MANAGED BY:
MINGGU
23 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Senin, 17 Juli 2017 12:37
Pelayanan Malam Tak Punya Dasar Hukum
Fernando kloer. FOTO: JANUR/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Lembaga Pemasyarakatan sejatinya adalah wadah untuk membina para warga binaan yang telah melakukan tindak pidana, dengan tujuan mereka bisa berubah lebih baik setelah keluar dari ‘hotel prodeo’ tersebut.

Namun, harapan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Terbukti masih ada saja barang-barang haram yang dapat memicu mereka untuk kembali melakukan residivis (pengulangan tindak pidana). Bahkan tak jarang warga binaan yang awalnya melakukan tindak pidana pencurian, setelah keluar justru kembali menjadi pelaku tindak pidana narkotika.

Bukan rahasia umum lagi jika bandar narkoba yang menjadi warga binaan, kembali bisa menjalankan bisnis haramnya di Lapas. Kenyataan itu terungkap saat kasus sabu 5 kilogram (kg) diamankan oleh tim EFQR Lantamal XIII Tarakan, yang saat didalami ternyata pesanan dari warga binaan Lapas Tarakan.

Hal ini terungkap, ketika diamankannya petugas Pengaman Pintu Utama (P2U), Hendra Delpian yang kini sudah ditetapkan menjadi tersangka, karena menerima barang dari tersangka sabu 5 kg itu pada malam hari.

Padahal dalam aturan yang ada, jelas-jelas tidak diperbolehkan menitip di luar jam besuk untuk warga binaan. Namun aturan itu, tidak diberlakukan saat Ramadan. Sebab, Kepala Lapas Tarakan memberi izin menerima titipan barang saat Ramadan.

Hal ini terungkap dalam persidangan praperadilan atas status tersangka Hendra Delpian beberapa waktu lalu di Pengadilan Negeri Tarakan. Kalapas Tarakan, Fernando Kloer membenarkan jika Lapas Tarakan memperbolehkan menerima penitipan barang dari keluarga saat Ramadan. Sebab, ini sudah diberlakukan sejak tahun-tahun sebelumnya.

Ini sudah tentu menambah sederet permasalahan yang menerpa Lapas kelas II A Tarakan. Lalu, apakah membesuk dan membawa barang pada malam hari melanggar kebijakan atau aturan lapas?

Adanya kebijakan memperbolehkan penitipan barang pada malam hari di Lapas Kelas II A Tarakan selama bulan Ramadan, menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Karena menurut masyarakat, hal tersebut melanggar aturan. Sementara beberapa bagian lainnya menganggap hal tersebut adalah kebijakan untuk menghormati warga binaan muslim selama bulan Ramadan.

Salah seorang warga Kelurahan Karang Anyar Pantai yang juga kerap kali mengunjungi kerabatnya di Lapas Tarakan, Herman mengaku kontra dengan kebijakan itu. Karena kebijakan tersebut rentan untuk disalah gunakan oknum dalam menyelundupkan barang-barang yang terlarang.

“Ini bisa menjadi celah untuk menyulundupkan barang yang dilarang, seperti sabu yang bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa warga binaan di sana sering memesan sabu dari luar untuk diselundupkan ke dalam,” ujar pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta ini.

Herman menilai, Lapas Kelas IIA Tarakan secara tegas perlu menghilangkan kebijakan khusus tersebut demi kebaikan lapas kedepannya. “Setahu saya setiap tahun, tepatnya pada bulan Ramadan, memang diperbolehkan menitip barang berupa makanan oleh keluarga warga binaan, tapi hal ini mungkin perlu dikaji lagi, jangan sampai menjadi celah yang memungkinkan terjadinya penyelundupan barang terlarang,” ujarnya.

Berbeda dengan warga Kelurahan Karang Rejo, Rahmat Ulama yang setuju dengan penitipan barang pada malam hari selama Ramadan. Karena itu merupakan salah satu bentuk toleransi Lapas Tarakan pada warga binaannya.

“Ini merupakan cara toleransi lapas kepada warga binaan beragama Islam, dimana warga binaan tersebut mendapatkan titipan barang berupa makanan sahur dari keluarganya,” tuturnya.

Namun dirinya berharap, penitipan barang pada malam hari ini tidak menjadi celah empuk yang akan disalahgunakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang akan menitipkan barang terlarang masuk ke dalam lapas.

“Jangan sampai kebijakan toleransi terhadap warga binaan beragama Islam ini dimanfaatkan untuk hal-hal yang terlarang, sehingga saya berharap petugas lapas lebih ketat lagi dalam pengawasan,” ujarnya.

Radar Tarakan mencoba menanyakan apakah kebijakan dan kelonggaran penitipan barang tersebut boleh diberlakukan dengan alasan Ramadan ke Direktorat Jendral (Ditjen) Pemasyarakatan Kemenkumham RI di Jakarta.

Kasubag Humas Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Syarpani menjelaskan, sejatinya aturan yang telah menyebutkan jam kunjungan lapas dibatasi. Namun memang akan terpulang kembali ke situasi dan kondisi lapas di wilayah tersebut.

“Jam  kunjungan sudah ada ketentuannya. Namun, ini kembali lagi ke Kalapasnya yang melihat permasalahan itu seperti apa. Kalau misalnya pada malam hari ada keluarga yang datang jauh-jauh dan ingin menengok keluarganya dan terbatas oleh waktu, itu bisa saja dengan alasan apakah itu mengantar makanan, atau obat dan diperbolehkan. Di luar dari alasan itu tidak boleh,” ungkap Syarpani kepada Radar Tarakan, Jumat (14/7).

Mengingat kondisi Lapas Tarakan yang rentan masuknya barang-barang haram, hal itu tentu sangat patut diwaspadai oleh Kalapas. Sebab, jika memaksakan dengan kurangnya fasilitas dan petugas yang minim, maka kebijakan itu wajib ditinjau agar tidak membuka peluang masuknya barang-barang haram.

“Kalau kondisinya yang tidak begitu baik, saya sarankan lebih baik mengikuti aturan jam besuk saja, untuk menjaga kondisi itu,” tegas Syarpani.

Saat dikonfirmasi, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Tarakan Fernando Kloer menjelaskan, kebijakan itu memang tidak tertulis dan sudah berlaku sebelum dirinya menjabat sebagai Kalapas. “Saya dapat informasi bahwa kebijakan ini sudah ada sejak Kalapas yang pertama kali menjabat,” bebernya.

Mantan Kepala Lapas Gorontalo ini mengungkapkan, dia tidak berani menghentikan kebijakan tidak tertulis dan terbatas itu karena sudah setiap tahunnya diberlakukan untuk warga binaan lapas Tarakan. “Nanti kalau tiba-tiba saya hentikan kebijakan ini, akan berkembang isu SARA yang mengatakan bahwa kepala lapasnya non muslim, kafir, tidak mempunyai toleransi antara umat beragama dan tidak menjunjung tinggi kearifan lokal. Hal ini tentu berdampak buruk kepada saya sebagai pimpinan,” tuturnya.

Fernando menjelaskan, kebijakan menerima penitipan barang pada malam hari selama bulan Ramadan, sudah menjadi tradisi tahunan yang dijalankan oleh Lapas Kelas IIA Tarakan.

“Kebijakan ini hanya berlaku untuk keluarga warga binaan yang ada di sekitar lapas saja, namun bila ada keluarga warga binaan dari luar daerah lapas yang ingin menitipkan barang pada malam hari dipersilakan, sesuai waktunya hanya boleh diterima selama salat Tarawih, usai salat Tarawih tidak diperbolehkan lagi menitip barang,” ungkapnya.

Meski penitipan barang diterima pada malam hari, tidak lantas membuat pemeriksaan terhadap barang tersebut tidak diperketat. “Tetap kita perketat, petugas yang menerima barang di portir wajib memeriksa barang tersebut bersama-sama dengan keluarga warga binaan yang menitipkan barang, bahkan bila barang yang dititipkan adalah makanan, keluarga warga binaan wajib mencicipi, kita takutnya ada racun dalam makanan itu,” ucapnya.

Fernando juga menegaskan bahwa kebijakan tidak tertulis dan terbatas tersebut akan tetap diberlakukan di bulan Ramadan tahun selanjutnya, sebagai bentuk toleransi terhadap umat beragama.

“Selama saya menjabat tetap diberlakukan, tapi tidak tahu kalau nanti ketika saya digantikan oleh kepala lapas lain,” pungkasnya. (eru/jnr/nri)


BACA JUGA

Sabtu, 22 Juli 2017 10:21

Pajak Bioskop ‘Mencekik’, XXI Pikir-pikir Masuk ke Tarakan

TARAKAN – Kabar akan dioperasikannya Grand Tarakan Mall (GTM) memang begitu ditunggu-tunggu. Pengelola…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:18

STQ Kaltara Panen Kritik dan Pujian

TARAKAN  – Tadi malam Seleksi Tilawah Quran (STQ) XXIV Nasional resmi ditutup oleh Wakil…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:15

Minim Persiapan, Vendor Mundur di ‘Menit’ Terakhir

PELAKSANAAN Seleksi Tilawah Quran (STQ) memang menuai banyak kritik, sebab pergelaran event dua tahunan…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:12

Siap-Siap, Kaltara Punya Kuota 3 Kursi DPR RI

TARAKAN – Akhirnya, pengesahan Undang-Undang (UU) Pemilihan Umum (Pemilu) sudah dilakukan. Meskipun…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:10

Berawal dari Rekomendasi Peneliti Unmul Samarinda

Potensi hutan Kalimantan memang banyak ditumbuh-tumbuhi berbagai macam tumbuhan yang memiliki sejuta…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:06

2107, 4 Kali Sita dan 8 Kali Blokir Rekening

TARAKAN – Direktorat Jenderal Pajak pada Kementerian Keuangan Republik Indonesia terus berusaha…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:04

DPRD Masih Menunggu Surat dari Gubernur

TARAKAN – Usai memproses pergantian terhadap Alm. Freddy Layuk Allo, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah…

Sabtu, 22 Juli 2017 10:01

Masih Butuh 110 Ribu Blangko E-KTP

TARAKAN- Blangko Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-ktp) yang dibutuhkan untuk mencetak ktp baru sampai…

Sabtu, 22 Juli 2017 09:59

Anak Tidak Boleh Terabaikan, Keinginan Sekolah Harus Dituruti

TARAKAN- Tahun ajaran baru yang telah memasuki pekan kedua ini masih saja menyinggung masalah Penerimaan…

Sabtu, 22 Juli 2017 09:56

Inginkan Wadah untuk Anak Muda

TARAKAN – Dengan jumlah warga sekitar 150 kepala keluarga (KK) membuat warga RT 2, Kelurahan Mamburungan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .