk hidup di sana.

Keterbatasan anggaran tidak hanya menjadi batu sandungan bagi pembangunan fasilitas, tetapi juga pada kebersihan, pemeliharaan sarana dan prasarana termasuk makan fauna yang ada.

Dinas Pariwisata Tarakan sudah mengajukan anggaran khusus ke Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan untuk dipergunakan mengelola KKMB. Namun, karena keterbatasan anggaran, mereka harus menyesuaikan anggaran yang ada dan terbilang sangat kecil itu.

Tak hanya itu, keterbatasan anggaran juga berimbas pada ketersediaan makanan monyet berhidung panjang itu. Meski sebenarnya Bekantan dan hewan lainnya dapat hidup di alam liar. Tetapi pemberian makanan tambahan dinilai sangat perlu. Terutama bisa menarik perhatian monyet bernama latin narsalis larvatus itu agar bisa berkumpul, sehingga bisa dilihat langsung oleh pengunjung. Jika tidak dipancing seperti itu maka mereka akan menjauh dan mungkin akan sulit untuk memperlihatkan diri ke pengunjung.

“Artinya memang untuk makanan itu bersumber dari APBD dan menyesuaikan setiap tahunnya,” ungkap Salam.

Jika berharap retribusi masuk ke KKMB, lanjut Salam, itu tidak bisa. Sebab, uang yang masuk diperuntukkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga objek pungutannya banyak, tetapi orderannya satu atap. Artinya biaya retribusi itu semuanya diserahkan kepada Pemerintah Kota Tarakan, karena itulah dimasukkan ke kas daerah.

“Jadi hasil dari retribusi itu diajukan ke daerah, retribusinya juga jauh sekali dari kebutuhan pemeliharaan. Setahun hanya diberikan Rp 75 juta padahal honor pegawai itu lebih dari Rp 100 juta pertahun sehingga tidak seimbang,” jelasnya.

Untuk diketahui, petugas KKMB Tarakan ada 15 orang dan semuanya pegawai honor. Dimulai dari bagian keamanan, pemberi makan, petugas kebersihan, dan petugas karcis.

Di tengah krisis anggaran, bukan berarti flora dan fauna yang hidup tidak diperhatikan. Sebab, setiap tahunnya akan ada UPT Pertanian dan Kehutanan yang bertugas melestarikan lingkungan vegetasi mangrove dan fauna.

Menurutnya, para akademisi wajib turut campur tangan. Sebab dinas terkait hanya bertugas untuk pengembangan daya tarik saja. “Yang biasa datang ke sini untuk meneliti justru dari luar Tarakan, yakni organisasi-organisasi lingkungan seperti dari Jepang yang melakukan penelitian juga untuk kelangsungan mangrove dan difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” ungkapnya. 

KKMB Tarakan ini berguna untuk melestarikan hutan mangrove sebagai penyangga garis pantai untuk wilayah barat, dan banyak manfaatnya untuk daerah. Terutama dari sisi lingkungan.

Dengan adanya KKMB, Kota Tarakan semakin dikenal sebagai salah satu daerah yang peduli terhadap lingkungan. Kemudian keberadaan mangrove sebagai paru-paru kota, bahkan dikenal sebagai salah satu ikon Kota Tarakan. Sehingga sudah sepantasnya untuk dipelihara dan diperhatikan.

Sementara itu, petugas sekaligus penanggung jawab KKMB Tarakan, Samsul tidak menampik jika KKMB membutuhkan banyak perbaikan. Namun sayang, keterbatasan dana anggaran menjadi alasan kuat tidak dilakukannya perbaikan.

Selain banyak kayu jembatan yang rusak, juga terdapat beberapa titik jembatan yang tampak miring, dikarenakan penyangga bawah jembatan yang kerap kali goyang akibat sering dilalui pengunjung. “Dengan begitu sudah tentu para pengujung harus lebih waspada ketika ingin melintas, sungguh kondisi yang cukup memprihatinkan,” tambah Samsul.

Kawasan seluas 22 hektare ini, dihuni cukup banyak spesies fauna bakau, dan ada lebih dari 22 jenis hewan. Salah satunya Bekantan yang memang hidup di hutan Mangrove, dengan makanan utama pucuk daun bakau. Setiap hari, sekitar 40 ekor Bekantan diberikan pakan tambahan empat tandan pisang mentah. Meski dikatakan kawasan konservasi, tidak ada dokter hewan yang rutin memeriksa kesehatan Bekantan. Mereka hidup secara alami.

“Pada bulan Mei lalu kami sudah hitung populasinya sekitar 39 ekor, tapi baru-baru ini kita lihat lagi ada yang baru melahirkan, jadi saat ini totalnya 40 ekor. Mereka hidup alami di sini, jadi tidak ada dokter,” tambahnya.

Diakuinya, mereka selalu memberikan laporan terkait kondisi KKMB yang membutuhkan perbaikan, hanya saja belum ada tindak lanjut terkait laporan tersebut. “Kami tetap harus membuat laporan, terkait apa-apa saja yang butuh perbaikan. Tapi kembali lagi dengan kondisi keuangan pemkot. Kalau ada bahan ya dikerjakan, kalau tidak ada ya sudah,” ucapnya.

Untuk diketahui, fasilitas yang ada di KKMB Tarakan terdapat dua Gazebo untuk bersantai keluarga, satu perpustakaan, musala, ruang infomasi, dan tiga toilet umum. Untuk perpustakaannya, banyak buku yang disumbangkan dari perpustakaan daerah, maupun pengunjung.

Diungkapkan Samsul, beberapa fasilitas umum seperti papan edukasi, dan tempat sampah, merupakan bantuan dari CSR  Pertamina yang rutin setiap tahunnya. Termasuk perbaikan ruang informasi, dinding dan atapnya.

“Kondisi KKMB sangat terbantu dengan CSR, terutama Pertamina yang setiap tahun memberikan bantuan, tong sampah, papan informasi, dan tahun ini mereka memperbaiki ruang informasi,” ucapnya seraya tersenyum.(*/one/*/yus/ega/nri)


BACA JUGA

Senin, 20 November 2017 12:46

Gantung Sarung Karena Kebutuhan Ekonomi

TAHUN 1994 merupakan tahun yang membahagiakan bagi Saiful, karena saat itu ia resmi memperistri pujaan…

Senin, 20 November 2017 12:43

Merasa Putus Asa, Sang Ibu Mengiba di Akun Facebook

Di usianya yang masih belia, Andini Rahmawati menghadapi cobaan berat. Selain menderita gondok beracun…

Senin, 20 November 2017 12:41

Warga Sangsi dengan Aksi Bunuh Diri AP

TARAKAN – Warga di Jalan Swarga RT 03 Nomor 67 Kelurahan Karang Balik mendadak heboh, pagi kemarin…

Senin, 20 November 2017 12:36

MAF Diminta Berubah Jadi Niaga

TARAKAN –  Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan…

Senin, 20 November 2017 12:31

Bandara Potensi Dilirik Angkasa Pura

TARAKAN – Untuk mengalihkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah berencana…

Senin, 20 November 2017 12:28

PKH Terakhir Disalurkan November

TARAKAN – Rencananya penyaluran bantuan sosial non tunai tahap keempat atau terakhir dituntaskan…

Senin, 20 November 2017 12:26

Dari 3 Undangan Balon Independen, Hanya Satu yang Hadir

TARAKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tarakan telah mengeluarkan tiga undang untuk bakal…

Senin, 20 November 2017 12:23

Tiga Titik Jembatan Diprioritaskan

TARAKAN – Banyak yang dikeluhkan warga RT 15, Kelurahan Juata Laut. Namun karena lingkungannya…

Senin, 20 November 2017 10:07

Ditodong Laras Panjang, Speedboat Raib

TARAKAN – HM perlahan menghentikan laju speedboatnya yang mengarah ke Mangkudulis, Kabupaten Bulungan,…

Senin, 20 November 2017 10:05

Investasi PLTU Ditunda

TARAKAN – PT Adani Global sempat menyatakan keinginan berinvestasi membangun Pembangkit Listrik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .