MANAGED BY:
MINGGU
23 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Senin, 17 Juli 2017 12:05
Kendala Jalan, Petani SP 1 Terus Berkurang

Untung Petani hanya Rp150 per Kg

MENURUN: Keuntungan para petani di SP 1 Tanjung Buka minim, sehingga banyak petani yang mulai beralih profesi. Pijai Pasarija/Radar Kaltara

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR-Sejak menjadi transmigrasi mandiri tahun 2010, jumlah petani di Satuan Pemukiman (SP) 1 Tanjung Buka, Kelurahan Tanjung Selor Hilir, Kecamatan Tanjung Selor terus mengalami penurunan.

Tidak hanya petani, dari 12 usaha penggilingan padi yang beroperasi di transmigrasi tertua di Tanjung Buka, yang tersisa hanya delapan usaha. Artinya ada empat usaha penggilingan padi tutup.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) SP1 Tanjung Buka Wahid mengatakan, biang tutupnya usaha tani karena akses jalan di SP 1 Tanjung Buka tidak memungkinkan bagi petani untuk dapat menjual hasil tani mereka dengan mengeluarkan biaya yang lebih murah ke Tanjung Selor.

“Soalnya jalan menuju dermaga penyeberangan ke Selimau tidak bisa dilewati dengan bencak motor (bentor) yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil tani karena jalannya kecil,” ungkap Wahid kepada Radar Kaltara, Sabtu (15/7).

Sehingga banyak petani yang membawa hasil tani ke Tanjung Selor menggunakan perahu langsung melewati kanal yang ada.

”Karena jalan tidak bisa dilewati, ya kita terpaksa mengangkut hasil tani dengan menggunakan perahu yang langsung masuk  ke lokasi SP 1,” ujar Ketua Gapoktan Teladan Kaltara 2016 ini.

Tapi biayanya lebih mahal dibandingkan melalui dermaga. Sebab, dermaga penyeberangan SP 1 ke Selimau, Kelurahan Tanjung Selor Timur tidak jauh.

”Contohnya saya, untuk membawa satu ton beras nyeberang ke Selimau menggunakan perahu dari lokasi SP 1 biayanya Rp 250 ribu,” ungkap pria asal Indramayu, Jawa Barat ini.

Biaya tersebut, sambungnya, belum termasuk biaya angkut mobil dari dermaga menuju tujuan pasar yang biayainya juga sekira Rp 250 ribu.

“Jadi walaupun hasilnya melimpah, tapi habis dibiaya transportasi saja. Untuk ke Tanjung Selor saja sudah Rp 500 ribu,” ujar  pria yang menjadi rombongan pertama menginjak kakinya di SP 1 Tanjung Buka tahun 2003 silam.

Kondisi tersebut belum termasuk biaya pekerja, sehingga pendapatan bersihnya hanya Rp150 per kg.

“Untung saja karung beras (Lemlai Suri)  gratis, bantuan dari Dinas Pertanian, jika tidak petani bisa tekor,” ungkapnya.

Sebaliknya, jika para petani mengangkut hasil tani melewati dermaga keuntungan yang diperoleh bisa Rp 1.000 per kg.

“Ini harus menjadi perhatian pemerintah, jika tidak, lama-kelamaan tidak ada lagi petani di SP 1,” katanya.

Saat ini satu per satu petani beralih profesi menjadi kuli bangunan di Tanjung Selor.”Termasuk para pemilik usaha penggilingan beras, mereka lebih memilih kerja di Tanjung Selor,” ujarnya.

Bahkan jumlah kepala keluarga di SP 1 ini seharusnya semakin banyak setiap tahun, tapi sebaliknya berkurang.Awal dibukanya  SP I sekira 465 kepala keluarga sekarang hanya 150 KK dengan jumlah petani sekira 200  orang yang tergabung dalam 14 kelompok tani.”Banyak yang memilih bekerja dan hidup di luar,” ujarnya.

Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah, apalagi selama ini SP 1 Tanjung Buka digadang-gadangkan sebagai daerah lumbung padi, dan menjadi pemasok beras untuk para PNS Pemkab Bulungan.

“Karena kondisi lingkungan, terutama akses jalan yang belum memadai, petani juga malas akhirnya,” katanya.

Sulaiman mengakui, saat ini dirinya setop memproduksi beras kemasan Lemlai Suri, meski stok berasanya masih ada.

“Malas mas, mending istirahat dulu,” ujarnya.

Dia menambahkan, luas sawah SP 1 Tanjung Buka juga mengalami penurunan. Pada tahun 2014, luasannya mencapai 350 hektare. Namun pada tahun 2015  turun menjadi 230 hektare, dan di tahun 2016 hanya 100 hektare.

“Rata-rata dalam satu hektare menghasilkan tiga hingga empat ton,” sebutnya.

Tapi seharusnya satu hektare petani bisa menghasilkan enam sampai tujuh ton beras.

”Karena pengelolaan lahan belum maksimal, hasilnya juga belum maksimal,” ujarnya.

Salah satu beras andalan SP 1 Tanjung Buka adalah beras Impari, yang jika dikemas menjadi beras Lemlai Suri.

“Dalam semusim (6 bulan) bisa menjual 100 hingga 160 ton beras,” imbuhnya.

Dikatakannya, produksi beras petani SP 1 Tanjung Buka tidak hanya dijual untuk PNS di Pemkab Bulungan tapi juga sampai dijual ke Tarakan dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Menyikapi permasalah tersebut, Kepala Dinas Pertanian Bulungan H. Muhammad Iqbal mengaku sudah mengetahui permasalah tersebut, namun untuk jalan menuju dermaga merupakan kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR).

“Tapi kalau untuk jalan usaha tani, bisa kami fasilitasi,” katanya.

Namun, kata dia, untuk anggaran Pemkab Bulungan tidak memungkinkan karena sedang ‘terjun bebas’.

”Tapi bisa kita usulkan ke pusat, tentu melalui proposal yang dibuat gapoktan,” ujarnya.

Dari Dinas Pertanian Bulungan sendiri berharap rencana jembatan penyeberangan SP 1 Tanjung Buka ke Selimau bisa direalisasikan.

“Jika jembatan itu sudah ada para petani mudah membawa hasil tani mereka untuk dijual ke Tanjung Selor,” jelasnya.

Begitu juga dengan pembeli bisa dengan mudah masuk ke SP 1 Tanjung Buka untuk membeli hasil tani.”Kalau sekarang  susah, pembeli juga tidak ada yang mau masuk ke sana (SP1),” ujarnya.

Atau sambung dia, petani juga bisa mengusulkan bantuan kapal dongfeng yang bisa digunakan untuk mengangkut hasil tani mereka ke Tanjung Selor.

“Nanti bisa diusulkan ke Dishub, bisa ke Perikanan dan bisa juga ke Dinas Pertanian,” ungkapnya, seraya mengatakan, selama ini perhatian yang diberikan Dinas Pertanian kepada petani berupa peralatan tani.”Termasuk pupuk,” pungkasnya. (*/pij/ana)


BACA JUGA

Sabtu, 22 Juli 2017 01:35

Tiga Ekor Buaya Muncul Tiba-Tiba Bikin Geger Pekerja

BUNYU - Pekerja di PT Lamindo Intermulticon (LIM) Kecamatan Bunyu, dikagetkan dengan munculnya tiga…

Sabtu, 22 Juli 2017 01:34

Tiga Ekor Buaya Muncul Tiba-Tiba Bikin Geger Pekerja

BUNYU - Pekerja di PT Lamindo Intermulticon (LIM) Kecamatan Bunyu, dikagetkan dengan munculnya tiga…

Jumat, 21 Juli 2017 09:58

Perkara Kayan I Akhirnya Dilimpahkan

TANJUNG SELOR – Setelah melewati proses yang cukup panjang, akhirnya perkara dugaan tindak pidana…

Jumat, 21 Juli 2017 09:56

Kejari Pastikan Tersangka Akan Bertambah

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Bulungan, Gunawan Wibisono memastikan bahwa akan ada tambahan tersangka…

Jumat, 21 Juli 2017 09:53

Bocah Enam Tahun Dirogol, Pelaku Orang Terdekat Korban

TANJUNG SELOR — Di usia yang masih sangat muda, Ai (6) perempuan asal Desa Ruhui Rahayu, Kecamatan…

Jumat, 21 Juli 2017 09:51

Tiga Drum BBM Sitaan Belum Dimusnahkan

TANJUNG SELOR – Tiga drum Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dan premium hasil sitaan saat razia…

Jumat, 21 Juli 2017 09:42

Lima Pelajar Bunyu Tak Penuhi Syarat

BUNYU - Sebanyak 70 pelajar yang bakal menjadi petugas  pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka)…

Jumat, 21 Juli 2017 09:40

RX King Vs Beat Saling Senggol

TANJUNG SELOR - Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas) kembali terjadi di Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara),…

Jumat, 21 Juli 2017 09:39

Pedagang Masih Berjualan di Atas Trotoar

TANJUNG SELOR – Larangan berjualan di atas trotoar telah memiliki Peraturan Daerah (Perda). Namun,…

Kamis, 20 Juli 2017 10:34

Pelajar Bermotor, Tilang di Tempat

TANJUNG SELOR – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bulungan akan menindak tegas pelajar dibawah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .